Monday, February 28, 2011

Tak Terpisahkan...


picture taken from :http://www.layoutsparks.com/1/31226/darkness-awaits-night-image.html

Pertama kali aku melihatnya ketika pembantu kami membawa anak tersebut ke rumah orangtuaku. Aku sebenarnya heran mengapa orangtuaku mau saja menerima kehadiran anak itu dirumah. Tapi lama kelamaan aku merasa karena mereka kesepian. Nasib memang menentukan anak itu menjadi bagian keluarga kami selamanya. Ibunya, pembantu dirumah kami meninggal dalam tidurnya. Begitu saja tanpa diketahui sakit apa yang di deritanya dan kami tidak tahu apapun mengenai keluarganya di kampung. Aku tidak pernah tahu bagaimana orangtuaku mengusahakan proses adopsi bagi anak itu dan tidak mau tahu. Karena awalnya aku tidak pernah peduli pada kehadirannya.




Tapi anak itu sepertinya senang berada didekatku padahal aku nyaris tidak pernah menyapanya. Tidak pernah memberinya hadiah setiap kali orangtuaku merayakan ulangtahunnya. Dan yang pastinya tidak pernah memeluk atau menggendongnyadan apapun untuk memperlihatkan bahwa aku sayang padanya. Dan malam – malam ia selalu menyelinap ke kamarku dan duduk diam di dekat tempat tidurku. Memperhatikanku dengan pekerjaan yang kubawa pulang kerumah hingga akhirnya ia tertidur di lantai. Dan ia merebut hatiku pada akhirnya.

Betapa senangnya orangtuaku ketika akhirnya aku bisa akrab dengannya dan mau menghabiskan waktu senggangku dengan dirinya. Mereka juga sepertinya lega karena dengan demikian jika mereka sudah tiada, ada aku yang mengurus anak itu. Dan mereka tidak khawatir aku akan menghabiskan masa tuaku sendirian tanpa ada yang mengurusku di kemudian hari. Dan kami pun resmi menjadi ibu dan anak sejak saat itu.

Aku berada bersamanya ketika ia mulai masuk taman kanak – kanak. Aku memegang tangannya ketika ia menangis kesakitan karena terjatuh dari sepedanya dan harus dijahit di keningnya. Aku duduk disamping tempat tidurnya ketika ia demam tinggi. Aku menyanyikan lagu – lagu apaaa saja agar ia bisa tertidur di malam hari setelah mimpi buruk. Aku membacakan dongeng padanya ketika ia sedang bosan.
Ia memeluk diriku ketika melihat keningku berkerut ketika masalah kerja meliputi benakku. Ia terlihat terpukul ketika aku terbaring di rumah sakit akibat kondisi tubuhku yang menurun akibat kelelahan. Ia selalu memberikan coklat pada setiap hari ulangtahunku karena tahu aku tidak menyukai bunga. Ia menungguku setiap malam ketika aku pulang lembur dari kantor dan pernah menangis ketika aku baru pulang larut tengah malam.

Kami hadir untuk satu sama lain… Tidak terpisahkan, begitu kata orang – orang. Terutama ketika kedua orangtuaku akhirnya meninggalkan kami berdua. Dan begitu pula perkiraanku… Hingga ada orang ketiga diantara kami…

Betapa bodohnya aku tidak memperhatikan perubahan dalam dirinya sejak beberapa bulan yang lalu. Bahwa pria kecilku yang telah menjadi pria dewasa dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Oh, sebenarnya aku telah terbiasa dengannya membawa pacar monyetnya (istilahku setiap kali ia memperkenalkan pacar – pacar dari sejarah cinta monyetnya kepadaku) ke rumah. Tidak aneh bagiku bahwa mereka hanya bertahan selama sebulan sebelum ia jatuh ke dalam lubang patah hati dan akhirnya bangkit kembali. Jatuh cinta lagi, terpuruk kembali dan melanjutkan kehidupannya.

Aku sedang berada di halaman belakang menggali lubang untuk membuat kolam kecil ketika ia datang. Entah mengapa aku bosan menatap ikan – ikan dari aquarium atau tepatnya aku lelah membersihkannya. Dan itulah yang kukatakan padanya ketika ia bertanya walau aku yakin bukan itu yang ingin ia bicarakan. Lalu ia mengejutkanku dengan bertanya apakah aku pernah jatuh cinta? Apakah aku pernah memimpikan menghabiskan hidupku hanya dengan seseorang? Dengan bercanda aku katakan bahwa aku mencintainya dan hanya dengannya aku berencana menghabiskan hidupku.

Saat itu ia pun tertawa sejenak dan bertanya lagi mengapa aku tidak memintanya membetulkan penerangan di halaman belakang dan malah membuat kolam disini. Ia lalu berbalik ke dalam rumah seraya mengatakan akan membantuku. Dengan sekop ditangannya ia pun mulai menggali dan berkata bahwa ia menyayangiku tapi akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang lain. Yaitu dengan gadis yang menjadi belahan hatinya. Aku begitu terperangah sehingga nyaris tidak mendengar bagaimana ia bercerita bahwa ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya… Bahwa ia tidak pernah bisa jauh dari gadis itu… Ia ingin menikahinya agar bersamanya selamanya…

Raut wajahku yang terpana terlihat jelas baginya saat itu juga. Ia mengira aku terkejut karena di usia yang masih belia ia telah memutuskan untuk berumah tangga. Dengan suara membujuk ia mengatakan bahwa ia akan selalu ingat padaku. Wanita yang telah mengisi kehidupannya sejak ia masih kanak – kanak hingga saat ini. Dan karenanya ia mengatakan hal ini padaku demi restu yang ia harapkan dariku.

Dengan berusaha tenang aku bertanya apakah ia sudah yakin akan keputusannya? Apakah ia tidak terlalu terburu – buru untuk segera mengakhiri masa lajangnya? Bukankah ia mempunyai keinginan untuk berkeliling dunia? Menulis cerita dari perjalanannya? Bertemu dengan banyak orang? Mempelajari kebiasaan mereka yang pasti jauh berbeda dari yang sering ia lihat setiap hari?

Anakku, pria muda itu menggelengkan kepalanya dan berkata gadis itulah dunianya sekarang. Untuk apa lagi ia perlu pergi mencari hal – hal yang jauh diluar sana? Mengapa ia perlu mempelajari kebiasaan orang lain yang mungkin tidak akan ia temui lagi di masa mendatang? Jika ia sudah menemukan belahan jiwanya untuk bersamanya menghabiskan sisa waktunya di dunia ini maka apa pentingnya lagi bertemu dengan banyak orang? Toh mereka tidak akan mampu memenuhi kekosongan jiwanya?
Pria muda itu merasakan diriku yang semakin menjauh darinya dan membangun dinding yang tinggi sehingga ia tidak bisa masuk. Dengan terburu – buru ia mengatakan akan memberi aku waktu untuk berpikir. Di tengah kegalauan hati ini kulontarkan pertanyaan gadis manakah yang telah mengisi hatinya itu? Rasanya sudah lama sekali ia tidak pernah membawa seseorang untuk diperkenalkan kepadaku selain teman – teman sekelasnya.

Ia mengakuinya dan mengatakan bahwa awalnya ia mengira ini hanya hubungan yang biasa saja seperti yang sebelumnya. Karenanya ia memutuskan untuk tidak mengenalkannya padaku karena toh hubungan itu akan segera usai untuk diganti dengan yang lainnya. Tapi ternyata tidak seperti yang ia perkirakan. Gadis itu katanya seperti diriku dalam memperhatikan dirinya. Gadis itu berani mengatakan hal – hal yang semestinya ia lakukan dan tidak lakukan. Gadis itu mengerti dirinya seperti aku ibunya memahami puteraku.
Baiklah, pikirku… Aku harus bersikap sebijak mungkin dan harus bertemu dengan gadis ini. Kuperhatikan bagaimana gembiranya pria kecilku itu membuang sekop ditangannya dan mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya dan menghubungi gadis tersebut. Ia melemparkan pandangan berterima kasih pada diriku dan mengatakan bahwa Sabtu ini gadis itu akan datang. Pelukannya semakin menghancurkan diriku yang membayangkan bahwa hari – hari kami akan segera berakhir. Apakah putera kecilku tahu akan sakit yang sekarang mendera di dalam hatiku?

Sakit yang semakin bertambah besar begitu malam yang ditunggu – tunggu itu tiba. Aku tidak melepaskan pandangan darinya ketika ia baru saja hendak memelukku namun terhenti ketika mendengar bunyi bel. Matanya panic sejenak lalu tanpa menoleh ia berlari menghampiri pintu. Dan masuklah belahan jiwanya...

Jadi inilah gadis pujaan hati anakku…atau tepatnya…wanita idaman hatinya… Aku menatap mereka berdua dengan perasaan muak yang mulai merambat di hati. Pria kecilku, yang telah aku asuh sejak ia masih kecil, ternyata memuja wanita yang lebih cocok untuk menjadi ibunya. Dan sepertinya aku mengenal wanita ini. Bukankah ia salah satu dosen pembimbing yang pernah dikenalkan oleh puteranya beberapa bulan yang lalu? Tapi mungkin mereka belum memulai hubungan mereka karena saat itu ia tidak melihat suasana seperti sekarang ini…

Mereka berdua dulu tidak pernah saling menatap seperti saat ini… Pandangan mata mereka tidak pernah lepas dari satu sama lain. Mata mereka saling menelusuri tubuh masing – masing. Tangan mereka diam – diam saling menyentuh dan mereka sama sekali tidak berusaha menyembunyikan dari diriku. Wanita itu dengan penuh percaya diri langsung menghampiriku untuk memperkenalkan lagi dirinya. Bukan sebagai dosen pembimbing tapi sebagai kekasih…oh, bukan… Sebagai calon istri anakku. Ia cukup bijaksana untuk tidak langsung memeluk diriku dan memberikan ciuman pipi kiri dan kanan… Sepertinya ia bisa merasakan bahwa aku sudah tidak menyukainya.

Aku berpamitan sejenak pada mereka dengan alasan untuk menyiapkan makanan ke dapur. Sungguh aku sangaaaat menyesal tidak membuat dapur berada di luar rumah. Saat ini yang ingin aku lakukan adalah berteriak sekuat – kuatnya dan melempar apa saja yang ada dihadapanku. Kurasakan dadaku sesak karena ingin meraih sebanyak udara yang bisa melegakan rongga paru – paru diriku. Kuusahakan agar nada suaraku tetap datar ketika memanggil puteraku kedalam dapur dengan alasan untuk membantuku.
Dulu ia akan memenuhi panggilanku hanya dalam waktu 5 menit dan bukan 15 menit seperti sekarang. Ia bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk membantu secepatnya agar bisa kembali bersama wanita itu. Tanpa basa basi lagi aku langsung bertanya dengan suara yang aku usahakan sepelan mungkin. Apakah ia tidak salah dengan pilihannya? Apa yang melintas dalam pikirannya sehingga memilih wanita itu?


Raut wajah putera kecilku itu berubah menjadi wajah seseorang yang gila karena marah akan sesuatu yang menyinggung hatinya. Ia mengatakan bahwa seharusnya aku bahagia karena wanita itu mempunyai kualitas yang sama dengan diriku. Ia seorang wanita yang kuat, mandiri, melakukan pekerjaan yang disukainya, dan yang terpenting mencintainya… Aku baru saja hendak membantahnya ketika puteraku mengatakan apa yang bisa aku mengerti karena aku sendiri tidak pernah menikah… Apa yang aku tahu soal cinta sejati jika aku sendiri tidak pernah memilikinya?

Aku baru saja hendak membantah ketika tiba – tiba wanita itu muncul di dapur, maju dan berada diantara kami berdua. Ia bahkan tidak punya rasa hormat sama sekali bahwa saat ini aku sang ibu sedang berbicara dengan pria muda ini, anakku. Oh tidak, ia dengan angkuhnya menatapku dan mengatakan aku tidak berhak untuk memperlakukan anakku seperti anak kecil. Dia menuduhku seorang ibu yang egois yang ingin anaknya tidak pernah meninggalkannya. Tapi sekarang kekuasaanku sudah berakhir karena dia akan mengambilnya dariku.

Mereka lalu berjalan berdua dengan tangan mereka saling terkait satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian karena aku memanggil puteraku dan meminta maaf. Demikian juga pada wanita yang ada di sebelahnya. Kukatakan bahwa ini semua salahku tidak berusaha menghadapi kenyataan bahwa mereka telah menjalin hubungan serius. Aku ingin memulai lagi dari awal dan menawarkan mereka duduk kembali untuk makan malam bersama.

Wanita itu tidak mempercayaiku dan hanya menatapku seolah aku akan menarik anakku dari pelukannya. Tapi puteraku tampak lega dan langsung memeluk diriku dan mengatakan bahwa aku tidak perlu takut ditinggalkan olehnya. Ia tidak akan melakukan hal tersebut dan menjamin dengan hidupnya. Wanita itu terlihat tidak senang tapi anakku berhasil menenangkannya dan merekapun kembali duduk di meja makan. Meninggalkanku di dalam dapur, menyiapkan makanan bagi mereka berdua.

Aku memandang ke langit – langit berusaha mencari jawaban atas pertanyaan pada diriku sendiri. Apalagi yang bisa aku lakukan untuk mencegah pernikahan ini? Bagaimana membuat anakku tidak meninggalkanku dengan wanita itu? Aku menghela napas dan memandang keluar halaman dari balik jendela yang ada di dapur… Pandanganku tertumbuk pada lubang galian yang belum selesai kukerjakan akibat pusing memikirkan masalah ini selama beberapa hari yang lalu. Kemudian aku terpekur sejenak karena mendadak ada sesuatu yang melintas di kepalaku…

Terdengar suara tawa dari ruang makan yang membuatku menoleh…. Lalu aku memandangi lagi lubang di halaman luar tersebut… Kemudian makanan yang masih berada di meja dapur… Dan aku akhirnya tahu bagaimana membuat anakku tetap berada bersamaku disini. Untuk selama – lamanya. Wanita itu diluar dugaan, tapi yah…aku rasa ia berada dalam satu paket agar anakku tetap bersamaku. Aku tersenyum mendengar anakku memanggilku dari ruang makan… Bertanya apakah aku perlu bantuannya…

Kujawab bahwa hal itu tidak perlu karena makanan ini sudah siap dihidangkan. Aku tersenyum dalam hati ketika mulai memasukkan sesuatu ke dalam makanan mereka… Tunggu sebentar putera kecilku… Sebentar lagi maka keributan tadi akan segera kita lupakan… Kau dan kekasihmu akan selalu berada di tempat ini untuk menemani diriku. Yah, mungkin kita tidak akan bisa melakukan hal yang biasa dilakukab bersama. Tapi setidaknya, kita tidak akan pernah terpisahkan lagi seperti janji kita berdua dulu. Tidak akan ada yang mengganggu kita... Untuk selama – lamanya…