Saturday, April 2, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi : Azam Raharjo
Episode 4: Seruni Pulang

Pesawat mendarat dengan nyaman meskipun hujan. Bersama penumpang lainnya, hati-hati Seruni keluar dari kabin dan turun menapaki tangga. Di landasan, di ujung tangga, tiga petugas bandara membawa puluhan payung untuk dipinjamkan pada para penumpang. Angin kencang menerpa tubuh Seruni, payung ia pegang erat-erat agar tidak terhempas. Sayup-sayup ia dengar dering ponsel yang ia selipkan di saku tas. Ia tidak menerima panggilan itu karena tangan kirinya menenteng tas dan tangan kanannya menggenggam gagang payung. Kalau bukan Dea, pasti Ibu, pikirnya. Baru setelah sampai di bawah kanopi ruang kedatangan, dan payung ia serahkan petugas, Seruni merogoh ponselnya. Dea. Sambil mengibas-ngibaskan air yang membasahi tas kerjanya, Seruni menelpon balik.

“Halo, Cinta!” Tinggi suara Seruni mengatasi bising mesin pesawat.
“Hai, Mama!” Ceria sekali suara Dea.

Sedetik Seruni heran. Ada dimana anak ini, pikirnya. Terdengar dengungan bercampur dengan berbagai bunyi, termasuk suara perempuan yang menyampaikan pengumuman lewat pengeras suara.

“Dea? Kamu di bandara?”

“Iya, Ma!”

“Sama siapa?”

“Sama Kak Priyo!”

Deg! Dahi Seruni berkerut. Sudah sejak di Kuala Lumpur tadi Seruni berpesan pada Dea agar tidak usah menjemputya. Seperti biasa, ia lebih suka pulang naik taksi. Sekarang anaknya sudah ada di bandara, diantar Priyo lagi.

“Udah dibilang nggak usah njemput Mama!” Lalu telpon ia matikan.

Dea terkejut. Wajahnya berubah cemberut. Di luar ruang kedatangan, lewat dinding kaca Dea bisa melihat ibunya sedang menunggu koper, di samping conveyor belt, di antara puluhan penumpang lainnya. Dari suaranya yang tajam, dari cara Mama mengakhiri pembicaraan, Dea tahu kalau Mama tidak berkenan. Dea bisa menebak penyebabnya. Pasti Priyo. Siapa lagi. Gadis SMA itu menjauh dari pintu keluar, berhenti di dekat salah satu kolom di tengah ruangan. Kakinya ia benturkan pelan-pelan di sudut kolom. Ia tampak sangat kesal. Kepalanya tertunduk, matanya mengawasi kakinya sendiri.

“Dea, ada apa?” Priyo mendekat. Sesekali ia menengok ke pintu keluar kalau-kalau Bu Runi sudah terlihat.

“Dasar! Mama rewel! Nggak mau dibuat senang!”

Tanpa banyak kata keluar dari mulut Dea, Priyo memahami duduk pesoalannya. Namun ia ingin memastikan. “Bu Runi nggak mau dijemput ya?” Priyo memiringkan kepalanya, mencoba melihat raut wajah Dea yang tertutup poni. Dea mengangguk kuat-kuat hingga kepalanya nyaris terbentur kolom.

Perempuan yang akan dijemputnya ini memang istimewa. Meskipun belum pernah bertemu langsung dan berkenalan, dia sudah melihat beberapa kali di acara pernikahan dan hajatan lain. Foto-fotonya juga bergantungan di dinding-dinding rumah yang sudah sepuluh hari ini ia datangi saban hari.

Menurut cerita yang sesekali ia dengar dari kerabat dan teman bapaknya, janda cantik satu anak itu keras kepala. Bapaknya yang telah menduda selama setahun itu pernah berniat melamarnya. Dulu, selepas 40 hari selamatan mendiang ibunya. Bapaknya belum sempat secara resmi menghubungi keluarga Seruni, namun kabar telah tersiar dan sang janda itu terlanjur mendengar.

Kemudian perempuan yang berperawakan mungil namun bernyali besar itu suatu malam menelpon bapaknya dan berpesan agar melupakan saja rencananya untuk melamar dirinya. Tentu saja bapaknya malu luar biasa. Dan sudah pasti ia berang. Namun sebagai lelaki yang halus budi, meskipun ia merasa tidak kesulitan memperisteri perawan usia belasan, ayahanda Priyo menanggapi perempuan itu dengan sopan. Ia minta maaf atas tersebarnya kabar yang tidak benar itu. Cerita pun berakhir tanpa ada pihak yang dirugikan. Namun sejak itu, Seruni selalu menghindar bila ada hajatan yang kemungkinan akan mempertemukan mereka. Priyo bisa memahami bila kini Seruni enggan bertemu dengannya.

“Dea! Itu Mama!” Priyo melangkah lebar menuju pintu keluar. Ia bisa mengenali wajah Seruni dengan mudah. Menurutnya perempuan awal empatpuluhan itu masih sangat menarik. Rambut ikalnya yang sedikit melampaui bahu tergerai di dada, membingkai leher jenjangnya yang tegak di atas kaus hitam berleher bulat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekerasan hatinya. Justru sebaliknya, lembut dan ramah.

Sebelum menghampiri Seruni, mata Priyo mencari-cari Dea. Remaja itu masih di tempat semula, berdiri kaku, bersandar pada kolom yang tadi ia tendangi sebagai pelampiasan rasa kesal. Dua lengannya ia sembunyikan di belakang punggungnya. Bahasa tubuhnya mengingatkan Priyo akan dirinya ketika kecil dulu, saat ia sedang jengkel akan sesuatu.

Seruni keluar dari kerumunan penjemput yang berjejalan di depan pintu keluar. Priyo mendekatinya. Mata mereka bertemu. Melihat sepasang mata ramah yang tersorot dari seraut wajah tampan membuat Seruni tanpa sadar mengukir senyum samar di bibirnya. Hanya perempuan kurang normal yang tak suka dipandang begitu rupa oleh lelaki seganteng Priyo. Bahkan mantan pacar yang merasa tersakiti dan bersumpah mati membencinya pasti masih sembunyi-sembunyi menikmati ketampanannya.

“Ibu Runi….” Suara Priyo lembut namun cukup keras mengatasi keriuhan.
“Ya?” Runi menahan langkahnya. Wajah tampan berhias senyum hormat itu menatapnya. Seruni tak kuasa menahan senyumnya mengembang lebar. Sedetik kemudian perempuan itu tersadar. Jangan-jangan ini Priyo! Aduh! Senyum Seruni menguncup. Bibirnya terkatup. Matanya menyorot tegas. “Siapa, ya?” Suaranya berubah kurang senang.
“Saya…, Priyo, Bu Runi.” Tubuh tingginya menunduk sopan. “Saya mengantar Dea menjemput Ibu.” Berkata begitu Priyo mengarahkan pandangan ke kolom sekitar 3 meter dari tempat mereka berdiri. Mata Seruni mengikuti.
“Dea! Ngapain bengong di situ?” Ketus suara Seruni. “Kita pulang! Mama capek!”

Bagai cuaca Jogja, wajah Dea berselimut kabut. Gadis itu tak bisa menerima mengapa mamanya bersikap begitu rupa. Rasa marahnya ia lontarkan lewat mata bulatnya yang tak berkedip memandang sang mama yang berdiri kaku di samping Priyo.
“Kalau Bu Runi mau marah, sama saya saja. Mobil bisa Bu Runi bawa pulang bersama Dea. Saya bisa naik Trans Jogja.” Priyo mengangsurkan kunci mobil berbarengan dengan Seruni melepaskan kopernya. Lalu ibu itu berlari memeluk anak gadisnya.

“Maafkan, Mama, Dea. Maafkan Mama, ya.” Seruni menciumi rambut Dea yang harum sampo lidah buaya.

Di belakang mereka, tangan kiri Priyo menggenggam gagang koper sementara tangan kanannya siap membuka payung besar. Lelaki muda itu membuang pandang, menyembunyikan rasa geli yang gagal ia tahan.

*****

Jangan ketinggalan: Empat Perempuan Episode 3