Friday, February 25, 2011

Kepada Lelaki yang Mencintai Biru

gambar diambil dari: http://kupu-kupumerahmuda.blogspot.com

Adakah cinta yang lebih cinta daripada cinta laut kepada biru? Pernah, di suatu masa yang seperti berasal dari waktu yang tenggelam, kau bertanya kepadaku, di suatu senja yang gemilang dalam warna tembaga, di tepi laut yang deburnya menemu ritmis dengan debar di dadaku yang muda. Kau menatap tepat ke dalam bulir mataku. Oh, padanya aku seumpama berenang-renang di samudera, menyelami jutaan riak-riak yang di tiap ujungnya terkait sekerlip kristal pelangi oleh timpa matahari. Cintamu yang maha kepada laut adalah kesemestaan yang seperti lingkaran, menauti setiap awal dan titik yang menadahi takdir.

Seperti itu pula aku mencintaimu.

Apabila cinta adalah laut, kuyakinkan engkau adalah biru. Meski itu berarti kau akan menggariskan rentang waktu di lenganmu dan menumbuknya menjadi ungu. Sebab demikian dashyat cinta itu meredamu dalam lenggang yang menunggu. Dan kau, seperti di suatu saat dimana masa adalah dimensi yang saling menghilangkan, menemukan ketukan jantungmu di putaran ombak yang menotasikan puisimu..

“Kau tahu seberapa jauh waktu tujuh tahun mendewasakan seseorang?,” tanyaku di perjumpaan kita di pinggiran pantai dengan perahu-perahu nelayan, di  suatu sore ketika langit berpendaran dengan larik-larik cahaya yang memerah padam perlahan menenggelamkan lengkung matahari di ujung cakrawala.

“Kau tahu berapa jumlah kata yang diperlukan untuk puisi selama rentang waktu itu?” Rasanya, asin udara laut sudah berkumpul di sudut mataku. Aku ingin menelannya, seperti aroma waktu yang diam-diam menghilang di balik punggung anak-anak nelayan yang menandai laut sebagai puting susu ibu mereka.


Jika waktu adalah dentang
Akankah kita tetap cermat menghitung?
Mencari ketukan nada laut dalam birama angka-angka
Sementara senja terus memadam
dan angin mengabarkan kabar yang semakin kabur

Kita, masihkah menjura
mencari peta matahari?

Ada saatnya aku berpikir kalau engkau dilahirkan oleh buih-buih laut yang dikumpulkan dari doa yang dikidungkan para musafir di setiap penghujung malam sebelum fajar pertama bertunas. Kalau bukan demikian, darimana datangnya cinta sebegitu besar, yang bahkan tak kuasa merepihmu dari pesona debur ombak yang memabukkan, meski lukamu terus merajam.

Aku ingin berkata, “Lihat aku”, tetapi bahkan kata tidak dapat menerbangkan waktu kembali kepada kita. Kenyataannya, memang tidak pernah ada kita. Selalu hanya kau, dengan cinta yang menghujani laut bertubi-tubi. Selalu hanya kau, dengan puisi yang menyairkan lekuk gerak laut menjadi gelisahmu.

Aku ingin menjadi biru
hanya agar dapat memelukmu sepenuh
melarikkan ombak-ombak ke dalam
debur dadamu agar menjelma bait-bait doa
yang kita larungkan.
Pergilah ia bersama luka
pergilah..

Apabila cinta adalah biru yang melarungkanmu dengan kegamangan ombak-ombak yang meluas di laut, baiklah akan kuhanyutkan diriku ke dalam samudera yang sama. Demikian manik matamu yang hitam berbayang gelombang laut yang berayun-ayun, demikian pulalah mataku memantulkan rupa matamu.

Dan bila engkau membakar semua puisi yang kau tulis sepenuh hati sebegitu senja yang merah merekahi langit, begitu juga aku membiarkan sepotong lalu sepotong lagi diriku terbakar dalam api yang kau nyalakan dalam dirimu, memerah naik serupa doa-doa yang terus kusulang dari sisa abu puisi yang menjelaga untuk lalu berterbangan bersama angin menuju laut yang serupa dada ibu, menampung semua sedih dan lelah tanpa pernah bertanya.

Maka letakkan pintu istirah
pada cuaca yang masih saja mengombak
Di sini,
Kita tak lagi menatap senja yang sama
Meski matamu dan mataku,
berenang serupa gelombang di
jingga merah langit yang perlahan karam
serupa puisi..

Kau bertanya tentang waktu. Seberapa lama dan abadi sebuah penantian, sementara lagu adalah rindu yang lagi-lagi kembali ke masa lalu, ketika bahagia adalah tawa yang kita layangkan bersama mimpi-mimpi yang biru. Kukatakan; apakah perlu penantian senantiasa berujung? Bukankah ia lebih seperti samudera, yang mencintai langit sepenuh hati dan menanti suatu waktu yang tidak pernah terjanjikan -  ketika langit dan samudera menyatu dan saling memeluk dalam harmonisasi kesemestaan yang lebur.

Sampai pada waktunya, engkau mengajakku menari dalam langkah-langkah laut yang menyerukan namaku dan namamu dalam cinta yang nadir.

Sampai pada waktunya. Sampai pada waktunya kau berhenti mencintainya dan aku berhenti mencintaimu.

Sampai ada suatu waktu itu.