Monday, March 21, 2011

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (3)

3. Empat Kurcaci, Peri Bunga Lonceng dan Racun Tulip Ungu

Kasenda berjalan mengendap-endap menuju tirai. Tepat ketika tangannya hendak menarik tirai kuning itu, sesosok makhluk kecil melompat ke arahnya dan berteriak, "Lariii!". Kasenda terkejut bukan buatan. Sedetik kemudian tiga sosok kecil menyusulnya. Berlari-larian keluar dari rumah. Bibi Kara dan Kasenda terpana melihatnya. Empat kurcaci berlari-larian membaa sepatu boot milik Kasenda. Tiba-tiba saja Kasenda tersadar dan berteriak, "Bootkuuu!!! Kurcaci nakaaal! Kutangkap kalian!" Dengan gusar ia berlari mengejar empat kurcaci berbaju hijau itu. "Kasenda!! Hati-hati! Mereka punya tulip beracun!" Bibi Kara berusha memperingatkan Kasenda yang sudah jauh mengejar kurcaci-kurcaci itu.

Kurcaci-kurcaci itu, meski tingginya tidak lebih dari setengah tinggi badan Kasenda, mampu berlari sangat cepat. Kasenda mempercepat larinya, tidak ingin kehilangan jejak mereka. Tidak dengan mereka membawa kabur Boot kesayangannya yang berwarna merah jambu. Ah, sedikit lagi.. Kasenda hampir berhasil menangkap ujung topi runcing kurcaci yang paling gemuk, sebelum tiba-tiba asap berwarna ungu menghalangi pandangannya. "Sial. Ini tulip beracun!", umpat Kasenda dengan geram. Tapi terlambat. Kasenda telah menghirup asap tulip ungu yang beracun. Dan ini berarti dalam waktu 2 jam, Kasenda akan mempunyai ekor!

Asap Beracun

"Ya ampuuun!!" Kasenda tidak dapat menahan kesal, namun dengan tekad yg kuat ditembusnya asap ungu itu. Baiklah, kalau dia harus punya ekor, apa boleh buat, tetapi mereka tidak boleh lolos dengan membawa boot-nya. Boot yang merupakan hadiah istimewa dari Kakek Bingo, satu-satunya kenangan terakhir yang dimilikinya dan dia tidak boleh kehilangan kenangan tersebut. Pokoknya tidak!! Plop, Kasenda merasakan sesuatu mulai tumbuh dipantatnya. Arrgh! Dia tambah jengkel. Kejengkelan membuat tenaganya makin bertambah, dan sekali lompat ia berhasil merengut kerah baju kurcaci yang terdekat. "Kena kau!" Teriaknya penuh kemenangan. Bersamaan dengan itu tiba-tiba saja dua kurcaci yang lainnya berbalik dan melompati Kasenda, dan melingkupinya dengan sebuah jaring. "Hey, apa-apaan ini?!?"

"Berhasil! Berhasil! Berhasiill!!" Keempat kurcaci tersebut mengelilingi Kasenda dan menari-nari sambil melompat-lompat gembira. Kasenda meronta-ronta di dalam jaring tersebut, berusaha melepaskan diri. Namun jaring laba-laba yang dipintal dengan benang emas itu amat sangat kuat dan tidak mampu dirobeknya dengan tangan kosong. Kasenda meraba saku celananya, dan tersenyum senang ketika tangannya merasakan tonjolan sebilah belati embun pagi yang mampu memutuskan ikatan apapun yang ada di dunia ini. Kasenda terlalu cepat bergembira karena senyumannya tertangkap oleh kurcaci berbaju merah yang dengan sigap memberi isyarat pada teman-temannya yang langsung menghentikan gerakan tangan Kasenda yang berusaha menarik keluar belati tersebut dari saku celananya.

"Dia punya belati embun pagi!" teriaknya memperingatkan teman-temannya. "Tinggalkan dia sekarang! Ayo! Kita sudah mendapatkan boot-nya. Cepat!" kata kurcaci berbaju merah itu sambil berlari. Kurcaci-kurcaci yang sibuk memegang tangan Kasenda itu segera berlari meninggalkan Kasenda yang sibuk membebaskan diri dari jala dengan menggunakan belati embun paginya itu. Terlalu lama waktu bagi Kasenda untuk mmbebaskan diri. Kurcaci-kurcaci nakal itu sudah hilang dari pandangannya. Kasenda menghela nafas dengan kesal. "Boot-ku..." katanya pelan dan menunduk sedih. Sambil berjalan gontai ia melihat ke arah belakang tubuhnya. Ekor itu sudah mulai tumbuh di sana. Kasenda berlari ke arah rumah untuk menemui Bibi Kara dan Twittwit yang masih sibuk mencari seruling bambunya.

Bersambung