Skip to main content

Empat Perempuan

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 2: Supir Eyang

Di dalam mobil tua Peugeot 505 GR warna hitam yang sangat terawat, mulus dan gagah itu Dea sibuk dengan gadgetnya, nge-tweet dengan hebohnya. Dea minta teman-teman cewek sekelasnya menunggu di halaman depan sekolah. Dea mau pamer supir barunya.
Dea tidak tahu kalau Mama memantau kelakuannya dan ikut membaca tweet-nya dari negeri seberang. Sang Mama jadi berang dan menelpon anak gadisnya.
“Hai… hai… Mamaaaa,” suara Dea manja.
“Dahlia Indraswari Syahputra!” Suara tajam Runi membentur telinga Dea. Kalau Mama sudah menyebut lengkap namanya, itu berarti sedang marah dan tidak bisa dibantah.
“Kenapa kamu nggak berangkat sendiri aja naik bis kota?”
“Emmm…, soalnya Eyang yang nyuruh Priyo ngantar Dea, Ma.”

“Suruh Priyo berhenti. Turun kamu dari mobil. Pakai taksi aja. Turun, Dea.” Suara Runi tegas bagai komandan upacara memberi aba-aba serdadunya.
“Maaa…, jangan gitu sama Dea…,” suara gadis enam belas tahun itu hampir tertelan oleh isaknya. Dea ketakutan mendengar kegarangan Mama.

Priyo gelisah. Walau hanya mendengar sepotong-sepotong saja pembicaraan antara ibu dan anak melalui telpon itu, Priyo bisa merasakan adanya ketidakberesan dari nada suara Dea. Apalagi Dea menyebut nama Priyo sampai tiga kali.
“Ini juga udah hampir nyampe sekolah, Ma.” Suara Dea terdengar sedih. Tampaknya Mama di seberang sana menutup telpon dengan tiba-tiba. Dea memandangi layar ponselnya dengan tatapan duka. Wajah mungilnya yang dihiasi dua jerawat kecil di jidatnya terlipat. Respon dari teman-temannya tidak lagi ia hiraukan.

Bagi Dahlia, yang dipanggil Dea karena ketika kecil ia tidak bisa mengucapkan namanya dengan sempurna, Mama adalah pahlawan yang tiada duanya. Sudah lima tahun perempuan itu menjadi ibu penyabar sekaligus ayah yang gagah dan kakak penyayang baginya. Tubuh mungil Mama bisa melindungi Dea dari keganasan dunia. Tangan ramping Mama mampu merengkuh Dea dari keliaran dunia remaja yang sering membingungkannya. Apa saja keluhan Dea, Mama bisa menyelesaikannya. Dan hanya gara-gara Dea diantar Priyo ke sekolah, Mama tiba-tiba memarahinya.

“Non…,” suara Priyo ragu-ragu menyadarkan Dea. Sekilas Priyo melihat ada air yang siap terjatuh dari pelupuk mata majikan mudanya. “Sudah sampai, Non.”

Dengan cepat Dea meraih tisu dan mengeringkan genangan air matanya.
“Ntar gak usah dijemput. Bilang Eyang ya, Dea pulang naik bis aja.” Kemudian gadis itu membuka pintu dan melompat keluar sambil menyeret ranselnya. Kedua kakinya yang panjang dan kurus melompati selokan, berlari menyeberangi halaman, lurus memasuki pintu gerbang. Teman-temannya yang sudah berbaris rapi menunggunya tak dihiraukan. Para gadis remaja berseragam putih-abu-abu itu gagal berkenalan dengan sang supir yang sudah seminggu mereka nantikan.

***

Dari balik jendela kamarnya di lantai 20, di sebuah hotel di kawasan Bukit Bintang, Runi memandangi lampu-lampu yang mulai menghias Kota Kuala Lumpur. Pijarnya berkerlipan mengingatkan Runi pada ribuan kunang-kunang di persawahan, di sebuah dusun di Temanggung, dusun tempat ayah Runi dilahirkan.

Sambil mengistirahatkan kakinya, Runi menimang-nimang ponselnya. Ada tiga sms dari ibunya yang belum ia buka. Pikir Runi, pasti isinya hanya soal Priyo dan bapaknya. Runi enggan membacanya. Pekerjaannya kali ini lebih berat dari biasanya. Selain itu masih ada tiga orang penting di Kuala Lumpur yang harus diwawancara. Jadwal mereka padat sekali sehingga sulit membuat janji temu, bisa-bisa Runi kehabisan waktu hanya untuk menunggu.

Ketika tengah tenggelam dalam pikirannya, ponsel Runi yang satunya, yang berisi nomor lokal, berdering. Salah satu dari tiga orang yang ditunggunya memberikan konfirmasi untuk bertemu besok pagi jam 8 sambil sarapan di hotel tempat Runi tinggal. Runi lega. Rasa lelah yang menggelayuti hatinya tiba-tiba sirna. Bagi Runi, lelah fisik bisa hilang setelah tidur nyenyak beberapa jam. Namun lelah hati akan terbawa bahkan bisa sepanjang hidupnya bila ia tak pandai-pandai menata batin.

Runi menghubungi room service, memesan makanan ringan dan dua macam jus buah, mangga dan semangka. Ia sedang malas makan. Sambil menunggu pesanannya datang, Runi mencolokkan kabel ethernet ke laptop. Ketika tengah asyik memeriksa puluhan email baru di inbox-nya, sms dari Dea mengagetkannya.

“Mama, Dea kangen. Gak kyk biasax. Kali ini kangenx sp ubun2.”
“Kangen Mama jg udh sp ubun2.” Runi membalas sms anak tunggalnya. Akhirnya mereka sibuk bertukar sms. Runi mengajak Dea untuk Skype saja dari pada buang-buang pulsa untuk sms lintas negara. Dea menolak. Katanya dia sedang malas ngobrol walaupun kangen luar biasa. Dea sedang banyak uang, pikir Runi, karena tidak sayang membuang-buang pulsa. Pasti salah satu adiknya, Kana atau Melati, baru saja memberi Dea uang lagi. Mereka baru berhenti ketika pesanan Runi diantar ke kamar.

Sambil menikmati minumannya, Runi membuka 3 buah sms dari ibunya yang ia biarkan saja selama dua hari.
“Ya ampuuuuun…!!!” Runi berseru keras-keras setelah 3 sms yang panjang-panjang itu selesai ia baca. Disusul dengan tertawa terpingkal-pingkal hingga tubuh mungilnya terbungkuk-bungkuk, hampir terjungkal dari kursi.

Tawanya reda. Ia merasa malu atas ulahnya dua hari ini. Segera diraihnya ponsel yang berisi nomor lokal. Runi menelpon ibunya.
“Assalamualakuum. Ibuuu… Runi, Bu. Minta maaf ya. Minta maaf ya, Buuu.” Runi minta maaf berkali-kali dengan suara geli campur haru. Disusul dengan serangkain kata-kata penjelasan dari bibirnya yang masih basah oleh jus mangga.
“Ibu juga heran. Kok bisa-bisanya kamu semarah itu, padahal Ibu belum selesai menjelaskan.” Suara Ibu terdengar lembut penuh pengertian.
“Kenapa juga Priyo punya nadzar aneh-aneh. Nadzar kok jadi supir.” Runi tertawa renyah. “Kenapa dia milih kita, Bu?” Suara Runi kini ringan sekali.
“Katanya kolega bapaknya nggak ada yang mau. Nggak enak. Pada rikuh. Kebetulan kami ketemu di Klinik Safaat, pas Ibu lagi cek darah. Katanya, Priyo itu memang suka bernadzar. Kali ini dia nadzar mau jadi supir selama dua minggu kalau lamaran beasiswanya diterima. Eeee…, diterima bener! Yaa…, begini ini…, dia jadi supir di rumah kita!” Ibu dan anak tertawa terkekeh bersama.

Runi meminta maaf sekali lagi pada ibunya. Ia mengira dengan menjadikan Priyo supir, ibunya berniat mencomblangi bapak si Priyo yang duda itu.
“Ibu kan udah janji, nggak akan minta kamu nikah lagi kalau kamu memang belum siap, Nduk.” Ibu Runi tertawa pelan. Teringat peristiwa dua tahun lalu ketika ia berusaha menjodohkan Runi dengan seorang duda kerabat jauhnya. Saat itu Runi marah luar biasa. Ia tinggal di hotel selama dua minggu dan baru pulang setelah ibunya berjanji tidak akan melakukannya lagi.

Runi menutup telpon dengan hati yang bahagia. Sambil menghabiskan makanannya, dalam hati Runi sekali lagi berjanji pada mendiang suaminya. Runi hanya akan menikah lagi bila ia jatuh hati pada lelaki yang juga mencintainya, seperti ketika ia dulu jatuh hati pada suaminya. Tanpa itu, aku lebih baik sendiri membesarkan Dea, menemani Ibu dan menekuni pekerjaanku. Semua itu sudah sangat cukup bagiku. Demikian suara hati Runi yang sudah lima tahun ini merasa bahagia dalam sunyi.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…