Wednesday, December 28, 2011

Tema dan Geliat Januari 50.000 Kata (J50K)

Dua Agenda Seru Kampung Fiksi Untuk Bulan Januari 2012:


1. Tema Januari 2012: KISAH KELUARGA!

Semangat tahun baru semuanya!
Tahun baru, kalender baru, resolusi baru dan tentunya tulisan baru.

Kampung Fiksi sendiri menyambut tahun baru 2012 dengan semangat yang tingginya melebihi jambul Syahrini (baca: tugu Monas). Selain proyek J50k para nekaders, Kampung Fiksi juga membuka pintu dan jendela untuk para penulis keren (ya, kamu!) yang kebetulan tidak ikut proyek J50K atau yang nyambi atau yang punya stok tulisan atau yang memang menyukai tantangan dari kita.

Nah, berhubung Januari adalah bulan paling mengasikan sekaligus paling seru untuk kilas balik, bagaimana kalau tema diusung adalah tentang KISAH KELUARGA.

Pasti pernah kan, memikirkan latar belakang keluarga tokoh-tokoh yang kita lahirkan di cerpen dan novel? Apakah kakek dan nenek si tokoh punya kisah cinta ala Jack dan Rose di Titanic? Bagaimana kalau ternyata Bapak-nya si tokoh adalah agen rahasia? Atau mungkin ibu-nya adalah putri kerajaan yang melarikan diri?

Tuangkan semua imajinasi dalam tulisan dan kirim ke kampungfiksi@gmail.com.

Intip dulu ketentuannya ya:
1. Tulisan berbentuk cerpen, boleh genre apa saja. Panjang tulisan sekitar 500 kata. Kurang lebih sedikit akan dimaklumi dan tidak akan dipermasalahkan.
2. Peserta boleh mengirim tulisan sebanyak-banyaknya.
3. Kampung Fiksi hanya menerima tulisan dari tanggal 1 – 30 Januari 2012.
4. Kampung Fiksi berhak mengedit tulisan yang dikirim (prioritas hanya pada kesalahan ketik dan tanda baca)
5. Tulisan yang dikirim tetap merupakan hak si penulis. Artinya: tulisan boleh juga di-publish di blog masing-6. masing atau di media lainnya.
6. Kampung Fiksi akan mengadakan moderasi. Hanya tulisan yang dianggap bagus akan di-publish di blog www.kampungfiksi.com.

Mari bersenang-senang menulis dengan tema. Psstt, semua tulisan yang dimuat akan dipromosikan lewat Facebook dan Twitter Kampung Fiksi. Yang pasti, nama kamu sebagai penulis yang berhasil nongol di Kampung Fiksi Januari adalah suatu kebanggaan sekaligus kesenangan yang seru.

2. JANUARI 50 K

Januari sebentar lagi, dan seperti biasanya, kami di Kampung Fiksi akan memulai Tahun Baru dengan menggelar 31 hari menulis 50ribu kata atau yang kami singkat menjadi J50K.

J50K untuk 2012 ini adalah yang kedua kalinya, kali pertama kegiatan ini diadakan adalah pada Januari 2011 yang lalu, jumlah peserta yang terdaftar pada saat itu adalah 50 orang, yang berhasil membukukan tulisannya hanya 1 orang saja, yaitu Elly Suryani, bukunya berjudul: Ilalang Menarilah! dapat dipesan melalui Nulisbuku.com.

Untuk Januari tahun ini, nama-nama yang sudah terdaftar di dalam grup hingga kini ada 198 Nekaders yang akan ikut menulis marathon 50ribu kata selama 31 hari ;)

Nama-nama yang sudah menyetorkan data Blog-Judul-Tema-Genre:
  1. Sari Novita- Blog: www.chalinop.blogspot.com - Judul: "We Are Alive" - Tema : Cinta dan kehidupan - Genre: Fantasy
  2. Ajen Angelina- Blog: http://januari50kajen.blogspot.com/ - judul: Pisau Sang Pembunuh- Tema: detektif dan pembunuhan Genre: Crime
  3. Stebby Julionatan- Blog:www.bonx.wordpress.com - Judul: Tuan Besar - Genre: Roman Dewasa
  4. Nita Lana Faera - Blog www.kompasiana.com/nitalanaf - Judul: Single - Genre: Chicklit/Metropop Dewasa
  5. Diah Chamidiyah-Blog: www.diahchamidiyah.blogspot.com - Judul: Dongeng untuk Putri- Genre: semua umur
  6. Winda Krisnadefa - Blog: http://www.magalibywinda.blogspot.com/ - Judul: "Magali" - Tema: mencari jati diri dan cinta - Genre: Urban Pop
  7. Arya Ningtyas - Blog: http://catatan-hati-tyaz.blogspot.com/ - Judul: "Surat utk Ibuku" - Tema: Perjalanan hidup -Genre: Romantika
  8. Gratcia Siahaya - Blog:  http://tanpapenjelasan.blogspot.com/  - Judul: "Metropolutan" - Tema: Obsesi - Genre: Satire
  9. Ajeng Leodita Anggaran- Blog: http://kupukupusenjamaya.blogspot.com/ - Judul: "Misteri Cinta Aletha - Tema:Cinta - Genre: Teenlit Horor
  10. NastitiDenny- Blog: http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/ - Judul: "Palsu-Saat Kejujuran Jadi Dilema - Tema:Cinta - Genre : Drama Keluarga
  11. RiezKY oktoRAwaty - Blog : http://novelangel.tumblr.com/ - Judul: "ANGEL" -tema: FANTASI - Genre FAntasi
  12. Hayatun Nufus- Blog: http://belajar-novel.blogspot.com/ -judul : Ara -tema: Sejarah Genre : Historical Romance
  13. Bunda Ninha (Dianingtyas Kh.) http://bundaninha.wordpress.com/ - Judul: Seribu Bintang untuk Mutiara - Tema: Roman-edukatif
  14. Endah Raharjo - Blog: http://endahraharjo.blogspot.com/ - Judul: Merajut Kisah Masa Kecil - Tema: kasih sayang, persahabatan dan petualangan
  15. Andi P. Rukka - blog : http://j50k-psi.blogspot.com/ judul : Perempuan Seperti Ibu, Thema : Cinta, Genre : Drama.
  16. Ririe Rengganis - Blog: http://rengganis15.blogspot.com/ - Judul: Pelahap - Tema: Satire. Genre: Fiksi Literasi.
  17. Quina - Blog: http://floating-dandelion.blogspot.com/ - Judul: The Muffin and Cupcake's Story - Genre: Chiklit
  18. Rashy Riyetha - Blog : http://www.imawriters.blogspot.com/ -Judul: New Earth- The Last Standing Man - Tema: Petualangan - Genre : Science Mistery
  19. Dya Ragil - Blog: http://pembelajarkata.blogspot.com/ - Judul: Katalis Waktu - Tema: Tragedi, Roman, Petualangan - Genre: Fantasi
  20. Shafiyyah Ulfah - Blog : http://dalamceritasaja.blogspot.com/ - Judul : Save My Heart (*masih dalam konsultasi) - Tema : Cinta&Persahabatan - Genre : Romance Remaja
  21. Riefka Aulia - Blog: http://bentala-aksara.posterous.com - Judul: Balada Anak Kos (*masih rentan diubah menjadi Balada Mahasiswa :p) - Tema: persahabatan, mimpi, kehidupan & cinta - Genre: Humor.
  22. BELLA - Blog: http://bellakusuma.wordpress.com - Judul: Catatan Seorang Jurnalis - Tema: Perjalanan Hidup - Genre: For All
  23. Akbar Hardisurya - Blog : http://bookaholicguy.wordpress.com/ Judul : Lunturnya kesaktian keris Mpu Gandring - Tema:politik kerajaan - Genre: History based fiction
  24. Lucky Nurachman N-Blog: http://luckynurachman.blogspot.com/ Judul: Innocent -Tema: Pembalas dendaman Lukman terhadap orang yang telah mengisi hidupnya -Genre: Gothic
  25. Indah - blog : http://50k-words-in-january2011.blogspot.com/ Judul : Picture Talking Varieties, Tema : Picture Talking
  26. Edy S.Triwida - blog : http://penarasa.webnode.com/ Judul : Gondoruko ( belum tetap), Tema : Persaingan Bisnis ( belum pasti ) -Genre: Horror Lucu (masih bisa berubah).
  27. Cheptie poetie intan sari - Blog: http://cheptiearsy.blogspot.com/ --> Judul: "Karung Impian, SiBengal" -->Tema: Drama Komedi -->Genre: Personal Literature / Komedi
  28. Deasy Maria - Blog : http://idea-my-idea.blogspot.com/ --) Judul: Never Ending Love, Tema : Kisah Cinta dan Kehidupan, Genre: Roman
  29. Bunda Iin - Blog : http://bundaiin.blogdetik.com/ --> Judul : Papa, Aku Cinta Dia Karenamu, --> Tema : Perjuangan Cinta, --> Genre : Drama Komedi
  30. Sam Rinaldy- Blog: http://sam-rinaldy.blogspot.com/-Judul : " I Am The Next "-Tema : " Petualangan & Persahabatan "-Genre : Fantasy
  31. Dinda Nasution - Blog: www.ohadinda.blogspot.com - Judul: "oh adinda" - Tema : Cinta dan kehidupan - Genre: Drama
  32. Angel Olivica - Blog: http://angelolivica.blogspot.com/ - Judul: "Me vs TBC" - Tema : pernikahan vs persahabatan - Genre: urban life
  33. Velia Avtina - Blog: http://veliaavtina.tumblr.com/ - Judul: Perempuan - Tema: Cinta - Genre: Roman Dewasa
  34. Sumii - Blog: http://sumii-sayaphitam.blogspot.com/ - Judul: Satu Hati - Tema: Cinta & Kehidupan - Genre: Roman
  35. Putri Rahayu - Blog: http://tapakkecilput.blogspot.com/ - Judul: Ketika Embun dalam Senja - Tema: Kehidupan dan percintaan
  36. Younie Setya - Blog: http://youniesetya.blogspot.com/ - Judul :Di Batas Penantian (msh dlm pertimbangan) - Tema: Cinta & Kehidupan - Genre: Roman
  37. Cholida Rizkina - Blog: http://lida4ibu.wordpress.com/ - Tema; persahabatan, impian, harapan kakak adik - Genre: Fantasi
  38. Tetra Putri - Blog: http://xtetra.blogdetik.com - Judul: (K)utang - Tema: Kehidupan - Genre: Satire
  39. Tantri Shu - Blog : http://akusanglirang.wordpress.com - Judul : Sihir Hujan - Genre : fantasy
  40. Deddy Rahmawan-Blog: rachmawan.wordpress.com- tema: catatan harian jurnalis- Genre: Drama
  41. Inda Nur Farida - Blog: http://indanurfarida.blogspot.com/ - Judul: Sepenggal Kisah - Tema: Kehidupan - Genre: Inspiratif
  42. Ramdhani Nur- Blog: http://petualangan-raisa.blogspot.com/ - Judul: Petualangan Raisa -Tema: petualangan - genre: cerita anak
  43. Choirul Huda- Blog: http://www.roelly87.blogspot.com/ - Judul: "Gadis She Liong" - Tema: Cinta dan Cinta - Genre: Roman Modern
  44. Peran Sabeth Hendianto Blog: http://menulislahkembalikesekolah.blogspot.com/Judul novel: Bumi, Tema: Manusia, mimpi, dan harapan, Genre: Otobiography
  45. Neny Silvana Blog: http://nenysilvana.blogspot.com/
  46. Asyrofi Sunni Thufaili - blog : http://asyrofisunnithufaili.blogspot.com/ -judul: tikungan hidup : fantasy
  47. Amalia Dewi F, http://amalia-df.blogspot.com/, Judul : Langit dan Cakrawala, Tema : Petualangan, Genre : Anak-anak
  48. Surya Dewandari Blog : http://surya-novelpertamaku.blogspot.com/ Judul : Prastiwi - Tema: Perjodohan dan takdir jodoh seseorang - Genre : Drama
  49. Dita Yulistya D Blog: http://dhitermination.wordpress.com Judul: Bus Nomor 9 Genre: Drama
  50. Rinzhara gallandaro blog : http://illalangku.blogspot.com judul : pelarian
  51. Ria Tumimomor blog: http://frenemyforj50k.blogspot.com judul: Frenemy - Tema: Good side and bad side of friendship - Genre: Horror
  52. Meliana Indie blog: http://jurnaljeruk.blogspot.com judul: Dongeng Kakek Laut - Tema: Drama kehidupan - Genre: Dongeng, Roman
  53. Bowo bagus, blog: http://bowobagusnotes.blogspot.com/ judul: Ayahku homo, ibuku lesbian, dan aku malaekat hitam
  54. Firah Aziz  Blog: http://firahaziz.wordpress.com  Judul: The Love Next Door Tema: Cinta Genre: Roman 
  55. Ma'mar Blog: http://sekedarkatamamar.blogspot.com/ Judul: Keluarga Sabeni Tema: Kemiskinan Genre: Drama
  56. N. Indah Sari (Bunda Iin) Blog : http://belenggucintasuamiku.blogspot.com/ Judul : Belenggu Cinta Suamiku Genre : Roman
  57. Ageng Rikhmawan Blog: http://www.kompasiana.com/agengr Judul: Batik Raja Genre: Fantasi Tema : Persahabatan, Batik Fantasi
  58. Ika Devita Susanti Blog :http://iwrite.revolutia.info/ Judul: My Sushi Girl Genre: Drama Cinta
  59. Hartati blog : http://wordsvironment.blogspot.com judul : curhat seorang Nindia tema : cinta genre : roman
  60. Ayu Welirang Blog: http://namakuayuu.blogspot.com/ Judul: Tujuh Divisi Tema: petualangan, persahabatan, misteri Genre: Petualangan
  61. Uli Elysabet Pardede http://truepardede.blogspot.com/ Judul: "Sibling Rivalry" Tema: Cinta dan Kehidupan Genre: Romance
  62. Nuraulia Muhibar Blog : Akbarmuhibar.blogspot.com Tema : Kehidupan sehari-hari Judul: PJ Genre : Remaja
  63. Jenkna  blog : http://jenkna.wordpress.com/ judul : mawar besi tema : petualangan, cinta, kehidupan,seorang wartawan  genre : drama, komedi
  64. Titik Yuliantim Blog: yurikanulismaraton.blogspot.com Judul:pengasih Genre: roman berbau budaya
  65. Denny Napitupulu (Keisa) Blog: http://dennynapitupulu-keisa.blogspot.com/ Judul: Tarian Rindu di Penghujung Musim Tema: Kisah Cinta dan Perjalanan 
  66. Ayu Winastri, Blog : http://sekartangi.wordpress.com/ Judul: Atas Nama Gangga Genre: Roman
  67. Rusma Rusana Blog : rumahmungil-rumahmungil.blogspot.com Judul : Sang Mertua
  68. Herlambang blog: http://jejakpandang.blogspot.com/ judul: Rumah Tua
  69. Selsa Blog : http://selsadiyandra.blogspot.com/ Judul : Hitam Putih Kerudung Nissa Genre : Drama
  70. Ajeng Leodita Anggarani http://celotehkupukupusenja.blogspot.com/ Tema : Cinta Genre : Teenlit Horror Judul : Pengejar Nyawa Lelaki Maya
  71. Hartati blog : http://temaniakumenulis.blogspot.com/ judul : cuma butuh 'iya' genre : petualangan
  72. Suhendar Dwi Putra Blog: http://kupukupuberjilbab.blogspot.com/ Judul: Kupu-Kupu Berjilbab
  73. Erlinda sukmasari wasito blog : eswj50k.blogspot.com judul : Chang, Pejuang Tanah Timur genre : fiksi fantasi
  74. Jiah al jafara judul : Bukan mawar putih link : http://jiahjava.blogspot.com
  75. Edi Kusumawati Blog : http://​edikusumawati.blogspo​t.com/ Judul : Kidung Cinta Girli Genre : Urban
  76. Dew Indrian's Blog :http://coretanembun2011.blogspot.com Judul : Selir Genre : Romance Classic 
  77. Eka Sefiana blog: www.iam-eks.blogspot.com
  78. Mega Shatila Blog:http://megashatila.blogspot.com/ Tema : Kehidupan Judul : Tentang Waktu
  79. Elly Suryani Blog : http://newsoul-sayangidirimu.blogspot.com, Label: J50K 2012 Judul : Kunang-kunang di Sembilang Genre : Cinta/Drama Kehidupan
  80. Citra Rizcha Maya Blog : http://theuncensoredconfessionofsillydramaqu.blogspot.com/ Judul : Rahasia Gadis Genre : Drama Keluarga
  81. Ratembuni Blog : http://ratembuni.blogspot.com Judul : My Girlfriend Tema : Mencari Jati diri Genre : Romance
  82. Ophelia harsadi blog : http://whatilearnabout.blogspot.com judul : what i learn about .. being a mother, teacher, and a citizen of the world tema : bits and pieces of life genre : self help
  83. Haef Yasa blog: http://novelmarried.wordpress.com/  genre: drama nelangsa judul: Married
  84. Suci Kurnia Sari, blog: http://iraskicus.blogspot.com  judul : Three Witches, Genre : Petualangan, Fantasi.
  85. Rusma Rusana, blog: http://rumahmungil-rumahmungil.blogspot.com judul : Sang Mertua
  86. Robin Virgo Lee, blog: http://ladangimajinasi.blogspot.com/  judul : Delapan Bagian, genre: Fantasi, tema: kehidupan, misteri, tragedi 
  87. Novianto Syahmud, blog : http://tulisan-novianto.blogspot.com/ judul: Broken Home itu Baik.
  88. Nurul Fadilah, blog :  http://nufadilah.blogspot.com/  judul : Nikah Muda, genre : Drama.
  89. Dila Indi, blog : http://dilaindi.blogspot.com/  judul : Keluarga Super Nadira, genre: drama
    tema :keluarga, impian 
  90. Suhendar Dwi Putra, blog: http://simponisenyum.blogspot.com/  judul: Simponi Senyum Dari Dalam Hati, The True Srory Begin
  91. Muhammad Barzan Taufiq, blog: http://barzantaufiq.blogdetik.com  belum ada judul, genre : roman
  92. Angger Wiji Rahayu, Blog : http://www.anggerwijirahayu.com  judul : Perempuan dalam Warna
    Genre : roman.
  93. Anazkia,  blog:  http://www.anazkia.com/  judul: #Serial Twitter, tema: lika liku mahasiswa,
    Genre: Remaja
  94. lin A. Adyana, blog: http://catatanalin.wordpress.com  judul: voyage de la vie
  95. Rahmawati, Blog: http://namasayarahmawati.blogspot.com/  judul: belum ada judul, Genre: fantasi
  96. Amalia Satriani, blog:  http://ekspresiamal.blogspot.com   judul: Sunrise: Cinta dan Tanggung Jawab, genre: fantasi remaja. 

    Friday, December 23, 2011

    [Pemenang 1 Lomba Cerpen Kampung Fiksi] Obrolanku Dengan Tuhan - oleh: Vira Cla

    Handphone yang kuletakkan di meja samping tempat tidur berdering. Ada panggilan masuk yang membangunkanku seketika itu. Kulihat layarnya, sebuah private number. Aku benci menjawab panggilan dari nomor yang tak kukenal, apalagi dari nomor rahasia seperti itu. Kututup mukaku dengan bantal seakan ingin menutup diri dari handphone yang terus berdering. Kamarku masih gelap, tak ada cahaya yang mengintip dari gorden jendela yang sedikit terbuka. Sepertinya masih subuh dan masih pantas bagiku untuk melanjutkan tidur setelah begadang semalam.

    Aku tertidur hingga menjelang siang. Puting beliung dalam perut ini memaksaku untuk mencari suplai energi. Aku terpaksa bangun, walau mataku masih ingin terpejam. Di dapur, aku menyiapkan sereal dan susu sebagai menu brunch hari ini. Sesaat aku menyuapkan sesendok sereal ke dalam mulut, handphone yang kutinggal di kamar berdering lagi. Tak kuacuhkan. Tak ada hal penting yang harus kulakukan hari ini, jadi aku merasa tak penting untuk dicari oleh sesiapapun hari ini juga, walau hanya lewat panggilan handphone.

    Cuaca dalam perut sudah tenang, puting beliung telah berlalu, damai sekali rasanya. Namun, kedamaian ini tak bertahan lama, karena puting beliung itu bergerak ke ususku. Sudah jadi kebiasaan, tak lama aku menghabiskan makanan pertama hari ini, aku harus segera ke kamar mandi, nongkrong di sana berlama-lama membuang hajat sambil memungut ide-ide yang berseliweran di atas kepala. Entah kenapa, suasana syahdu di kamar mandi bisa memicu lahirnya kreatifitas. Mungkin hanya satu yang bisa membuyarkan semua ide kreatif itu. Dering handphone!


    Kalau handphone itu ada di dekatku sekarang, pasti segera kubanting biar rusak sekalian! Handphoneku itu memang sudah butut, bukan handphone canggih yang trend saat ini. Layarnya saja masih monokrom, nada deringnya masih polifon, fungsinya cuma bisa SMS dan telepon. Hubungan kami selama tujuh tahun seharusnya memang disudahi saja. Handphone, oh, handphone...

    Total panggilan tak terjawab hingga sore berjumlah tujuh. Angka kesukaanku. Seharian di rumah, aku meninggalkan handphone di dalam kamar. Aku tak ingin pekerjaan membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, serta aktifitas afternoon reading with tea-ku diganggu oleh sebuah panggilan telepon. Aku cukup heran dengan nomor rahasia yang ngotot ingin bicara denganku. Siapa gerangan? Rasa-rasanya aku tak punya penggemar fanatik yang mengincarku. Akhirnya aku penasaran, aku ingin tahu siapa penelepon rahasia itu. Tapi, bagaimana caranya? Aku tak bisa balas menelepon ke nomor rahasia.

    ***

    Halaman di aplikasi microsoft word di depan mataku ini masih putih bersih. Tak satu huruf pun yang bisa kuketik. Seperti ada yang kurang kulakukan seharian ini hingga membuat otakku buntu seketika. Padahal, semua pekerjaan rumah telah kubereskan, tak ada lagi buku-buku yang berantakan, perangkat makan yang kotor, debu-debu di furnitur pun sudah kubersihkan. Apa yang kosong di kepala ini?

    Dering yang sama untuk ke sekian kalinya. Otakku tetiba cemerlang. Kegesitan mengangkat panggilan yang akhirnya muncul lagi senja ini. Barangkali panggilan ini yang kutunggu-tunggu supaya otakku bisa diajak bekerja. Segera kutekan tombol berlogo telepon berwarna hijau itu dengan jempolku.

    “Halo,” sapaku seperti biasa menjawab telepon masuk.

    “Halo,” balasnya. Ia yang entah siapa. Aku tak pernah mendengar suara seindah itu. Aku bahkan tak bisa menentukan apakah itu suara pria atau suara wanita. Suara yang asing, suara yang barangkali tak pernah kau dengar di manapun, suara yang hanya kudengar lewat telepon ini.

    “Ya, dengan siapa ini?” tanyaku sedikit gemetar, entah kenapa.

    “Tuhanmu, Joanna.” Jawaban tergila yang pernah kudengar. Jujur saja, aku dibuat terperangah. Entah kata apa yang harus kusampaikan pada orang gila itu. Wait! Orang gila? Tuhanku orang gila?

    “Maaf. Saya lagi sibuk, tolong hubungi orang lain saja. Saya tak ada waktu melayani lelucon macam ini.” Suaraku kembali normal. Masa bodoh dengan suara terindah itu!

    “Aku sedang tidak bergurau, Joanna.” Kedua kalinya ia memanggil namaku. Bagaimana ia tahu? Oh ya, ia adalah Tuhanku. Temanku yang mana yang ingin mengerjaiku kali ini? Segera saja kumatikan telepon dari Tuhan, terserah ia mau marah, aku tak percaya jika benar Ia yang meneleponku.

    Aku beringsut mendekati layar laptop. Masih ada jeda antara keterpukauanku pada suara terindah dengan keinginanku untuk berkonsentrasi pada tulisanku. Sementara waktu, biar kunikmati jeda ini.

    ***

    Usahaku gagal malam ini, tak ada kata-kata yang terangkai dengan layak. Musik yang kudengar tak mencairkan kebekuan otakku. Menonton film pendek juga tak memicu ide apapun. Mungkin aku perlu ke luar rumah sebentar, mengirup udara dingin, menyesap keheningan malam. Siapa tahu ide-ide berjatuhan dari langit.

    Handphone yang seharian tadi merecokiku masih tergeletak di atas meja. Kubiarkan tinggal di sana, walau ada secuil keinginan untuk menjamahnya. Aku ingin mendengar suara terindah itu lagi.

    Kembang anggrek yang kutata di pot gantung menghiasi teras rumahku yang mini. Mereka kadang menjadi pendengar terbaik di rumah ini. Memang tak ada sesiapa lagi yang tinggal bersamaku. Aku menjadi janda setelah menikah sepuluh tahun. Menjadi janda karena suamiku menginginkan anak dari rahim yang tak akan berbuah ini. Kuelus perutku. Mataku telah lama kering. Jadi, tenang saja, tidak akan ada air mata malam ini, dan malam-malam selanjutnya...

    Handphone-ku berdering. Mungkinkah dari si penelepon rahasia lagi? Aku menuju kamarku segera. Tak sempat kujawab. Namun, tak lama kemudian, masuk sebuah pesan singkat.

    “Joanna, telepon Aku jika kau butuh. Sekarang kau sudah tahu nomorku ini. Tapi, berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa-siapa. Aku bisa kauhubungi tiap saat kapan kau mau. Sincerely, Your God.”

    Sepertinya Tuhan baru punya handphone, bagaikan mainan baru, Ia menghubungi setiap umatnya. Ia kesepian di atas sana. Ia menghubungi siapa saja. Dan aku salah satu korban keisengan-Nya. Aku mencoba mengikuti permainan ini. Mungkin Tuhan memilihku karena aku sama kesepian dengan-Nya. Bisa jadi! Kubaca lagi pesan singkat itu. Tak ada yang sanggup kulakukan selain tertawa terbahak.

    ***

    Hingga tengah malam, aku belum bisa tidur. Ada kegelisahan yang menjalar di dada. Entah gelisah karena tulisan belum rampung, entah gelisah karena Tuhan mencoba menghubungiku. Oh, aku mulai percaya benar Tuhan yang meneleponku dan mengirimiku SMS? Hahaha... Gila! Hidupku di dunia fiksi tak lantas menghanyutkanku ke dalam arus imajinasi, bukan? Tentu saja bukan Tuhan yang menghubungiku. Lantas, kenapa aku masih gelisah?

    Handphone berwarna hitam buram itu berdiam di meja kecil di sebelah pembaringanku. Bunyi polifoniknya yang nyaring kini kurindukan. Aku berbaring miring menghadap handphone itu. Telah banyak kisah kami bagi bersama. Kisah bahagia ketika ia menjadi hadiah ulangtahun pernikahanku tujuh tahun yang lalu. Ia juga yang menemani kesepianku ketika berpisah dari suamiku lima tahun setelah itu. Lewatnya kukirim permohonan maaf pada mantan mertuaku. Mantan mertua yang pernah begitu sayang padaku. Sekian tahun, aku masih bertahan dengan handphone jadul itu.

    Bingung, gelisah, penasaran, mengaduk-aduk isi kepalaku. Kuraih handphone yang belum juga berdering sejak SMS dari Tuhan tadi. Telepon Aku jika kau butuh. Butuh teman bicarakah aku? Mungkin Tuhan memang sedang mengirimkan seseorang untukku. Tapi, bagaimana jika memang Tuhan yang mencoba menghubungiku?

    Kuberanikan menelepon nomor rahasia Tuhan. Nomornya cukup panjang, entah provider mana yang jadi langganan Tuhan ini. Aku tak akan membagi nomornya di sini, tak akan kubiarkan pembacaku mengetahui nomor yang diminta untuk dijaga kerahasiaanya. Apalagi, ini nomor handphone Tuhan, kalau banyak orang yang tahu, bisa-bisa orang tak lagi mengunjungi rumah-Nya. Oh, kapan aku terakhir kali ke gereja?

    Nada sambung itu bernyanyi di kuping kananku. Cukup lama menunggu jawaban. Sedang sibukkah Tuhan? Sudah lewat tengah malam. Tuhan tidak tidur, bukan?

    Kucoba sekali lagi. Kalau tetap tak ada jawaban, aku akan meyakinkan diriku sepenuh hati bahwa Tuhan memang tak akan membagi nomor handphone-Nya pada siapa pun juga, hingga kapan pun juga. Dan itu juga kalau Tuhan punya handphone. Hmm...

    “Halo, Joanna. Aku tahu kau akan menghubungi-Ku,” kalimat yang kudengar itu tak salah lagi dari suara yang sama kala senja tadi. Suara yang tetap menggetarkan kalbu.

    “Tuhan?” Aku bingung harus berkata apa! Tanganku gemetar. Suaraku tak tenang. Aku tak ingin orang di seberang sana—Tuhan—mengetahui kegelisahanku kini.

    “Bicaralah, Joanna. Jangan ragu.” Keheningan menjalar. “Kau menangis, Joanna?”

    Tidak! Siapa kau? Sudah lama aku tak pernah menangis lagi. Aku tak mungkin menangis sekarang hanya karena mendengar suara indah ini. Kuusap pipiku. Basah. Bagaimana mungkin tak terasa?! Siapa kau?

    “Joanna, dengar suara hatimu. Kau tahu apa kata hatimu. Kau telah tahu jawabannya, Joanna.”

    Tak kuasa lagi. Kumatikan sambungan dengannya...-Nya? Benarkah Kau, Tuhan, yang bicara denganku?
    Badan bergetar, berkeringat dingin, sulit tidur, beginikah rasanya ketika nabi menerima wahyu Tuhan? Hei, Joanna! Kau bukan nabi, jangan kau samakan! Ya, aku bukan nabi, dan tidak mungkin aku berbicara langsung dengan Tuhan. Tenangkan dirimu, Joanna!

    ***

    Akhirnya, aku memang menenangkan diri, dengan obat tranquilizer. Setidaknya sebutir tablet diazepam melancarkan kata-kata mengalir dari mulutku ketika berbicara dengan Tuhan. Ya, ketika aku butuh, aku meneleponnya, eh.. Nya. Sepertinya aku harus membiasakan diri menyebut Tuhan dengan huruf kapital. Aku mulai percaya bahwa aku menelepon Tuhan. TUHAN!

    “Mungkin kau perlu kencan dengan seseorang, Joanna.”

    “Tidak perlu. Bertemu, berkenalan, kencan, menikah, mengharapkan anak. Aku tak akan bisa memberi apa yang lelaki mau, Tuhan.”

    “Kamu yakin sekali bakal tidak bisa mengandung?”

    “Jadi, Kau bisa menjamin aku bisa hamil? Ya, Kau harus memungkinkan aku untuk hamil! Ayolah, Tuhan, Kau yang menyarankan untuk kencan, lho?!”

    “Oke. Tapi, apa nanti kau tak akan menyesal telah bercerai dari Alex?”

    Aku terdiam. Malam ini aku melanjutkan menulis novel baruku. Sejak tujuh hari yang lalu, sejak aku menerima SMS dari Tuhan, sejak aku beranikan diri meneleponnya tanpa gemetar, sejak aku bisa mengobrol dengan Tuhan, sarafku seperti bekerja dengan optimal, memungut begitu banyak ide lalu menjalinnya menjadi kerangka cerita yang menakjubkan. Malam ini aku sedang asyik mengirimkan huruf-huruf ke halaman word melalui tarian jemariku di atas keyboard, lalu tiba-tiba buntu, aku pun mengambil handphone dan segera memanggil Tuhan. Tapi, malam ini Tuhan membuatku terdiam. Lagi dan lama.

    Bukan Alex yang ingin bercerai. Aku yang minta diceraikan. Aku tahu apa yang diinginkan Alex. Aku mengerti apa yang diharapkan ibu mertuaku pada Alex anak semata wayangnya. Aku sendiri yang mencarikan calon istri untuk Alex, kupilih yang subur, kuingin Alex memiliki keturunan dari benihnya, yang akan menjelma seorang bocah yang dialiri darah Alex. Dan, aku tak ingin jadi penghalang kebahagiaan mereka. Buat apa istri pertama yang mandul? Aku tak akan bisa bertahan. Aku minta diceraikan. Dua tahun lalu, awan kelabu itu datang, dan hingga kini, tak pernah bergerak dari atap kehidupanku.

    “Joanna, kau mengenangnya?”

    “Ya, tapi aku tahu Kau bercanda. Pemeriksaan medis lengkap telah menyatakanku infertil. Aku tak akan mungkin hamil.”

    “Joanna, aku yang menciptakanmu. Apa yang tak mungkin Kulakukan? Semuanya mungkin, Joanna.”
    Sudahlah, Tuhan. Aku mengantuk.

    ***

    “Joanna, pergilah ke gereja.”

    “Hmm...”

    “Jadi, minggu ini ke gereja?”

    “Hmm...”

    “Aku tahu jawabanmu. Buat apa? Toh, Aku sudah menyediakan kesempatan khusus untukmu. Kau bisa menghubungi-Ku kapan kau suka. Ya, ‘kan?”

    “Hmm... Tak ada yang bisa kurahasiakan dari-Mu.”

    Tuhan yang kuyakini hanya ada dalam hati nuraniku. Ia tak harus kutemui di gereja, lembaga agama bikinan manusia. Tuhanku semestaku, yang hadir tiba-tiba lalu pergi tak terduga.

    ***

    Tidak ada nada sambung. Hanya hening. Berkali-kali aku menelepon nomor rahasia itu. Sehari-semalam, tak hentinya aku mencoba menghubungi Tuhan. Aku sedang butuh Tuhan!

    ***

    Aku seperti bertemu dengan orang asing di sebuah kafe. Orang asing yang mencoba mengajakku berkenalan. Aku menyanggupi pertemanan dengannya karena ia orang yang asyik diajak ngobrol. Lalu, hari berikutnya, aku ke kafe yang sama. Harusnya aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan bila sendiri, tapi aku tak bisa melakukannnya karena aku diam-diam mencari orang yang kemarin aku temui. Beruntung, orang itu ada lagi. Kami pun saling bercerita, berbicara tentang apa saja. Setelah itu, aku sanggup melakukan apa yang harus kulakukan, dengan lancar dan lebih brilian. Sehingga hari-hari berikutnya, aku terus mencari orang yang sama, mengajaknya duduk di mejaku lalu bercerita lagi. Aku tak butuh lagi zat-zat adiktif yang kusugestikan bisa mengalirkan inspirasi. Aku hanya butuh berbicara dengannya. Terus demikian hingga tiga bulan kemudian, orang itu tak lagi muncul di kafe itu, tak lagi ada di hadapanku.

    Aku kehilangan fokus melanjutkan pekerjaanku. Aku terus mencari-cari orang asing yang hadir tiba-tiba lalu pergi tak terduga.

    Tuhan, Kau kemana??? Aku membanting handphone ke depan cermin kamar.

    Handphone dan kaca sama berderai. Hatiku lebih hancur lagi.

    ***

    Tak ada handphone yang berdering nyaring. Tak ada Tuhan yang berbicara lewat handphone. Tuhan, Kau bukan hantu, kan? Kau pasti bisa kutemukan di suatu tempat. Di mana Kau bernaung Tuhan?

    Tidak! Aku tak akan ke gereja! Tuhan yang di gereja telah melaknatku karena telah bercerai dari Alex. Tuhan di sana tak akan rela menyediakan waktu ngobrol khusus lewat handphone. Tuhan yang mana kucari ini?! Tuhan, kembalilah!!!

    Tubuhku tergeletak lemas di atas ranjang. Pecahan handphone itu telah kusatukan, tapi tak bisa menyala. Tak apa-apa, Tuhan pasti punya cara ajaib supaya handphone itu berfungsi lagi. Aku akan menunggu-Nya.

    ***

    Novelku mentok setelah sembilan bab. Aku butuh satu bab lagi untuk menyelesaikannya. Agen penerbitku mulai menanyakan perkembangannya. Tidakkah dia tahu aku tak akan bisa menamatkan novel ini dengan baik bila tanpa DIA?! Tuhaaan!!!

    Email masuk hampir tiap hari, bertanya tentang hal yang sama. Orang-orang kapitalis ini memang tak bisa mengerti. Aku belum bisa memberikan draft novelku! Mengertilah, setan!

    Tak ada lagi email bawel. Sepertinya aku dicampakkan.

    ***

    Aku membeli handphone baru. Kuharap aku bisa menghubungi Tuhan lewat handphone ini. Kartu sim telah diaktifkan. Aku mulai memencet keypad.

    TUHAAAN!!!

    Aku tak menyimpan nomor rahasiamu!

    Entah teriakan histerisku terdengar oleh para tetangga. Ah, aku sudah tak peduli. Tubuhku terguncang karena isakan tangis. Aku mencari Tuhanku. Aku ingin berbicara dengan-Nya. Tuhanku semestaku, hatiku telah hancur, masihkah Kau ada dalam hatiku?

    Hatiku telah hancur, mungkin Tuhan tidak betah berada dalam hatiku. Mungkin Ia mengungsi ke gereja, mungkin saja, ‘kan?

    Tidak! Gereja tak akan membukakan pintunya untukku.

    Tunggu!

    Tuhan sering menyuruhku ke gereja.

    Aku akan menemuinya di sana!

    ***

    Aku merapikan diri. Aku mematut diri depan cermin. Banyak yang berubah, lebih tepatnya berkurang. Aku terlihat pucat. Kulihat lipstick di atas meja rias. Kuusapkan pelan. Tanganku gemetar. Ah, peganganku tak kokoh. Segera kucampakkan lipstick itu, entah ia berguling ke mana. Aku berlari keluar. Terjatuh di depan pintu. Aku berjalan terseok. Terus berjalan menjauhi rumah.

    Gereja, di sinilah aku berdiri. Di mana Kau Tuhan? Bicaralah sekarang! Kumohon.

    Handphone di saku celanaku berdering. Private number. Hatiku melonjak girang, walau tubuhku sudah begitu lemas.

    “Tuhan...”

    “Kau meyakini Aku selalu ada di dalam hatimu. Tapi, kau sendiri tak pernah mendengar suara hatimu. Kau tak pernah mempercayai-Ku, Joanna.”

    ***

    Novelku selesai. Penerbitku sangat senang. Bagaimana tidak? Novel yang menyelipkan pengalaman spiritualku itu menjadi best-selling seantero negeri. Sepertinya novel-novel macam ini memang diburu banyak orang. Orang-orang seakan kehilangan sesuatu yang mendalam di diri mereka. Orang-orang ini membutuhkan penyegaran spiritual. Mereka mencoba mencari Tuhan. Ah, semoga mereka bisa menemui Tuhan dalam hati mereka.

    Handphoneku kini makin sering berdering. Tapi aku jarang menerima telepon, lebih banyak SMS yang masuk. Mereka pembaca novelku. Ungkapan kagum dan terimakasih bertubi-tubi kuterima. Tidak, aku tak pantas untuk itu semua. Tuhan yang pantas dikagumi dan disyukuri. Tuhan yang akan selalu bersemayam di dalam hati tiap manusia. Tuhan yang akan selalu berbicara dengan makhluknya yang mau mendengar. Dengarlah suara hatimu, Joanna, kau akan mendengar diri-Ku berbicara.

    Itulah kalimat terakhir yang kudengar dari handphoneku.

    ***

    end
    by: Helvira Oktami Hasan (Vira Cla)
    Dimuat pertama kali di sini.

    Saturday, December 17, 2011

    Inilah Para Pemenang Lomba Menulis Cerpen (Post Event Workshop Menulis Kampung Fiksi)!

    Haloo! Akhirnya waktu yang ditungg-tunggu datang juga. Semua peserta lomba menulis cerpen Kampung Fiksi tentu sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa para pemenang lomba. 

    Tim Kampung Fiksi telah memutuskan, ada 4 cerpen yang berhasil meraih hadiah yang disediakan oleh panitia. Empat buah cerpen yang dinilai menonjol secara ide, penceritaan, struktur cerita dan pemilihan kata/bahasa. Karya-karya lain yang tidak menang sesungguhnya hampir sama baiknya, hanya saja kami harus memilih yang terbaik dari yang terbaik, sehingga didapatlah nama-nama berikut:

    Juara 1: Vira Cla (Obrolanku Dengan Tuhan), hadiah: Smartphone Blackberry
    Juara 2: Nastiti Denny (Batas Waktu), hadiah: Handphone Samsung
    Juara 3: Okti Li (Oti dan Si Dukun) dan Tika Sylvia Utami (Kirana), hadiah: Modem

    Selamat kepada para pemenang! (ki-ka: Nastiti, Okti Li, Tika dan Vira Cla)
    Karena akhir bulan Desember 2011 semakin dekat, dikhawatirkan para pemenang dan panitia akan disibukkan dengan berbagai acara akhir tahun, maka panitia menghubungi para pemenang sebelum pengumuman ini dibuat. Tadi siang (Sabtu, 17 Desember 2011), panitia dan para pemenang berkumpul di Plaza Senayan untuk penyerahan hadiah.

    Selamat bagi para pemenang! Bagi yang belum menang, jangan kecewa. Masih banyak kesempatan lain, yang terpenting adalah teruslah menulis! :)

    Salam Kampung Fiksi!

    Berikut ini link untuk semua karya peserta yang memenuhi syarat, yang menarik meskipun belum beruntung:
    1. Nastiti Denny
    Nenek, Handphone dan Dunia yang Hilang

    2.  Reyhan Arrasuli
    Rindu Bersama Bintang

    3.  Ratih Anggraeni
    Aku Benci Handphone

    4.  Lidya Fitrian
    Suara Merdu Mama di Handphone

    5.  Juli Dwi Susanti
    Telfon Itu Menyelamatkanku

    6. Sylviana Sandra
    Sesal

    7. Eka Sefiana
    Percakapan disuatu restoran

    Sampai jumpa di event-event berikutnya, ya! Event Kampung Fiksi yang segera menyusul adalah January 50K. Silahkan klik link ini untuk bergabung! :)

    Sunday, December 4, 2011

    Perpanjangan Lomba Post Event Workshop Perempuan Menulis dan Blogging Kampung Fiksi, Powered by Indosat


    Untuk memberi kesempatan pada semua peserta  Workshop Perempuan Menulis dan Blogging bersama Kampung Fiksi, Powered by Indosat, jangka waktu lomba diperpanjang sebagai berikut:

    - Lomba dimulai dari 27 November –  10 Desember 2011.
    - Pemenang lomba akan diumumkan tanggal 17 Desember 2011.

    Buruan, segera umumkan link untuk kisah-kisah menarik yang telah kalian tulis, mumpung diperpanjang. Siapa tahu sebuah smartphone Blackberry akan menjadi milik salah satu dari kalian. Dan Si Gadget Keren itu pasti suka dibawa-bawa merayakan malam Tahun Baru 2012. Yeayyyy...!!!

    Friday, December 2, 2011

    Terima Kasih Untuk Peserta Workshop Kampung Fiksi



    Event offline perdana yang digelar oleh Kampung Fiksi sudah hampir seminggu berlalu. Tapi kesan-kesan mendalam yang kami (penyelenggara) dapatkan masih hangat terasa. Yup, hangat! Kehangatan yang terbentuk selama acara berlangsung sangat berkesan bagi kami. Harapan kami, para peserta pun merasakan hal yang sama.

    Sejak awal, kami memang berniat untuk membuat sebuah acara yang jauh dari formal, walaupun materi yang ingin kami sampaikan juga bukan materi asal-asalan. Kami ingin menjalin keakraban dengan teman-teman Kampung Fiksi melalui acara ini.

    Sampai saat ini, hal yang paling menakjubkan adalah antusiasme dan semangat para peserta dalam mengikuti Workshop Perempuan Menulis dan Blooging bersama Kampung Fiksi (Powered by Indosat). Tidak ada satu sesi yang terlewat tanpa keramaian dan pertanyaan-pertanyaan yang penuh rasa ingin tahu.

    Kami dari Kampung Fiksi mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi para peserta workshop. Kita belajar bersama melalui workshop ini. Apa pun itu, sebuah pertemanan terjalin melalui acara ini. Ditambah lagi, beberapa anak yang tidak mampu sebentar lagi akan bisa tersenyum bahagia memegang sebuah buku cerita anak (Peri-peri Bersayap Pelangi) di tangan mereka, karena donasi yang telah diberikan peserta melalui workshop ini. Bravo untuk kita semua!

    Pesan penting:
    Jangan lewatkan kesempatan memenangkan Blackberry, handphone dan modem dari Indosat! Ikut lomba menulis cerpen-nya ya. Masih ditunggu karya teman-teman peserta workshop kemarin.

    Sunday, November 27, 2011

    Lomba Post Event Workshop Perempuan Menulis dan Blogging Kampung Fiksi, Powered by Indosat

    Kampung Fiksi mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dan pendukung acara Workshop Perempuan Menulis dan Blogging
    Yeaayy!
    Akhirnya Workshop Perempuan Menulis dan Blogging bersama Kampung Fiksi, Powered by Indosat, selesai digelar kemarin (Sabtu, 26 November 2011). Kami selaku penyelenggara mengucapkan terima kasih yang tak terhingga untuk para peserta. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan teman-teman yang antusias dan bersemangat untuk belajar.

    Seperti janji kami, acara Workshop ini masih berlanjut dengan sebuah lomba khusus bagi para peserta yang sudah terdaftar sebagai peserta workshop kemarin. Apa lombanya? Bagaimana mekanismenya? Apa persyaratannya? Dan yang paling penting, apa hadiahnya?

    Lomba Post Event Workshop Perempuan Menulis dan Blogging bersama Kampung Fiksi
    Powered by Indosat
    Lomba menulis cerpen khusus untuk peserta Workshop Menulis Kampung Fiksi

    Peserta:
    Seluruh peserta yang sudah terdaftar dan memiliki nomor peserta yang tercantum di dalam e-ticket workshop.

    Syarat dan ketentuan:
    - Peserta menuliskan cerpen dengan tema yang berhubungan dengan sebuah kata yang sudah ditentukan, yaitu: “Handphone”, di blog masing-masing. Jangan lupa, ingat-ingat materi workshop kemarin tentang menulis cerpen yang baik, ya… 
    - Panjang cerpen berkisar 1.000 – 5.000 kata (lebih atau kurang sedikit tidak apa-apa).
    - Peserta diharap mengirimkan link URL postingan cerpen tersebut, berikut dengan nama lengkap, nomor handphone dan nomor e-ticket ke kampungfiksi@gmail.com dengan subyek: Link Cerpen Untuk Lomba Workshop Menulis.
    - Peserta juga diharapkan memasukkan logo powered by Indosat pada akhir tulisan.
    - Lomba dimulai dari 27 November – 4 Desember 2011.
    - Pemenang akan diumumkan tanggal 11 Desember 2011.
    - Masing-masing peserta boleh mengirimkan maksimal 2 karya.
    - Akan dipilih 3 pemenang yang tulisannya dinilai paling menarik, baik secara teknis mau pun penceritaan.
    - 3 cerpen pemenang akan ditayangkan di blog Kampung Fiksi sebagai tulisan dari Kontributor Tamu.

    Hadiah:
    - Pemenang pertama: 1 unit smartphone Blackberry
    - Pemenang kedua: 1 unit handphone
    - Pemenang ketiga: 1 unit modem portable
    *Hadiah dipersembahkan oleh Indosat, Sahabat Blogger dan Netizen*

    Jangan tunggu lagi! Cepat tentukan tema ceritamu, bentuk karakter tokoh ceritamu, bayangkan setting kejadian dalam kisah itu, mainkan plot semenarik mungkin! Ow, jangan lupa juga, be creative! Selamat berlomba!

    Thursday, November 17, 2011

    Andi Gunawan yang Penuh Kejutan!

    Workshop Perempuan Menulis dan Blogging akan dipandu oleh seorang Andi Gunawan, penulis dan penyair muda dengan passion dan talenta yang luar biasa. Yuk, kenalan dengan Ndigun lewat bio singkat ini.

    Andi Gunawan. Terlahir di Jakarta, 26 Maret 1988 dan besar di Depok. Sempat menempuh Ilmu Komunikasi Massa selama 4 semester di FISIP UHAMKA, Jakarta Selatan. Pemuda yang tertarik kebahasaan ini gemar sekali mengacak kata serupa sajak, prosa dan racauan lainnya di halaman blog pribadinya dan beberapa portal termoderasi lainnya seperti Kompasiana, Baltyra, dll.

    Bersama teman-teman absurdnya, ia bentuk kelompok menulis SPASI. Juga menjadi salah satu penggagas Majelis Sinema LAJAR DJINGGA, forum diskusi yang menjadikan film sebagai media kajiannya. Saat ini ia sedang bekerja sebagai wartawan untuk Majalah Thawaf dan sebuah majalah perusahaan. Selain bekerja ia juga bergiat di Akademi Berbagi, sebuah gerakan sosial bidang pendidikan alternatif.dan sedang mengasah diri menjadi seorang komedian tunggal (stand-up comedian).

    Kejutan! merupakan buku tunggal pertamanya berupa antologi prosa diterbitkan LiniKala Publishing, Jogja, 2011. Satu cerita kilatnya yang berjudul Different terpilih sebagai 12 Top Rated English Category of Flash Fiction Challenge by Ubud Writers and Readers Festival 2010. Karya lainnya termuat dalam Kompas.Com, buku Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 dan di kumpulan cerpen Be Strong Indonesia #1 (nulisbuku.com, 2011) serta buku antologi sajak Cinta, Kenangan dan Hal-Hal yang Tak Selesai (Gramedia, 2011).

    SilahkanberkunjungkeAndiGunawan di http://ndigun.wordpress.com atau follow TimeLinenya di @ndigun.

    Thursday, November 10, 2011

    Something About the Sexy and Smart Eka Situmorang Sir


    Blogging is a trend nowadays. Kenapa juga kita tidak punya blog untuk mencurahkan isi pikiran dan hati kita? Tapi apa hanya itu? Tentu tidak khan? Blog bisa menjadi ajang untuk berbagi informasi dan bahkan menambah jaringan persahabatan. Tapi tetap saja bagi beberapa diantara kita dilanda kebingungan. Bagimana ya memulai nge-blog itu dan setelah bikin blog apa sih yang mau saya curahkan disana? Maka dalam workshop nanti kami mengundang salah satu blogger cewek yang terbilang aktif untuk berbagi cerita. Dan kami hadirkan sedikit bio mengenai dirinya sebelum kita nanti bertemu muka di acara workshop Perempuan Menulis bersama Kampung Fiksi di Bekasi Cyber Park 26 November 2011.

    Eka Situmorang-Sir, perempuan berdarah Batak ini numpang lahir di sebuah kota yang kental dengan budaya keraton Jawa pada Kamis Pahing, hari ke dua puluh tujuh di bulan ke sebelas dalam penanggalan Masehi.

    Seorang istri dari Pria bermarga Sir. Penggila warna biru dan sepatu serta menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca, blogging serta bersenang-senang di dunia sosial media. Menyukai travelling baik wisata alam maupun kuliner. Pernah nekat menjelajah jalan darat (baca: nyetir mobil sendiri) dari Jakarta ke Sumatera juga menyusuri aspal panas Pantai Utara Pulau Jawa hingga berakhir di Lombok Nusa Tenggara Barat demi sebuah sensasi bernama “petualangan”.

    Meraih gelar Magister dalam Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia setelah sebelumnya Eka berhasil menyelesaikan kuliah program Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah itu Eka Situmorang-Sir melanglang buana dengan bekerja di berbagai perusahaan asing mulai dari staff Human Resource, Public Relation hingga Marketing Communication. Namun pada akhirnya, hati kecilnya memanggil untuk mengabdi pada negara, dan saat ini berkecimpung di dunia pemerintahan.

    Mulai mengenal blog pada bulan Maret 2009 atas saran temannya yang gemas melihat notes-notesnya di Facebook tidak terdokumentasi dengan baik. Corat-coret awalnya ada di blog gratisan http://ceritaeka.wordpress.com. Setelah tiga bulan ngeblog gratisan, atas kebaikan hati salah seorang sahabat blogger, maka Ceritaeka atau yang akrab disapa CE berpindah ke hosting berbayar, dan lahirlah http://ceritaeka.com . Beberapa tulisannya di blog telah memenangkan penghargaan dari kompetisi menulis. Blog telah membawanya mengenal banyak orang dan juga memberinya banyak pengalaman menyenangkan mulai dari wisata gratis hingga bertemu blogger-blogger luar biasa dari berbagai kota. Namun di atas itu semua, blog telah menjadi media untuk berbagi pikiran dan rasa; ajang silahturahmi sekaligus tempat belajar tanpa henti.

    Silahkan mampir ke rumah Eka di http://ceritaeka.com atau follow Time Line nya terus di @ceritaeka dan darinya kita mengerti. Mengapa blogging itu asyik banget 

    Monday, November 7, 2011

    Dhira Si Pemberani

    Sehubungan dengan salah satu pembahasan workshop Kampung Fiksi mengenai e-publishing, maka kami memutuskan untuk berbincang-bincang sedikit dengan Dhiratara Widhya Co-Founder & Chief Publishing Officer dari PT. Evolitera.

    Kalau melihat sepintas penampilannya yang serius, kami tidak menyangka ternyata Dhira adalah cewek yang juga hobi bercanda., Terlihat dari sedikit cerita mengenai dirinya yang bersedia ia bagi bersama kami. Dhiratara, atau yang akrab dipanggil Dhira, lahir di Jakarta, 12 Februari 1989. Ia mengaku sempat menjadi kesayangan guru-guru, kecuali guru agama, di SMA Negeri 14 Jakarta. Tidak kami minta penjelasan ya kenapa  ada perkecualian itu. Ia menyelesaikan 4 tahun kuliah yang baginya amat menyenangkan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, jurusan manajemen, dan lulus pada Agustus 2010.

    Dhira bisa dikatakan sebagai kutu buku asli 100% karena bukan hanya senang membaca segala hal yang bisa dibaca sejak kecil, seperti buku tapi juga melahap bacaan berupa brosur obat. Pengarang favoritnya adalah Dan Brown, Anton Chekhov, Haruki Murakami, dan Leila S. Chudori. Karena kecintaannya membaca, di sela-sela waktu kuliah Dhira mencoba merintis usaha menjadi distributor buku. Motivasinya tentu saja supaya bisa membaca buku dengan gratis. Motivasi itulah juga yang membawanya di suatu sore di tahun 2008 di kantin pinggir danau FEUI menyetujui ajakan Eduardus - CEO Evolitera untuk mendirikan Evolitera, sebuah website penerbitan digital, sejak Februari 2010 hingga sekarang.

    Mulai penasaran? Yuk kita mulai saja dengan liputan interview yang telah berlangsung live via Twitter Kamis tgl 3 November 2011 lalu.

    Sebelum Evolitera, Dhira adl distributor buku. Bagaimana mengatur waktu bekerja sembari kuliah? 
    Bisnis distributor buku saya biasanya saya lakuin sblm jam kuliah (siang) & sore pulang kuliah Aktivitasnya biasanya mengantarkan barang ke toko, lalu antar invoice, minggu depannya ambil tagihan. Dgn sequence kegiatan distribusi yang seperti itu, gak terlalu menyita waktu kuliah. Lainnya bisa via telephone atau email

    Bagaimana awalnya Evoliera terbentuk?
    Cikal-bakal Evolitera di tahun 2008. Suatu sore senior saya Eduardus Christmas mengajak saya untuk bertemu dan ngobrol di kantin. Ternyata ia mengajak saya untuk memulai bisnis bersama penerbitan eBook di website, karena ia tahu saya pernah bisnis distribusi buku. Idenya sederhana. Website ini nanti memberikan kesempatan seluasnya bagi siapapun untuk menerbitkan karya mereka. Ide yang tidak kalah heboh adalah ketika kita terpikir eBook dpt di-download gratis oleh pembaca dan di dukung dengan iklan.
    Awalnya, siapa saja yang berada di balik Evolitera ?
    Awal berdiri 2010, co-founder Evolitera ada 3 org: saya, Eduardus Christmas dan satu teman kami yang sekarang sudah tidak bergabung lagi.

    Berapa banyak pegawai Evolitera saat ini?
    Kita berlima mengelola Evolitera. Eduardus sebagai CEO, saya direktur penerbitan merangkap editor. Di bawah saya ada seorang editor-in-chief, sisanya programmer dan finance.

    Hambatan apa saja yang harus dilewati oleh Evolitera. sebelum akhirnya dapat menjalankan kegiatannya?
    Hambatan pertama dan langsung membuat shock ketika kita ditipu oleh programmer pertama kita. Tentu saja menyadari hal tersebut kita tidak diam saja. Sempat kejar-kejaran menyelamatkan domain dan coding Evolitera yang ada di tangan programmer tersebut.

    Apakah kejadian tersebut sempat mengganggu kegiatan Evolitera?
    Tentu membuat kami sempat ketar-ketir. Ketika peristiwa itu terjadi,  kita tengah berusaha mengikuti kompetisi IT yg diadakan sebuah perusahaan telekomunikasi . Syukurlah akhirnya bisa teratasi. Domain dan coding bisa didapatkan dan kita bisa ikut kompetisi tersebut. Yang mana kompetisi tersebut menjadi achievement pertama @evolitera, yakni Telkom Indigo Fellowship Award 2009


    Apa yang menjadi deskjob Dhira dalam mengelola Evolitera?
    Deskjob saya yang pasti mempromosikan Evolitera terutama ke para calon penulis. Kemudian saya juga terlibat dalam proses editing buku, layout, juga desain cover. Serta saya juga memastikan dan mengawasi agar target penerbitan dapat terpenuhi .

    Bagaimana cara Evolitera menjaring minat orang agar menerbitkan via e-publishing?
    Kita menawarkan satu-satu lewat email atau telepon ke orang-orang yang kami lihat punya potensi. Kata kuncinya untuk membuat mereka langsung tertarik adalah penerbitan digital yang bisa langsung cepat terbit yang terbuka dengan genre apapun, juga kesempatan untuk mendapatkan iklan yang nanti bagi hasilnya dengan penulis akan digunakan sebagai royalti.

    Beberapa orang yang tertarik, mereka terbitkan, dan merasa puas, lantas mengajak teman-temannya sesama penulis untuk menerbitkan juga. Jadi seperti bola salju, kita mendapatkan penulis lain dari penulis juga.
    Hingga hari ini, ada berapa jumlah e-book yang bisa dibaca gratis di Evolitera ?
    Berdasarkan hasil pengecekan saya saat ini ada 539 eBook di Evolitera yang siap dibaca

    Adakah e-book Dhira di Evolitera dan boleh diceritakan sedikit mengenai apa?

    Tentu saja ada! Silahkan di cari eBook saya yang berjudul "833 KM". Terdiri dari dua eBook mengenai cerita perjalanan di Paris dan Barcelona. Doakan agar edisi revisi eBook saya cepat selesai yaaaaa!!!!

    Apakah eBook Dhira yang berjudul "833 KM" di Evolitera bisa dibaca gratis?

    eBook saya masih bisa dibaca gratis. Nanti edisi revisinya yang rencananya akan  dijual. Siap-siap!

    Edisi Revisi?
    Yes, edisi revisi. Dipercantik lagi layout-nya dan editing content lagi

    Jika semua e-book bisa dibaca gratis maka apa keuntungan bagi Evolitera sebagai pengelolanya?
    Dengan dibukanya akses download gratis dan membaca online, kami berharap Evolitera dapat naik traffic-nya. Dengan meningkatnya traffic di situs kami ini berarti bisa menarik untuk pengiklan untuk memasang iklan mereka di Evolitera. Hal ini juga merupakan keuntungan bagi si penulis.

    Mengapa akhirnya memilih bekerja sama dgn SCOOP?  Bisa ceritakan sedikit tentang mereka dan bagaimana kerjasamanya?
    SCOOP adalah aplikasi dirilis oleh Apps Foundry. Istilahnya mereka newsstand applications, membaca dan membeli majalah, koran, eBook di iPad Basically, Evolitera dan SCOOP saling melengkapi. Evolitera menyediakan content eBook, SCOOP menyediakan store dan reader. Selain itu, achievement SCOOP juga bagus. SCOOP selalu masuk 10 besar top grossing apps di Itunes Store.

    Bagaimana jika penulis mau meneribitkan buku mereka dengan penerbit lain setelah publish dengan Evolitera?
    Penulis eBook di Evolitera yang ingin menerbitkan dlm bentuk cetak di tempat lain, kami persilahkan kok. Dan selama sudah minta ijin dengan kami, penulis yang ingin menaruh eBook-nya di situs lain juga diperbolehkan. Serta penulis yang setuju eBook-nya dijual di SCOOP,maka  eBook-nya tidak akan kami jual ke tempat lain selain SCOOP.

    Bagaimana Dhira melihat prospek perkembangan E-publishing dalam kurun waktu lima tahun mendatang? 
    5thn mendatang dengan merebaknya tren tablet, seharusnya bisa jadi akselerasi bagi e-publishing. Kami akan berusaha menyesuaikan e-publishing dengan perkembangan teknologi dan berusaha masuk ke semua OS. Sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak e-publishing. Biaya penerbitannya murah, distribusinya bisa worldwide. Tidak kalah penting juga tablet untuk membaca online itu sendiri sudah didesain agar orang nyaman membaca dibandingkan dengan membaca di computer.

    Apa suka dukanya dalam mengelola Evolitera?
    Sukanya mengelola Evolitera karena berbisnis sendiri di usia muda di bidang yang disukai itu memberikan kebanggaan tersendiri. Selain itu salah satu tujuan awal saya bisa baca buku gratis dapat terwujud, lebih istimewa lagi karena buku tersebut tidak bisa diperoleh di mana pun, kecuali Evolitera. Yang paling penting adalah dapat bertemu dengan banyak orang-orang baru yang memberikan banyak wawasan baru dan pengalaman, mulai dari penulis, teman-teman sesama pelaku bisnis digital, juga orang-orang dari berbagai profesi.

    Dukanya karena sedikit banyak oleh keluarga saya, bisnis Evolitera ini masih dianggap setengah main-main.

    Dari sekian banyak eBook yang ada di Evolitera, buku jenis apa yang paling sering dicari? Fiksi, non fiksi baik dari pengarang lokal maupun luar
    Buku terlaris di @evolitera adalah buku tentang ............... keuangan dan pasar modal! Download ya!

    Di usia yang masih muda, Dhira sudah menjabat posisi penting di Evolitera. Bisa berbagi kiat-kiatnya?  
    Intinya, mau muda atau tua menjabat suatu jabatan penting di suatu tempat dibutuhkan keberanian. Beraninya berbagai bentuk. Berani ambil risiko, berani capek, berani kalau harus miskin, berani juga kalo nanti sukses.

    Apa yang menjadi harapan Dhira untuk jangka panjang ke depan dalam mengelolaEvolitera?
    Harapannya Evolitera bisa jadi lokomotif dan leader untuk e-publishing di Indonesia. Selain itu kami juga berharap Evolitera bisa memberikan manfaat, kebahagiaan, juga kebanggaan bagi siapa pun.

    Terakhir, apyang Dhira harapkan untuk dunia buku Indonesia dan workshop Kampung Fiksi?
    Yang akan berlangsung saja dulu. Semoga Workshop Perempuan Menulis Kampung Fiksi sukses dan bisa memberikan ilmu yang berguna. Jujur saja, kita juga berharap agar Workshop Perempuan Menulis Kampung Fiksi dapat menjaring banyak penulis untuk Evolitera dan membuatnya makin dikenal. Sementara harapan untuk dunia buku Indonesia, kita harus jadi leader di Asia baik di kuantitas buku yg diterbitkan dan kualitas. Pasti bisa!

    ****

    Luar biasa khan generasi muda Indonesia sekarang? Memang untuk melakukan sesuatu apalagi yang belum biasa dikenal orang dibutuhkan keyakinan dan keberanian. Bahwa yang kita usahakan itu bertujuan baik dan karenanya pasti akan sukses setelah lewat kerja keras dan dalam waktu yang tidak singkat.

    Jika tertarik dengan e-publishing silahkan cek website mereka di http://www.evolitera.co.id atau follow akun twitter mereka di: @evolitera

    Pewawancara dan penyusun artikel: Ria Tumimomor. Editor: G

    Sunday, November 6, 2011

    Leila S. Chudori: Bahasa adalah salah satu alat yang mengantar pembaca memasuki dunia alternatif yang kita ciptakan!


    Leila Salikha Chudori, demikian nama lengkap salah satu penulis senior Indonesia yang lebih dikenal orang dengan Leila S. Chudori. Ia memulai karirnya sebagai penulis sejak berusia 11 tahun. Bagi yang dulu rajin langganan majalah Hai, si Kuncung dan Kawanku pasti inget pernah membaca hasil karya Leila di sana. Semakin dewasa, hasil karya Leila mulai beredar di majalah Sastra Horison dan Matra.

    Wanita kelahiran 12 Desember 1962 yang sekarang bekerja sebagai Redaktur Senior Tempo ini, meluncurkan karya fiksi terbarunya: 9 dari Nadira pada tahun 2009 yang lalu. Asal tahu saja, karya terbarunya ini menjadi pilihan utama para dewan juri hingga menghantar karya ini memperoleh penghargaan sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. Menarik untuk disimak, komentar Leila S. Chudori mengenai hal ini, "Penghargaan apapun dari berbagai institusi, seperti juga resensi maupun kritik, adalah efek terhadap sebuah buku yang sudah selesai dan sudah diterbitkan. Proses yang asyik sebetulnya adalah saat menulis."

    Nampaknya menulis memang merupakan cinta pertama dan utama bagi Leila S. Chudori, sedangkan penghargaan yang diberikan oleh pihak lain (baik itu dari penikmat karya tulisnya maupun dari berbagai institusi) merupakan semacam "icing of the cake" baginya.

    Selain menulis cerpen, Leila juga sering menulis resensi di majalah Tempo. Tidak hanya itu, ia juga menulis skenario Dunia Tanpa Koma yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo. Dari berbagai resensi yang dihasilkannya, jelas terlihat kecintaan Leila pada budaya pop.

    Bagiaman Leila S. Chudori menciptakan mood untuk menulis, apakah ia memerlukan musik, duduk di tengah-tengah keramaian sebuah cafe, misalnya? Ternyata, ia terkadang membutuhkan sunyi dan keterpencilan untuk menulis, namun ada saat di mana ia membutuhkan bunyi, dan musik jenis apapun yang mengena di hatinya dapat menjadi temannya dalam menulis.

    Ingi tahu perjalanan Leila S. Chudori dalam bentara kepenulisan tanah air? Yuk simak wawancara melalui eMail antara Leila S, Chudori dan Kampung Fiksi.

    Sejak usia berapa mulai menulis dan mengapa mencintai pekerjaan ini?

    Cerpen pertama saya dimuat di majalah anak-anak si Kuncung ketika saya berusia 11 tahun, kelas V SD berjudul Pesan Sebatang Pohon Pisang.

    Selanjutnya saya kemudian menulis cerita pendek dan cerita bersambung di Kawanku, Hai (ketika formatnya masih sebagai majalah remaja yang berisi cerita pendek dan komik), Gadis. Setelah saya kuliah, saya mulai menulis cerita pendek di majalah sastra Horison, harian Kompas Minggu, Sinar Harapan, majalah Zaman.

    Mana yang lebih disukai, menulis fiksi, resensi, skenario atau sebagai jurnalis?

    Menulis resensi dan berita adalah bagian dari tugas saya sebagai wartawan. Sedangkan menulis fiksi dan skenario adalah bagian dari keinginan. Kedua-duanya memiliki kegairahan dan kenikmatannya.

    Mengapa tertarik menulis skenario? Apakah ada bedanya dengan menulis novel atau cerpen? Lebih menantang yang mana?

    Setiap proses menulis tentu memiliki tantangannya. Menurut saya, baik cerita pendek, novel maupun skenario mengandung tingkat kesulitan yang berbeda. Saya pernah mengatakan, tantangan cerita pendek adalah, dalam ruangan yang sempit kita harus menyiapkan ledakan yang dahsyat. Sedangkan novel dan skenario tantangannya adalah kita harus memiliki nafas yang panjang untuk membangun sebuah dunia; untuk mampu menarik pembaca nyempung masuk ke dalamnya dan seolah menjadi bagian dari dunia rekaan itu. Untuk novel dan juga film dibutukan riset yang serius dan mendalam, membentuk bangunan plot yang rapid an teliti dan harus ada temukan kata,ekspresi dan bahasa yang baru (jika mungkin).

    Apakah pengalaman-pengalaman pribadi atau pengalaman pribadi dari orang-orang dekat mempengaruhi kisah-kisah yang ditulis? Kalau iya, berapa persen realitanya dan berapa persen kira-kira fiksinya?

    Semua penulis, secara langsung atau tak langsung pasti menulis sebagian kecil pengalaman pribadi atau orang lain yang kemudian dikawinkan dengan rekaan dan plot fiktif. Jika tidak, namanya bukan fiksi, tetapi memoir.

    Saya rasa, tak mungkin kita menghitung prosentasi realita dan fiksi dalam sebuah bangunan fiksi yang sudah tercipta.

    Tentang penggunaan metafora dalam fiksi, adakah kiat-kiat tertentu agar tetap indah tetapi mampu dimengerti pembaca?

    Salah satu hal yang penting dalam menulis fiksi (cerpen, novel dan tentu saja puisi) adalah kemampuan penulis menaklukkan bahasa. Metafora hanyalah salah satu cara. Ada banyak majas yang kita kenal.

    Kemampuan menaklukkan bahasa ini tak berarti harus berpretensi untuk berpuisi atau selalu menghubungkan suasana dengan alam. Banyak sekali cara berekspresi dengan menggunakan metafora yang jitu; yang bisa mewakili karakter tokoh sekaligus mewakili (melibatkan) pembaca.
    Bahasa adalah salah satu alat yang mengantar pembaca memasuki dunia alternatif yang kita ciptakan. Karena itu, ide sedahsyat apapun, jika disampaikan dengan buruk atau dengan datar, niscaya karya itu tak akan bercahaya. Sebaliknya sebuah ide yang sederhana akan meledak jika disampaikan dengan tepat, baik dan cerdas.

    Saya tak bisa menyajikan kiat yang tepat, karena saya yakin setiap penulis memiliki kebiasaannya masing-masing. Yang jelas, semua penulis yang baik akan menyarankan bahwa Anda harus jujur pada saat menulis. Pada saat anda tak jujur, maka karya Anda akan terasa pretensius. Itu akan terlihat dari bahasa dan penyajian.

    Apakah melakukan riset dalam menulis fiksi itu penting? Hal-hal apa yang perlu dicatat dan yang tidak boleh diabaikan? (@gibic, Ginanjar Seladipura)

    Riset sangat penting untuk pembangunan karakter dan setting, terutama jika anda menulis cerita (cerpen/novel/skenario) realis, anda akan dituntut untuk mendekati realita. Sebuah cerita realis menuntut believeability; apakah seluruh bangunan cerita beserta suasana/karakter yang anda bangun itu meyakinkan pembaca.

    Seberapa pentingkah musik dalam proses menulis Anda? Pernahkah menulis sesuatu karena terinspirasi oleh musik atau lirik lagu?

    Kadang-kadang saya membutuhkan sunyi (hingga harus menulis di tempat yang agak terpencil), tapi sering juga saya membutuhkan musik dan bunyi.

    Apa kekuatan lagu Thom Yorke dan Everybody Loves Irene sehingga berhasil menggerakkan Anda dalam menulis?

    Bukan hanya Thom Yorke dan ERI, tetapi musik yang berhasil menggerakkan hati dan pikiran saya pasti saya gunakan untuk teman saya menulis. Dari yang klasik (betul-betul klasik seperti Ravel dan Bartok), yang klasik modern seperti Erik Satie hingga musik di jaman yang lebih baru sepertiThe Beatles di masa awal mereka. Hal-hal yang lazim dimiliki angkatan saya, Genesis, Queen, U2, hingga semua kaset pop dan rock Indonesia di tahun 1970-an dan 1980-an dulu juga saya dengarkan. Jaman sekarang, saya memilih secara serabutan (mungkin orang menyebutnya indie-music, saya tak terlalu peduli dengan genre-nya; apa yang mengena di hati, saya ambil).

    Dari buku yang telah diterbitkan, mana yang paling memuaskan dan yang tidak memuaskan. Dan mengapa?

    Kalau saya sudah puas, saya pasti akan berhenti menulis.

    Bisa ceritakan proses kreatif di “Malam terakhir” dan “9 dari Nadira”?

    “Malam Terakhir” –adalah karya yang terbit tahun 1989 diterbitkan pertamakali oleh Penerbit Pustaka Grafiti. Itu adalah cerpen-cerpen lepas yang ditulis dari tahun 1986 hingga 1989 (di masa saya kuliah hingga sebelum saya masuk Tempo. Saya bergabung dengan Tempo Juni 1989). Pemuatan variatif di harian Kompas Minggu, majalah sastra Horison , majalah Matra, Horison, Suara Pembaruan Minggu, Amanah (sebuah majalah yang dulu dipimpin sastrawan Ahmad Tohari).
    Saya rasa itu adalah sebuah periode saat saya masih sangat muda dan masih berbuih-buih oleh protes atas konvensi masyarakat (Indonesia) yang sangat mendikte kehidupan pribadi. Negara dan masyarakat sehari-hari sangat mengatur hidup pribadi kita hingga saya merasa masih sangat gamang ketika pulang ke Jakarta seusai enam tahun menempuh pendidikan di Kanada.
    Sedangkan 9 dari Nadira, prosesnya bisa dibaca di Kata Pengantar buku tersebut (cetakan kedua). Dua cerpen Nadira sebelumnya sudah dimuat di majalah matra yaitu “Melukis Langit” dan “Nina dan Nadira”.

    Setelah itu, saya bekerja di Tempo dan berkeluarga, saya tak menulis selama 20 tahun. Adalah anak saya dan juga beberapa rekan saya yang mendorong saya menulis lagi (seperti yang tercantum dalam kata pengantar dan ucapan terimakasih pada buku “9 dari Nadira”).

    Mana yang lebih disukai “Malam Terakhir atau “9 dari Nadira”-(@qibic- Ginanjar Seladipura)

    Keduanya anak saya.

    Siapakah penulis favorit Mbak Leila di Indonesia, khususnya perempuan, dan mengapa? Adakah catatan penting dalam penulisannya yang perlu kita ketahui?

    N.H Dini

    Jujur, orisinil dan dia menulis sendiri tanpa dibantu siapapun. Dia mandiri dalam membangun karyanya tanpa harus disertai sebuah entourage. Dahsyat.

    Untuk penulis perempuan asing: banyak sekali.
    Saya menyukai karya Virginia Woolf, Susan Sontag, Sylvia Plath, Anne Sexton, Simone de Beauvoir. Yang lebih kontemporer saya menyukai Zadie Smith

    Apakah pernah terbesit di benak, tulisan ini akan laku keras?

    Tidak.
    Jika kita mulai memikirkan efek, kita mulai tidak jujur
    .
    Apa arti sebuah penghargaan sastra seperti yang diberikan Badan Bahasa tahun ini?

    Merasa dihargai dan berterimakasih. Tetapi penghargaan apapun dari berbagai institusi, seperti juga resensi maupun kritik, adalah efek terhadap sebuah buku yang sudah selesai dan sudah diterbitkan. Proses yang asyik sebetulnya adalah saat menulis.

    Adakah kesempatan bagi para penulis blogger di Indonesia mendapatkan penghargaan?

    Siapapun bisa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan penghargaan. Setiap institusi yang memberikan penghargaan tentu mempunyai kriterianya masing-masing yang tak bisa kita ganggu gugat. Penulis sebaiknya menulis sesuai keinginan hatinya, bukan sesuai keinginan orang lain (dalam hal ini: panitia, juri atau siapapun pihak pemberi penghargaan). Penulisan harus bermula dari keinginan yang jujur; bukan karena imbalan penghargaan atau finansial.

    Dari pantauan Mbak, bagaimana hasil tulisan para blogger? Ada pesan dan tips buat mereka?

    Saya bukan pemerhati blogger yang sangat teliti. Artinya, saya baru sekali dua kali saja membaca blog orang. Blog adalah sebuah fenomena baru ; sebuah revolusi dahsyat yang kemudian telah melahirkan banyak penulis masa kini. Menurut saya, blog sudah ikut “mendidik” masyarakat Indonesia untuk berekspresi dan secara tak langsung membuat blogger tertantang untuk mencari bahasa dan kalimat yang bagus (karena mereka tahu tulisannya bisa dibaca siapa saja).

    Saya banyak menemui rekan-rekan yang hanya bersemangat menulis pada awal pembentukan blog saja; lalu meninggalkan blog begitu saja. Sikap ini tak akan membantu membangun kemampuan penulisan kita.

    Saran saya yang lain, meski internet sudah menyajikan kemungkinan yang luar biasa luas untuk riset, saya tetap menekankan agar para blogger tetap rajin membaca buku. Dengan adanya smart phone dan Ipad, maka saya semakin jarang melihat orang yang duduk membaca (mudah-mudahan itu hanya observasi sekilas yang tak berarti apa-apa). Untuk saya, buku –selain bakat dan kerja keras--adalah jiwa terpenting dalam membangun rangka kemampuan menulis.

    Terima kasih Mbak Leila.

    ***

    Hasil dari interview itu membuat kami dari Tim Kampung Fiksi menyadari bahwa menulis memang harus tulus tanpa didasarkan kepentingan lain. Yaitu tidak menulis dengan berharap bahwa tulisan ini akan menjadi best seller. Dan tidak berlandaskan keinginan orang lain (entah yang memberikan penghargaan atau semacamnya). Kita sebagai penulis harus menulis dari dalam hati dan bukan karena menginginkan imbalan.

    Tidak salah Leila S. Chudori masih bertahan hingga sekarang karena beliau adalan penulis yang mempunyai prinsip. Menulislah dari hati!

    Penyusun Wawancara dan Artikel: Ria Tumimomor & Sari Novita. Editor: G.