Wednesday, April 27, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi: Azam Raharjo

Episode 6: Dea Jatuh Cinta


Tubuh yang masih belum sepenuhnya terbentuk sempurna itu tengkurap di atas tempat tidur Runi. Kaki-kakinya yang kurus ditekuk ke atas di bagian lutut, bergerak-gerak seirama betotan gitar Joe Satriani yang ia nikmati lewat earphone yang tersambung ke iPod merah.

“Rambut Mama udah kepanjangan. Dipendekin, Ma. Biar tampak lebih muda,” Dea mengamati mamanya yang sedang mengeringkan rambut. “Biar kayak itu, lho….”

Mulut Dea berhenti bicara karena tatapan tajam mamanya yang tersorot lewat cermin. Runi punya kemampuan membungkam orang dengan sorot matanya. Keahlian yang tidak dimiliki oleh dua adiknya itu ia warisi dari ayahnya. Suatu keahlian yang sangat berguna bila ia sedang bepergian sendiri ke tempat-tempat asing.

“Maaf… Dea tahu Mama nggak suka dibanding-bandingin. Maksud Dea, Mama biar kelihatan seger, gichuuu….” Mulut Dea mengerucut lucu. Saking gemesnya, Runi meletakkan hair dryer dan menubruk anak gadisnya. Ibu dan anak bergulingan di kasur. Mereka saling meledek, saling lempar bantal, tertawa-tawa.

Kegaduhan di Minggu pagi itu membuat Eyang meninggalkan dapur, ingin melihat apa yang terjadi di kamar Runi. Setiap kali Runi dan Dea bercanda, Eyang ingin menyaksikannya. Baginya pemandangan itu selalu indah. Janda dengan tiga anak dan nenek enam cucu itu tak henti-henti mensyukuri nikmat yang dilimpahkan Sang Kuasa. Bila sedang berkumpul dengan cucu-cucunya, ia selalu ingat pada almarhum suaminya, lalu menyelipkan doa di antara derai tawa mereka. Tawa yang terdengar bagai musik merdu, yang mengiringi kenangan syahdu akan kebersamaan mereka yang berakhir dua tahun lalu.

Tawa Runi dan Dea mereda ketika Eyang hanya beberapa langkah dari ambang pintu. Lalu didengarnya suara Dea.
“Ma, aku jatuh cinta.”

Lalu hening sesaat. Tangan Eyang yang sudah terulur untuk memperlebar bukaan pintu terhenti di udara. Eyang berdiri kaku tak jauh dari pintu, ingin mencuri dengar pembicaraan antara anak dan cucunya. Ah… tak ada salahnya aku tahu, pikir Eyang. Perempuan 63 tahun itu melangkah pelan ke kursi terdekat, yang masih memungkinkannya mendengar pembicaraan meskipun samar-samar.

“Oh? Siapa cowok yang hebat itu?” Suara Runi terdengar sangat terkontrol. Ia berhati-hati agar Dea mau membuka diri. Alangkah beruntungnya seorang ibu yang memperoleh kesempatan mendampingi anaknya saat si anak pertama kali jatuh cinta.
“Teman les gitar. Anaknya gini….” Dea mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum malu-malu.
“Gini apanya?” Runi ikut mengacungkan dua jempolnya.
“Yaaa… baiiik… cakep itu pastiii….” Dea meringis, membayang-bayangkan sang pujaan hati. “Main gitarnya keren. Nggak sok, nggak belagu kayak cowok cakep yang lain. Dea sukaaa….” Dea mendekap bantal mamanya erat-erat, memejamkan mata rapat-rapat. Dalam hati Runi tertawa geli, teringat waktu dirinya jatuh cinta pada almarhum ayah Dea. Tingkah laku orang yang sedang jatuh cinta selalu sama, tidak pandang usia.

“Namanya?”
“Karunia. Karunia Rwanda. Panggilannya Kar.”
“Nama yang keren,” cetus Runi. “Rwanda?”

“Ya, Rwanda. Ayahnya sedang bertugas di sana waktu Kar ada di dalam kandungan. Ayah Kar orang Perancis.” Dea berhenti, memandang wajah ibunya. Meskipun agak terkejut, Runi berusaha menyembunyikannya dengan melempar matanya ke jendela seraya bertanya, “Ibunya orang Indonesia, kan?”

“Iya, dong! Kar lahir di Montpellier, katanya seminggu setelah penandatanganan Arusha Accord. 10 Agustus 1993. Waktu itu ayahnya bertugas jadi asisten salah satu wakil pemerintah Perancis. Kar lahir tanpa ditunggui ayahnya.”
“Wah! Senang sekali ya punya ayah yang terlibat dalam sejarah,” ujar Runi. Tangannya menyibak rambut Dea yang menutupi separuh pipinya. Rambut tebal yang agak lurus, tak seikal rambutnya, mirip rambut ayahnya. “Kar sendiri gimana?”

Dea terdiam. Kepalanya yang tadi miring, dengan pipi menyentuh bantal, ia tegakkan. Matanya mengarah ke langit-langit, namun pikirannya melayang menembus atap, tinggi menjulang, melayang-layang.
“Kayaknya dia nggak tahu kalau aku suka sama dia,” lirih suara Dea. “Banyak sih cewek yang suka sama dia.” Dengan antusias Dea lalu menceritakan penampilan cowok itu.

Oh. Terbayang di mata Seruni, seraut wajah lelaki muda, blasteran Indonesia-Perancis yang manis, berkulit cenderung sawo matang, bermata amber yang menyorot tajam dan dinaungi bulu mata melengkung panjang, berhidung mancung sedang, ditopang tubuh tinggi dengan dada bidang. Gadis remaja mana yang tak akan hanyut terbawa gelombang asmara yang terpancar dari ketampanannya.

“Dia baik sama Dea. Kayaknya….” Gadis itu ragu-ragu. “Dia nggak pernah ngobrol sama cewek lain, cuma sama Dea. Kalau pas istirahat dia juga duduk dekat Dea dan cerita-cerita, gitu. Makanya Dea tahu banyak tentang keluarganya,” lanjutnya.
“Itu tandanya dia suka sama kamu,” kata Runi penuh semangat. Ia tak ingin anak semata wayangnya kecewa.
“Gitu, ya, Ma?” Dea memiringkan kepalanya, memandang wajah ibunya. “Gitu, ya?” Dea mengulang dengan berbisik.

Di luar Eyang menarik nafas panjang. Teringat kembali perjalanan cinta tiga anak perempuannya. Seruni si anak tertua sejak kecil tak mudah terpesona pada wadag lelaki. Ia cenderung menilai mereka dari isinya. Seruni benar sekali. Perempuan maupun laki-laki perlahan-lahan akan kehilangan pesona kecantikan fisiknya selepas 30 tahun, digantikan oleh kesucian jiwa dan kecerdasannya. Seseorang dengan kecantikan jiwa dan kecerdasan prima akan terlihat semakin menarik seiring bertambahnya usia. Tak heran bila gadis yang cantik ketika remaja, atau jejaka tampan selagi muda, bisa berubah menjadi seonggok tubuh renta tanpa aura begitu menapaki usia tengah baya.

Kini cucu tertuanya sedang jatuh cinta pada pemuda tampan. Mungkin ini cinta pertama yang benar-benar disadari kehadirannya. Pengalamannya sendiri serta kesaksiannya atas perjalanan hidup tiga anak perempuannya membuktikan bahwa seseorang bisa berkali-kali jatuh cinta. Anugerah rasa yang satu ini kekuatannya mampu menaklukan samudera dan membelah angkasa. Namun ia juga bisa menumbangkan tahta bila mata hati menjadi buta karena tertutup oleh kebesarannya, tenggelam oleh kedahsyatan gelombangnya.

Perempuan itu berdoa untuk Dea agar sang cucu kuat bertahan menghadapi gelora jiwa mudanya, agar si remaja tidak tersesat menembus belantara batinnya.
“Ibu….” Suara Runi mengejutkan Eyang. “Kenapa melamun di sini?”
Eyang terkejut. “Banyak yang Ibu pikirkan, Runi,” ujarnya menutupi rasa malu karena ketahuan mencuri dengar pembicaran anak dan cucunya. Seruni mengernyitkan dahi. Tidak biasanya ibunya duduk merenung seperti itu, di kursi tamu lagi. Jangan-jangan….

“Ibu mendengar….?” Runi memberi isyarat, menggerakkan kepala ke arah kamarnya. Dea masih ada di dalam, tergolek malas di tempat tidur mamanya. Eyang mengangguk dengan senyum tersipu. Seruni menutup pintu kamarnya lalu melangkah ke dekat ibunya sambil berkata, “Cucu Ibu akan baik-baik saja. Saya lega dia mau terbuka. Mungkin ini yang pertama.”
Ibu dan anak saling berpandangan, berharap yang terbaik untuk si gadis remaja yang sedang melangkah memasuki gerbang kehidupan.


***


Catatan: Arusha Accords (dikenal juga sebagai Arusha Peace Agreement atau Negosiasi Arusha) merupakan lima kesepakatan yang ditandatangani di Arusha, Tanzania, pada 4 Agustus 1993, oleh pemerintah Rwanda dan pemberontak yang tergabung dalam Rwandan Patriotic Front (RPF), sebagai bentuk mediasi untuk mengakhiri perang saudara yang berlangsung selama 3 tahun. Penandatanganan tersebut diorganisir oleh Amerika Serikat, Perancis dan Organization of African Unity. 

***