Skip to main content

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (7)

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G

Serial lengkapnya dapat ditemukan di sini: Petualangan Kasenda dan Twittwit

4. Sepasang Sayap Andaralivia, Negeri di Balik Gunung-Gunung Embun dan Bait-bait Poesis, Para Kurcaci dan Bola Kristal
Twittwit terpesona. Keindahan tempat tinggal para kurcaci ini sama sekali berada di luar dugaan Twittwit. Mengapa?

Ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat Twittwit merasakan getaran aneh di dadanya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. Kampung kecil itu sangat indah sekaligus begitu sunyi. Ada kemuraman di sana yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

“Mereka sudah lama membunuh musik. Mereka menguburkan musik dan menolak apapun juga yang menimbulkan nyanyian. Mereka tenggelam dalam ritme kerja dan kerja. Mahluk Bajang memang pekerja keras dan sangat rajin. Usia mereka begitu panjang karena minum embun pagi dari mawar-mawar cahaya yang mereka pelihara dan tanam secara khusus di taman-taman mereka. Tetapi mereka juga mahluk yg mudah marah dan bersungut-sungut, karena telah kehilangan melodi dari dalam hati mereka.” Peri sayap ungu menerangkan tanpa diminta oleh Twittwit.

“Kenapa aku bisa merasakan kesedihan mereka?” tanya Twittwit keheranan. Peri ungu menatapnya dengan sungguh-sungguh, “Ingat-ingatlah siapa dirimu Andaralivia, ingat-ingatlah kembali, sebab siapa dirimu dan nasib Kaum bajang, bahkan nasib negeri-negeri di Balik Gunung-Gunung Embun dan Bait-bait Poesis ini bergantung padanya.”

Twittwit memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat kata Andralivia yang terdengar begitu akrab, juga asing di telinganya. An-da-ra-li-vi-a. Twittwit mengeja nama itu dengan pelan dalam hatinya. Siapakah Andaralivia? Mendadak, seperti terdengar alunan melodi yang begitu sayup dan pelan. Twittwit segera membuka matanya, mencari muara nada yang terdengar asing di negeri ini. Tapi senyap. Yang terdengar hanya gerutuan sesekali dari para kurcaci yang kereta dorongnya saling menabrak tanpa sengaja. Apakah melodi yang terdengar tadi hanya imajinasinya semata? Twittwit kembali memejamkan mata. Kali ini, melodi yang tadinya terdengar begitu jauh menjadi semakin kuat dan jelas. Melodi itu, seperti gelombang air yang melanda Twittwit dan melingkupinya dengan kebiruan rasa yang begitu indah. Ada sebuah kata yang terus menerus dilantunkan oleh melodi itu. Twittwit menajamkan telinganya dan menyimak. An-da-ra-li-vi-a.. demikian melodi itu membentuk kata. Twittwit merasa keseluruhan dirinya berputar dan mengambang. Seperti ada sesuatu yang mendesak ingin menemu jalan keluar dari punggungnya. Oh tidak, jangan bilang itu adalah sepasang sayap!

“Tidak selama-lamanya Kupu-kupu bisa terus-terusan menjadi ulat bulu, atau bersembunyi di dalam kepompongnya, Andaralivia, biarkan proses ini berjalan. Sudah seratus lima puluh tiga putaran tahun kamu bersembunyi di negeri kami. Sudah waktunya, untuk bangun.” Bisik Peri Ungu, matanya yang berwarna pelangi bersinar lembut sekali, “Dan waktu kami tidak banyak, bangsa bajang belum menyadari kehadiran kita, tetapi sebentar lagi mereka akan sadar, dan kami berdua harus segera pergi dari tempat ini.”

“Tunggu dulu,” sergah Twittwit dengan tidak sabar. “Ada yang hendak aku tanyakan. Tadi katamu, seratus lima puluh tiga putaran musim? Tapi kata nenek, usia saya baru menginjak sebelas putaran musim. Dan tolong, katakan padaku apa hubungannya andaralivia dengan Poesis? Mengapa sekarang aku seperti mendengar syair mereka juga? Dan.. dan.. oh, kenapa pula aku merasa begitu sedih karenanya?” buru-buru Twittwit menghapus airmata yang menggantung di sudut matanya dengan punggung tangannya. Tanpa sengaja, ujung sikunya menyentuh permukaan lembut sayap yang bersinar lembut dalam pijar cahaya. Sayap! Twittwit memekik dalam hati.

Sementara itu, beberapa kurcaci terlihat berjalan menghampiri mereka dengan tampang masam yang sungguh tak sedap dipandang mata. “Kami harus segera pergi,” Kata Peri Ungu dengan sangat gelisah, “Tolong, lepaskanlah adikku dari jaring ilalangmu itu.”

Twittwit merasa pening, terlalu banyak hal-hal di luar dugaan yang terjadi padanya dalam waktu singkat. Twittwit menatap sayap barunya dan bergumam, “Kasenda pasti akan senang memiliki sayap seperti ini,” Twittwit meraba pelan sayapnya seakan takut merusak permukaannya yang halus, “Dia selalu memimpikan dirinya bisa terbang dengan bebas di angkasa.” Ah, tiba-tiba Twittwit merindukan Kasenda dan berharap Kasenda ada bersamanya karena Kasenda selalu mempunyai penjelasan yang membuat segala sesuatunya terasa masuk akal bagi Twittwit.

Kasenda. Apa yang sedang dilakukannya?

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…