Friday, March 25, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 3: Iroh Ngambek

Eyang hapal polah tingkah Iroh karena perempuan lajang itu sudah bekerja padanya lebih dari empat tahun. Seperti pagi itu. Iroh sedang mem-vakum karpet sambil mengirim sms ke teman-temannya. Telinganya tersumpal earphone sementara MP3 player tersimpan di saku celana pendeknya. Hebat juga si Iroh ini, pikir Eyang, kemampuan multitasking-nya tak kalah dengan laptop Dea.

Eyang dulu tidak setuju ketika Runi membelikan Iroh MP3 player dengan earphone segala. Tapi menurut Runi, Iroh berhak mendapat kesenangan seperti layaknya perempuan muda sebayanya. Kata Runi, pembantu itu hanya profesi saja, para majikan tidak berhak menghalangi mereka untuk menikmati hidupnya. Asal tidak menggangu pekerjaan dan tidak melanggar norma umum yang berlaku bagi manusia lainnya.

Kalau Iroh bekerja sambil bermain-main di depan Eyang seperti itu, tandanya ia sedang protes. Kalau protes, biasanya Iroh tidak mau langsung bicara, tetapi memancing kemarahan para majikannya dengan berbagai cara. Iroh tahu, Eyang tidak suka bila dirinya bekerja sambil bermain gadget. Pagi ini dia sengaja melakukannya agar ditegur Eyang. Kalau sudah begitu, Iroh bisa mulai mengeluarkan uneg-unegnya.

“Iroh…!” Suara Eyang tegas dan keras, mencoba mengalahkan desing vacuum cleaner dan lagu D’Masiv yang mengalun di telinga Iroh. Yang dipanggil tidak mendengar, kepalanya bergoyang-goyang, dicumbui irama lagu kesayangan. Eyang mencabut kabel vacuum cleaner dan alat itu berhenti bekerja. Iroh mendongak, memandang Eyang, pura-pura heran.
“Kamu kenapa?” Mata Eyang lebih tajam dari pisau dapur yang tadi pagi tanpa sengaja terbuang ke keranjang sampah.
Nyali Iroh langsung terbelah dua. Hati-hati Iroh mencopot earphone-nya lalu memasukkannya ke saku celana. Ponselnya, bekas milik Dea, ia letakkan di meja.
“Kamu kenapa?” Eyang mengulang pertanyaannya, memberi isyarat agar Iroh duduk di dekatnya. Iroh melangkah mendekat, menunduk, pelan-pelan duduk di karpet yang baru saja ia bersihkan.
“Mau pulang ke gunung lagi?” Eyang menekankan kata ‘lagi’ karena minggu lalu Iroh baru saja pulang menengok emaknya.
“Bukan, Eyang…,” leher Iroh bagai tak bertulang, kepalanya terjatuh, dagunya menyentuh dada.
“Lha, kenapa?” Volume suara Eyang berkurang.
“Saya…, anu…, itu…, Mas Priyo…,” Iroh memilin-milin jemarinya. “Katanya…, kata Non Dea, Mas Priyo minggu depan udah mau keluar. Katanya…, anu…, Nyonya Runi ndak suka sama dia.” Cuping hidung Iroh kembang kempis menahan malu. Ia sebenarnya tidak begitu akrab dengan Priyo yang selalu membaca dan menyendiri ketika sedang istirahat. Tapi Iroh sangat suka membuatkan Priyo kopi dan sarapan. Iroh juga suka memandangi Priyo diam-diam. Walaupun yang dipandangi tidak membalas menatap, Iroh merasa suka. Melihat kelebatnya saja Iroh sudah suka. Sangat suka.
“Oalaaahh…! Iroh…, Iroh…,” Eyang menghela nafas dan tanpa tambahan kata-kata dari Iroh, perempuan bercucu lima itu tahu apa yang bergejolak di hati pembantunya.
“Lha, Mas Priyo itu memang bukan supir. Dia cuma menolong Eyang saja. Sebelum ada yang ngganti. Dia itu mau kuliah bulan depan, ke luar negeri.” Eyang tidak bercerita pada Iroh perihal nadzar Priyo karena itu bukan urusannya.
Iroh mendongak. Matanya terbelalak. Mulutnya ternganga. Bukan supir? Kuliah ke luar negeri? Lalu Priyo itu siapa? Iroh bertanya-tanya dalam hati. Rasa penasaran menjalari tubuhnya. Disusul rasa kecewa yang menggelayuti hati.
“Mas Priyo itu anak sahabat Nyonya Runi, Roh. Dia di sini bukan bekerja. Hanya nolong Eyang saja. Dia…,” Eyang belum selesai bicara ketika Iroh melompat dan lari “Lho? Roh? Iroooh…?” Eyang menyusul Iroh ke belakang, ke kamarnya.

Iroh mengunci pintu kamar. Duh, Iroh…, kamu suka sama Priyo, ya. Eyang menunggu saja di depan pintu kamar Iroh. Lamat-lamat dari dalam kamar terdengar suara isak yang tertahan, Eyang pelan-pelan melangkah ke ruang makan.

***

Wajah Dea berubah mendung. Sudut-sudut bibirnya berkerut begitu membaca sms dari Eyang. Kata Eyang, Iroh sepagian hanya sembunyi di kamar dan batal masak rawon kegemaran Dea. Sudah empat hari Dea menahan hasratnya makan rawon. Iroh menunda-nunda melulu karena Eyang belum sempat belanja daging yang bagus, sementara tukang sayur langganan mereka libur seminggu.

Dengan kesal Dea menelpon ponsel Iroh. Tidak ada jawaban. Sekali lagi. Masih tetap sepi. Setelah beberapa kali, Dea akhirnya menelpon Eyang.
“Emang kenapa Iroh, Yang? Dea nelpon kok nggak dijawab? Sakit?”
“Iya. Sakit hati.” Jawab Eyang pendek.
“Lho? Diapain sama Eyang?”
“Bukan Eyang. Priyo.”
“Lho? Emang diapain sama Priyo?”
Eyang tertawa pelan dan terpaksa menjelaskan pada cucunya yang tidak akan berhenti bertanya. Eyang tahu, kalau tidak dijelaskan, Dea akan membolos dari mata pelajaran berikutnya demi mengorek keterangan tentang Iroh.
“Ternyata Iroh suka sama Priyo. Terus Iroh sedih karena Priyo minggu depan sudah nggak kerja lagi.”
“Iroh? Suka sama Priyo?” Dea terkekeh panjang, teringat selusin lebih teman-temannya yang juga menyukai sarjana baru berwajah tampan bertubuh aduhai itu.
“Dea…,” Eyang memutus tawa cucunya. “Iroh patah hati. Jangan diketawain begitu. Dia nangis sepagian ini. Makanya dia tidak masak. Cuma ngendon di kamar aja.”

Wajah Dea tampak sedih setelah mengakhiri pembicaraan dengan Eyang. Dea khawatir kalau Iroh akan pamit pulang gara-gara patah hati. Iroh sangat kerasan bekerja di rumah Dea. Tiga tahun pertama dalam karirnya sebagai pembantu rumah tangga, Iroh berkali-kali ganti majikan karena tidak dihargai sebagai pekerja. Sedangkan di rumah Dea, Iroh dibayar dengan layak dan menjadi anggota keluarga.

Walaupun Dea sering mengganggu Iroh, ia sayang pada perempuan yang umurnya hanya terpaut lima tahun dari dirinya itu. Bagi Dea, Iroh perempuan pemberani. Ia sudah mulai meninggalkan rumah untuk bekerja ketika usianya baru 14 tahun. Dea juga mengagumi Iroh yang berkorban demi keluarga. Iroh rela putus sekolah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar bisa membiayai sekolah dua orang adiknya. Orang tua Iroh hanya buruh tani.

***

Begitu melihat Dea berlari-lari keluar dari gerbang sekolah tanpa diikuti teman-temannya, Priyo cepat-cepat membuka pintu kiri depan. Dea lebih suka duduk di depan karena Priyo bukan supir seperti Pak Tarman.
“Kak, kita mampir beli pizza, ya. Cepet, ya.”
Sejak tahu kalau Priyo anak teman dekat Mama, Dea memanggil lelaki ganteng itu dengan sebutan “Kak”. Agak aneh kedengarannya. Awalnya Dea bingung mau memanggil apa, kalau “Mas” terasa formal dan Dea tidak ingin orang mengira Priyo adalah pacarnya. Kalau “Om” kedengarannya terlalu tua. Dea juga batal naksir Priyo setelah tahu kalau ayah Priyo pernah suka sama Mama.
“Jadi aneh aja,” begitu kata Dea pada teman-temannya.

Sambil bersiul dan setengah berlari gedebugan seperti biasa, dengan ransel masih tersandang di punggungnya, dari garasi Dea langsung menuju kamar Iroh.
“Irooohhhh… bukaaa…!” Teriaknya di depan pintu kamar Iroh. “Nona Dea bawa pizzaaaa…!”
Setelah menunggu sebentar, Dea mendengar suara kunci dibuka. Wajah Iroh yang sembab muncul dari balik pintu yang pelan-pelan terkuak. Dari pengalaman berteman dengan Iroh selama empat tahun, Dea tahu hati Iroh akan luluh kalau diiming-imingi pizza.

*****

Ikuti kisah 'Empat Perempuan' sebelumnya: