Tuesday, February 22, 2011

Seperti Cinta Dalam “Ada Apa dengan Cinta”


Masih ingat kan kamu, pada salah satu adegan di dalam film “Ada Apa Dengan Cinta” (AAdC). Adegan saat Cinta menutup mukanya dengan kedua tangannya sambil sesenggukan, ketika sedang berada di dalam aula tertutup untuk olah raga basket. Cinta mulai menangis ketika teman-temannya bertanya, “Apakah kamu mencintai Rangga?”

Cinta tidak bisa menjawab. Dia malah sesenggukan sambil menutup mukanya. Dia berjuang sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. Agar ia tetap bisa menyembunyikan rasa cintanya kepada Rangga di depan teman-temannya dan agar ia tidak diolok-olok oleh teman-temannya.

Rasa cinta yang hadir, tumbuh dan bersemi. Rasa cinta yang mulai dia rasakan bukan lagi sebagai getar-getar perlahan. Tapi cinta yang sudah seperti suara guruh yang meledak-ledak dan menyambar-nyambar, dan yang akhirnya harus dimuntahkan menjadi hujan yang menjatuhi bumi meskipun sebenarnya belum waktunya untuk hujan menurut hukum alam. Seolah Tuhan ikut terpesona pada gelombang-gelombang rindu dan cinta dari dua makhluk ciptaan-Nya yang sempurna itu.

Cinta gagal menyembunyikan perasaan hatinya. Dia tidak bisa membohongi hati dan perasaannya di hadapan teman-temannya. Cinta sengaja menyembunyikan rasa cintanya kepada Rangga, agar Cinta masih bisa bersahabat dengan teman-temannya.

Tapi kali ini Cinta menyerah telak sekali. Dia gagal membendung perasaan batinnya. Perasaan cinta yang ia rasakan, mengalir begitu deras seperti air bah yang tidak dapat dibendung lagi oleh apapun yang menghalanginya. Tidak karena alasan persahabatan. Perasaan cintanya pada Rangga yang begitu suci, terlalu kuat untuk dilawan, apalagi untuk ditahan.

Dan akhirnya Cinta harus mengakui bahwa rasa cinta yang tulus memang harus diceritakan. Tidak hanya kepada teman-temannya, tapi juga kepada laki-laki yang telah membuatnya bisa bergetar, merasakan getaran jatuh cinta, yang mengaduk-aduk hatinya, dan yang berhasil membuka pintu hatinya untuk menerima kehadiran cinta yang bersemi dari seorang laki-laki bernama Rangga.

---00000000000---

Penulis: Meddy Danial
Sumber gambar dari Google
****

Meddy Danial

Dalam menulis saya berusaha sebisa mungkin punya makna esoteris, tetap elegan dan kadang-kadang mengandung perlawanan; pandangan dan sikap dari ‘ada-diri’ saya. Memang agak sulit memasukkan ‘esoteris’ ke dalam semua tulisan. Tapi esoteris itu sendiri adalah ‘batin’ yang termanifestasi melalui olah kata dan olah kerja manusia menjadi sesuatu yang dalam dan bermakna. Sehingga tulisan bukan lagi hanya kumpulan kata-kata, tapi sesuatu yang memiliki jiwa atau ruh. Sesuatu yang hidup dan bergerak seperti cahaya yang menerangi; menjadi indah dan memiliki spiritualitas karena bernilai kebenaran.