Skip to main content

Biru


Aku biru. Begitu saja. Tak perlu logika memang untuk sekedar menjadi sendu. Orang-orang menamakan rasa yang sesak dan mendadak membuat diri melankolis itu dengan sebutan rindu. Tapi aku tak merasa sedang bermain-main dengan ekstase-mu di dalam kepalaku. Jadi demikian saja, rasa yang tak jelas ini kuanggap saja sebagai biru. Aku biru. Begitu saja.

Saat-saat begini, paling menyenangkan kalau kau ada di sini. Tak usah menjadi warna, cukup hanya dengan adamu semata. Kau, biru untukku. Semacam pembenaran karena bukan warna merah yang kupakai untuk mengaplikasikan keberadaanmu. Tapi ada kalanya kau membuat biru menjadi ungu. Itu ketika waktu melemparkanmu ke pusarannya yang membuat keningmu berkerut-kerut. Saat itu, rasanya kau jauh, meski sebenarnya kau hanya sejangkauan lengan dariku.

Sepertinya, aku mulai meracau galau. Dan seperti biasanya, kau mulai bermunculan dari mana-mana di dalam isi otakku. Menghalau semua mimpi yang sebelumnya mengawang di awan-awan biru dan menggantikannya dengan adamu. Seharusnya terbaca olehmu semua kata-kata yang menjelajahi penjuru tubuhku – sebab bukankah kau selalu ada di sana? Tidak juga keluar meski sudah kuhapus paksa semua biru yang menujumu.

Kau tidak suka biru. Katamu, biru itu mempunyai spektrum warna yang rumit. Ia bisa saja merupa biru serupa langit pagi pertama yang pucat, atau biru yang gelap ketika sore menua dan senja terbata mengeja. Itu masih belum termasuk biru laut, biru pastel, biru keungu-unguan, biru kemerah-merahan juga biru kehijauan. Biru, katamu lagi, adalah warna primer additif. Tapi buatku, biru itu adiktif. Seandainya bisa, ingin kuwarnai seisi dunia ini dengan gradasi biru. Membuatnya tak sekedar warna posesif langit dan laut. Aku ingin semuanya menjadi biru; jalanan-jalanan, bangku kayu tua di taman tempat janji-janji terpatri dan teringkari, juga daun-daun yang rontok oleh musim. Bagaimana bila sepotong hati juga sebaiknya berwarna biru saja? Sebab biru juga membuat sendu. Ah, mungkin aku hanya sedang sekedar memaknai rindu yang berdebu. Terlalu jemu untuk lagi-lagi sendirian tergugu di persendatan malam.

Pernah kau bertanya, kenapa aku begitu menyukai biru. Kubilang karena langit dan laut. Biru adalah langit. Biru adalah laut yang dikarenakan cahaya merah yang kira-kira tujuh ratus lima puluh milimiter diserap oleh molekul air. Tidak kukatakan biru adalah warna matamu yang ketemukan di mataku, meski bagi orang lain mereka berwarna sehitam malam.

Demikianlah. Mendadak saja biru menjadi semacam perihal yang penting buatku. Sebab biru adalah kau, yang membuatku utuh dalam kepingan-kepingan yang berhamburan. Aku merasa seperti cuaca yang terus memutarimu, melingkar-lingkar, serupa pusaran. Sedang kau masih saja menulis tentang masa lalu. Dan tidak ada aku di sana. Kau tahu itu, tetapi berpura-pura aku tidak peduli. Kubilang, itu biru, sebab matamu akan begitu saja menjadi sendu sebegitu namanya tersebut. Dan lagi-lagi, aku dilingkupi biru. Biru yang sebiru-birunya laut dan langit, setiap kali kau menjadi biru.

Aku biru. Begitu saja. 

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…