Skip to main content

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (3)

3. Empat Kurcaci, Peri Bunga Lonceng dan Racun Tulip Ungu

Kasenda berjalan mengendap-endap menuju tirai. Tepat ketika tangannya hendak menarik tirai kuning itu, sesosok makhluk kecil melompat ke arahnya dan berteriak, "Lariii!". Kasenda terkejut bukan buatan. Sedetik kemudian tiga sosok kecil menyusulnya. Berlari-larian keluar dari rumah. Bibi Kara dan Kasenda terpana melihatnya. Empat kurcaci berlari-larian membaa sepatu boot milik Kasenda. Tiba-tiba saja Kasenda tersadar dan berteriak, "Bootkuuu!!! Kurcaci nakaaal! Kutangkap kalian!" Dengan gusar ia berlari mengejar empat kurcaci berbaju hijau itu. "Kasenda!! Hati-hati! Mereka punya tulip beracun!" Bibi Kara berusha memperingatkan Kasenda yang sudah jauh mengejar kurcaci-kurcaci itu.

Kurcaci-kurcaci itu, meski tingginya tidak lebih dari setengah tinggi badan Kasenda, mampu berlari sangat cepat. Kasenda mempercepat larinya, tidak ingin kehilangan jejak mereka. Tidak dengan mereka membawa kabur Boot kesayangannya yang berwarna merah jambu. Ah, sedikit lagi.. Kasenda hampir berhasil menangkap ujung topi runcing kurcaci yang paling gemuk, sebelum tiba-tiba asap berwarna ungu menghalangi pandangannya. "Sial. Ini tulip beracun!", umpat Kasenda dengan geram. Tapi terlambat. Kasenda telah menghirup asap tulip ungu yang beracun. Dan ini berarti dalam waktu 2 jam, Kasenda akan mempunyai ekor!

Asap Beracun

"Ya ampuuun!!" Kasenda tidak dapat menahan kesal, namun dengan tekad yg kuat ditembusnya asap ungu itu. Baiklah, kalau dia harus punya ekor, apa boleh buat, tetapi mereka tidak boleh lolos dengan membawa boot-nya. Boot yang merupakan hadiah istimewa dari Kakek Bingo, satu-satunya kenangan terakhir yang dimilikinya dan dia tidak boleh kehilangan kenangan tersebut. Pokoknya tidak!! Plop, Kasenda merasakan sesuatu mulai tumbuh dipantatnya. Arrgh! Dia tambah jengkel. Kejengkelan membuat tenaganya makin bertambah, dan sekali lompat ia berhasil merengut kerah baju kurcaci yang terdekat. "Kena kau!" Teriaknya penuh kemenangan. Bersamaan dengan itu tiba-tiba saja dua kurcaci yang lainnya berbalik dan melompati Kasenda, dan melingkupinya dengan sebuah jaring. "Hey, apa-apaan ini?!?"

"Berhasil! Berhasil! Berhasiill!!" Keempat kurcaci tersebut mengelilingi Kasenda dan menari-nari sambil melompat-lompat gembira. Kasenda meronta-ronta di dalam jaring tersebut, berusaha melepaskan diri. Namun jaring laba-laba yang dipintal dengan benang emas itu amat sangat kuat dan tidak mampu dirobeknya dengan tangan kosong. Kasenda meraba saku celananya, dan tersenyum senang ketika tangannya merasakan tonjolan sebilah belati embun pagi yang mampu memutuskan ikatan apapun yang ada di dunia ini. Kasenda terlalu cepat bergembira karena senyumannya tertangkap oleh kurcaci berbaju merah yang dengan sigap memberi isyarat pada teman-temannya yang langsung menghentikan gerakan tangan Kasenda yang berusaha menarik keluar belati tersebut dari saku celananya.

"Dia punya belati embun pagi!" teriaknya memperingatkan teman-temannya. "Tinggalkan dia sekarang! Ayo! Kita sudah mendapatkan boot-nya. Cepat!" kata kurcaci berbaju merah itu sambil berlari. Kurcaci-kurcaci yang sibuk memegang tangan Kasenda itu segera berlari meninggalkan Kasenda yang sibuk membebaskan diri dari jala dengan menggunakan belati embun paginya itu. Terlalu lama waktu bagi Kasenda untuk mmbebaskan diri. Kurcaci-kurcaci nakal itu sudah hilang dari pandangannya. Kasenda menghela nafas dengan kesal. "Boot-ku..." katanya pelan dan menunduk sedih. Sambil berjalan gontai ia melihat ke arah belakang tubuhnya. Ekor itu sudah mulai tumbuh di sana. Kasenda berlari ke arah rumah untuk menemui Bibi Kara dan Twittwit yang masih sibuk mencari seruling bambunya.

Bersambung

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…