Friday, March 25, 2011

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (5)

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G

3. Perkampungan Kurcaci, Jalan Rahasia dan Andaralivia

Peri bersayap ungu itu terdiam sejenak mendengar perkataan Twittwit sebelum berkata lirih yang terdengar bagaikan melodi sedih, "Mengenai hal itu aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu karena itu merupakan rahasia kami."

Twittwit tidak mendesak karena ia sendiri mempunyai rahasia yang bahkan tidak dibaginya dengan Kasenda, namun pandangannya tak lepas dari sulingnya, "Kembalikan sulingku!" Twittwit berkata tegas.

Peri bersayap ungu itu terlihat ragu karena walau baru sebentar memilikinya, sang peri telah merasa sayang dengan suling milik Twittwit, jiwanya terasa telah menyatu dengan suara yang keluar dari suling tersebut. Dengan berat hati peri itu mengulurkan suling itu ke arah Twittwit, "Baiklah, tapi hanya jika kalian melepaskan adikku."

Twittwit mengangguk namun Kasenda menyela dan mencegah Twittwit yang bersiap melepaskan jaring, "Tidak secepat itu! Pertama kamu harus memberitahukan padaku terlebih dahulu mengenai letak desa kurcaci! Baru kamu bisa mendapatkan adikmu kembali!" Peri bersayap ungu itu terlihat bingung sementara adiknya bergerak-gerak gelisah di dalam jaring, "Tetapi kami bermusuhan dengan kaum kurcaci!"

‎"Aku kan tidak meminta kalian berperang dengan para kurcaci." Kata Kasenda, kejengkelannya mulai kembali, "Aku cuma meminta kalian untuk menunjukkan di mana tempat tinggal mereka dan mengantarkan kami sampai ke sana. Selanjutnya, kami yang... akan menghadapi kurcaci-kurcaci itu."

Peri ungu itu memandang Kasenda dengan agak prihatin, ia menarik nafas panjang sebelum berkata, "Sebenarnya sih, untuk kebaikanmu sendiri, sebaiknya kamu tidak pergi mengejar para kurcaci. Tapi..." Matanya yang berwarna pelangi itu menari-nari dan hinggap pada wajah Twittwit, memandangi wajah itu agak lama sebelum berkata, "Tetapi kalau temanmu ini, dia bisa saja memasuki daerah kaum bajang itu." Wajah Twittwit agak memerah, Kasenda tidak memperhatikannya, tetapi peri kecil di dalam perangkap itu memperhatikannya. Hampir saja peri kecil itu tergoda untuk mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi, ia ingat bahwa kakaknya sedang berada di sana. Sementara itu Kasenda merasa heran mengapa ia tidak boleh memasuki kawasan tempat tinggal para kurcaci? Dan mengapa Twitwit boleh?

Sementara itu peri ungu terus melabuhkan pandangannya pada Twittwit, membuat wajahnya merona dalam bias pendar pelangi. Kasenda tidak pernah tahu. Dulu, dulu sekali, pada suatu musim yang seperti datang dari negeri yang jauh, Twittwit kecil yang kesepian pernah menangis di bawah Pohon Cahaya. Saat itu adalah senja yang kesebelas musim berbunga Perdu Poesis. Bulir-bulir air mata Twittwit yang jatuh dipetik oleh peri lonceng yang kebetulan lewat dan disuling menjadi nada yang tepat untuk syair perdu yang mekar pertama. Poesis yang dilahirkan oleh harmonisasi perdu dan bulir air mata Twittwit yang seperti untaian mengalir memenuhi hutan, bahkan sampai ke desa kurcaci yang menguburkan semua musik.

Dorfii, kurcaci tetua desa, begitu tersentuh mendengar syair yang dilagukan dengan denting airmata dan perdu, yang konon dikisahkan terjadi hanya sekali dalam kurun 100 tahun dongeng. Dorfii bahkan bermaksud mengundang Twittwit sebagai tamu di desa kurcaci. Tapi kelompok peri lonceng yang bergerombolan mengelilingi Twittwit mendesis marah dan serempak melempar debu perak yang meyakitkan mata dari sayap-sayap mereka. Twittwit kecil yang malang ketakutan dan segera berlari meninggalkan sepasukan peri cahaya dan kurcaci yang sedang bersitegang. Twittwit tidak pernah menceritakan kejadian ini pada Kasenda. Bagaimana mungkin ia bercerita tentang dirinya yang menangis hanya karena merindukan ibunya? Tidak. Twittiwit tidak ingin dianggap cengeng oleh Kasenda yang kuat dan pemberani.

‎"Aku tidak mengerti...," ujar Kasenda dengan kebingungan. Ditatapnya Twittwit dengan pandangan memohon. Seolah mengatakan, tolonglah ambilkan boot-ku itu. Twittwit paham dan sangat mengerti keinginan sahabat yang terbaiknya itu. Ia menganggukkan kepala tanda setuju.

"Baiklah, peri kecil Katakan padaku dimana tempat persembunyian mereka. Begitu kau antar aku ke dekatnya, adikmu akan kulepaskan. Janji!" kata Twittwit dengan berani. Bagimanapun ia ingin dilihat sebagai seorang anak pemberani di mata Kasenda. Selama ini Kasenda hanya tahu kalau dirinya adalah anak yang sangat halus dan mudah sekali menitikkan air mata.

Peri bersayap ungu itu menganggukkan kepala. Ia terbang rendah di hadapan Twittwit dan mengajak mereka untuk mengikutinya dengan isyarat tangan. "Mereka sebenarnya tidak jauh dari sini. Bahkan kalau kau tahu bagaimana cara menemukannya, mereka selalu ada di dekatmu..." katanya sambil tetap terbang.

"Maksudmu?" tanya Kasenda lagi.

"Maaf, aku hanya bisa memberitahu temanmu tentang hal ini," katanya sambil terbang mendekati telinga Twittwit dan membisikkan sesuatu.

Kasenda menutup mulutnya dengan kesal.Peri itu tidak memperhatikan Kasenda lagi. Ia sibuk membisikkan sesuatu ke telinga Twittwit. Tidak lama kemudian Twittwitt membelalakkan matanya dan terpekik. "Astaga! Andainya aku tahu tentang ini sejak dulu! Ternyata mereka ada di dekat kita selama ini, Kasenda!" katanya dengan bersemangat.

"Dimana?" Kasenda tampak ikut bersemangat. "Ehem.." siperi kecil itu berdehem untuk memperingatkan Twittwit sesuatu. "Mmmm...maaf Kasenda, aku tidak bisa memberitahumu itu. Kalau sampai aku membocorkannya, maka tempat persembunyian mereka akan hilang dan kita tidak akan dapat menemukan boot-mu sama sekali. Lebih baik sekarang kau pulang ke rumah dan bantu Bibi Kara. Jangan khawatir, mereka tidak akan bisa menyakitiku," kata Twittwit dengan berani.

‎"Baiklah, aku pergi!" Kasenda membalikkan tubuh dengan kesal sambil menggerutu, "Sepatu boot-ku yang dicuri tapi Twittwit yang akan bertualang ke negeri para kurcaci! Yang menyebalkan aku bahkan tidak diberitahu di mana tempat persembunyian mereka!"

Bersambung