Skip to main content

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (2)

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G


2. Peri bunga lonceng

Mereka mempercepat langkah mereka. Sambil terengah-engah karena saling berkejaran, Kasenda bertanya, “Mengapa peri-peri bunga lonceng itu suka sekali mencuri musik? Masih ingatkah kau kisah Nenek Pea yang kehilangan lonceng2 peraknya, padahal lonceng perak itu selain bunyinya indah juga menjadi pemanggil serpih-serpih salju warna bening yang bisa berubah menjadi gelembung-gelembung kupu-kupu ketika tertiup angin utara… Ah, aku tak habis pikir.”

Masih sambil berlarian, Twittwit menimpali ucapan Kasenda, “Dulu ketika aku masih kecil, kakekku pernah bercerita bahwa kaum peri lonceng itu adalah kaum bersuara emas, berbicara biasa saja seperti yang kita lakukan sekarang ini, bila mereka yang mengucapkannya terdengar seperti lantunan melodi yang indah, apalagi ketika mereka mulai bernyanyi, suara mereka mampu membuai setiap makhluk yang ada di sekitarnya.”

Hah? Kasenda merasa heran mendengar penjelasan itu, ia ingin bertanya, tetapi mereka sudah tiba di depan rumahnya. Ia harus segera menemukan sepatu bootnya, seingatnya ia meletakkannya di bawah mantel hujannya di dalam tempat menggantung baju-baju panjang. Bibinya tidak suka melipat baju-baju yang sudah disetrika rapi. “Cepat ya, kita masih harus mencari sulingku!” Twittwit mengingatkan.

Cepat-cepat Kasenda membuka pintu rumahnya dan berseru, “Bibi Kara! Kami kembali lagi untuk mengambil sepatu boot!!!”

Tapi apa yang dilihatnya membuatnya ternganga, “Twittwit.. cepat kemarii!!”

Twittwit datang mendekat, “Kenapa, Kasenda?” tanyanya sambil melongokkan kepala ke dalam ruangan dan matanya terbelalak melihat ruangan itu tampak porak poranda.

Desa Kasenda & Twittwit

“Astaga!” jerit Twittwit. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan bingung. “Kemana Bibi? Apa dia tidak tahu rumah jadi berantakan seperti ini?” Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Tidak tahu harus berbuat apa. Sementara suara musik itu semakin mendekat. Rombongan sirkus sudah sampai di ujung jalan.

Suara gajah, kuda terbang, kelinci penuip seruling, badut-badut yang berlompatan terdengar seperti lagu penghantar tidur yang biasa dinyanyikan oleh hutan ketika malam kehilangan purnama. Tunggu. Apakah itu suara dari peri-peri lonceng?

“Peri-peri lonceng!” Jerit Twittwit begitu mendengar suara itu. “Oooh tidak! Pasti mereka sudah mengambil serulingku!” Cepat-cepat ia berlari ke arah pintu dan tepat saat itu Bibi Kara muncul, mereka hampir saja bertabrakan. “Twitwit,” kata Bibi Kara, lalu terperangah melihat ruangan yang berantakan, “Astaga naga terbang dan seluruh tikus-tikus pengerat besi berani! Apa yang sudah kalian lakukan di sini? kenapa rumah ini menjadi berantakan seperti ruangan Mola-mola?”

“Bibi Kara! Bukan kami yang melakukannya, ketika kami tiba di rumah, keadaan sudah berantakan seperti ini. Iya khan, Kasenda?” Twittwit menoleh ke arah di mana tadi Kasenda berada tapi di ruangan itu hanya tinggal dirinya dan Bibi Kara, “Lho di mana Kasenda?”

Bibi Kara mengangkat bahu, sambil mengomel kecil bahwa dia kan baru saja datang, jadi, mana mungkin dia tahu di mana Kasenda. Saat itu juga, Kasenda berjalan keluar dari kamarnya, wajahnya terlihat bingung, “Twittwit.. sepatu boot-ku hilang! Aku yakin aku meletakkannya di sebelah sepatu terbangku!” Ketika mendongakkan kepalanya, barulah Kasenda melihat Bibi Kara, “Bibi, apa Bibi melihat sepatu boot-ku?”

Bibi menggelengkan kepala. Tangannya sibuk memunguti benda-benda yang berceceran di atas lantai. ”Kasenda, Bibi baru saja pulang dari bukit, memetik bunga lonceng untuk kulukis. Bibi tidak tahu dimana sepatu boot-mu itu berada. Dan..oh, Twittwit? Aku harus mengatakan padamu kalau peri-peri itu sedang memainkan suling bambumu tadi. Dan, astagaaa! Aku masih tidak mengerti bagaimana rumah ini bisa menjadi seperti kapal perompak dari laut selatan yang ganas itu?!?”

peri-peri bunga lonceng

Kasenda memandang Twittwit yang parasnya langsung memucat. Daripada sepatu Boot-nya, Kasenda tahu betapa berartinya suling itu buat Twittwit. Suling itu bukan hanya terbuat dari bambu pualam yang langka dan mahal harganya, serta mampu menghasilkan melodi yang melenakan hati yang bersedih. Lebih dari itu, suling Twittwit adalah suling yang menyimpan peta rahasia ke tambang intan tujuh kurcaci. Memang sih ceritanya masih berupa legenda dan Twittiwit maupun Kasenda belum berhasil memecahkannya, tapi suling itu, bagaimanapun, adalah pemberian terakhir dari ibu Kasenda sebelum ia pergi menjelajahi negeri pelangi. Sebelum Kasenda sempat berkata apa-apa, Twittwit telah menghambur keluar dengan tergesa.

“Twit…” Kasenda hendak mengejar Twittwit tetapi segera diurungkannya, sebab ia terusik dengan kenyataan ruangan yang berantakan dan sepatu bootnya yang tidak pada tempatnya. Desa tempat tinggal Kasenda dan Twitwit adalah desa yang aman. …Rumah-rumah tidak pernah dikunci, baik siang maupun malam. Karena itu sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka bahwa mungkin saja rumah mereka dimasuki oleh perampok. Lagipula, apa yang mau dirampok? Sepatu boot milik Kasenda itupun tidak mungkin bisa dikenakan oleh siapapun kecuali Kasenda. Disitulah keunikannya. Sepatu boot itu juga tidak akan mau melangkah bila Kasenda belum membisikkan sebuah kalimat khusus.

Hmm… Ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya, namun Kasenda tidak tau pasti apa itu. Tanpa menghiraukan Bibi Kara yang mengomel panjang pendek sambil mengumpulkan barang2 dan menaruhnya kembali di tempat semula, Kasenda bolak balik memasuki ruangan demi ruangan di rumahnya, mencoba untuk mencari petunjuk.

Awalnya, Bibi Kara hendak menegur Kasenda agar membantunya, namun hal itu urung dilakukannya ketika melihat cara Kasenda berjalan.

Ya, ketika sedang berpikir keras, Kasenda mempunyai gaya berjalan yang tampak seperti sedang merenung sambil menjentikkan jari telunjuk ke pipinya dan seolah berada di dunianya sendiri tanpa menyadari kehadiran orang lain di sekitarnya.

Bibi Kara jadi tersenyum melihat tingkah keponakan tersayangnya itu. Ia memutuskan untuk merapikan ruangan itu tanpa menganggu Kasenda yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri itu.

Sementara itu, ketika Kasenda hendak keluar dari kamarnya untuk ketiga kalinya, tiba-tiba Kasenda menyadari di mana letak keanehannya! Yang berantakan itu ruang tamu namun justru barang yang hilang adalah sepatu boot yang ada di kamarnya!

“Hmm.. mencurigakan! Siapapun yang mengambil sepatu boot-ku pasti berusaha mengalihkan perhatian kami supaya tidak menyadari kehilangannya!” Kasenda membatin.

Tetapi, siapa dan untuk apa sih? Kening Kasenda berkerut-kerut. Saat itulah dia melihat sesuatu bergerak-gerak di balik tirai jendela.

Bersambung

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…