Saturday, February 26, 2011

Mampukah Dia Membuatku Tersenyum

 Gambar diambil dari :
http://www.funwhenbored.com/graphics/fantasy/


Mampukah Dia membuatku tersenyum selalu?
Achh, aku tidak berani membayangkannya
Apalagi mengharapkannya....

Sulit rasanya mempunyai ruang luas, tetapi harus disembunyikan pintu masuknya rapat-rapat. Tidak boleh terbuka lebar, tidak boleh dihuni oleh siapa pun dan tidak boleh dibongkar-pasang. Biarkan ruang itu tetap apa-adanya. Biarkan hanya pintu dan dinding saja yang berada mengitari ruang itu. Dan Biarkan ruang luas itu terpelihara dan dihuni oleh Sasa. ALasannya, karena Sasa ingin membiarkan semua rasa pada dirinya, menari tertiup angin-hanya meliuk-liuk dalam relungnya. Sasa tidak mau mencemari rasa itu dengan berbagai bakteri-bakteri 'ketakutan' dan potongan-potongan dahan patah. Salahkan Sasa bila memilih cara demikian? Sepertinya tidak juga. "Salah" menurut Sasa, jika orang lain mengintip dan menjadi tahu letak ruang luas itu. Dan Sasa tidak mau itu terjadi. Ruang luas cukup buat dirinya saja. Dan sudah pasti tertutup bagi orang lain. jadi sah-sah saja cara seperti Sasa ini, begitu pikiran Sasa.



***

Hari Valentine memang sudah lewat. 14 Febuari lalu, seorang pria dewasa menanyakan pada Sasa,"APa yang akan Sasa lakukan di malam Valentine, Gadis manis?" Sasa hanya mengelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya saja. Lagi pula, sudah hampir dua tahun Sasa tinggal di asrama dan jauh dari orang tuanya. Sebelumnya, Sasa dan orang tuanya suka saling bertukar kartu ucapan Valentine dan saling memberi kecupan di kening Sasa. Dan malamnya, Orang tua Sasa kerap mengajak Sasa makan malam di restaurant sea food dekat pantai-tempat favorite mereka.

Itu dua tahun lalu, sepi juga rasanya melewati malam valentine tanpa orang tuanya. Sasa mengenal hari kasih sayang itu dari orang tua, guru dan teman-temannya. Tapi di tahun ini, sangat berbeda bagi Sasa. Yang awalnya, Sasa tidak begitu peduli lagi apa yang akan dilakukannya di hari kasih sayang ini, namun hari itu, 14 February 2011, terjadi hal yang tak terduga. Apalagi kalau bukan Sasa telah mengenal sosok lawan jenis yang mampu membuat hatinya..Tuing...Tuing..TUing....Ya Bagai bola basket yang dipantulkan ke tanah lapangan, begitu juga hati dan jantung Sasa, bila berjumpa teman prianya itu...Tuing...Tuing...Tuingg...Apalagi bayangan pria itu sering sekelebat datang menghampiri Sasa sebelum tidur. Archh semakin saja teman prianya itu merajalela atau datang berjingkat-jingkat menapaki dinding-dinding otak-pikiran Sasa. Apakah benar Sasa jatuh cinta?

Sasa jatuh cinta? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Tapi, bukankah ini hal lazim terjadi bagi gadis seusia Sasa? Jawabnya, Sangat lazim!...

***
Sasa ingat betul, ketika teman prianya itu mendadak lapar. Tanpa diminta dan juga tanpa paksaan, Sasa memasak nasi goreng di dapur asrama. Nasi goreng dengan minyak zaitun dan anggur, tidak banyak bumbu-bumbu dibubuhi oleh tangan Sasa. Seorang pelayan menatap dan terus memperhatikan Sasa memasak dan bertanya-tanya untuk siapa gerangan nasi goreng itu dibuat. Jelas pelayan itu heran, karena baru kali pertama Sasa menginjak dapur asrama selama dua tahun lebih ini dan memasak pula. Pelayang itu semakin terperangah melihat sikap cara Sasa memasak. Bagaimana tidak, Sasa begitu serius, tidak banyak bicara, tetapi banyak tersenyum. Serius tapi tersenyum? Ya, Sasa tidak sedikit pun terusik oleh kehadiran pelayan itu yang tiba-tiba serta dua penjaga asrama yang datang untuk makan siang di dapur. Sasa terus asyik berkonsentrasi pada jamuannya. Dipanggil-panggil nama Sasa dengan sedikit keras, masih saja Sasa tidak mendengar. Sasa terus mengaduk-aduk nasi goreng olahannya. Mungkin hatinya saat itu juga sedang teraduk-aduk, karena Sasa tidak tahu apa yang dirasakan dan muncul berbagai pertanyaan, juga praduga-praduga milik Sasa. Rasa campur-aduk tapi menyenangkan bagi Sasa.

Pria itu melahap habis hidangan satu macam buatan Sasa. Didampingi minuman segar-Soda dan Sunquick dan sekumpulan angin sejuk pegunungan di sebidang taman asrama. Hmebusan angin yang menerpa wajah Sasa dan pria itu, kian membuat manis makan siang di hari valentine itu. Tidak ada sepasang lilin dan tidak ada sepotong lagu romantis.
Yang ada hanya rasa kenyang di perut masing-masing. Dan...Hemm, kali pertama Sasa memasak nasi goreng untuk seorang pria. Tentu, pria yang kini sedang disembunyikannya dalam hati. "Aku memang tersesat di jalanku sendiri dan membiarkan satu manusia ini lolos masuk ke ruang luasku, tetapi aku tidak akan membiarkan peti rahasia itu diketahui olehnya," bisik Sasa dalam hati.

***

Romantis? APa itu romantis? Sasa tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Romantis? Bagaimana caranya dan harus seperti apa? Ups, Ini jauh sekali dari pikiran Sasa. Dan mengapa tiba-tiba kata 'Romantis' ini menyusup jiwa Sasa?

"Kamu memang bukan tipe romantis," ujar pria itu.
Dahi Sasa mengeryit, Romantis?!
"Mungkin juga kamu masih belia," lanjut pria itu.
"Tapi..Tunggu dulu, ingat Valentine kemarin, Sa?" tanya pria itu.
Sasa sudah pasti ingat dan memangnya ada apa di hari valentine waktu itu. Mengulik tanggal 14 kemarin itu, sepertinya Bagi Sasa tidak ada hal yang terjadi.
“Menurut aku, yang Sasa kemarin lakukan itu sangat romantic,” pria itu menatap Sasa sembari tersenyum.
Hampir saja Sasa melompat dari duduknya. “Apaaa? Apa aku tidak salah dengar?” terkejut Sasa dalam hati.
“Eh..Apanya yang Romantis?” tanya Sasa dengan ekspresi heran.
“Kamu memasak nasi goreng buatku, itu romantis namanya. Di hari Valentine lagi, kamu khusus membuatnya untuk diriku. Seorang pria akan bahagia sekali, jika dibuatkan masakan, walaupun hanya menu nasi goreng oleh seorang wanita di hari kasih sayang. Dan aku tidak akan melupakan peristiwa itu, Gadis manis! Karena sangat berarti buatku,” pria itu mengecup kedua pipi Sasa.

Rasanya jantung Sasa mau rontok, bagaimana tidak? Pria di hadapannya ini, telah sebulan lebih mencuri ruang luasnya. Bukan kecupan pipi membuat Sasa berbunga-bunga, namun perbuatan Sasa di hari valentine saat itu. Sasa tidak mengira nasi gorengan buatannya dapat membuat hari itu amat berarti bagi pria pencuri ruang luasnya.

Achh, dunia Sasa semakin mengelana. Jauh menjelajahi batas dunia yang dikenalinya. Bayangan-bayangan pria itu menyatu padu bersama ruang daya cipta-kreasi milik Sasa. Berjuta butir-butir sel darah bergelembung kejar-mengejar-berpencar dan tak ingin memecah di sembarang ruang tubuh. Mereka berlari menarik katub jantung memuncah sukma-meliarkan roh pemilik setia akan sosok pria itu. Berinjil-gerinjil butiran tersebut semakin mengarah kegundahan. Timbul keresahan dalam diri Sasa dan membentak-bentak jiwanya sendiri.

Sasa tidak pantas mencintai pria itu. kemudian Sasa tepis perasaan itu kembali. Saat ini Sasa ingin bersama pria itu di dalam cakrawala miliknya. Malam ini malam penuh bulan purnama. Sasa tak perlu merubah wujud seperti srigala-srigala di film yang ditontonnya. Tetapi Sasa hanya ingin benar-benar berdua menikmati bulan purnama ini. Sasa membayangkan berdiri dipeluk oleh pria itu dari belakang. Mereka berdua menatap lukisan bulan penuh purnama. Purnama kali ini begitu bulat dan terlingkar begitu rapi. Wajah purnama menampakan wajah penuh senyuman menuju kea rah mereka berdua.

Pria itu baru menyadari bahwa dua minggu ini tidak terlihat kumpulan bintang di langit sana. Sasa mengiyakan hal itu. Tidak lama setelah itu, tanpa mereka duga, satu bintang muncul tepat di bawah bulan purnama. Mereka berdua gembira sekali. Sang pria langsung berkata,” kita make a wish, yuk!.” Sasa dan pria itu diam sejenak. Mengutarakan doa permohonan masing-masing di dalam hati.
“Gila yah, tadi kita berharap dapat melihat bintang, eh bintangnya muncul. Harapan kita di dengar,” ucap pria itu sembari mengecup pipi kanan Sasa.

Pria itu membalikan tubuhnya sekaligus tubuh Sasa - tangannya masih mengenggam pinggang Sasa. Aha..Ada satu bintang lagi muncul. Mereka menatap bintang itu dan berdoa kembali.
“Ini bertanda bagus,” pria itu kian memeluk Sasa erat.
Kini, pria itu memandang ke kanan langit, dari balik ufuk sana, semburat wajah bintang ketiga hadir. Bukan saja yang ketiga, tetapi dikuti ke empat, kelima, keenam dan ketujuh. Wow, tujuh bintang turut menyampaikan pesan Sasa dan pria itu pada Sang Penguasa. Tujuh bintang bagaikan bingkisan kerlap-kerlip membungkus isi pesan dengan rapi dan juga cantik. Tujuh bintang seperti surat yang akan terkirim melalui langit luas dan bekerja sebagai pengantar di malam hari di kala manusia tertidur lenyap, bahkan bermimpi indah.

Bola-bola kaca bening memecah di udara, tebaran Kristal-kristalnya jatuh ke tanah dan mewangi di atsmosfir. Putih dan biru melatari runtuhnya taburan-taburan imajinasi Sasa. Meskipun sekedar fantasi, Sasa terjerat binar-binar kebahagiaan. Tidak ada satu menit terlampui kesedihan, perdetik sekali pun terbinasa oleh dentuman kegembiraan. Meloncat-loncat riang menggapai ketinggian setinggi mungkin, walau Sasa sadar sekali puncak gunung tertinggi tidak mungkin tergapai olehnya. Sejak kehadiran pria itu di keidupan Sasa, setiap harinya Sasa memperoleh perubahan dan keindahan warna-warni bercorak. Corak-corak yang bergulir tercipta menjadi mahakarya dunia asmara. asmara di ruang luas Sasa.

Sasa tidak sanggup lagi mencela dirinya sendiri karena telah menyukai pria pujaannya. Seluruh pintu, jendela, kisi-kisi bahkan sesatu senti celah pun, Sasa tutup rapat-rapat. Sasa telah salah membiarkan pria itu hadir mengusik benak dan pikirannya. Seharusnya sejak mula, Sasa memagari pria itu. kesalahan Sasa masih bisa diminimalisasikan, oleh karena itu Sasa tidak mau menambah kesalahan lagi. Terakhir, Biarkan dirinya merasakan jatuh cinta terhadap oria itu. Tentu, yang ini Sasa tidak membiarkan pria itu mengetahui perasaanya.

Sasa tidak patut mencintai pria itu. Sasa tidak pantas. Sasa tidak sebanding. Sasa tidak berwajah cantik. Mungkin Sasa bukan tipe wanita pria itu. pria itu tidak mungkin mencintai Sasa. Jika iya pun, pria itu mencintai Sasa sebagai keponakan atau teman gadis kecilnya. Usia Sasa masih tiga belas tahun, sedangkan pria yang sering dipanggil Sasa “Om Andre”-berumur tiga puluh tiga tahun. Bentang perbedaan usia yang jauh menyimpulkan bahwa jatuh hati macam ini tidak mungkin terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin memang, tetapi ini akan masuk di akal bila terjadi sepuluh tahun mendatang. Ketika umur Sasa tidak lagi masih di angka 13, namun di angka 33 dan pria itu telah berada di garis 43 tahun.

Sasa memalingkan pandangannya ke segala arah, dimana pohon-pohon cemara masih berdiri tegak. Hati mengebu-ngebu yang berada di relung sukmanya, bertambah satu inci tiap harinya dan sulit untuk dipadamkan. Di sudut hati Sasa lainnya, musim semi harus rela membuka kedatangan musim selanjutnya. Yang berarti, ruang luas yang dikuasainya selama ini harus siap dibongkar dan dibangun kembali untuk menerima cinta lawan jenis yang tidak berbeda dengan seumuran Sasa. Ya, ujung bibir Sasa tersenyum. Kali pertama Sasa jatuh cinta dan langsung menaruh hati pada pria dewasa, Om Andre. Salahkah Sasa mengalami hal yang tidak lazim ini? Sasa masa bodoh dengan jawabannya, pastinya Sasa teramat menikmati kuntum bunga yan selalu berseri-seri. Toh, Sasa pun juga sadar benar, Sasa tidak bisa mendapatkan cintanya-cinta Om Andre.

***
Muach..Muachh…Om Andre mengecup pipi kanan dan kiri Sasa, sembari berkata,” Selamat ulang tahun Gadis Cantik Kecilku.”

Sasa sudah tidak dapat menjabarkan lagi situasi dunia yang ditapaknya sekarang ini. Bagaimana tidak, hari ini 28 Febuari 2011, hari Ulang Tahun Sasa dan Om Andre telah memberikan kado istimewa, yaitu kecupan di pipi. Kecupan yang sebelumnya hanya ada di khayalannya Sasa saja.

“Om Andre…
Kau pria yang mampu membuatku tersenyum di bulan Febuari ini..
Tidak hanya di hari kasih sayang itu, hingga bulan kasih sayang ini mau habis pun, Senyumanku tetap merona dan berbinar-binar…”