Tuesday, March 8, 2011

Winny


Namaku Winny, double N dan pake Y. Aku bekerja sebagai khadimat1) pada sebuah keluarga . Aku belum lama terjun di dunia pekerjaan sebagai penata laksana rumah tangga ini. Padahal dulu aku sekolah sampai SMA. Namun karena alasan klasik, biaya, aku tak mampu melanjutkan kuliah seperti halnya teman-teman satu angkatanku di SMA.

Parasku katanya lumayan cantik. Usiaku juga masih dibilang muda. Dua tiga. Usia keemasan seorang perempuan, katanya. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku memilih bekerja di sektor informal padahal banyak sekali pabrik yang membuka lowongan bagi lulusan SMA seperti aku. Baiklah, aku kasih alasannya. Bahwa aku bekerja di sektor informal karena aku adalah bukan tipikal penjilat. Ketika aku bekerja di pabrik dulu, supervisorku orangnya tukang cari muka sama atasan. Aku bentrok sama si supervisor itu, dan memutuskan untuk mundur karena aku mempertahankan apa yang aku yakini benar. Itu terjadi bukan hanya sekali dua, maka kuputuskan untuk bekerja di sektor informal saja. Dengan bekal nekad, akupun bekerja di negeri jiran ini. Siapa tahu aku bisa melatih kesabaran, begitu batinku menghibur diri sesaat sebelum aku meninggalkan kampung halaman beserta ibu dan adik-adikku.
Alasan lain yang membuatku bekerja di sektor informal ini bahwa aku menginginkan waktu yang tidak terlalu padat, jadi aku bisa curi-curi waktu buat kursus ini itu. Buktinya selama bekerja dengan majikanku yang pertama dulu, aku berhasil menamatkan kursus komputer dan kursus menjahit. 

Sayang sekali majikanku yang lama bercerai. Padahal kedua majikanku itu sungguh baik tak terkira. Namun rupanya sang suami ada main mata. Bukan denganku tentu saja, tapi dengan perempuan lain yang memang seronok dan menggoda. Aku hanya jadi saksi ketika detik-detik perceraian itu di ambang mata. Sang nyonya setiap hari curhat bercucuran air mata. Tak lama setelah proses perceraian tersebut, sang nyonya pergi ke luar negeri, katanya melanjutkan studi. Entahlah, yang jelas aku tak berminat sama sekali bekerja pada sang tuan. Kuputuskan untuk mencari majikan baru. Siapa tahu baik seperti majikan yang pertama.

Keberuntungan rupanya datang kembali. Aku diterima bekerja untuk sebuah keluarga yang baru punya anak menjelang remaja. Aku didaulat sebagai pengasuh sekaligus sebagai penata laksana rumah tangga. Bulan-bulan pertama aku bekerja pada majikanku yang kedua ini tak ada masalah. Hingga suatu saat aku melakukan sedikit kesalahan yang menurutku itu ketidak sengajaan. Aku lupa mematikan kran air kamar mandi sehingga air di bak meluber. Nyonya majikanku marah besar, dianggapnya aku ini bekerja teledor, tidak hati-hati, dan sebagainya. Sejak saat itu hidupku berubah bak di neraka dunia.

Hampir setiap hari nyonya selalu saja mencari-cari kesalahan. Namun tak pernah sedikitpun aku melakukan cela yang bisa membenarkan kemarahannya. Segala argumentasi dan kekonyolan emosinya aku patahkan bukan dengan kata-kata, melainkan dengan pekerjaan yang menurut seisi rumah sudah sempurna, kecuali menurut si Nyonya. Sehingga kadang kemarahan si Nyonya berhasil diredam oleh anaknya yang membelaku. Kalau sudah begitu si Nyonya akan beranjak pergi, dengan muka menahan marah, dan mungkin menahan malu.
Memang sih, kadang-kadang aku ingin sekali membalas argumentasinya. Namun aku berusaha menahan diri. Sabar, begitu hiburku ketika mendengar omelan si Nyonya.

Walaupun begitu, mereka tak pernah telat membayarku. Namun sayangnya aku tak dapat membagi waktu untuk mencari kursus-kursus seperti ketika aku bekerja di majikanku yang pertama. Jadilah uang itu kutabung saja.  Itu di luar kewajibanku mengirimi orang tua dan membiayai adik-adikku.

oOo

Sudah lima hari Nyonya kembali uring-uringan. Aku semakin yakin, Nyonya tidak menyukaiku untuk satu alasan. Aku jauh lebih cantik dan menarik ketimbang dia. Kepedean? Tidak sama sekali. Ini benar-benar berdasarkan penglihatan kasat mataku. Si Nyonya ini selalu cemburu. Aku selalu dijadikan biang keladi keributan dia dan suaminya. Namaku selalu disebut-sebut ketika dia dan suaminya terlibat pertengkaran di dapur. Dan si nyonya ini tanpa ragu mengakui bahwa aku lebih cantik ketimbang dia. Kebetulan kamarku tak jauh dari dapur, jadi semua adu argument mereka terdengar jelas di telinga.

Entah ini ujian kesabaranku atau memang si Nyonya sudah keterlaluan. Hari ini dia menudingku untuk sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku lakukan. Dia menuduh bahwa aku telah tidur dengan suaminya. Tentu saja aku berang dituduh seperti itu. Suaminya pun tak terima dengan tudingan si Nyonya. Maka atas nama mempertahankan harga diri, kulabrak si Nyonya tanpa ampun ketika dia nyerocos di ruang makan.

“Anda sudah keterlaluan. Tanya suami anda, apa pernah dia melakukan apa yang anda tuduhkan? Demi Tuhan, atas nama harga diri, saya berani membawa kasus fitnah anda ke pengadilan.” Begitu ucapku. Bibirku bergetar menahan amarah.

“Kamu!!!  berani sekali membela diri. Di sini aku majikanmu. Dan kamu harus tunduk segala aturan dan keinginanku.” Si Nyonya membentak, telunjuknya persis menunjuk diriku.

“Anda salah Nyonya. Saya ini perempuan baik-baik. Anda yang terlampau cemburu. Karena anda merasa tidak lebih cantik daripada saya. Sehingga itu mengubah rasa sayang anda terhadap suami anda menjadi sebuah keposesifan yang luar biasa. Padahal itu tak seharusnya ada jika anda bisa menghargai diri anda sendiri.

Ingat Nyonya, kecantikan itu awalnya dari hati. Inner beauty akan mempengaruhi kecantikan luar yang terlihat. Jika nyonya lebih mementingkan tampilan luar, sementara hati nyonya busuk, maka segala perhiasan dan kosmetik yang nyonya kenakan, tak akan membantu.

Ingat juga Nyonya, harga diri saya jauh lebih penting daripada sekedar harta. Apa yang nyonya tuduhkan itu adalah sebuah kesalahan besar. Kelak Nyonya akan menyesali perbuatan Nyonya. Saya tak akan menyesal jika Nyonya memberhentikan saya. Karena tanpa diminta pun, saya akan berhenti hari ini.

Satu pesan saya untuk anda Nyonya, perlakukan manusia sebagai manusia. Walaupun pekerjaan saya adalah pembantu di rumah anda, tapi bukan berarti anda bisa memperlakukan saya sebagai budak atau binatang. Sikap menghormati seperti itu akan menimbulkan respek dari orang lain sehingga wibawa anda akan terbentuk dengan sendirinya.

Mulai saat ini, saya berhenti bekerja di rumah anda. Saya tak perlu lagi memanggil anda dengan sebutan Nyonya.”

Aku pergi meninggalkan si Nyonya dan suaminya. Kulihat dengan ekor mataku, si Nyonya diam ternganga. Aku sendiri tak menyangka akan seberani itu membela diri hingga harus kehilangan pekerjaan.

Itulah aku, Winny. Double N dan pake Y. Atas nama kebenaran, aku pasti akan menyuarakannya. Meskipun aku harus kehilangan pekerjaan alias menganggur seperti saat ini. Adakah diantara kalian yang membutuhkan jasaku sebagai penata laksana rumah tangga alias pembantu? (HS)

Kakimanangel, 5 maret 2011

Glossary: 1) khadimat = pembantu rumah tangga (b.arab)

Sumber Gambar: http://blogs.voices.com/voxdaily/woman-silhouette-world.jpg

***
Hadi Samsul



Buat saya, menulis itu adalah berbagi. Berbagi ide, cerita, semangat, motivasi, bahkan informasi. Tidak terkecuali dalam fiksi. Saya selalu ingin tulisan saya bermakna bagi yang membacanya. Menulis fiksi sebenarnya bukan hal yang baru. Namun ketidak percayaan diri membuat saya mengubur dalam-dalam aneka tulisan fiksi saya agar tidak terpublikasi. Cukup jadi bagian dari memori, atau paling banter, bagian dari isi harddisk saya hehehe.
Melalui kampungfiksi ini, saya memberanikan diri untuk berlatih menulis fiksi. Selamat datang fiksi di kehidupan hadi, selamat datang hadi di dunia fiksi.  (HS)