Thursday, March 3, 2011

Perempuan Penjual Wadai (2)




Lanjutan .....
Dari dua minggu pertemuan aku dan Acil, setidaknya aku jadi tahu siapa dan bagaimana dia. Kehidupan yang dia jalani sungguh tidak mudah. Menikah di usia masih sangat belia, 15 tahun. Punya anak tiga orang. Suaminya dulu adalah seorang buruh tani. Namun, karena tergiur teman sekampungnya yang merantau ke ibukota, suaminya akhirnya berangkat ke Jakarta meskipun tanpa keahlian. Bulan-bulan pertama, suami Acil masih sanggup mengirim biaya untuk tiga anak mereka. Kabar pun masih rutin mereka terima. 

Namun itu hanya bertahan setahun. Selanjutnya, Acil tak lagi menerima kiriman rutin dari suaminya. Dia berusaha untuk mencari tahu keberadaan suaminya. Berbagai cara dia usahakan untuk mengetahui kondisi suaminya. Ratusan lembar surat tak pernah berbalas. Bahkan, pernah sekali waktu Acil bertekad untuk menyusul suaminya ke Jakarta berbekal alamat surat yang tertera di amplop yang mengantarkan surat dari suaminya. Namun itu urung ia lakukan mengingat biaya anaknya untuk sekolah dia rasa jauh lebih penting ketimbang mencari suaminya. Hingga akhirnya Acil menerima kabar bahwa suaminya katanya menikah lagi dengan seorang perempuan Jawa di Jakarta sana. Sejak saat itu Acil tak lagi menggantungkan harapan bahwa suaminya akan kembali.

Acil membanting tulang membesarkan ke tiga buah hatinya. Si Sulung, laki-laki, kini sudah bekerja di sebuah supermarket di Banjarmasin. Berbekal ijazah SMA, si Sulung akhirnya turut menopang biaya sekolah adik-adiknya. Anaknya yang ke dua dan ke tiga, keduanya perempuan. Anak ke dua, seharusnya bersekolah kelas tiga SMA, namun dia lebih memilih untuk kursus menjahit, dan kini bekerja di salah satu konveksi. Sedangkan anak bungsu Acil masih kelas tiga SMP. Anak bungsu inilah yang sedang berusaha untuk disekolahkan tinggi oleh Acil dan anak tertuanya.

Berbagai pekerjaan pernah Acil lakoni untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah anak-anaknya. Mulai dari menjadi pembantu rumah tangga, buruh cuci pakaian, hingga jualan wadai, dia lakoni agar anak-anaknya tidak seperti dirinya. Buktinya, Acil mampu menyekolahkan anak sulungnya hingga jenjang SMA. Sebuah prestasi yang hebat menurutku. Di tengah ketidak jelasan kondisi ekonomi keluarga, Acil yang bertekad baja mampu membuat anaknya menggenggam ijazah SMA. Sungguh sebuah semangat hidup yang pantas untuk aku tiru.

Diam-diam aku kagum dengan kegigihan Acil berjuang untuk kehidupan dan penghidupannya.

oOo

Pagi ini aku sangat ngantuk sekali. Maklum semalam aku begadang menonton bola. Kuputuskan  untuk tidur-tidur ayam sambil menunggu Acil datang menawarkan wadainya. Tak ada lengkingan Acil Siah memecah tidurku. Akupun bablas tidur sampai pukul sembilan pagi. Kebetulan di hari sabtu seperti ini aku libur.

Ah, hari ini aku tidak sarapan wadai seperti biasanya. Sudah hampir sebulan terakhir ini sarapanku selalu ditemani Acil di teras rumah. Wadai khas buatan ibu Jubaidah yang dijajakannya selalu menjadi pembuka pagi hariku juga menjadi menu sarapan abangku.

Sehari dua hari lengkingan khas Acil tidak muncul. Aku berpikir mungkin Acil sedang sakit atau berhalangan jualan.

Aku tak mendengar lengkingan itu sudah seminggu hingga hari ini. aku penasaran untuk bertanya kepada para tetangga. Namun rasa malu dan tidak adanya waktu selalu menjadi alasan untuk mencari tahu penjual wadai yang sudah menjadi langgananku itu.

Dan hari ini aku kembali mendengar lengkingan wadai, namun dari suara yang berbeda.

“Wadai.. wadai…”

Tanpa menunggu dia mendekat, aku segera keluar untuk memanggil penjual wadai itu. Bukan Acil Siah yang kulihat.

Nggih mas, saya yang menggantikan almarhumah Acil Siah.”

Seketika aku lemas. Acil sudah wafat?

“Iya mas, sidin meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya . Seminggu ini kami sengaja libur dulu. Ibu Jubaidah sengaja tidak membuat wadai karena benar-benar kehilangan Acil Siah yang sudah banyak membantu. Dan sekarang ulun yang menggantikannya berkeliling ke kompleks  ini.”

“Kalau boleh tahu, penyakit apakah yang dia derita. Tahukah pian, Cil?” aku penasaran.

“Kanker payudara.”

Ah Acil, betapa aku akan kehilangan lengkingan khasmu. Bagaimana nasib anak-anakmu? Semoga mereka tetap tegar dan bertahan untuk melanjutkan perjuanganmu. Semoga kau tenang di sana Cil.

Diam-diam aku melantunkan surat alfatihah untuknya.(HS)

Kakimanangel, 25022011.

Keterangan:
Wadai: Kue, 
Ulun:  saya,  
Pian: kamu (untuk orang yang lebih tua), 
kada: tidak, 
bulik:balik, 
inggih: iya,   
sidin: dia
Nggih, ulun mulai berkeliling manjuali wadai ini bada subuh : iya, saya mulai berkeliling menjual kue ini setelah subuh.

****

Hadi Samsul
Buat saya, menulis itu adalah berbagi. Berbagi ide, cerita, semangat, motivasi, bahkan informasi. Tidak terkecuali dalam fiksi. Saya selalu ingin tulisan saya bermakna bagi yang membacanya. Menulis fiksi sebenarnya bukan hal yang baru. Namun ketidak percayaan diri membuat saya mengubur dalam-dalam aneka tulisan fiksi saya agar tidak terpublikasi. Cukup jadi bagian dari memori, atau paling banter, bagian dari isi harddisk saya hehehe.
Melalui kampungfiksi ini, saya memberanikan diri untuk berlatih menulis fiksi. Selamat datang fiksi di kehidupan hadi, selamat datang hadi di dunia fiksi.  (HS)