Thursday, March 3, 2011

(Wawancara Penulis) Gunawan Maryanto Berkunjung ke Kampung Fiksi

Lelaki itu menggelesot di lantai di sebuah rumah di kompleks Bulaksumur, memegang selembar kertas bertuliskan puisi-puisinya dan tersenyum lucu memamerkan gigi-gigi kecilnya. Begitulah pertama kali saya bertemu Gunawan Maryanto, di awal tahun 2000. Sepuluh tahun kemudian, kumpulan puisinya yang bertajuk Sejumlah Perkutut buat Bapak mendapatkan anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA).

Selasa, 1 Maret 2011, saya beruntung bisa duduk santai dan ngobrol dengan Gunawan. Awalnya saya ragu-ragu untuk mengajaknya bertemu. Ternyata, meski telah kondang, dia masih tetap Gunawan yang sama, lelaki sederhana yang saya kenal 11 tahun lalu. Memandang Gunawan ditemani kopi dan beberapa potong donat siang itu, saya teringat pada kata-kata mentor saya bahwa ‘a good writing is a hard work’. Gunawan salah satu buktinya. Ia telah menempuh perjalanan panjang, selama belasan tahun, untuk mencapai prestasinya. Dua jam berbincang dengannya, rasanya bagai mengikuti kelas ‘belajar menulis cerpen’ selama satu semester.

Berikut ini teman-teman saya ijinkan mengintip kencan kami di sebuah kedai donat.


Sekejap menengok ke belakang

Sejak duduk di bangku SMA Gunawan telah terpesona pada puisi dan teater. Kala itu, bersama teman-temannya sesama pelajar SMA di Yogyakarta, tiap Sabtu Gunawan mengadakan pentas teater. Salah satu di antara teman-temanya itu adalah Hanung Bramantyo, sang sutradara muda yang karya-karyanya menuai banyak pujian.

“Di SMA saya masuk jurusan A-4, kelas bahasa yang nggak ada peminatnya. Saya beruntung, karena setelah itu jurusan A-4 dihapus,” Gunawan bercerita. Ia gemar membaca, buku apa saja ia lahap dengan nikmat, karya para penulis lokal hingga penulis besar nusantara dan dunia.

Selepas SMA, Gunawan meneruskan sekolah di Jurusan Sastra Jawa UGM. Menjadi mahasiswa, ia makin serius menggeluti teater, sambil terus belajar menulis puisi dan cerpen. Karya-karya pertamanya dimuat di majalah dan koran lokal. Tahun 2002, ia menulis sebuah naskah lakon untuk Teater Garasi. Sejak itu Gunawan tak mau berhenti. Meski puisi dan cerpen yang ia kirim ke koran nasional sering ditolak, Gunawan tak menyerah. Pada tahun 2003, Koran Tempo untuk pertama kali memuat cerpennya. Tentu saja ia bangga. Dalam tahun yang sama, ia memperoleh beasiswa INSIST melalui program Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY). Beasiswa itu memberinya kesempatan untuk melakukan riset novel di candi-candi di Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meski novel tak selesai, Gunawan berhasil menuntaskan sekumpulan cerpen yang terilhami oleh risetnya itu. Pada 2005 terbitlah kumpulan cerpen pertamanya berjudul Bon Suwung, yang kemudian masuk longlist KLA 2005.

Terpikat pada cerpen-cerpen karya Budi Darma, ia memberanikan diri menemui penulis Orang-Orang Bloomington yang namanya tercatat dalam buku Who’s Who in The World 1982—1983 itu. “Saya berguru padanya. Orangnya bersahaja dan bersedia menerima penulis pemula,” jelas Gunawan tentang sosok yang pada tahun 1984 menerima Sea Write Award dari pemerintah Thailand itu.

“Saya belajar dari siapa saja,” ujarnya. Di antara orang-orang yang pernah menjadi gurunya adalah Kuntowijoyo, Mansyur Fakih dan Sinta Kayam. “Saya beruntung karena memperoleh banyak kesempatan tidak terduga untuk mengasah diri,” lanjutnya dengan wajah serius.

Diksi dan irama


Semenjak kumpulan cerpennya, Bon Suwung, masuk dalam longlist KLA, ia mulai diperhatikan oleh para redaktur koran dan majalah nasional. Karya-karyanya mbanyu mili menghiasi koran dan majalah mereka. Bahkan sebuah koran nasional tak jarang memberinya dua halaman penuh untuk cerita pendeknya. Berbagai komunitas penulis juga mengundangnya untuk menyumbang karya atau berbagi ilmu, termasuk di antaranya Ubud Writers and Readers Festival. Gunawan perlu waktu tak kurang dari 5 tahun untuk menjejakkan kakinya di bumi ‘sastra’ Indonesia.

Ah. Sastra. “Pada awalnya, pernahkah terpikir untuk menulis sastra?” Tanya saya. Tangan saya membuat isyarat tanda petik pada kata ‘sastra’.
“Sama sekali tidak. Saya menulis ya menulis saja. Tidak berusaha untuk mengindah-indahkan kata atau kalimat. Mengalir saja. Saya nikmati setiap katanya,” jelas Gunawan. “Baru bertahun-tahun kemudian, cerita-cerita saya itu mendapat penghargaan sastra.” Gunawan tertawa renyah.

Bagaimana cara Gunawan mengasah keahliannya?
“Saya menggeluti teater sejak muda,” paparnya. “Setiap kata itu punya makna, punya nyawa. Ia berbunyi. Ia punya irama, punya nada. Saya ingin bisa mengenal kata-kata itu. Sering kali tulisan-tulisan itu saya baca, dengan suara keras, bukan hanya dalam hati. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Saya rasakan. Bunyinya. Iramanya. Saya resapi. Apakah ada yang aneh dengan kata atau kalimat tertentu. Apakah sudah tepat diksinya. Apakah iramanya enak di telinga,” Gunawan bersemangat. Kopi dan donatnya belum ia sentuh sama sekali.

Ah! Diksi!

“Ya, diksi itu beda dengan kosa kata. Kalau kosa kata itu kekayaan atau perbendaharaan kata yang dimiliki seorang penulis. Diksi itu ketepatan memilih kata sehingga pesan yang disampaikan lewat kalimat bisa sampai. Kuat. Tajam. Dalam. Kena.” Gunawan menjelaskan. Ia berhenti sebentar untuk menyeruput kopi dan menggigit donatnya. “Ada penulis yang hanya senang pamer kekayaan kata, namun miskin makna, sehingga pesannya tidak sampai atau para pembaca harus berpikir terlalu keras untuk mencerna.”

Menurutnya, membaca tulisan sendiri – dengan suara – cukup besar andilnya dalam usahanya meningkatkan atau memperbaiki tulisannya. “Sebuah cerita harus punya irama. Jangan sampai kalimat-kalimatnya semua panjang dan melelahkan. Gabungkan antara kalimat pendek dan panjang.” Saya mendengarkan saja. Terpesona. “Menulis itu seperti bicara. Pembaca butuh jeda, seperti pendengar bisa lelah kalau terus-terusan mendengar orang bicara.” Berkata begitu Gunawan berhenti bicara dan menghabiskan salah satu donat di piringnya.

Antara ngeblog dan postcard

Ada pesan untuk para penulis pemula?
“Jangan ragu-ragu untuk berguru. Kalau punya idola, ditemui saja. Belajar dari mereka, minimal pelajari tulisan-tulisannya. Saya suka menulis berdasar tema. Tahun lalu, misalnya, saya menulis tema silat. Lalu horor. Lalu kisah masa kecil. Wayang.” Gunawan berkisah. “Saat sedang menulis silat, saya baca sebanyak-banyaknya cerita Kho Ping Hoo dan SH Mintardja, saya pelajari struktur ceritanya. Cara bertuturnya. Lalu saya praktekkan. Untuk horor saya membaca karya Stephen King. Saya juga suka cerpen detektif dan kriminal karya Edgar Allan Poe. Begitu.”

Gunawan senang melihat munculnya komunitas penulis online. Membaca begitu banyak puisi, cerpen dan novel online itu, menurutnya ada dua hal utama yang sangat penting.
“Apa itu?” Tanya saya antusias.
“Isi dan cara penyampaian,” jawabnya cepat. “Isinya sungguh beragam. Luar biasa. Saya kagum. Saya banyak belajar dari gagasan-gagasan mereka. Namun…,” dia berhenti sebentar, “cara penyampaiannya masih kurang diperhatikan,” tambahnya.

Maksudnya?

Gunawan mengibaratkan ‘isi dan cara penyampaian’ sebuah tulisan sebagai ‘surat dan amplopnya’. “Banyak orang hanya membaca suratnya saja, lalu amplopnya dirobek atau dibuang. Padahal dua-duanya penting. Ya suratnya. Ya amplopnya. Dua-duanya itu satu kesatuan. Tidak bisa dipisahkan. Jadi…,” dia berhenti untuk memotong donatnya yang kedua, “pilihlah postcard. Kartupos. Surat dan amplop menjadi satu. Bisa dinikmati dua-duanya dalam waktu bersamaan, isi suratnya membuat kita senang, gambar-gambarnya juga indah.”
“Apalagi kalau itu surat cinta,” sahut saya. Gunawan tertawa, “Ya”, katanya setuju.

“Jadi, setelah punya gagasan atau ide cerita yang luar biasa, lengkapi dengan kemahiran bertutur dan penguasaan bahasa. Kemahiran bertutur bisa diasah, salah satunya dengan cara seperti yang saya lakoni itu. Belajar dari penulis-penulis yang kita kagumi. Kenali struktur tulisannya, variasi cara bertuturnya.” Gunawan berhenti, menyeruput kopi. “Untuk penguasaan bahasa, ya, kembali lagi pada kekayaan kosa kata, diksi dan irama. Semua bisa dipelajari.”


Berbincang tentang blog yang jumlahnya ribuan itu, demikian ini pendapatnya, “Kebanyakan blog itu dikelola dan diisi oleh pemiliknya sendiri. Ditulis sendiri, diedit sendiri dan ditayangkan sendiri. Tidak ada seleksi. Tidak ada orang lain yang menemani si penulis meningkatkan kualitas tulisannya. Padahal, menurut saya, penulis dan editor itu dua peran yang berbeda. Editor bisa membantu menyeleksi dan memperbaiki tulisan.” Gunawan menjelaskan dengan serius. “Tentu saja itu hanya berlaku bila si penulis atau pemilik blog berniat meningkatkan kualitas karya-karyanya.”

Gunawan senang karena maraknya media online, citizen journalism dan sejenisnya telah membuat profesi penulis lebih dihargai. Katanya, profesi penulis sekarang dianggap keren. Beda sekali dengan 10 tahun lalu.

Ia berpesan agar penulis pemula tidak malu atau ragu-ragu mengirimkan karya-karyanya ke media mainstream. Bila dicuekin jangan kecewa karena, menurutnya, koran atau majalah ternama itu lebih mementingkan pembaca, bukan penulis. “Jadi jangan heran bila ada koran yang condong pada penulis-penulis tertentu saja, karena karya mereka sudah terbukti digemari pembaca,” papar penyair yang puisi-puisinya secara rutin bisa dinikmati di halaman koran Kompas Minggu itu.

Menerbitkan buku indie


Gunawan telah menerbitkan 3 kumpulan cerpen, 2 kumpulan puisi yaitu Bon Suwung yang masuk longlist KLA 2005 dan Sejumlah Perkutut buat Bapak yang mendapat anugerah sastra KLA 2010, serta sebuah naskah lakon.

“Sekarang saya lebih suka menerbitkan secara indie,” jelas Gunawan. Kesempatan untuk itu banyak sekali karena dimana-mana banyak percetakan besar maupun kecil yang bersedia melayani. Kumpulan cerpennya yang berjudul Usaha Menjadi Sakti diterbitkan Gunawan secara indie. “Saya bisa mengelola sendiri dan tahu dengan pasti nasib buku saya. Kumpulan puisi itu sulit laku. Dengan sistem print on demand (POD) jadi lebih nyaman. Saya hanya mencetak bila ada pembeli.”

Penulis senior idola Gunawan yang menerbitkan karyanya secara indie adalah Sapardi Djoko Damono. “Distributor itu mengambil 60% dari harga buku. Kadang-kadang mereka juga kurang menjaga kontinuitas suplai buku di toko-toko buku. Bahkan banyak buku yang teronggok begitu saja di gudang,” jelas Gunawan, “kalau kita urus sendiri, hal semacam itu bisa dihindari.”

Nah. Tunggu apalagi, pikir saya. Gunawan yang sudah jadi pesohor pun memilih menerbitkan karyanya secara indie. Tapi, tunggu dulu. Kayak apa dulu kualitas tulisan saya. Lalu iseng-iseng saya tanyakan, “Menurutmu, tulisan saya seburuk apa?” Gunawan tertawa. Kemudian berpikir. “Jangan sungkan-sungkan!” Saya menekannya untuk bicara, setelah terlebih dulu saya menodongnya untuk membaca-baca ‘karya’ saya.
“Tulisan Mbak Endah seperti dikerjakan tergesa-gesa.” Duh. Seperti apa ya, pikir saya lagi.
“Begini. Misalnya, ‘langit itu biru’, usahakan menuliskan langit biru tanpa memakai kata biru. Nah! Itu.” Gunawan berpikir lagi. “Atau, misalnya lagi, perempuan itu cantik. Tuliskan cara menggambarkan si perempuan yang cantik itu tanpa memakai kata cantik. Agar tidak tergesa-gesa dalam menulis, belajarlah menghindari kata sifat untuk menjelaskan sesuatu.”

Itulah pekerjaan rumah saya. Kami berpisah setelah Gunawan mengijinkan saya membagikan obrolan kami dengan teman-teman pembaca Kampung Fiksi. Ia berjani tidak akan protes kalau saduran saya atas ‘petuah-petuahnya’ ada yang kurang. Benar sekali, bagi saya, ketika berbicara tentang puisi dan prosa, setiap kata yang diucapkan Gunawan bagai mantra.

*****

Karya-karya Gunawan Maryanto bisa dibaca online di websitenya: www.gunawanmaryanto.web.id
Gunawan juga ada di Facebook, bagi yang ingin berteman silakan search namanya.