Sunday, March 27, 2011

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (6)

Pohon Jalan Rahasia

Masih sambil bersungut-sungut Kasenda menyepak batu kecil berwarna coklat kehitaman yang dilihatnya di pinggir jalan. Batu itu terpental dan membentur batang pohon karnesia merah berdaun rimbun menyerupai payung. Seakan belum puas, Kasenda mengejar batu kecil itu dan bersiap kembali menyepaknya ke jalan setapak yang dilaluinya tapi kembali ekornya berulah dan Kasenda jatuh terjerembab sementara kepalanya terantuk sebuah tonjolan di bagian bawah pohon. Kasenda menatap sebal tonjolan itu dan bersiap meninjunya ketika ia mendengar sebuah suara *kraakk* yang membuatnya terlonjak kaget dan lupa akan rasa sakit di kepalanya, terlebih ketika batang pohon karnesia merah itu mulai membuka diri. Kasenda bersiap untuk lari tanpa henti kembali ke rumahnya namun ekornya kembali membelit kakinya dan Kasenda jatuh terguling masuk ke dalam lubang di pohon tersebut yang langsung menutup ketika Kasenda telah masuk ke dalamnya.

Arrrghhh!!! Kasenda berteriak antara kaget dan kesal. Apakah tidak ada hari yang lebih sial dari hari ini? Pikirnya sambil berguling-guling melalui lorong yang gelap dan berbau apek itu. Sekarang apa lagi yang akan terjadi? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan muncul di kepalanya, dan tiba-tiba saja tubuhnya berhenti berguling-guling, karena tiba pada bagian yang datar.

Kasenda cepat-cepat melepaskan diri dari belitan ekornya, "Dimana ini? gelap sekali, kalau saja ada cahaya, aku memerlukan cahaya!" katanya keras-keras, saat itu tiba-tiba saja muncul cahaya, kecil lalu menjadi semakin terang. Kasenda cepat-cepat menoleh ke arah asal cahaya itu dan berteriak kaget. "Astaga naga yang sedang tidur nyenyak," pekiknya, persis seperti kata-kata yang sering didengarnya diucapkan bibi Kara apabila bibinya itu terkejut, "Ekor ini bisa menyala!" Ya, ekor Kasenda memang mengeluarkan cahaya di ujungnya, seperti sebuah lentera yang terang benderang.

Sementara itu, apa yang sedang dilakukan oleh Twittwit? Ia, dengan dipandu oleh Peri Ungu sedang berjalan menuju ke arah sebuah jamur berbintik-bintik merah. Tiba-tiba Twittwit ingat bahwa dia belum mengetahui nama penunjuk jalannya ini. "Siapa nama kalian?" Tanya Twittwit, "Namaku Twitwit."

Peri bersayap ungu itu menganggukkan kepalanya, "Kami sudah tahu namamu Twittwit dan nama kawanmu adalah Kasenda. Sayangnya, kamu nampaknya sudah lupa siapa namamu yang sebenarnya, Andaralivia."

Twittwit terkejut sekali, wajahnya nampak memucat. "Apa katamu?" Katanya kepada peri bersayap ungu itu, "Kamu memanggilku apa?"

Peri bersayap ungu itu terbang mengelilingi Twittwit sambil mengucapkan sejenis mantera, lalu berseru dengan suara lembut dan jernih seperti lonceng-lonceng kristal yang sering didentingkan oleh tetesan salju di gunung Mehr. "Andaralivia, terbukalah matamu dan melihatlah!"

Kampung Para Kurcaci

Seberkas cahaya hijau menyelubungi sekeliling tubuh Twittwit. Untuk sesaat Twittwit memicingkan matanya karena silau. Dan sepertinya ia juga merasa tempatnya berpijak berputar dengan sangat cepat. Perlahan cahaya hijau itu pudar dan berganti dengan sebuah pemandangan baru di depan Twittwit. Twittwit terbelalak melihatnya. Sebuah menara tinggi dengan empat buah bendera berkibar di atasnya berdiri dengan gagah tepat di depan matanya. Tapi bukan itu yang membuat Twittwit takjub.

Taman bunga luas di belakang menara itu yang sangat luar biasa baginya. Itu bukan taman bunga biasa. Seolah semua jenis bunga dari semua warna dikumpulkan di sana dan disusun dengan begitu rapihnya hingga membentuk kotak-kotak berwarna-warni seperti papan catur raksasa.

Twittwit melangkah perlahan. Ia berbelok sedikit untuk memutari menara di depannya untuk dapat melihat jelas taman bunga itu. Begitu ia dekati, terdengar suara-suara di bagian bawah bunga-bunga itu. Twittwit membungkukkan badannya untuk melihat suara apakah itu.

Olala..di bawah bunga berwarna-warni yang tersusun kotak-kotak sesuai dengan warnanya itu, ternyata di sanalah kampung para kurcaci kecil itu!