Sunday, February 27, 2011

Ijinkan Aku Menjadi Kekasihmu di Surga


“Hallo, berjumpa lagi kita di sini. Apa kabarmu?”

“Hehehe. Aneh, ya. Padahal kita tidak janjian, kok bisa ketemu lagi, ya?”

“Aku memang berdoa dan meminta seperti itu. Kita tidak akan terpisahkan lagi.”

“Sungguh, menyenangkan dan bahagia sekali aku bisa bertemu dengan dirimu lagi, di sini.”


“Aku juga senang bertemu tuan. Dan tuan tidak perlu lagi mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Kita sudah abadi.”

“Terima kasih sudah memilihku. Di sini banyak sekali bidadari. Semuanya cantik. Dan Tuan lebih memilih aku.”

“Di sini. Dan hanya di sini fiksi menjadi nyata.”

“Semua yang kita angankan, terwujud dan tercipta dengan mudah.”

“Kita teraba. Bisa merasakan.”

“Bolehkah aku mencium keningmu?” Bisikku

“Tuan boleh menciumku, yang mana saja Tuan suka.”

“Jangan panggil aku Tuan, Sir atau Mister. Panggil aku Kekasih. Dan ijinkan aku untuk menjadi kekasihmu, selamanya.”

-oooOooo-

Sumber gambar: rocknationality.blogspot.com/201...ive.html

****

Meddy Danial

Dalam menulis saya berusaha sebisa mungkin punya makna esoteris, tetap elegan dan kadang-kadang mengandung perlawanan; pandangan dan sikap dari ‘ada-diri’ saya. Memang agak sulit memasukkan ‘esoteris’ ke dalam semua tulisan. Tapi esoteris itu sendiri adalah ‘batin’ yang termanifestasi melalui olah kata dan olah kerja manusia menjadi sesuatu yang dalam dan bermakna. Sehingga tulisan bukan lagi hanya kumpulan kata-kata, tapi sesuatu yang memiliki jiwa atau ruh. Sesuatu yang hidup dan bergerak seperti cahaya yang menerangi; menjadi indah dan memiliki spiritualitas karena bernilai kebenaran.