Tuesday, March 1, 2011

Seandainya Kamu Tahu

 Gambar diambil dari :
http://portfolio.dinp.org/2010/05/22/mom-son-daughter/

“METI!” terdengar suara yang bernada keras dari sebuah ruangan. “METI! Dimana dia? Cepat panggil dia ke dalam ruangan saya…!”

Sementara itu diluar ruangan kecil tersebut, beberapa orang saling melirik satu sama lain. Sebagian besar hanya mengangkat wajah mereka sejenak dan mengintip dengan rasa ingin tahu. Tapi hanya bertahan beberapa lama karena mereka dengan segera kembali sibuk dengan apa yang tengah mereka kerjakan. Seorang office boy dengan takut – takut memanggil seorang karyawan yang tengah berada di dekatnya dan membisikkan sesuatu. Karyawan itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum melaju meninggalkan mejanya.


“Haaa, benar kamu disitu…, Mbak…,” ia menegur seorang karyawati yang berusia sekitar 40-an di tangga darurat gedung kantor itu. “Aduh, ayo balik lagi sama aku… Kamu dicari sama The Dragon Lady tadi dan kelihatannya gawat…”

Meti, si karyawati yang sedang menjadi the most wanted person on earth oleh seseorang yang dijuluki Dragon Lady itu hanya mengangguk – angguk. Ia memberi tanda pada karyawan tersebut agar mendahuluinya kembali ke dalam kantor mereka. Karyawan itu mengernyitkan keningnya sejenak sebelum akhirnya menghela napas dan meninggalkan Meti. Ia menggerutu dalam hati membayangkan bahwa jika Meti belum juga menghadap ibu Bos maka mereka semua yang akan menerima akibatnya.

“Ya, ya, ya…,” Meti tetap sibuk dengan handphonenya. “Ronaldo, dengar kata Mama… Ayolah, temani adikmu bermain… Kasihan dia nanti…apa? Itu tidak benar, sayang… Mama sayang kalian berdua… Nah, sudah ya… Mana Bi Inah? Mama mau bicara…”

Meti lalu mulai berjalan perlahan kembali ke ruangannya seraya menunggu pembantunya bicara di telepon, ”Bibi? Apa, Ronald minta mi instant lagi? Jangan diberikan… Apalagi Annie. Tolong bujuk mereka ya… Khan saya sudah memasak ikan goreng buat mereka… Tolong ya Bi….”

Ia baru saja hendak menuju ruangan atasannya yang terpisah dari para karyawan lain ketika didengarnya teriakan yang memanggil namanya. Meti merasa malu luar biasa ketika mempercepat langkahnya menuju arah teriakan tersebut. Ya Tuhan, apa lagi kesalahanku kali ini? Kenapa sih wanita satu itu sepertinya sangat berminat membuat hidupku seperti di neraka? Ia bisa merasakan berbagai macam tatapan sekarang tengah tertuju padanya. Iba, ejekan, cemooh, sinis dan lain sebagainya…

“Ah, akhirnya kamu memutuskan untuk datang juga…,” terdengar geraman (atau auman?) dari atasannya yang sepertinya siap meledak setiap saat kemarahannya. “Tidak! Jangan kau tutup pintu ruangan ini… Dan sembari kau berdiri coba liat laporan ini…”

Meti menarik napas panjang dan mengambil tumpukan kertas – kertas yang dilemparkan oleh Ibu Silviana. Dan beberapa menit selanjutnya ia harus menabahkan diri untuk mendengarkan omelan panjang mengenai betapa cerobohnya dirinya saat ini. Bagaimana ia tidak bisa membedakan angka – angka dalam laporannya sehingga nyaris menimbulkan kerugian bagi departemen mereka. Kata – kata bodoh, tidak teliti, kurang dedikasi, dan lain sebagainya terpaksa ditelannya. Mungkin jika tidak ada ketukan di depan pintu yang menyelamatkan dirinya bisa – bisa ia harus berdiri disana sepanjang hari.

“Bu, maaf saya mengganggu,” Rere sang sekretaris mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan. “Ibu sudah ditunggu untuk rapat di lantai 5 bersama yang lainnya… Mari bu, dokumen – dokumennya saya bawakan…”

Tanpa banyak bicara lagi, Ibu Silviana pun melenggang keluar diikuti oleh Rere yang menyambar dokumen – dokumen di meja. Rere melirik sejenak pada Meti dengan wajah iba sebelum berlari mengikuti Ibu Silviana. Meti baru saja hendak kembali ke mejanya ketika dirasakannya handphone di sakunya bergetar kembali. Dengan tergesa ia menyambar handphonenya dan duduk di mejanya kembali.

“Ronaldo, ada apalagi nak? Mama masih di kantor… Bukannya kamu harus tidur siang?” Meti menumpuk kertas – kertas laporan tersebut di mejanya seraya melirik ke sekelilingnya. Khawatir Ibu Silviana akan tiba – tiba berada dibelakangnya. Ia menghela napas seraya memijit – mijit keningnya berusaha mengenyahkan rasa lelah yang meliputinya…

“Mama, Annie bertanya apakah nanti Mama bisa pulang cepat?” didengarnya anaknya bertanya untuk yang kesekian kalinya. “Mama sebenarnya kerjanya apa sih? Kenapa gak seperti mamanya Tomi? Jam 4 sudah dirumah…”

Meti merasakan tepukan di pundaknya dan mendapati rekannya Johanna melemparkan pandangannya ke tumpukan kertas – kertas. Meti menganggukkan kepala dan berusaha sekali lagi membujuk anaknya agar sabar menantinya pulang. Setelah beberapa kali mengucapkan peluk sayang dan bye-bye…ia pun menutup handphonenya.

“Ronaldo dan Annie apa kabar, Meti? Mereka sedang liburan kenaikan sekolah ya sekarang?” Meti tahu kemana arah basa basi ini. “Kau tahu, semakin sering kau salah dalam pekerjaan maka kau akan sering lembur…dan itu artinya…”

Dia mau mencoba menceramahi bagaimana aku melakukan pekerjaan dan mengurus anak – anakku? Meti merasa geram karena Johanna yang lebih muda darinya sudah mulai berani mencampuri urusannya. Ia menjawab dengan ketus bahwa Johanna sebaiknya mengurus dirinya sendiri. Jika Johanna tahu bagaimana mengurus kehidupannya maka sekarang ia tidak akan masih melajang.

Kali ini para karyawan lain yang berada di sekitar mereka berdua menghentikan pekerjaannya dan menengok kearah mereka berdua. Pria muda yang tadi mencari Meti berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri mereka berdua; menarik Johanna agar segera kembali ke mejanya dan kembali bekerja. Tapi Johanna menepiskan tangan pria tersebut dan berbalik menghampiri Meti. Ia mendesis kearahnya,”Meti, kau boleh saja sibuk dengan anak – anakmu… Dan berpikir lajang sepertiku tidak akan mengerti… Dan kalau bisa seenaknya saja melalaikan tugasmu dengan alasan anakmu sakit…wah, luar biasa…”

“Johanna…, sudahlah…,” rekannya berusaha melerai.

“Kau lupa ketika orangtuaku sakit, apa aku menjerit – jerit di telepon dan mengemis minta pulang? Tidak. Karena aku tahu kewajibanku dan punya tenggang rasa pada rekan kerjaku jika aku tidak datang… Kau kira hanya kau yang punya keluarga? Kita semua disini juga punya Meti… Tapi tidak seperti kamu…”

Johanna lalu mengingatkan jika semakin lama Meti tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya, maka itu artinya sekali lagi ia harus pulang lembur malam ini. Tentunya itu terserah Meti jika ia begitu betah di kantor dan tidak ingin bertemu dengan anak – anaknya.

Meti mendesah dengan kesal atas gangguan tadi dan kembali menatap tumpukan kertas – kertas dihadapannya. Ia merasakan tangannya meraih handphone yang berada di dalam sakunya. Dikeluarkannya handphone tersebut dan mulai menatapnya, besar keinginannya untuk menghubungi anaknya. Tapi apa yang akan ia katakan pada anak – anaknya? Bahwa lagi – lagi ia tidak bisa pulang cepat hari ini karena harus menyelesaikan pekerjaanya?

Semua gara – gara laki – laki brengsek itu, ia memaksakan diri untuk memulai berkonsentrasi pada pekerjaannya. Tapi ia tidak bisa memusatkan perhatiannya pada angka – angka tersebut karena emosi meliputi diri. Ia memang tidak pernah menyukai pekerjaannya ini tapi dulu ia santai saja melakukannya. Ia dan suaminya sama – sama bekerja dan mereka tidak berlebihan. Tapi setidaknya mereka merasa berkecukupan hingga akhirnya suaminya kabur dengan wanita lain. Jadilah ia sekarang tiang penyangga kehidupan kedua anaknya.

Ah, sudahlah sekarang ia harus berusaha untuk menemukan kesalahan yang ia perbuat dalam laporan ini. Jika ia masih melakukan kesalahan lagi maka Ibu Siliviana akan memastikan penderitaan tidak berkesudahan dalam hidupnya. Boro – boro ia memikirkan naik pangkat dalam pekerjaan ini karena untuk bertahan hidup saja sudah susah payah dilakukannya. Semuanya sekarang demi buah hatinya yang tengah menunggunya dirumah. Ia berjanji dalam hati untuk membawa mereka berdua jalan – jalan di akhir pekan nanti. Asal jangan sampai ia harus masuk kantor dan melembur kembali…

Tapi apa yang terjadi begitu Meti sampai dirumah dalam keadaan yang letih? Ronaldo puteranya berteriak seraya menangis kepada dirinya. Menyuruhnya untuk jangan pulang dan terus saja bekerja di kantor.

“Mama lebih sayang kantor daripada aku dan Annie… Mama tidak pernah lagi membacakan dongeng untuk kami… Mama jahat… Kami benci pada Mama…,” jerit Ronaldo seraya memeluk Annie yang terdiam memandangi mereka berdua. Ia lalu menarik adiknya yang terus memandangi Meti; pandangan matanya berisikan pancaran sedih dan kangen padanya. Meti berdiri mematung memandangi kedua anaknya masuk ke kamar masing – masing. Kantung plastic yang berisi martabak manis kegemaran kedua anaknya itu terjatuh di lantai.

Bi Inah yang memperhatikan sedari tadi dari kamarnya akhirnya keluar menghampiri Meti. Tangannya meraih kantung plastic tersebut dan meletakkannya di meja makan. Ia mengelus – elus pundak Meti menggumamkan kata - kata agar dirinya bersabar.

Dan Meti pun menangis…