Skip to main content

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (6)

Pohon Jalan Rahasia

Masih sambil bersungut-sungut Kasenda menyepak batu kecil berwarna coklat kehitaman yang dilihatnya di pinggir jalan. Batu itu terpental dan membentur batang pohon karnesia merah berdaun rimbun menyerupai payung. Seakan belum puas, Kasenda mengejar batu kecil itu dan bersiap kembali menyepaknya ke jalan setapak yang dilaluinya tapi kembali ekornya berulah dan Kasenda jatuh terjerembab sementara kepalanya terantuk sebuah tonjolan di bagian bawah pohon. Kasenda menatap sebal tonjolan itu dan bersiap meninjunya ketika ia mendengar sebuah suara *kraakk* yang membuatnya terlonjak kaget dan lupa akan rasa sakit di kepalanya, terlebih ketika batang pohon karnesia merah itu mulai membuka diri. Kasenda bersiap untuk lari tanpa henti kembali ke rumahnya namun ekornya kembali membelit kakinya dan Kasenda jatuh terguling masuk ke dalam lubang di pohon tersebut yang langsung menutup ketika Kasenda telah masuk ke dalamnya.

Arrrghhh!!! Kasenda berteriak antara kaget dan kesal. Apakah tidak ada hari yang lebih sial dari hari ini? Pikirnya sambil berguling-guling melalui lorong yang gelap dan berbau apek itu. Sekarang apa lagi yang akan terjadi? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan muncul di kepalanya, dan tiba-tiba saja tubuhnya berhenti berguling-guling, karena tiba pada bagian yang datar.

Kasenda cepat-cepat melepaskan diri dari belitan ekornya, "Dimana ini? gelap sekali, kalau saja ada cahaya, aku memerlukan cahaya!" katanya keras-keras, saat itu tiba-tiba saja muncul cahaya, kecil lalu menjadi semakin terang. Kasenda cepat-cepat menoleh ke arah asal cahaya itu dan berteriak kaget. "Astaga naga yang sedang tidur nyenyak," pekiknya, persis seperti kata-kata yang sering didengarnya diucapkan bibi Kara apabila bibinya itu terkejut, "Ekor ini bisa menyala!" Ya, ekor Kasenda memang mengeluarkan cahaya di ujungnya, seperti sebuah lentera yang terang benderang.

Sementara itu, apa yang sedang dilakukan oleh Twittwit? Ia, dengan dipandu oleh Peri Ungu sedang berjalan menuju ke arah sebuah jamur berbintik-bintik merah. Tiba-tiba Twittwit ingat bahwa dia belum mengetahui nama penunjuk jalannya ini. "Siapa nama kalian?" Tanya Twittwit, "Namaku Twitwit."

Peri bersayap ungu itu menganggukkan kepalanya, "Kami sudah tahu namamu Twittwit dan nama kawanmu adalah Kasenda. Sayangnya, kamu nampaknya sudah lupa siapa namamu yang sebenarnya, Andaralivia."

Twittwit terkejut sekali, wajahnya nampak memucat. "Apa katamu?" Katanya kepada peri bersayap ungu itu, "Kamu memanggilku apa?"

Peri bersayap ungu itu terbang mengelilingi Twittwit sambil mengucapkan sejenis mantera, lalu berseru dengan suara lembut dan jernih seperti lonceng-lonceng kristal yang sering didentingkan oleh tetesan salju di gunung Mehr. "Andaralivia, terbukalah matamu dan melihatlah!"

Kampung Para Kurcaci

Seberkas cahaya hijau menyelubungi sekeliling tubuh Twittwit. Untuk sesaat Twittwit memicingkan matanya karena silau. Dan sepertinya ia juga merasa tempatnya berpijak berputar dengan sangat cepat. Perlahan cahaya hijau itu pudar dan berganti dengan sebuah pemandangan baru di depan Twittwit. Twittwit terbelalak melihatnya. Sebuah menara tinggi dengan empat buah bendera berkibar di atasnya berdiri dengan gagah tepat di depan matanya. Tapi bukan itu yang membuat Twittwit takjub.

Taman bunga luas di belakang menara itu yang sangat luar biasa baginya. Itu bukan taman bunga biasa. Seolah semua jenis bunga dari semua warna dikumpulkan di sana dan disusun dengan begitu rapihnya hingga membentuk kotak-kotak berwarna-warni seperti papan catur raksasa.

Twittwit melangkah perlahan. Ia berbelok sedikit untuk memutari menara di depannya untuk dapat melihat jelas taman bunga itu. Begitu ia dekati, terdengar suara-suara di bagian bawah bunga-bunga itu. Twittwit membungkukkan badannya untuk melihat suara apakah itu.

Olala..di bawah bunga berwarna-warni yang tersusun kotak-kotak sesuai dengan warnanya itu, ternyata di sanalah kampung para kurcaci kecil itu!

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…