Pages

Friday, September 16, 2016

(Resensi Buku Indie) Mencintai Malam Yang Malang, Kumpulan 40 Flash Fiction Terbaik Komunitas Monday Flash Fiction

Judul: Mencintai Malam Yang Malang
Penerbit: Monday Flash Fiction melalui Stiletto Indie Book
Penulis: Anindita Hendra, ChocoVanila, Danis Syamra, Dian Farida Ismayama, Edmalia Rohmani, Erlinda SW, Indah Lestari, Istiadzah Rohyati, Putri Widi Saraswati, Rinrin Indrianie.

Ketika membuka buku ini pertama kali, saya tidak dapat langsung membaca cerita-cerita di dalamnya, karena merasa tertarik untuk melihat ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalam buku ini terlebih dulu. Ilustrasi muncul sebagai halaman pembuka dan penutup sebuah cerita, dan beberapa diantaranya digambar oleh para penulis ceritanya sendiri. Diam-diam saya merasa kagum dengan kreativitas tim penyusun buku. Apalagi saat membaca satu persatu flash fiction, bahasanya rapi dan cerita-cerita di dalamnya seperti secangkir kopi pahit panas dan kental yang gurih, memikat dan mengalir lancar.


Kopi pahit?

Ya, Mencintai Malam Yang Malang, yang diambil dari judul cerita pendek tulisan Anindita Hendra, memang bukan kumpulan cerita buat mereka yang berhati lemah atau ingin membaca cerita yang melegakan dan menyenangkan hati. Cerita-cerita pendek di dalam kumpulan flash fiction ini, kebanyakan menyajikan sisi muram dan kelam dari sebuah situasi dan reaksi manusia ketika ditempatkan pada posisi yang tak mudah. Penulis-penulisnya tanpa ampun mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi dan menjadikan mimpi buruk sebagai kenyataan. Bahkan dalam beberapa cerita, tanpa kejutan di akhir cerita pun saya sudah bertanya-tanya, 'ada lagi kejadian yang bisa lebih buruk dari ini?' 

Kopi pahit, kalau sudah dingin atau encer, pastinya nggak enak kan? 

Kumpulan cerita di dalam buku ini, jelas tidak dingin dan tidak encer. Kenapa saya tulis sebagai panas dan kental? Sebab penulis-penulisnya menyajikan informasi-informasi baru (setidaknya bagi saya) sehingga selesai membaca saya jadi tahu ada ritual mengerikan yang harus dialami oleh seorang perempuan muda yang akan menikah dengan pemuda dari suku lain di sebuah tempat di ujung timur Indonesia, misalnya. Catatan-catatan kaki yang disajikan di akhir cerita, menjelaskan informasi-informasi yang dimasukkan ke dalam cerita dan tidak mengganggu jalan cerita, bahkan menjadikannya gurih dan menarik, karena ada referensi bagaimana pengarang terinspirasi oleh potongan-potongan informasi dan meraciknya menjadi cerita yang menarik untuk dibaca.

Lalu, cerita-cerita apa saja yang menjadi favorit saya? Saya sering lho 'dituduh' feminis, mungkin karena itu cerita favorit saya dalam buku ini adalah Pleidoi Untuk Durga, yang ditulis dengan apik oleh Putri Widi Saraswati. Metafora dalam cerita ini, dapat kita temukan di banyak berita tentang para TKW Indonesia yang dianiaya di tempat mereka bekerja lalu harus menghadapi kenyataan pahit lagi ketika pulang ke tanah air. Nah, ketidakadilan terhadap perempuan, digugat melalui tulisan ini. Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana Durga memilih untuk melawan, ketika satu-satunya yang masih dimilikinya hanya harga diri, dan itu dipertahankannya (iya, saya baca informasi ini pada bagian catatan, dan melengkapi kesan saya secara keseluruhan terhadap cerita ini.).

Tentu saja, masih banyak sekali cerita-cerita menarik di dalam buku ini yang tidak saya bahas satu-persatu, misalnya Sepucuk Surat Untuk Putraku, tulisan Edmalia Rohani, di bab Science Fiction, saya ikut larut dalam 'petualangan' si ayah, dan pertanyaan si ibu yang ini, 'Jika bumi kita, seluruh atmosfer, semua benda hidup dan mati, termasuk kita, terdiri dari atom, apa yang mencegah atom-atom itu melakukan reaksi nuklir, yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja?' Itu daleeem ya... dan menarik untuk dipikirkan bahkan setelah buku ini selesai dibaca.

Sepertinya, satu lagi nih, catatan saya, khusus buat RedCarra alias Carolina Ratri, ada bagusnya kalau mulai dipikirkan membuat artikel atau sekalian workshop untuk memberikan informasi bagaimana menerbitkan buku sendiri atau terbit indie, sebab buku ini bagi saya adalah contoh sebuah buku indie yang dieksekusi dengan sangat-sangat baik. 

Friday, May 6, 2016

Membaca dan Mereview Dongeng: The Tinderbox, Karya Hans Christian Andersen

Sumber Gambar: The Tinderbox at The Charing Cross Theater
Kotak Korek Api atau The Tinder Box, adalah salah satu dongeng Hans Christian Andersen yang paling awal. Diadaptasinya dari cerita rakyat yang beredar dengan beberapa versi di Eropa pada saat itu. Bila sudah membaca dongeng minggu lalu,  The Blue Light, maka dapat dilihat dengan jelas kesamaannya dan perbedaannya.

Yuk kita lihat beberapa perbedaan dan kesamaan serta bagaimana secara kreatif Andersen membuat dongeng ini terasa lebih humoris dibandingkan dengan cerita rakyat yang dikoleksi oleh Grimm Bersaudara.

Silahkan dibaca dulu dongengnya, sedangkan pembahasan singkat selanjutnya ada di bagian akhir tulisan ini.


The Tinderbox (Kotak Korek Api)

Seorang serdadu berbaris di jalan raya: kiri, kanan! kiri, kanan! Dia memanggul ransel di punggungnya dan pedang di pinggangnya, karena selama ini ia pergi berperang dan sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan penyihir tua--mukanya sangat jelek, bibir bawahnya tergantung sampai ke dadanya. Penyihir menyapanya: 'Selamat malam, serdadu! Bagus sekali pedangmu dan besar sekali ranselmu, kamu benar-benar seorang serdadu sejati. Dan kini, kamu akan memiliki uang sebanyak yang kamu inginkan!'

'Terima kasih ibu penyihir tua!' kata serdadu.

'Bisakah kamu melihat pohon besar itu?' penyihir berkata, menunjuk ke arah pohon yang berada di samping jalan dekat mereka berdiri. 'Pohon ini dalamnya kosong sama sekali. Kamu harus memanjat sampai ke puncaknya dan dari sana kamu bisa melihat sebuah lubang yang bisa kamu masuki hingga jauh ke dasar pohon! Aku akan mengikatkan tali ke pinggangmu, supaya nanti aku bisa mengerekmu kembali ke atas ketika kamu memanggilku!'

'Apa yang harus aku lakukan di bawah sana?' Tanya serdadu.

'Mengambil uang!' kata penyihir, 'saat kamu mendarat di dasar pohon, kamu akan berada di sebuah aula yang sangat besar dan terang benderang, karena lebih dari seratus lampu meneranginya. Lalu, kamu akan melihat ada tiga buah pintu, kamu bisa membukanya, anak kunci ada pada lubang kunci. Saat kamu memasuki pintu pertama kamu akan melihat ada sebuah kotak kayu besar di tengah kamar dan seekor anjing duduk di atasnya. Anjing itu memiliki mata sebesar piring tatakan gelas, tapi tak usah kuatir mengenainya! Aku akan memberikan celemek biru kotak-kotak milikku untuk kau bawa, segera angkat dan taruhlah anjing itu di atas celemekku agar kamu bisa membuka kotak kayu dan mengambil koin yang ada di dalamnya sebanyak yang kau inginkan. Semuanya terbuat dari tembaga, kalau kamu lebih memilih koin perak, kamu harus pergi ke kamar berikutnya, tetapi anjing yang menjaga di sana memiliki mata sebesar roda turbin air, tapi jangan kuatir mengenainya, taruhlah dia di atas celemekku dan nikmati uangnya! Jika kamu lebih menyukai emas, kamu bisa memperolehnya, dan kamu bisa mengambil sebanyak yang dapat kamu angkut, saat kamu masuk ke kamar yang ketiga. Tapi anjing yang duduk di atas kotak kayu di kamar itu memiliki sepasang mata sebesar Menara Bundar. Itu anjing sungguhan, percayalah! Tapi, jangan kuatir mengenainya. Taruh saja dia di atas celemekku dan dia tidak akan mencelakaimu, lalu ambillah emas sebanyak yang kamu inginkan dari dalam peti itu!'

'Kedengarannya tidak buruk sama sekali!' kata serdadu. 'Tapi apa yang harus aku berikan kepadamu, penyihir tua? Sebab kamu pasti menginginkan sesuatu, aku bisa menduganya!'

'Tidak,' kata penyihir, 'Aku tidak menginginkan sepeser pun! Satu-satunya barang yang harus kau ambilkan untukku hanyalah sebuah kotak korek api milik nenekku yang ketinggalan di sana ketika ia masuk ke sana terakhir kali.'

'Baiklah kalau begitu. Ikatkan tali ke pinggangku!' kata serdadu.

'Ini dia!' kata penyihir, 'dan ini celemek biru kotak-kotak-ku.'

Lalu serdadu mulai memanjat pohon, dan membiarkan dirinya jatuh ke dalam lubang, dan tepat seperti yang sudah dikatakan penyihir, dia menemukan dirinya berada di sebuah aula yang sangat besar dimana ratusan lampu menyala.

Dia pun membuka pintu pertama. Uh! duduklah di sana seekor anjing dengan mata sebesar piring sedang melotot memandangnya.

'Kamu seekor anjing yang tampan!' kata serdadu, diletakkannya anjing itu di atas celemek milik penyihir dan mengambil koin tembaga sebanyak-banyaknya ke dalam sakunya, menutup peti, menaruh anjing di atas peti itu lalu pergi ke ruang kedua. Ooh! Duduk di dalam sana seekor anjing dengan mata sebesar roda turbin.

'Jangan melotot seperti itu!' kata si serdadu, 'bisa-bisa matamu menjadi sakit.' Dan diletakkannya anjing itu ke atas celemek penyihir, ketika ia melihat begitu banyaknya koin perak, dibuangnya semua koin tembaga dari dalam sakunya dan diisinya seluruh saku dan ranselnya dengan perak murni. Kemudian dia pergi ke ruangan ketiga! Oh tidak, mengerikan sekali! Anjing yang ada di dalam sana benar-benar punya dua mata sebesar Menara Bundar. Dan mata itu berputar-putar seperti sebuah roda!

'Selamat malam!' kata si serdadu, mengangkat tangan ke atas topinya, karena dia belum pernah melihat anjing semacam ini sebelumnya; namun ketika ia sudah cukup melihat untuk sekian waktu lamanya, ia berpikir cukup sudah, diletakkannya anjing itu ke lantai dan dibukanya tutup peti--astaga sungguh luar biasa! Banyak sekali emas di dalamnya! Dia bisa membeli kota Kopenhagen, dan seluruh gula-gula babi perempuan pembuat kue, semua serdadu timah, cambuk dan kuda-kudaan kayu yang ada di dunia ini! Ya, ini betul-betul uang! Segera saja si serdadu membuag semua uang perak yang ada di saku dan ranselnya dan mengisi saku, ransel, topi dan sepatu botnya dengan koin emas, begitu penuhnya sehingga dia hampir saja tak bisa melangkah. Sekarang dia betul-betul punya banyak duit! Diangkatnya kembali anjing itu ke atas peti, dibantingnya pintu ruangan hingga tertutup rapat dan berteriak ke arah lubang keluar, 'Angkat aku sekarang juga, penyihir tua!'

'Apakah kamu sudah membawa kotak korek api bersamamu?' tanya si penyihir.

'Astaga, benar juga,' kata si serdadu. 'Aku lupa sama sekali mengambilnya!' dia pergi dan mengambil kotak korek api. Penyihir kemudian menariknya keluar dari dalam pohon, tak lama kemudian dia sudah kembali berada di jalan besar, kali ini seluruh saku, ransel dan sepatu botnya penuh sesak dengan koin emas.

'Kamu akan melakukan apa dengan menggunakan kotak korek api ini?' tanya si serdadu.

'Bukan urusanmu!' kata penyihir, 'kamu sudah memperoleh banyak uang! Berikan kotak korek api itu kepadaku!'

'Enak saja!' kata si serdadu, 'beritahu sekarang juga, akan kamu pergunakan untuk melakukan apa kotak korek api ini, atau aku akan mengeluarkan pedangku dan memenggal kepalamu!'

'Tidak mau!' kata penyihir.

Lalu si serdadu memenggal kepalanya.  Tergeletaklah penyihir di jalanan. Serdadu itu membungkus uangnya dengan celemek si penyihir, memanggul bundelan itu di atas pundaknya, memasukkan kotak korek api ke dalam sakunya dan langsung memasuki sebuah kota.

Kota itu indah sekali, ia pergi ke penginapan paling bagus, memesan kamar terbaik dan makanan kesukaannya, karena sekarang dia sudah kaya, ia punya banyak uang.

Pelayan yang bertugas menyemir sepatunya, mengakui bahwa sepatu itu tidak sesuai untuk orang kaya sepertinya, tetapi si serdadu belum sempat membeli sepasang sepatu baru; keesokan harinya dia membeli sepasang sepatu baru, dan baju yang indah juga! Sekarang dia sudah benar-benar kelihatan seperti orang terpandang, maka mereka menceritakan hal-hal penting yang terjadi di kota itu, tentang raja dan ratunya, serta puteri raja yang ccantik jelita.

'Dimana aku dapat melihatnya?' tanya serdadu.

'Dia tidak bisa ditemui oleh siapapun!' jawab mereka. 'Dia tinggal di dalam sebuah istana tembaga, dikelilingi tembok-tembok dan menara-menara tinggi! Tidak seorang pun kecuali raja berani ke sana, sebab sudah diramalkan bahwa dia akan menikah dengan seorang serdadu biasa, dan raja sama sekali tidak menyukai hal itu!'

'Nah dia sepertinya seorang gadis yang ingin aku temui!' pikir si serdadu--sayangnya dia tak akan pernah diperbolehkan melakukan hal itu.

Sekarang dia menjalani kehidupan yang menyenangkan, pergi ke teater, berjalan-jalan di Taman Kerajaan dan memberi banyak sedekah untuk orang miskin--dan hal ini adalah hal yang sangat terhormat! Dari masa lalunya sendiri dia belajar bagaimana sulitnya tidak memiliki uang sepeser pun. Sekarang dia sudah kaya, punya banyak baju bagus, dan dikelilingi banyak teman. Mereka semua memujinya sebagai orang baik, pria sejati--dan si serdadu menyukai hal ini! Tetapi, karena dia menghambur-hamburkan uang setiap hari dan tidak memiliki pekerjaan sehingga tak ada pemasukan, akhirnya uangnya habis juga, hanya tersisa beberapa keping dan dia harus pindah dari kamar terbaik di penginapan ke sebuah kamar kecil di loteng. Dia harus menyemir sepatunya sendiri dan menjahit sendiri, dan tidak satu pun temannya datang menjenguknya, sebab begitu banyaknya tangga yang harus didaki bila hendak menuju ke kamarnya itu.

Pada suatu malam yang gelap dan dia tak punya cukup uang untuk membeli sebantang lilin, ia tiba-tiba ingat masih ada sisa korek api di dalam kotak korek api yang diambilnya dari dalam lubang pohon tempat penyihir menurunkannya pada saat itu.

Dikeluarkannya kotak korek api dan lilin yang masih tersisa, tetapi begitu digeseknya korek api pada kotak korek api dan terjadi percikan api, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka lebar, dan anjing dengan mata sebesar piring yang waktu itu pernah dilihatnya di dalam lubang pohon, kini berdiri di hadapannya dan bertanya: 'Apa yang hendak tuan perintahkan?'

'Luar biasa!' kata si serdadu,'ini kotak korek api yang lucu juga -- apakah aku bisa memperoleh apa yang aku inginkan? Ambilkan uang,' katanya kepada si anjing dan wush, si anjing itu pergi! Wush, dia kembali, dan di moncongnya tergantung sekantung penuh koin.

Barulah si serdadu sadar betapa hebatnya manfaat kotak korek api tersebut! Jika digesek satu kali, anjing yang duduk di atas peti berisi koin tembaga yang datang, jika digesek dua kali, anjing peti perak, dan jika tiga kali, anjing peti emas. Sekarang, si serdadau bisa kembali menginap di kamar terbaik, mengenakan baju-baju indah dan dengan segera teman-temannya kembali kepadanya dan kembali menyukainya. Dan serdadu berpikir: Benar-benar ganjil rasanya bahwa tak mungkin bisa bertemu dengan putri raja! Semua orang berkata dia sangat cantik. Tapi apa gunanya jika dia hanya harus berdiam saja di dalam istana tembaga dengan banyak menara itu? Tidak bisakah aku melihatnya sama sekali? Dimana kotak korek apiku! Maka digeseknya kotak itu hingga muncul percikan api dan wush, muncul si anjing dengan mata sebesar piring.

'Aku tahu sekarang sudah tengah malam,' kata serdadu, 'tapi aku sangat ingin bertemu dengan putri raja, sebentar saja.'

Anjing itu segera berlari keluar dan sebelum serdadu sempat berpikir, dia sudah muncul bersama dengan putri raja--putri raja yang sedang tidur, berbaring di atas punggungnya, dan tuan putri nampak luar biasa cantiknya, siapapun akan langsung tahu bahwa dia benar-benar putri raja. Serdadu tak dapat menahan dirinya, dia harus mencium putri raja, karena dia seorang serdadu sejati.

Si anjing berlari mengembalikan putri raja ke istananya, tapi ketika pagi tiba, dan raja dan ratu sedang bercakap-cakap sambil minum teh, putri raja bercerita dia mengalami mimpi yang aneh sekali tadi malam tentang seekor anjing dan seorang serdadu. Dia tidur di atas punggung anjing dan seorang serdadu menciumnya.

'Cerita yang bagus sekali!' kata ratu.

Sekarang salah satu dayang-dayang ratu ditugaskan untuk menjaga putri pada malam harinya, untuk mengamati apakah cerita putri itu benar-benar hanya mimpi, atau hal yang benar-benar terjadi.

Si serdadu sangat merindukan dan ingin bertemu kembali dengan putri cantik sekali lagi, lalu si anjing diutusnya untuk menjemput putri dan berlari secepatnya kembali, tetapi dayang-dayang ratu mengenakan sepatu bot anti-air dan berlari mengejar anjing itu secepat-cepatnya juga; ketika dia melihat anjing itu masuk ke sebuah rumah besar, dia berpikir sekarang aku tahu tempatnya, dan menggoreskan tanda silang besar dengan kapur pada pintu rumah itu. Lalu dia pulang dan tidur, setelah itu si anjing datang dan mengembalikan putri raja; tapi saat anjing melihat tanda silang besar yang sudah digoreskan pada pintu rumah tempat serdadu tinggal, dia mengambil sebatang kapur dan menggambar tanda silang besar pada semua pintu rumah di kota itu, dan itu adalah hal yang sangat bijaksana untuk dilakukan, karena dengan begitu dayang-dayang ratu tidak bisa menemukan pintu yang tepat karena semua pintu sudah diberikan tanda yang sama.

Pagi-pagi sekali, raja dan ratu, dan dayang-dayang ratu beserta semua pejabat istana pergi bersama-sama untuk melihat kemana putri raja dibawa pergi semalam.

'Itu dia!' kata raja ketika melihat pintu pertama dengan tanda silang.

'Bukan suamiku sayang, pintunya ada di sana!' kata ratu yang sedang melihat sebuah pintu lain dengan tanda silang.

'Tapi ada juga tanda silangnya di pintu yang di sana dan yang di sebelah sana!' mereka semua berkata--kemanapun mereka memandang, semua pintu sudah diberi tanda silang. Lalu mereka menyadari, tak ada gunanya mencari-cari lagi.

Tapi ratu adalah seorangg perempuan yang sangat bijaksana, seorang yang dapat melakukan lebih banyak hal daripada sekedar berjalan-jalan di dalam kereta kuda saja. Dia mengambil gunting emasnya yang besar, menggunting selembar kain sutera lalu menjahitnya menjadi satu dompet kecil, yang kemudian diisinya dengan butir-butir gandum, dijahit pada bagian belakang gaun putrinya, kemudian membuat sebuah lubang kecil pada dompet itu sehingga butir-butir gandum akan jatuh dan meninggalkan jejak kemanapun putri pergi.

Malam itu anjing datang kembali, mengangkut putri ke atas punggungnya dan berlari membawanya kembali kepada serdadu, yang sangat menyukainya, dan sangat ingin menikah dengannya.

Kali ini, anjing tidak menyadari adanya butir-butir gandum yang jatuh dari baju putri raja sehingga meninggalkan jejak sejak dari istana hingga ke jendela kamar penginapan serdadu saat dia memanjatnya sambil memanggul putri di punggungnya. Keeskokan pagi, raja dan ratu dapat dengan mudah mengetahui kemana putri mereka semalam, mereka memerintahkan serdadu ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Di sanalah sekarang si serdadu duduk termenung. Uh, betapa gelap dan sangat tidak menyenangkan, lalu mereka berkata kepadanya: Besok kamu akan digantung. Itu juga hal yang tidak enak untuk didengar, dan dia lupa membawa serta kotak korek apinya yang kini tertinggal di penginapan. Ketika pagi tiba, dia dapat melihat melalui jeruji jendela kecil ruang tahanannya bagaimana semua orang bergegas-gegas ke luar kota untuk melihat acara penggantungannya. Dia mendengar suara drum dan melihat para serdadu berbaris. Semua orang berjalan tergesa-gesa; di antara mereka yang lalu lalang itu, ada seorang anak laki-laki, bocah penyemir sepatu, ia mengenakan celemek kulit dan sepatu kayu, dia berlari begitu cepat sehingga sepatu kayunya terlepas dan terlempar hingga jatuh ke dekat jendela dimana serdadu sedang melihat-lihat.

'Hai penyemir sepatu! Tidak perlu tergesa-gesa seperti itu!' si serdadu berkata kepadanya, 'tidak ada yang akan terjadi sebelum aku muncul! Tapi, kalau kamu mau pergi ke kamar tempat aku menginap dan mengambilkan kotak korek apiku, aku akan memberikan empat koin uang ini untukmu! Tapi kamu harus pergi kesana cepat-cepat, sekarang juga!' Bocah penyemir sepatu itu sangat girang akan mendapatkan uang, maka dia berlari sekencang-kencangnya untuk mengambilkan kotak korek api itu, lalu kembali dan memberikannya kepada serdadu--dan, mari kita saksikan apa yang terjadi selanjutnya!

Di luar kota sebuah ting gantungan yang tinggi sudah ditegakkan, di sekelilingnya para serdadu berdiri mengelilingi bersama ratusan bahkan ribuan orang. Raja dan ratu duduk di atas singgasana mereka yang bagus berseberangan dengan hakim dan para pegawai persidangan.

Si serdadu sudah berdiri di atas tangga, siap untuk digantung, tetapi ketika mereka akan mengalungkan tali pada lehernya dia mengingatkan bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk mengabulkan satu permintaan terakhir pendosa sebelum menjalani hukuman matinya. Permintaan serdadu adalah ia ingin merokok, karena itu akan menjadi rokok terakhirnya di dunia ini.

Raja tidak akan menolak permintaan yang seperti itu, dan serdadu pun mengambil kotak korek apinya dan menggeseknya sampai mengeluarkan api, satu kali, dua kali, tiga kali! Maka muncullah ketiga ekor anjing, yang bermata sebesar piring, yang bermata sebesar roda turbin, dan yang bermata sebesar Menara Bundar.

'Selamatkan aku dari hukuman gantung!' kata serdadu, maka ketiga ekor anjing itu mengejar para hakim dan seluruh petugas pengadilan, dan melemparkan mereka.

'Tidak, tidak, aku tidak mau!' kata raja, tapi anjing yang terbesar mengangkatnya bersama dengan ratu dan melemparkan mereka berdua. Lalu para serdadu menjadi sangat ketakutan dan semua orang berseru: 'Serdadu kecil, jadilah raja kami dan menikahlah dengan putri yang cantik!'

Lalu mereka menyediakan kereta kerajaan untuk si serdadu, dan ketiga ekor anjing menari-nari di depan kereta sambil bersorak 'Hore!' Anak-anak laki-laki bersiul melalui jari-jari mereka, dan para serdadu memberi hormat. Tuan putri dikeluarkan dari istana tembaga dan diangkat menjadi ratu, dan dia menyukai hal itu! Pesta pernikahan berlangsung sampai delapan hari, dan ketiga ekor anjing duduk di atas meja dengan mata terbuka lebar.


Beberapa perbedaan adalah:

1. Serdadu tidak diusir oleh raja dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.

2. Serdadu tidak diminta untuk mengerjakan tiga pekerjaan sebelum berhasil memperoleh benda ajaib yang akan menjadi penolongnya.

3. Penolongnya adalah tiga ekor anjing, bukan gnome.

4. Serdadu tidak punya keinginan untuk membalas dendam kepada raja penguasa kota.

Tentu bisa dirinci lagi perbedaan yang lain.

Kesamaannya, seluruh cerita adalah cerita yang sama. Tentang serdadu miskin yang pulang berperang, bertemu dengan seorang penyihir di tengah jalan dan mendapatkan benda ajaib yang kemudian menolongnya menjadi raja atau penguasa dan menikahi putri cantik.

Pesan-pesan positif apa yang dimasukkan secara humoris oleh Andersen ke dalam dongeng ini?

1. Perhatikan bagaimana cara hidup serdadu yang setiap hari berfoya-foya karena kaya mendadak, mengakibatkan dia menjadi bangkrut sebab uang dengan cepat terkuras habis.

Hal ini merupakan hal yang relevan sepanjang masa. Kita sendiri melihat kasus semacam ini terjadi di masyarakat kita bahkan diri kita sendiri tidak terlepas dari kesalahan semacam ini.

2. Teman-teman yang mengelilingi serdadu saat dia kaya raya segera meninggalkannya ketika dia sudah tak punya uang lagi. Hal ini dengan satir digambarkan oleh Andersen melalui kalimat: tidak satu pun temannya datang menjenguknya, sebab begitu banyaknya tangga yang harus didaki bila hendak menuju ke kamarnya itu.

Uang tidak bisa membeli persahabatan dan ketulusan. Lebih banyak orang datang mendekat ketika ada manfaat yang bisa diperoleh mereka, dan menjauh ketika tidak lagi ada manfaatnya.

3. Seperti roda yang berputar, demikian juga kehidupan manusia. Tidak selamanya akan berada di bawah terus-menerus apabila mau mempergunakan kecerdikan. Kecerdikan yang dilakukan oleh serdadu adalah memanfaatkan kesempatan untuk mengambil kotak korek api ajaibnya, dan memanfaatkannya pada saat yang tepat.

Bagaimana menurutmu, silahkan diskusikan pada kolom komentar.

Kotak Korek Api. Dongeng karangan Hans Christian Andersen. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh G. Siahaya dari terjemahan bahasa Inggris The Tinder Box oleh John Irons untuk Hans Christian Andersen Centre.

Saturday, April 30, 2016

Belajar Mempergunakan Point of View Sebagai Alat Penting Untuk Mengarahkan Plot Novel ala Agatha Christie, The ABC Murders

Pembunuhan ABC,  karangan Agatha Christie ini, sudah pernah saya baca, dulu sekali, entah berapa tahun yang lalu. Sepertinya waktu jaman SMP atau SMA, dan itu sudah sangat lama, sekitar 30 tahunan yang lalu. Tidak heran pada saat saya membaca ulang novel ini sekarang, saya sama sekali lupa siapa pembunuhnya, meskipun samar-samar saya tahu bahwa cerita ini tentang pembunuhan berantai.

MEMBAHAS POINT OF VIEW

Sebelum masuk ke dalam pembahasan tentang isi ceritanya, saya mau membahas sedikit tentang sudut pandang yang dipergunakan dengan sangat cerdik oleh Agatha Christie sebagai alat untuk mempertajam misteri dalam ceritanya. Penulis please take notes kalau sedang membaca novel semacam ini sebab banyak banget trick penulisan yang sebetulnya bisa dicuri dari sang ratu cerita detektif dan misteri ini.

Novel ini adalah salah satu novel penyelidikan yang dilakukan oleh Hercule Poirot, pria Belgia kecil, botak dan berkumis tebal. Poirot memiliki sel-sel abu-abu yang sangat cerdas di otaknya sehingga ia dapat menghubungkan titik-titik yang tidak kasat mata saat memecahkan sebuah misteri kejadian.

Karena Agatha Christie tidak ingin pembaca dapat langsung memahami cara pikir Poirot dan dapat menebak dengan lebih mudah misteri pembunuhan yang terjadi, maka dalam The ABC Murders ini, ada dua sudut pandang yang dipergunakan oleh penulis, yaitu sudut pandang orang pertama obyektif dan sudut pandang orang ketiga terbatas.

Sudut pandang orang pertama dilakukan melalui penuturan Kapten Hastings, sahabat baik Poirot yang acap mendampingi Poirot ketika memecahkan misteri-misteri kejahatan.

Apa peran POV1 Kapten Hastings? Ia bertugas untuk melaporkan kepada kita, para pembaca, apa saja yang terjadi dan dilihatnya secara langsung. Kapten Hastings tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh Hercule Poirot. Ia hanya bisa menebak apa yang mungkin saja dipikirkan oleh Poirot atau oleh tokoh-tokoh yang lain, apabila mereka tidak mengucapkan atau memberitahu kepadanya secara langsung. Dengan demikian, Kapten Hastings dapat menjadi pengamat yang tidak dapat dipercaya (unreliable narrator), sebab bisa saja penulis memang secara sengaja memilihnya untuk mengatakan dan melihat hal-hal yang dapat menyesatkan kita, para pembaca.

Sudut pandang yang kedua adalah: Sudut pandang orang ketiga (POV 3).

Apa peran POV 3 ini?  Agatha Christie mempergunakannya untuk menceritakan kepada kita kejadian-kejadian di belakang layar yang tidak dapat diceritakan oleh Kapten Hastings karena kejadiannya terjadi tanpa diketahui baik oleh Hercule Poirot maupun Kapten Hastings sendiri. Melalui sudut pandang orang ketiga ini, Agatha Christie, sekaligus mengajak kita bertemu langsung dengan pria yang memiliki kaitan erat dengan peristiwa pembunuhan yang sedang terjadi. Pria ini nampaknya bersalah, tapi benarkah ia memang bersalah?

Kedua sudut pandang yang dipilihkan Agatha Christie untuk kita ini, membuat kita merasa atau menduga bahwa kita lebih banyak tahu dibandingkan dengan Kapten Hastings maupun Hercule Poirot. Tetapi, kita hanya mengetahui kejadian-kejadian tanpa mengetahui dengan jelas hubungan-hubungan antara kejadian-kejadian yang satu dengan yang lain dan kita dibiarkan terus bertanya-tanya: Siapa kira-kira pelakunya dan benarkah dia yang melakukannya?

Pelajaran apa yang saya peroleh?

Melalui pemilihan sudut pandang dalam novel The A.B.C Murders ini, Agatha Christie mengajarkan kepada saya bahwa sudut pandang merupakan salah satu alat yang harus dikuasai dengan baik oleh seorang pengarang agar ia dapat mempergunakannya di dalam cerita untuk menyampaikan cerita dengan cara tertentu dan tujuan tertentu.

Dengan membiarkan Hastings yang bercerita, Agatha Christie telah secara baik hati mengikut-sertakan saya menyaksikan apa yang terjadi di dalam kelompok kecil Poirot yang sedang berusaha untuk menyelesaikan misteri pembunuhan-pembunuhan yang sedang terjadi. Tetapi, karena kunci pemecahan misteri ada pada Poirot seorang, bukan pada tokoh-tokoh yang lain, maka, hasil pengamatan Hastings tidak memberikan kepada saya akses yang cukup banyak untuk memahami apa yang dipikirkan Poirot.

Melalui sudut pandang orang ketiga, Agatha Christie memperluas pandangan saya, sehingga tidak hanya saya menyaksikan adu pendapat di pertemuan-pertemuan para polisi, saya juga dibawa mengikuti potongan-potongan kejadian dalam kehidupan Mr. A.B. Cust yang mencurigakan. Dengan demikian, walaupun pada titik tertentu, ingatan saya tentang siapa pembunuhnya sudah kembali, saya tetap masih tertarik untuk mengetahui kenapa dia melakukan pembunuhan dan bagaimana proses berpikir Poirot sehingga ia dapat tiba pada kesimpulan yang tepat. Selain itu, sangat menarik menyaksikan bagaimana Poirot membuka kedok masing-masing tokoh yang terlibat di dalamnya.

Ringkasan ceritanya sendiri adalah seperti ini:

Hercule Poirot menerima surat kaleng yang menantangnya untuk memecahkan misteri-misteri pembunuhan yang akan dilakukan oleh seseorang yang mengaku sebagai A.B.C.

Korban pertamanya adalah seorang perempuan tua, pemilik kedai kecil yang berjualan rokok dan koran/majalah. Perempuan tua ini dipukul kepalanya hingga pecah dan mati. Ia bernama Nyonya A.A. dan tinggal di Kota A. Sebuah peta A.B.C. ditinggalkan di tempat terjadinya kejahatan. Nyonya A.A. mempunyai seorang mantan suami yang pemabuk dan kalau saja tidak ada surat kaleng dari A.B.C. kepada Hercule Poirot, pastilah suami wanita itu yang akan menjadi tersangka utamanya.

Korban kedua adalah seorang gadis muda, yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di Kota B. Gadis muda ini bernama BB. Ia mati dicekik dengan ikat pinggangnya sendiri. Sebuah peta A.B.C. ditinggalkan pada tempat terjadinya kejahatan.

Korban yang ketiga adalah seorang bangsawan di Kota C, bangsawan itu bernama Lord C.C. ia mati dengan kepala remuk saat sedang melakukan rutinitas jalan kakinya. Pada tempat terjadinya kejahatan, sebuah peta bermerek A.B.C. ditemukan kembali sebagai bukti bahwa ini adalah kejahatan yang secara sengaja dilakukan oleh A.B.C. untuk mengolok-olok Poirot.

Setelah pembunuhan ketiga ini, terbentuk kelompok kecil yang terdiri dari para keluarga dan ahli waris dari korban-korban pembunuhan yang ingin ikut berpartisipasi dalam memecahkan misteri pembunuhan itu. Lalu Hercule Poirot mendapat satu lagi surat kaleng dan pembunuhan terjadi di Kota D, tetapi kali ini yang terbunuh tidak memiliki inisial yang tepat seperti pembunuhan-pembunuhan sebelumnya. Apakah si pembunuh A.B.C. salah membunuh orang kali ini? Siapa sebetulnya pembunuh A.B.C. dan apa motivasi di balik pembunuhan-pembunuhan yang dilakukannya?

***

Memang jauh lebih seru kalau membaca novel itu sendiri dari awal hingga akhir dan mendapatkan kenikmatan menebak-nebak pembunuhnya yang khusus untuk The ABC Murders, menurut saya, tidak terlalu sulit menebak siapa pembunuhnya (mungkin juga karena saya sudah pernah membaca novel ini sebelumnya, sehingga sel-sel abu-abu otak saya masih merekam jejaknya), walaupun agak sulit bagi saya untuk menemukan jalan bagaimana Poirot dapat menjebaknya supaya mengaku.

Resolusinya Agatha Christie, saya ibaratkan seperti seekor kucing, yang setelah puas bermain-main (dengan kita sebagai pembacanya, menyesatkan kita ke sana ke sini tanpa kehilangan kegembiraan perburuan) lalu memutuskan sudah saatnya menyudutkan tikus buruannya, dan mengarahkan (kita) dan buruannya hingga ke pojokan sehingga tak bisa lagi lari kemana-mana. Itulah gambaran mental yang saya alami mendekati saat-saat akhir Poirot mulai memojokkan sang pembunuh dan ia berbalik menjadi korban kecerdikan Hercule Poirot (dan Agatha Christie).

Sudah pernah membaca novel ini juga? Silakan tulis pendapatmu di kolom komentar.