Tuesday, March 1, 2011

Perempuan Penjual Wadai (1)

Hampir setiap pagi selama beberapa hari ini aku mendengar suara nyaring perempuan itu. suara yang menawarkan dagangan yang dia jual. Berkeliling dari satu kompleks ke kompleks lainnya.

Wadai… wadai…” begitu teriaknya.

Membangunkanku dari tidur-tidur ayam setelah adzan subuh. Awalnya aku kerap terganggu dan belum bisa membiasakan diri dengan teriakan di pagi buta itu.

“Bang, Emak-emak itu jualan apa sih?” begitu tanyaku suatu hari ketika awal-awal mendengar teriakannya.

“Wadai.” Abangku menjawab singkat. Aku pun malas bertanya lebih lanjut, lebih baik kuteruskan saja tidur-tidur ayamku.

Jam segini masih terlalu dini untuk bangun. Patokanku masih WIB seperti halnya di Jawa, padahal kini aku sedang berada di tanah borneo. Tentu saja satu jam lebih cepat ketimbang di Jawa. Dan biasanya, jika patokanku adalah waktu di Jawa, Jam segini itu baru adzan subuh, dan kebiasaanku adalah masih meringkuk di bawah selimut yang hangat untuk melawan hawa dingin.

“Wadai.. wadai…”

Teriakan itu sudah dekat ke rumah yang kutempati bersama abangku. Rupanya rasa penasaran apa itu wadai berhasil mengalahkan kantukku. Perlahan aku beranjak dari tempat tidur. Kuseret langkahku menuju pintu untuk membeli wadai.
“Bu…” aku memanggil perempuan itu.

Kutaksir perempuan ini sudah berumur. Mungkin lima puluhan. Kulit keriput di mukanya menunjukkan itu. pakaiannya sederhana, hanya sepotong baju kurung dipadu dengan kain sarung yang sudah sedikit lusuh. Ibu itu menghampiri, mendekati rumah kami.

“Wadainya, ding.” Dia menurunkan bakul dari kepalanya.

O ini yang namanya wadai. Terjawab sudah rasa penasaranku. Aneka penganan dan kue-kue basah khas Banjar terhidang di hadapanku. Persis seperti jajanan pasar kalau di tempatku. Beraneka bentuk, jenis, dan warna. Aku cicipi satu.

“Hmmm… “ aku mengunyah pelan-pelan. Enak menurutku. Tak lama tanganku sibuk mengambil beberapa kue yang dijual perempuan itu. Segera setelah aku membayarnya, si ibu beranjak pamit.
Itulah perkenalanku dengan wadai. Sekaligus perkenalan dengan penjualnya yang seorang perempuan paruh baya. Belakangan kuketahui  perempuan itu biasa dipanggil acil Siah. Mulai hari itu aku menjadi pelanggan tetap Acil Siah.

Awalnya aku jarang ngobrol berpanjang lebar dengan acil Siah. Beberapa bahasa Banjar masih sulit aku pahami. Acil Siah lebih banyak berkata-kata dalam istilah Banjar. Itu yang membuatku malas untuk ngobrol berpanjang-panjang dengannya.

Namun hampir dua minggu ini Acil Siah selalu hadir di rumah kami. Memecah sepinya pagi hari di komplek tempat kakakku tinggal. Sebuah komplek asrama polisi di Banjarmasin. Dan selama dua minggu itulah Acil Siah sukses membuatku keluar dari tempat tidurku untuk membeli beberapa penganan yang dia jual keliling.

“Cil, pian sudah lama menjual wadai ini?” Aku mencoba menggunakan sedikit istilah Banjar yang kuketahui.

Inggih, hampir 15 tahun ulun keliling. Suami ulun pergi merantau ke tanah Jawa, namun kada bulik lagi. Makanya Acil sekarang harus cari duit sendiri.” Tanpa diminta Acil Siah memberikan penjelasan yang lumayan panjang atas pertanyaan sederhanaku. Senyumnya yang ramah mampu menyembunyikan guratan kesusahan hidup yang dialaminya.

“Kalau wadai ini, semua buatan pian kah?” tanyaku lagi

Kada, yang buat ini tetangga ulun. Ibu Jubaidah. Dia yang membuat, saya cuma membantu. Kadang ibu Jubaidah sudah mulai membuat wadai-wadai ini dari jam 2 pagi. Dan ulun datang jam 3 subuh untuk membantunya menyiapkan wadai yang siap jual. Sesekali ulun juga ikut buat wadai ini.”
Lagi-lagi Acil Siah menjawab pertanyaan dengan penjelasan yang cukup detil menurutku.

“Jadi, Acil datang jam 3 dan kemudian keliling?”

Nggih, ulun mulai berkeliling manjuali wadai ini bada subuh.” 

“Sampai jam berapa, Cil?”

“Sampai wadainya habis.”

Begitulah, hampir setiap pagi, selalu ada dialog antara aku dan Acil. Kadang-kadang meskipun aku membeli wadainya sedikit, namun obrolan kami bisa lama. Malah beberapa kali Acil datang, aku tidak membelinya karena kebetulan sedang bosan sarapan wadai. Namun Acil selalu saja mampir dan datang membawa cerita baru. Entah tentang anak bungsunya yang hampir lulus smp, atau tentang Ibu Jubaidah yang membuat wadai kegosongan. Selalu ada tawa dan haru ketika Acil bercerita.
Bersambung.......

oOo
Keterangan:
Wadai: Kue, 
Ulun:  saya,  
Pian: kamu (untuk orang yang lebih tua), 
kada: tidak, 
bulik:balik, 
inggih: iya,   
sidin: dia
Nggih, ulun mulai berkeliling manjuali wadai ini bada subuh : iya, saya mulai berkeliling menjual kue ini setelah subuh.

*Sumber gambar: http://www.primaironline.com/images_content/201026penjual%20makanan%20wijna.web.id.jpg
***
Hadi Samsul
Buat saya, menulis itu adalah berbagi. Berbagi ide, cerita, semangat, motivasi, bahkan informasi. Tidak terkecuali dalam fiksi. Saya selalu ingin tulisan saya bermakna bagi yang membacanya. Menulis fiksi sebenarnya bukan hal yang baru. Namun ketidak percayaan diri membuat saya mengubur dalam-dalam aneka tulisan fiksi saya agar tidak terpublikasi. Cukup jadi bagian dari memori, atau paling banter, bagian dari isi harddisk saya hehehe.
Melalui kampungfiksi ini, saya memberanikan diri untuk berlatih menulis fiksi. Selamat datang fiksi di kehidupan hadi, selamat datang hadi di dunia fiksi.  (HS)