Skip to main content

Empat Perempuan

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 1: Supir Eyang


Iroh mengendap-endap lewat pintu samping dan pelan-pelan membuka daun jendela kamar pavilyun yang setengah tertutup.

“Sssssttttt….” Lehernya dijulurkan ke dalam jendela sambil tangan kirinya menyibak gorden hijau lumut. “Non.” Iroh berbisik. Berulang-ulang.

“Iroh! Ngapain kamu di situ? Pakai bisik-bisik segala!” Gadis remaja yang dipanggil itu menyingkap lebar-lebar tirai jendela dan melotot ke arah Iroh. “Ada apa? Berisik!”

“Ada cowok, Non. Cowok macho!” Iroh masih berbisik-bisik sambil menyeringai. Dua jempol tangannya diacungkan ke atas. Dadanya dibusungkan.

“Haaahh…! Gitu aja!”

“Bener, Non! Lihat sendiri. Di depan. Lagi ngobrol sama Eyang.” Iroh menyeringai.

Gadis itu, Dea, cucu Eyang yang oleh Iroh dipanggil Non, jadi penasaran. Kaki-kakinya yang kurus panjang menggapai-gapai sendal yang nyungsep di bawah kolong dipan. Kemudian ia melangkah menyeret sendalnya ke depan, menimbulkan suara berisik.

“Deaaa…!” terdengar protes Eyang dari teras depan. Perempuan yang masih tampak cantik dalam usia enampuluhan itu paling tidak suka mendengar suara sendal yang diseret di dalam rumahnya.

“Oh, ada tamu,” suara Dea dibuat semanis-manisnya begitu matanya menangkap sosok laki-laki yang tengah ditemui neneknya di teras. “Cari siapa, Mas?” Dea melenggotkan badannya mencoba menarik perhatian laki-laki yang berdiri kokoh tinggi itu. Jangan-jangan ini cowok yang mau kos di rumah tetangga. Lumayan juga punya tetangga kayak gini eloknya. Bisa cuci mata tiap hari. Dea senyum-senyum sendiri.

“Ini Priyo.” Eyang menyebut nama si laki-laki yang hanya menunduk diam dipandangi begitu rupa oleh Dea. “Mulai minggu depan dia nggantikan Tarman.” Tambah Eyang sambil mengajak Priyo menuju garasi.

Ada dua hal yang membuat Dea melongo. Pertama, nama lelaki ganteng itu menurutnya kurang trendy. Kedua, anak SMA itu tahu kalau Tarman, supir Eyang, mulai minggu depan mau keluar. Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau penggantinya ternyata mirip-mirip Enrique Iglesias. Siapa nyana. Olala…

***

Sambil menenteng telpon di tangan kanan sementara tangan kirinya memegang sapu, Iroh mencari-cari Eyang. Dea tampak sibuk dengan ritual paginya sambil bersiul-siul kesenangan hanya karena ini hari pertama Priyo mengantarnya ke sekolah.

“Non, ada telpon dari Nyonya. Eyang mana, Non?” Tanya Iroh, agak heran melihat nonanya itu bungah. Biasanya kalau pagi Dea mbesengut karena berbagai alasan.

“Di luar. Lagi ngarah-arahin Priyo.”

Ah. Kebetulan, pikir Iroh, ada alasan lagi untuk memandangi si supir, yang baru mulai kerja sudah membuat heboh para perempuan sekampung. Tadi ketika Priyo sarapan di dapur Iroh sudah bercengkerama dengannya, namun perempuan mana sih yang mau berhenti menatap wajah gantengnya?

“Eyang…,” Iroh membuat suaranya terdengar semerdu-merdunya untuk sang perjaka, bukan demi majikannya. “Ada telpon dari Nyonya.” Iroh menyerahkan handset ke majikannya.

Setelah meminta Priyo membuka garasi, Eyang melangkah ke dalam rumah.

“Assalamu’alaikum. Runi, apa kabar, Nduk?” Eyang selalu memanggil tiga anak perempuannya dengan sebutan ‘Nduk’, dari kata Genduk, yang berarti anak gadis.

“Walaikumsalaam .” Seruni, anak mbarep Eyang, ibu Dea, menjawab dengan suara yang kaku. Pertanda marah.

“Tadi malam telpon ya? Ibu udah tidur. Pagi ini Dea….”

“Iya. Dea cerita kalau Ibu udah dapat supir baru. Kenapa mesti Priyo, Bu? Memangnya nggak ada orang lain, apa? Lagian juga ngapain anak itu mau jadi supir? Memangnya bapaknya udah bangkrut? Asal Ibu tahu ya, cara ini nggak akan berhasil, Bu. Kayak sinetron aja. Aku tetep nggak mau sama bapaknya. Cari supir lain aja.” Rentetan kata-kata jengkel Runi dilepaskan ke gendang telinga ibunya. Perempuan empat puluh satu tahun itu sudah lima tahun menjanda, penyakit jantung merenggut suami yang teramat disayang dan dipujanya. Sudah beberapa kali ibu dan dua adiknya mencoba mencarikan pengganti, namun Runi tak meladeni. Ia tidak mau Dea punya ayah tiri dan tak mengijinkan ada lelaki lain yang mendepak suaminya keluar dari ruang terindah di dalam hati dan jiwanya.

“Bukan begitu maksud Ibu, Runi.”

“Halah! Pokoknya kalau masih ada Priyo, aku nggak pulang ke rumah. Aku mau cari kontrakan aja. Aku masih dua minggu di sini. Cukup waktu buat minta tolong asistenku untuk nyari kontrakan.” Suara Runi semakin kaku dan mengancam walaupun dia berusaha keras agar tidak membentak ibunya.

Sang ibu tahu, kalau anaknya yang satu ini sudah berkata ‘pokoknya’, berarti dia tidak main-main dengan ucapannya.

“Runi…”

“Aku harus pergi. Ada meeting. Taksiku udah nunggu. ‘Kumsalam.” Runi menutup pembicaraan.

Wajah Eyang tampak gundah ketika melambai pada cucunya yang diantar Priyo berangkat sekolah.

“Runi…, Seruni, anakku, Nduk cah ayu…,” begitu rintih hati sang ibu yang menginginkan anak sulungnya yang masih muda itu tidak berkubang dalam kenangan akan suaminya. Walau indah, yang namanya kenangan adalah rangkaian kisah yang telah menjadi sejarah dan hanya pantas diceritakan. Tidak untuk dipujakan. Tidak untuk dikeloni setiap hari setiap malam.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…