Thursday, March 3, 2011

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (1)

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana Indie, Winda Krisnadefa, Indah Wd &G

1. Sepatu Boot dan Seruling

“Mari kita memulai perjalanan kita,” bisik Kasenda kepada Twittwit, mereka melangkah meninggalkan rumah yg terletak di balik bukit kecil dekat padang ilalang itu. atap merah dan pintu kayu memandang langkah mereka. kaki-kaki kecil tak beralas menapaki jalan kecil berkelok-kelok yang disusun dari bata merah.

Tiba-tiba Kasenda berseru, “Astaga! Aku belum memakai sepatu bootku!”

Twittwit memandangnya dengan heran. “Kita tidak butuh sepatu, Kasenda. Bukankah rumput adalah permadani yang sangat enak dan empuk untuk diinjak-injak?”


Kasenda memiringkan kepalanya, “Tapi, boot-ku itu bukan sembarang boot.” Bisiknya. “Dia bahkan lebih lembut dari segumpal kapas atau segenggam salju, kau tahu itu!” lanjutnya masih sambil berbisik. “Dan satu hal lagi yang penting, dia dapat menunjukkan jalan yg harus kita tempuh, walaupun aku belum tahu cara kerjanya.”

Twittwit memandang sahabat kecil berambut lurus kaku itu dengan seksama. Tak peduli dengan ucapan Kasenda, dia menarik tangan Kasenda, berbalik arah, “Ya sudah, kalau begitu ayo kita ambil bootmu, habis perkara.”

Keduanya berlari kecil, ranting kering gemeretak terinjak kaki-kaki kecil itu. Suara musik sudah mulai terdengar dari kejauhan. Kasenda dan Twittwit semakin mempercepat langkah mereka.

Musik, aha!

Twittwit seketika itu juga teringat akan sesuatu yang sedari tadi sudah ada di kepalanya tetapi susah untuk diingat dengan jelas. Ya,ya, ya itu dia yang dilupakannya, suling bambu kecilnya harus dibawa serta dalam perjalanan mereka. Dimana dia letakkan suling bambu kesayangannya itu, ya?

Twittwit berpikir keras. Sepertinya ia meninggalkannya di antara rumpun ilalang ketika ia menari di hujan kemarin sore. Semoga saja tdk ada yang mengambil. Twittwit merasa cemas. Baiklah, setelah Kasenda mengenakan boot, mereka harus segera ke lapangan rumput ilalang di belakang rumah itu untuk mengambil suling bambu kesayangannya. “Cepatlah, Kasenda…., kita harus segera menjemput sulingku sebelum peri-peri yg tinggal di bawah bunga lonceng itu menemukannya.”

Bersambung