Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2011

Obituari Jalang #2

Malam ini aku akan pergi. Semua sudah siap. Sebuah ransel usang yang tak sengaja kutemukan di pojok dapur kotor rumahku. Uangku yang tak seberapa. Sebuah gaun hitam backless dan high heels hitam kesayanganku. Untuk apa gaun hitam dan sepatu tinggi itu? Aku ingin mati cantik. Setidaknya orang yang menemukanku kelak tak bergidik ngeri melihat kondisi jenazahku. Walaupun aku sudah mati, ingin juga rasanya masih ada yang mengagumi kecantikanku. Hey, setidaknya ada sedikit bagian dari diriku yang menunjukkan kalau aku normal! Aku ingin selalu tampak cantik! Lagipula, jika sebelum sampai tujuanku nanti ternyata perbekalanku habis, gaun itu bisa kupakai untuk modalku melacur di hotel berkelas. Pelacur sekelasku tidak bisa disamakan dengan pelacur pinggir jalan. Semua karena aku begitu sombong. Tak akan ada banyak orang yang melihatku jika aku berkeliaran mencari mangsa di hotel-hotel seperti kalau aku berdiri melambai-lambaikan tanganku di pinggir jalan ke arah mobil-mobil yang lewat. Aku mal…

"Bagaimana Bila Aku Mati..?"

Ya, waktu lalu kau bunuh cintaku Sehingga akar dan batang jiwaku turut mati Apabila Sang Pencipta mencabut nyawaku hari ini, Apakah kabar kematianku akan singgah di pendengaranmu?
Bagaimana bila aku mati nanti kau tidak hadir, sedangkan aku tidak mau diturunkan ke liang lahat sebelum kau mengecup keningku tuk terakhir kalinya…

Ya, kewarasanku kosong
Karena Kau telah mencurinya saat lalu
Dan aku akan mati dalam kegilaanku, jika dirimu tidak muncul-muncul juga

Pagi Ini Aku Ingin Tidur Lagi

Pagi menyelinap diam-diam menapaki lipatan gordin sewarna daun jati.

Lewat sela-sela bulu mata, kulihat ia merambat turun, menyusuri permukaan kaca, mengkilat ditimpa sinar matahari.

Tubuhku sembunyi di hangat selimut putih seharum kuncup lavender.
Mataku merapat kembali, pura-pura tak melihatnya.

Aku tak mau ia menyingkap selimutku, membangunkanku dengan tangannya yang dingin.

***
Sumber gambar.

Kembali

Kembali
oleh G

Malam itu dia kembali, perempuan berwajah purnama hampir usai
diikatkannya layanglayang yang selama ini membawanya terbang
diikatnya. pada kotak surat pembawa pesan. diikatnya.
35 harihari berlalu sejak kepergian lalu kepulangannya.
dia masih rindu pada cakap burung layanglayang ketika
itu.

Malam itu dia kembali, kepada angin dia kembali, perempuan berwajahkan
bintang malam separuh peri. dibawanya kembali layanglayang
yang membawanya terbang. suratsurat bertumpuk di dalam kotak pos
tak pernah dibukanya, tak pernah dibacanya.

Malam itu dia pulang. dia pergi untuk pulang kepada langit
kepada lengkunglengkung jauh di batas horizon yang semakin vertikal
lalu menjadi sesuatu seperti janji tanpa batasbatas dan ikatan
dia pulang. dia pulang.

Seperti janjinya,
untuk tiga puluh hari ke depan dia pulang. menunggu detikdetik.
sebelum mengetuk pintu.

Tema Bulan Juni: PUISI SETIAP HARI

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu


Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono (1994)

*****

Ada apa di bulan Juni di Kampung Fiksi? Adalah diksi. Kata-kata yang seperti hujan di bulan Juni, jatuh merinai di antara fiksi yang menari-nari di imajinasi. Pecahlah sunyi. Pecahlah puisi. Menjadi bait-bait yang berlompatan antara majas dan konfiguratif. Puisi-puisi bulan Juni di Kampung Fiksi.

Kampung Fiksi, seperti bebunga musim semi yang mencintai hujan, menanti kiriman puisi dari kawan-kawan.

Satu >> Tema bebas. Sebebas imajinasi. Selepas kemana kata-kata membawamu.

Dua >> Puisi bukan Matematika yang menghitung jumlah kata. Panjang dan singkat adalah pilihan.

Tiga >> Satu, dua dan tiga. Mari tarik…

Obituari Jalang (#1)

Aku perempuan jalang… Istri pengkhianat… Ibu bangsat… Manusia bejat… Itu aku… Hanya membunuh saja aku tidak… Belum… Mungkin nanti… Di akhir perjalananku… Aku akan membunuh… Membunuh diriku sendiri… Tunggu saja…
Keputusanku hari ini bulat tepat tak berlipat. Aku harus pergi. Meninggalkan semua yang telah berhasil membuat jiwaku sakit. Aku tidak mencari kesembuhan. Aku mencari penyelesaian dari penderitaan ini. Aku cuma perempuan biasa, seperti semua perempuan lain di dunia ini. Tak ada yang istimewa. Kalau ada yang memuji diriku molek, berjuta perempuan lain bahkan jauh lebih menawan dariku. Kalau ada yang mengatakan aku seksi, oh please…aku juga bukan satu-satunya. Kalau ada yang mengatakan aku pandai, ribuan perempuan jenius terserak tak berharga di muka bumi ini. Itu kalau menilaiku karena aku perempuan. Tapi aku bukan ‘hanya’ seorang perempuan. Aku juga seorang istri. Dan juga seorang ibu. Dan tidak melupakan kalau aku juga seorang anak perempuan dari seorang perempuan yang pernah berbagi tali …

Sang Penderas Nira

Yanna tergolek diam di atas amben di emperan rumah Tono. Wajahnya yang separuh tertutup topi sedikit berkilat karena keringat. Matanya yang tersembunyi dalam bayangan topi memandang jauh ke atas, menembus kerimbunan dedaunan kelapa, ke langit luas.

Sekelebatan terbayang tubuh Tono memanjat salah satu pohon kelapa itu. Kaki-kakinya yang panjang, lencir dan kuat membelit batang kelapa untuk menopang tubuhnya, kedua tangannya yang kokoh menggapai batang di atas kepalanya. Seluruh otot di punggungnya meregang. Sementara matahari menjilati tubuhnya dengan rakus hingga kulit coklat lelaki itu basah oleh berkeringat.

Dongeng Kakek Laut: Seperti pada Perputaran Semua Awal

Laut adalah kumpulan titik-titik air yang menghubungkan penjuru jarak dan kisah di bumi.
Kau percaya?
Aku percaya. Paling tidak, aku percaya pada apa yang dipercayai oleh kakekku.
~ - ~ - ~ - ~
Kakek Laut, demikian beliau akrab disapa oleh keluarga dan teman-temannya. Tentunya itu bukan nama asli. Nama Laut yang ditabalkan di belakang nama kakek berkaitan erat dengan sejarah hidupnya. Tentang bagaimana itu terjadi, baiklah, akan kuceritakan sebuah kisah luar biasa tentang perjalanan hidup kakek, seorang lelaki yang mungkin biasa saja bagi orang lain, meski bagiku, ia adalah sosok yang lebih dari sekedar luar biasa.

Empat Perempuan

Episode 7: Dea Menghilang

Ponsel Seruni berdering saat ia sedang mengemasi berbagai dokumen yang terserak di atas meja kerja. Priyo. Tumben dia berani menghubungi nomor ponselku, pikirnya. Pasti ada hal penting. Jangan-jangan tadi pagi Eyang memintanya bekerja seminggu lagi. Tapi minggu depan ia sudah harus ke Jakarta untuk kursus bahasa selama tiga bulan sebelum berangkat ke Jerman, Runi bertanya-tanya.

“Ya? Ada apa?” Runi menjawab telpon.

“Maaf, Bu Runi. Saya terpaksa menelpon. Ini tentang Dea. Apa dia bersama Ibu? Saya di tempat Pak Jack, tapi Dea sudah tidak ada. Kata Pak jack sudah pulang… siapa tahu Bu Runi….”

Biru

Aku biru. Begitu saja. Tak perlu logika memang untuk sekedar menjadi sendu. Orang-orang menamakan rasa yang sesak dan mendadak membuat diri melankolis itu dengan sebutan rindu. Tapi aku tak merasa sedang bermain-main dengan ekstase-mu di dalam kepalaku. Jadi demikian saja, rasa yang tak jelas ini kuanggap saja sebagai biru. Aku biru. Begitu saja.
Saat-saat begini, paling menyenangkan kalau kau ada di sini. Tak usah menjadi warna, cukup hanya dengan adamu semata. Kau, biru untukku. Semacam pembenaran karena bukan warna merah yang kupakai untuk mengaplikasikan keberadaanmu. Tapi ada kalanya kau membuat biru menjadi ungu. Itu ketika waktu melemparkanmu ke pusarannya yang membuat keningmu berkerut-kerut. Saat itu, rasanya kau jauh, meski sebenarnya kau hanya sejangkauan lengan dariku.
Sepertinya, aku mulai meracau galau. Dan seperti biasanya, kau mulai bermunculan dari mana-mana di dalam isi otakku. Menghalau semua mimpi yang sebelumnya mengawang di awan-awan biru dan menggantikannya denga…