Tuesday, March 29, 2011

[Dongeng] Petualangan Kasenda dan Twittwit (7)

Paragraf-paragraf dongeng ini ditulis bersama-sama oleh: Meliana IndieWinda KrisnadefaIndah Wd & G

Serial lengkapnya dapat ditemukan di sini: Petualangan Kasenda dan Twittwit

4. Sepasang Sayap Andaralivia, Negeri di Balik Gunung-Gunung Embun dan Bait-bait Poesis, Para Kurcaci dan Bola Kristal
Twittwit terpesona. Keindahan tempat tinggal para kurcaci ini sama sekali berada di luar dugaan Twittwit. Mengapa?

Ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat Twittwit merasakan getaran aneh di dadanya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis dan tertawa secara bersamaan. Kampung kecil itu sangat indah sekaligus begitu sunyi. Ada kemuraman di sana yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.

“Mereka sudah lama membunuh musik. Mereka menguburkan musik dan menolak apapun juga yang menimbulkan nyanyian. Mereka tenggelam dalam ritme kerja dan kerja. Mahluk Bajang memang pekerja keras dan sangat rajin. Usia mereka begitu panjang karena minum embun pagi dari mawar-mawar cahaya yang mereka pelihara dan tanam secara khusus di taman-taman mereka. Tetapi mereka juga mahluk yg mudah marah dan bersungut-sungut, karena telah kehilangan melodi dari dalam hati mereka.” Peri sayap ungu menerangkan tanpa diminta oleh Twittwit.

“Kenapa aku bisa merasakan kesedihan mereka?” tanya Twittwit keheranan. Peri ungu menatapnya dengan sungguh-sungguh, “Ingat-ingatlah siapa dirimu Andaralivia, ingat-ingatlah kembali, sebab siapa dirimu dan nasib Kaum bajang, bahkan nasib negeri-negeri di Balik Gunung-Gunung Embun dan Bait-bait Poesis ini bergantung padanya.”

Twittwit memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat kata Andralivia yang terdengar begitu akrab, juga asing di telinganya. An-da-ra-li-vi-a. Twittwit mengeja nama itu dengan pelan dalam hatinya. Siapakah Andaralivia? Mendadak, seperti terdengar alunan melodi yang begitu sayup dan pelan. Twittwit segera membuka matanya, mencari muara nada yang terdengar asing di negeri ini. Tapi senyap. Yang terdengar hanya gerutuan sesekali dari para kurcaci yang kereta dorongnya saling menabrak tanpa sengaja. Apakah melodi yang terdengar tadi hanya imajinasinya semata? Twittwit kembali memejamkan mata. Kali ini, melodi yang tadinya terdengar begitu jauh menjadi semakin kuat dan jelas. Melodi itu, seperti gelombang air yang melanda Twittwit dan melingkupinya dengan kebiruan rasa yang begitu indah. Ada sebuah kata yang terus menerus dilantunkan oleh melodi itu. Twittwit menajamkan telinganya dan menyimak. An-da-ra-li-vi-a.. demikian melodi itu membentuk kata. Twittwit merasa keseluruhan dirinya berputar dan mengambang. Seperti ada sesuatu yang mendesak ingin menemu jalan keluar dari punggungnya. Oh tidak, jangan bilang itu adalah sepasang sayap!

“Tidak selama-lamanya Kupu-kupu bisa terus-terusan menjadi ulat bulu, atau bersembunyi di dalam kepompongnya, Andaralivia, biarkan proses ini berjalan. Sudah seratus lima puluh tiga putaran tahun kamu bersembunyi di negeri kami. Sudah waktunya, untuk bangun.” Bisik Peri Ungu, matanya yang berwarna pelangi bersinar lembut sekali, “Dan waktu kami tidak banyak, bangsa bajang belum menyadari kehadiran kita, tetapi sebentar lagi mereka akan sadar, dan kami berdua harus segera pergi dari tempat ini.”

“Tunggu dulu,” sergah Twittwit dengan tidak sabar. “Ada yang hendak aku tanyakan. Tadi katamu, seratus lima puluh tiga putaran musim? Tapi kata nenek, usia saya baru menginjak sebelas putaran musim. Dan tolong, katakan padaku apa hubungannya andaralivia dengan Poesis? Mengapa sekarang aku seperti mendengar syair mereka juga? Dan.. dan.. oh, kenapa pula aku merasa begitu sedih karenanya?” buru-buru Twittwit menghapus airmata yang menggantung di sudut matanya dengan punggung tangannya. Tanpa sengaja, ujung sikunya menyentuh permukaan lembut sayap yang bersinar lembut dalam pijar cahaya. Sayap! Twittwit memekik dalam hati.

Sementara itu, beberapa kurcaci terlihat berjalan menghampiri mereka dengan tampang masam yang sungguh tak sedap dipandang mata. “Kami harus segera pergi,” Kata Peri Ungu dengan sangat gelisah, “Tolong, lepaskanlah adikku dari jaring ilalangmu itu.”

Twittwit merasa pening, terlalu banyak hal-hal di luar dugaan yang terjadi padanya dalam waktu singkat. Twittwit menatap sayap barunya dan bergumam, “Kasenda pasti akan senang memiliki sayap seperti ini,” Twittwit meraba pelan sayapnya seakan takut merusak permukaannya yang halus, “Dia selalu memimpikan dirinya bisa terbang dengan bebas di angkasa.” Ah, tiba-tiba Twittwit merindukan Kasenda dan berharap Kasenda ada bersamanya karena Kasenda selalu mempunyai penjelasan yang membuat segala sesuatunya terasa masuk akal bagi Twittwit.

Kasenda. Apa yang sedang dilakukannya?