Saturday, March 12, 2011

Bi Enung

Ibuku selalu sibuk dengan pekerjaannya, biasa pergi pagi sekali dan pulang jam 4 sore. Sejak kepergian ayah, ibu mengurus perusahaan peninggalannya. Untunglah ada Bi Enung yang selalu sabar, yang menggantikan tugas ibu dengan kasih sayang yang sama.

Menjelang masuk kuliah, sedih rasanya ketika Bi Enung bicara bahwa ia tidak bisa bekerja lagi di rumah kami, karna akan menikah dan tingal bersama suaminya. Hmm…, beruntunglah lelaki itu, mendapatkan istri seperti Bi Enung yang sabar, baik dan pandai dalam mengurusi semua kebutuhan keluarga. Seperti di rumahku, semuanya selalu tertata rapih, tak pernah aku mendengar Bi Enung mengeluh tentang apapun, ia selalu tersenyum dan selalu membuat kami sekeluarga merasa nyaman.

Selain pandai mengurusi kebutuhan kami sekeluarga, Bi Enung juga memiliki wajah yang cantik alami, kulitnya putih, pipinya merona. Dia tak pernah memakai lipstik dan riasan wajah seperti ibuku. Meski demikian, Bi Enung terlihat segar dan  mempesona dalam kesehariannya, hingga sering sekali beberapa tamu ibuku menganggap dia sebagai kakakku, dan menggodanya. Namun Bi Enung sudah memiliki calon, dan ia sangat setia padanya, yang kini telah menjadi suaminya.


Umurnya memang tidak begitu jauh dariku, hanya beda beberapa tahun saja. Aku terbiasa menyebut bibi, karena ibu dan almarhum ayahku juga memanggilnya begit. Kami merasa dekat sekali dengannya, meskipun ia masih datang setiap pagi sampai sore untuk membantu kami, namun tetap saja kami merasa kehilangan, karena dia tidak sepanjang hari berada di rumah kami.

***

Dongkol rasanya hatiku, ketika mendengar keluarga baru Bi Enung tak begitu harmonis, usia pernikahan yang baru beberapa bulan itu sudah dihiasi keributan. Sebagai suami Mang Ato gemar menyiksa istrinya.

Aku sering mendengar tetangga membicarakan masalah itu. Mang Ato sering aku lihat nongkrong di pangkalan ojek, sepertinya mabuk dan tidak melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai tukang ojek. Dia hanya nongkrong di pangkalan, mabuk mabukan dan sesekali terlihat bermain kartu domino, entah berjudi atau hanya hiburan saja sambil menuggu pelanggan. Yang jelas dia suka pilih-pilih penumpang. Kalau penumpang membawa barang bawaan yang banyak, sudah pasti dia tidak mau membawanya, “Ribet,” katanya.

Bi Enung pandai sekali menyimpan kesedihan dan masalah pribadinya, beberapa kali aku lihat dia kesakitan ketika mencuci piring, ternyata ada sebuah luka bakar kecil di pergelangan tangannya, masih merah, sepertinya baru beberapa jam saja itu terjadi. Luka bakar yang seperti dari api rokok. Seingatku Bi Enung  tak merokok, pasti itu perbuatan suaminya.

Kami sempat kerepotan juga ketika Bi Enung tidak masuk kerja selama 3 hari. Katanya sakit. Ternyata ketika datang untuk bekerja, aku melihat luka lebam di pipi kirinya, namum Bi Enung tetap tersenyum.

“Saya terjatuh di kamar mandi,” begitulah dia menjawab pertanyaan kami sambil tersenyum. Aku dan ibuku tidak mempertanyakan lagi jawabannya, meski aku yakin ibuku sama sepertiku, tidak percaya pada jawaban itu.

***

Tiga tahun sudah kami tak pernah melihat wajah Bi Enung. Kepergiannya menjadi TKI menjadi pertanyaan besar buat kami. Entah  dia ingin mengumpulkan modal usaha sehingga bekerja ke luar negeri, atau hanya ingin menghindari suaminya yang semakin sering melakukan kekerasan.

Dua bulan semenjak kepergian Bi Enung, aku jarang melihat Mang Ato, entah sudah bercerai atau belum. Yang pasti kami justru berharap mereka bercerai. Kasihan sekali Bi Enung, mencari nafkah ke luar negeri, sementara suaminya hanya menikmati hasil kerja Bi Enung dengan manfaat yang belum jelas.

Sebelum berangkat menjadi TKI, kami tidak sempat menanyakannya. Untuk urusan pribadinya Bi Enung cenderung tertutup. Sepertinya ia tidak suka membicarakan itu kepada siapapun. Kamipun menghargai itu, kami tidak pernah mau ikut campur dengan urusannya. Setiap kami bertanya, dia selalu menjawab baik baik saja, tak pernah menjelekkan suaminya.

***

Empat tahun kemudian, ketika aku pulang bekerja, aku kaget melihat Bi Enung menangis dalam pelukan ibuku, baru kali inilah aku melihat dan mendengarnya menangis. Ternyata tadi pagi dia baru datang. Sungguh menyesakkan dadaku, mendengar semua uang yang ia kirimkan untuk keluarganya telah habis oleh Mang Ato bersama istri barunya. Kami sepakat untuk membantunya mengurus surat cerai.

Sejak awal dia mengirim uang memang atas nama suaminya, karena orang tua Bi Enung yang buta huruf tak bisa mengurus itu sendiri. Entah kenapa Bi Enung masih saja percaya kata-kata manis suaminya, yang mengabarkan telah membeli tanah dan rumah baru dari hasil kerja Bi Enung di luar negeri.

Setalah resmi bercerai, beberapa bulan kemudian terdengar kabar ada yang melamar Bi Enung. Ada bujangan pemimpin perusahaan tulus mencintai Bi Enung, meski berbeda usia, Bi Enung lebih tua beberapa tahun, namun pemuda itu bersungguh-sungguh akan menikahinya.

Awalnya Bi Enung menolak, karena merasa tidak pantas dan tidak sanggup menerima sesuatu yang terasa sangat mustahil untuknya. Sebagai janda miskin, dilamar pemuda kaya yang belum pernah menikah, memang sungguh ganjil kedengarannya. Apalagi usia Bi Enung selisih 6 tahun lebih tua dari pemuda tersebut.

Pada akhirnya mereka menikah, dan bahagia bersama dalam keluarga baru tersebut. Kedua orang tua Bi Enung kini tinggal bersama mertuanya, mereka hidup rukun, saling mengisi kekosongan keluarga masing masing, karena selama ini pemuda tersebut hanya tinggal bersama ibunya.

***

Lima tahun aku menikah dengannya, aku merasa sangat bahagia, apalagi setelah dikarunia seorang anak perempuan yang lucu, cantik seperti ibunya. Dengan bangga aku kenalkan kepada semua orang, bahwa Bi Enung adalah istriku, perempuan yang dulu pernah menjadi pembantu kami. Orang-orang yang dulu memanggil Bi Enung kini memanggilnya Ibu Enung. Namun aku sesekali memanggilnya dengan manja, “Bi Enung”, dan kontan cubitannya mendarat lembut di perutku.

Dia adalah istri yang sangat patuh, dan selalu memberiku ketenangan dan motivasi. Aku mencintainya, semua tentangnya. Aku bahagia sekali karena bisa membahagiakannya. Sampai kapanpun aku akan selalu membuatnya bahagia.

oOo


 Kontributor Tamu:

Rony Syahroni
Roni terlahir dan dibesarkan di Kota Kembang, Bandung. Sekarang tinggal di Kotamobagu, Sulawesi Utara. 

 http//www.tersingelisasi.blogspot.com