Tuesday, April 12, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi: Azam Raharjo
Episode 5: Seruni Pulang (2)

“Banyak bercak hitam. Ke lapangan tiap hari, ya? Nggak pakai tabir surya?” Eyang memeluk Seruni sambil mengamati wajah anak sulungnya. Sejak tumbuh dewasa, anaknya yang satu ini sangat malas merawat wajah cantiknya. Banyak bercak hitam akibat sengatan sinar matahari ia biarkan saja. Berbeda dengan dua adiknya yang sejak remaja rutin ke salon untuk merawat muka.
“Yang penting saya sehat, Bu.” Runi mendengus, merasa sang ibu lebih menghargai wajah mulus daripada jiwa dan raga yang sehat. “Ibu baik-baik saja, kan? Tensi? Lutut?”
“Alhamdulillah. Tensi normal. Lutut nggak nyeri-nyeri lagi. Dua kali seminggu Priyo ngantar Ibu ke kolam renang.” Ibu dan anak beriringan masuk ke ruang keluarga. “Iroh masak pesenanmu. Lodeh dan tahu-tempe goreng.”

Runi menerima koper dari tangan Priyo, lalu ia simpan di dalam kamar tidurnya.

Dea sudah melesat ke dapur dan langsung mengatur ini-itu di meja makan membantu Iroh. Rasa jengkelnya sudah meleleh sejak di dalam mobil, begitu mamanya menyerahkan oleh-oleh dua buku grafis tentang disain T-shirt. Dea dan teman-temannya beberapa bulan terakhir ini gemar merancang T-shirt. Hasilnya mereka jual di kalangan teman-teman sendiri.

“Roh, minggu depan aku bikin T-shirt lagi, kamu mau yang warna apa?” Sudah tiga kali Dea membuat T-shirt dan Iroh selalu kebagian satu.
Iroh tidak menjawab. Ia pura-pura tidak mendengar, asyik menata ulang tempe dan tahu goreng yang sudah rapi di piring. Hatinya dongkol sejak pagi. Begitu Nyonya Runi pulang, tak lama lagi Priyo pasti menghilang dari rumah mereka.
“Iroh!” Suara Dea sedikit meninggi. “Nggak mau dikasih T-shirt?”
“Oh. Anu…, yang biru, Non.” Yang terbayang di pikiran Iroh adalah kaus polo biru yang dipakai Priyo Minggu siang itu.

Meskipun lelaki muda tampan itu lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca, jarang berbicara dengan dirinya, namun ia baik dan ramah. Bila Iroh membuatkan minuman dan menyiapkan sarapan, ia tak lupa mengucapkan terima kasih sambil menyuguhkan senyum indah. Sesekali ia membantunya mengangkat pakaian dari jemuran dan meletakannya dengan rapi ke dalam keranjang plastik. Bila itu terjadi, rasa hangat mengalir bersama tiap sel darah di tubuhnya, membuat dadanya dipenuhi rasa bahagia. Iroh tahu kalau Priyo bukan lelaki yang bisa dijangkaunya. Namun bila pungguk tak henti merindukan rembulan, mengapa pula Iroh tak boleh merindukan Priyo? Semua orang punya mimpi, dan Iroh senang karena wajah ganteng Priyo menghiasi mimpinya sejak 10 hari terakhir ini. Wajah yang segera hilang dari matanya. Iroh menyalahkan Nyonya Runi. Kalau Nyonya Runi lebih lama di luar negeri, mungkin Priyo akan membantu Eyang lebih lama juga.

“Hai, Iroooh! Apa kabar? Masak lodeh, ya?” Perempuan pengganggu mimpi Iroh itu tiba-tiba muncul di ruang makan. Aroma tempe goreng menyerbu hidung mungilnya, membuatnya tak tahan untuk tidak mengulurkan tangan, meraih garpu dan mencocol sepotong makanan favoritnya itu.
“Nyonya belum cuci tangan,” protes Iroh.
“Kan udah pakai garpu.” Runi tak mau ditegur. “Nyonya lagi. Nyonya lagi. Kan udah Ibu bilang, panggil ibu.” Runi memberi tekanan kuat pada kata ‘ibu’. Sebulan terakhir Iroh ikut-ikutan salah satu sinetron yang ia tonton setiap malam. Di sinetron itu si pembantu rumah memanggil majikannya dengan sebutan ‘nyonya’ dan ‘nona’. Menurut Iroh terdengar keren.
Ditegur begitu, wajah Iroh makin terlipat. Namun Runi tidak memperhatikan perubahan pada Iroh yang biasanya senang menyambutnya pulang. Bagaimana tidak senang, Runi tak pernah lupa membawa oleh-oleh untuknya.

Seperti biasa, bahkan sebelum berganti baju dan membersihkan diri, Runi langsung menginspeksi dapur. Ya. Kata itulah yang dipakai Dea untuk melukiskan kebiasaan sang mama: inspeksi. Cek semua gelas, cangkir, mangkuk, piring dan sendok, kalau-kalau ada yang salah letak. Periksa isi kulkas, jangan-jangan ada sayuran disimpan di bawah kotak chiller. Kontrol gula-teh-kopi-susu, siapa tahu ada yang habis. Buka-buka semua lemari dan memeriksa yang ada di dalamnya dengan teliti. Semuanya ditengok, tak terkecuali.

“Iroh. Ini punya siapa?” Tangannya mengacungkan beberapa sachet kopi instan three-in-one. Seruni tidak suka kopi semacam itu. Menurutnya terlalu banyak gula dan rasanya hambar. “Punya….”
“Bukan punya Mas Priyo!” Cepat sekali Iroh menjawab. Ia tidak mau lelaki pujaannya itu mendapat teguran gara-gara kopi instan. “Saya beli buat tukang yang minggu lalu mbetulin genteng, Nya.”
“Kalau nggak ada yang suka, dikasih orang aja. Nggak perlu disimpan. Itu ada tukang becak di pojokan. Mereka pasti mau.” Runi menyerahkan tiga sachet kopi instan ke tangan Iroh.
“Ini awet, Nya. Kalau nanti ada tukang lagi….” Majikannya menghentikan Iroh dengan tatap mata tidak setuju.
Ah. Nyonya Runi bikin hatiku tambah kesal saja. Oleh-olehnya belum diterima, sudah dipelototi, gerutu Iroh dalam hati sambil meninggalkan Runi sibuk sendiri.

“Runi. Sudah jam satu lebih. Kita makan dulu saja. Keburu dingin semua.” Dari belakang punggung Runi, Eyang menutup freezer yang isinya sedang diperiksa anaknya itu. Kemudian ia berbisik-bisik di telinga Runi, memberitahu tentang Iroh yang suka sama Priyo dan bagaimana gadis itu menangis setelah tahu kalau Priyo hanya dua minggu bekerja di rumah mereka.

Mata Runi terbelalak. Pantas saja, pikirnya, wajah Iroh tidak secerah biasanya kalau menyambut dirinya pulang dari luar negeri.
“Bentar, Bu. Dea, makan duluan, temani Eyang. Bentar.” Runi melangkah lebar-lebar menuju kamar tidur. Dengan cepat ia buka kopernya lalu merogoh ke dalam tumpukan baju kotor. Ditariknya sebuah tas plastik kuning yang berisi oleh-oleh untuk Iroh.

Perempuan itu memanggil-manggil Iroh yang sedang menemui tukang becak di sudut jalan.
“Iroh keluar, Bu Runi.” Priyo yang duduk di teras melongok ke dalam.
“Lho? Kamu masih di sini?”
“Iya, Bu. Kalau-kalau masih diperlukan.”
“Ayo, makan bareng.”
“Terima kasih, Bu. Nanti saja, bareng Iroh.”
“Lhooo…, jangan begitu. Makan bareng kami.”
“Sudah, Bu. Terima kasih.”

“Biasanya Mas Priyo makan bareng saya, Nya.” Iroh yang tiba-tiba muncul langsung menyela. Ia tak mau kehilangan kesempatan makan berdua dengan lelaki yang diam-diam ia kagumi.
“Oh.” Runi menahan kata-katanya. Untung ibunya sudah memberitahu perihal perasaan Iroh pada Priyo. “Ya, udah. Kami makan dulu, ya.” Runi siap berbalik ketika ia ingat oleh-oleh untuk Iroh yang sudah ditentengnya. “Roh, ini ya. Oleh-oleh buat kamu. Maaf ya, Priyo, saya tidak membawa apa-apa untuk kamu.”
“Oh, Tidak apa-apa, Bu. Tidak apa-apa.” Priyo maklum.

Runi hanya basa-basi di depan Iroh karena ia tahu kalau Priyo tidak perlu apa-apa. Bapaknya hampir tiap minggu keliling Asia untuk mengurus bisnisnya. Priyo sesekali diminta mengantar sambil belajar bisnis keluarga.

“Terima kasih, Nyonya.” Senyum Iroh mekar lebar. Ia intip isinya yang terbungkus kertas kado. Semoga di dalam bungkusan ini ada tas cangklong warna ungu seperti pesananku, bisik Iroh dalam hati.

Priyo ikut senang melihat wajah Iroh yang terlihat bahagia mengamati tas plastik di tangannya. Rumah ini dihuni oleh empat perempuan berhati baik, pikirnya. Ia merasa nyaman menjadi bagian keluarga Bu Runi selama sepuluh hari ini. Meskipun sesekali Priyo menyaksikan rasa kesal dan kecewa terungkap di wajah mereka, atau mendengar kata-kata tajam terlontar, namun mereka saling menyayangi.


*****