Friday, March 11, 2011

Prosa Rumput & Ilalang

"You know you are in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams."

Malam itu Rumput tak bisa tidur, sebab ia sibuk memikirkan Ilalang. sedang apa engkau kekasih, bisiknya mengusir Mimpi yang mencoba membujuknya untuk tidur bersisian. aku belum ngantuk! sungut Rumput. Mimpi tahu dia berbohong. bukan itu alasan yang sebenarnya. Kau isteriku! biniku! perempuanku! setiap Matahari sembunyi dan masuk ke dasar danau itu kau adalah milikku! desaknya gusar. berhentilah main mata dengan Angin, Rumput! berhentilah!

Rumput melambai ramping, tubuhnya yang langsing melesat dari dekapan Mimpi dan menari menuju tengah ruangan, menjauhi peraduan. Dia tersenyum mengejek, beringsut-ingsut mengitari peraduan dalam jarak yang aman. Rumput tahu benar bahwa Mimpi terikat erat di sana, oleh rantai-rantai perjanjiannya dengan entah apa, mereka sama-sama tahu namun sama-sama tak menyebutkan nama. Kejarlah daku kalau engkau menginginkan aku, maka aku milikmu. desahnya menggoda, matanya mengerjap, melemparkan kegenitan semu sebelum ia mengeluarkan lidahnya tanda mengejek. Kau, tak mampu! Mimpi memalingkan wajah merasa sakit dikebiri. mengumpat dalam bahasa yang tanpa terjemahan aksara. Rumput tertawa ditahan.
aku ingin menusuk bulan. desis Rumput perlahan ketika mengintip dari celah jendela. cahaya bulan masuk samar-samar menepi hingga ke sudut kiri kamar. Rumput menatapnya dengan kelembutan yang mengiris kalbu. ada gesekan biola di sana, diantara tatapan itu. Mimpi menguap, dia mulai merasa tak menemukan tempat dan bertanya-tanya, benarkah perempuan ini perempuannya, bininya, wanitanya? kalau iya, mengapa jarak sejengkal itu tak mampu diseberanginya? apa yang menghalanginya? Mimpi menggeleng enggan. dia enggan berpikir. dan melarutlah dia dalam larung malam. menguap bagai asapan. hilang.

bye, bye, sayonara, selamat tinggal, bisik Rumput menatap asap yang tersisa, setelah disiramnya dengan kopi kental. ah, terlalu mudah mengalahkanmu mimpi, terlalu mudah.

Psst... sesuatu berbisik begitu dekat di telinganya. Rumput terkejut. Siapa? tanyanya. Bulan tersenyum manis dari luar jendela. aku. di sini, di atas sedikit dari pandangan matamu. Rumput mengangkat pandangannya, menatap bulan. Bulan berbisik lembut, kau menginjak cahayaku, aku tak bisa bergerak bebas, sudut perputaranku menjadi tersendat. tolong geser kakimu lima senti saja ke kanan. tapi aku ada di sini, protes Rumput, kakiku tak menginjak cahayamu sama sekali. bulan menggelengkan kepalanya, lihatlah, kaki bayanganmu, desaknya. Rumput menoleh, ah.. itu maksudnya. baiklah aku kan menggesernya lima senti ke kanan.

Terimakasih, bisik Rembulan mesra. ingin aku mengecup pipimu. Ohoho... Rumput menggeleng, tidak bisa. aku bukan perempuanmu. aku adalah aku yang tidak harus tunduk pada keinginanmu. aku tak akan memasungmu, protes Rembulan, sungguh. Rumput berayun menggeleng. Tidak. dan tidak. dan tidak. aku sudah memilih siapa yang boleh mengusap pipiku dan mengecupnya.

Ah.. Bulan mengangguk. Dia, rupanya. Rumput tersenyum samar. Hmm, kau tahu? Rembulan tertawa kecil. Aku mengintip jalan setapak menuju danau, setiap malam aku menembus gelap dan membiarkan cahaya-cahayaku merayap untuk bermain di sana. aku melihat kalian. berdua mandi-mandi dikedinginan malam. aku melihat kalian, saling mendekap dan memagut dalam riaknya. kalian menginjak matahari yang tertidur lelap di dasar danau, tanpa membangunkannya. dia lelap. lelah oleh seharian waktu yang dipegangnya dan lelah oleh ulah2 manusia yang dilihatnya. dia membiarkan aku menjaga tanah sebelah sini, ketika dia masyuk bermimpi.

Mimpi bukan swamiku, bukan laki-lakiku. dia boleh menggagahi sesiapa, tapi bukan aku. aku sudah membebaskannya.

Bulan mengerjap, kau membunuhnya Rumput, desah rembulan sembari menggelengkan rambut cahayanya yang pucat itu. kau membunuh mimpi.

Rumput mengerjap, membiarkan bunga-bunga rumput terbang bersama semilir malam dari rambutnya yang terurai. ia mandi cahaya keperakan, begitu rapuh, namun begitu penuh tekad. aku menunggu ilalang, ia sebentar lagi akan datang, sebab hari-hari kami tinggal sebentar. aku hanya rumput. dan dia ilalang, kami bersepadan, tak perlu diantara mimpi.

ah... bisik Rembulan. aku tak mampu mengerti.

ya, bisik Rumput, tak ada yang perlu mengerti. hanya aku dan dia yang perlu tahu. itu cukup. Rumput bergegas menuju ke pintu, mendengar langkah-langkah yang kian mendekat. Kekasih? bisiknya lirih. Ilalang membuka pintu, dan menemukan.

Rembulan menutup mata malam, membiarkan bintang menari, dan meninggalkan dua kekasih berbincang dalam bahasa yang hanya mereka yang tahu.

---