Saturday, May 7, 2011

Biru


Aku biru. Begitu saja. Tak perlu logika memang untuk sekedar menjadi sendu. Orang-orang menamakan rasa yang sesak dan mendadak membuat diri melankolis itu dengan sebutan rindu. Tapi aku tak merasa sedang bermain-main dengan ekstase-mu di dalam kepalaku. Jadi demikian saja, rasa yang tak jelas ini kuanggap saja sebagai biru. Aku biru. Begitu saja.

Saat-saat begini, paling menyenangkan kalau kau ada di sini. Tak usah menjadi warna, cukup hanya dengan adamu semata. Kau, biru untukku. Semacam pembenaran karena bukan warna merah yang kupakai untuk mengaplikasikan keberadaanmu. Tapi ada kalanya kau membuat biru menjadi ungu. Itu ketika waktu melemparkanmu ke pusarannya yang membuat keningmu berkerut-kerut. Saat itu, rasanya kau jauh, meski sebenarnya kau hanya sejangkauan lengan dariku.

Sepertinya, aku mulai meracau galau. Dan seperti biasanya, kau mulai bermunculan dari mana-mana di dalam isi otakku. Menghalau semua mimpi yang sebelumnya mengawang di awan-awan biru dan menggantikannya dengan adamu. Seharusnya terbaca olehmu semua kata-kata yang menjelajahi penjuru tubuhku – sebab bukankah kau selalu ada di sana? Tidak juga keluar meski sudah kuhapus paksa semua biru yang menujumu.

Kau tidak suka biru. Katamu, biru itu mempunyai spektrum warna yang rumit. Ia bisa saja merupa biru serupa langit pagi pertama yang pucat, atau biru yang gelap ketika sore menua dan senja terbata mengeja. Itu masih belum termasuk biru laut, biru pastel, biru keungu-unguan, biru kemerah-merahan juga biru kehijauan. Biru, katamu lagi, adalah warna primer additif. Tapi buatku, biru itu adiktif. Seandainya bisa, ingin kuwarnai seisi dunia ini dengan gradasi biru. Membuatnya tak sekedar warna posesif langit dan laut. Aku ingin semuanya menjadi biru; jalanan-jalanan, bangku kayu tua di taman tempat janji-janji terpatri dan teringkari, juga daun-daun yang rontok oleh musim. Bagaimana bila sepotong hati juga sebaiknya berwarna biru saja? Sebab biru juga membuat sendu. Ah, mungkin aku hanya sedang sekedar memaknai rindu yang berdebu. Terlalu jemu untuk lagi-lagi sendirian tergugu di persendatan malam.

Pernah kau bertanya, kenapa aku begitu menyukai biru. Kubilang karena langit dan laut. Biru adalah langit. Biru adalah laut yang dikarenakan cahaya merah yang kira-kira tujuh ratus lima puluh milimiter diserap oleh molekul air. Tidak kukatakan biru adalah warna matamu yang ketemukan di mataku, meski bagi orang lain mereka berwarna sehitam malam.

Demikianlah. Mendadak saja biru menjadi semacam perihal yang penting buatku. Sebab biru adalah kau, yang membuatku utuh dalam kepingan-kepingan yang berhamburan. Aku merasa seperti cuaca yang terus memutarimu, melingkar-lingkar, serupa pusaran. Sedang kau masih saja menulis tentang masa lalu. Dan tidak ada aku di sana. Kau tahu itu, tetapi berpura-pura aku tidak peduli. Kubilang, itu biru, sebab matamu akan begitu saja menjadi sendu sebegitu namanya tersebut. Dan lagi-lagi, aku dilingkupi biru. Biru yang sebiru-birunya laut dan langit, setiap kali kau menjadi biru.

Aku biru. Begitu saja.