Sunday, May 15, 2011

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Episode 7: Dea Menghilang

Ponsel Seruni berdering saat ia sedang mengemasi berbagai dokumen yang terserak di atas meja kerja. Priyo. Tumben dia berani menghubungi nomor ponselku, pikirnya. Pasti ada hal penting. Jangan-jangan tadi pagi Eyang memintanya bekerja seminggu lagi. Tapi minggu depan ia sudah harus ke Jakarta untuk kursus bahasa selama tiga bulan sebelum berangkat ke Jerman, Runi bertanya-tanya.

“Ya? Ada apa?” Runi menjawab telpon.

“Maaf, Bu Runi. Saya terpaksa menelpon. Ini tentang Dea. Apa dia bersama Ibu? Saya di tempat Pak Jack, tapi Dea sudah tidak ada. Kata Pak jack sudah pulang… siapa tahu Bu Runi….”

 “Saya masih di kantor….” Runi menyela. Pak Jack adalah instruktur gitar Dea. “Sebentar saya telpon anaknya, mungkin sudah di rumah.”

“Belum, Bu. Saya barusan telpon rumah. Saya telpon HP-nya juga tidak diangkat,” Priyo kuatir.

“Coba kamu masuk dan tanya Pak Jack atau teman-temannya. Mungkin ada yang tahu. Saya akan telpon teman-temannya yang lain,” perintah Runi.

***

Eyang meremas-remas kerah bajunya sendiri, matanya terpaku pada Runi yang tak henti-henti menelpon setiap nomer yang pemiliknya mengenal Dea. Iroh duduk sambil menunduk, matanya yang biasanya mencuri-curi pandang wajah ganteng Priyo menatap lantai keramik yang mengkilap karena ia pel setiap pagi. Priyo duduk tak jauh dari tiga perempuan itu, terlihat tak tahan mendengar suara Runi yang nyaris menangis karena semua teman Dea tidak ada yang tahu keberadaan anak semata wayangnya itu.

“Mbok ya kita lapor polisi saja?” usul Eyang dengan was-was. “Dia ndak pernah seperti ini, lho! Belum pernah, lho! Dia selalu pamit. Paling tidak kirim sms.”
“Kita tunggu dulu, Bu,” ujar Runi. “Tadi Pak Jack bilang apa?” Runi memandang Priyo penuh harap, ingin mendengar penjelasannya sekali lagi. Siapa tahu ada informasi yang terlewat.

“Pak Jack hanya bilang kalau Dea tiba-tiba saja keluar. Tidak pamit. Keluar begitu saja. Pak Jack mengira dia pulang karena sedang tidak enak badan atau semacamnya. Dea memang terlihat agak malas berlatih, tapi Pak Jack tidak melihat apapun yang aneh,” Priyo mengulang ceritanya.
Runi lalu menelpon ponsel Pak Jack sekali lagi. Ia yakin telah terjadi sesuatu di tempat kursus itu, sesuatu yang membuat Dea menghilang. “Selamat malam, Pak Jack. Saya Runi, ibu Dea. Maaf mengganggu lagi. Anak saya belum pulang dan tidak bisa saya hubungi. Teman-temannya sudah saya telpon. Tidak ada yang tahu. Saya minta tolong Pak Jack menceritakan sekali lagi… ada apa tadi di sana….” Suara Runi tertelan di bagian akhir kalimat.

“Saya ikut prihatin, Bu Runi, juga mohon maaf. Saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Waktu itu saya sedang ngobrol dengan salah satu murid senior yang mengajak pacarnya main ke sini. Kebetulan pacarnya itu gitaris dari Surabaya yang barusan menjuarai kontes gitar akustik se Jawa Timur. Jadi….” Pak Jack terdengar sangat menyesal karena tidak bisa membantu lebih banyak.

“Apa mungkin Kar tahu, ya?” Runi menyebut nama anak muda yang mencuri hati anak gadisnya itu.

“Oh… Bu Runi kenal Kar?”

“Kadang-kadang Dea cerita tentang teman-temannya.”

“Kar memang sering sekali ngobrol dengan Dea. Tadi saya lihat Kar sempat mengenalkan pacarnya ke Dea, gitaris dari Surabaya yang saya bilang tadi, Bu….”

Tiba-tiba keping-keping puzzles di benak Runi membentuk sebuah gambar yang lebih jelas. Ya, Tuhan! Jangan-jangan…. “Pak Jack, apa saya bisa minta nomer ponsel Kar?” Seru Runi cepat.

“Tentu saja, Bu. Sebentar…. saya kirim ke HP Bu Runi ya? Sekalian nomer rumahnya. Siapa tahu mereka berlatih bersama, soalnya tadi….”

“Iya, Pak!” Runi menyela tidak sabar.

***

“Ya, Bu Runi. Tadi saya bertemu Dea, malah sempat mengenalkan pacar saya. Kayaknya Dea tidak berlatih, cuma memeluk gitar dan tampak marah.” Jelas Kar dengan khawatir. “Apa yang bisa saya bantu, Bu? Dea itu mirip sekali dengan adik saya.”

“Terima kasih, Kar. Nanti saya hubungi lagi kalau ada informasi,” suara Runi nyaris berbisik. Dea tidak mengatakan usia Kar waktu ia cerita pada Runi beberapa waktu lalu. Dari suaranya di telepon yang terdengar dewasa, Runi menebak usia Kar sekitar 23 tahun, bukan 18 tahun seperti cerita Dea. Bisa jadi Kar hanya menganggap Dea sebagai adik saja. Bisa jadi Kar bahkan tidak tahu kalau gadis remaja yang imut namun tomboy itu menyimpan cinta untuknya.

“Gimana, Runi?” Eyang mendekati anak sulungnya yang memegang ponsel dengan tangan kirinya yang lunglai. Tanpa suara Iroh mendekatkan sebuah kursi agar Runi bisa duduk.

“Saya tahu apa yang terjadi….” Runi bergumam, pelan-pelan meletakkan tubuhnya ke kursi lalu menyandarkan punggungnya yang terasa semakin kaku karena sejak pulang kantor belum sempat duduk. Eyang memberi isyarat agar Iroh membuatkan minum untuk si Nyonya. Iroh berkelebat, masih tanpa suara.

Hati-hati Seruni menuturkan kisah yang menurutnya paling masuk akal. Eyang dan Priyo membuka mata dan telinga lebar-lebar. Iroh tak ingin melewatkan cerita yang terdengar sangat akrab baginya. Kisah gadis yang patah hati akibat cinta yang tak tersampaikan. Tiba-tiba Iroh jadi merasa senasib dengan Non Dea, ia merasa tidak sendirian, rasa kecewa di hatinya sedikit terobati. Ternyata sakit cinta menyerang siapa saja, tidak pilih kasih, tidak memandang harta, pendidikan atau jabatan.

“Jangan-jangan Non Dea ke makam Tuan…” bisik Iroh hampir tak terdengar.

Tiga pasang mata menoleh ke arah gadis berambut panjang yang meringkuk tak jauh dari kursi yang diduduki Eyang. Hidung kecilnya yang sedang berjerawat itu kembang-kempis.

“Makam Tuan?” Tanya Runi dan Eyang bersamaan.

“Ya. Makam Tuan Iwan Syahputra,” Iroh menyebut nama almarhum ayah Dea. “Non Dea….” Iroh berhenti.

“Non Dea kenapa?” Runi mencondongkan tubuhnya, matanya berpindah-pidah dari Iroh ke ibunya.

“Si Non pernah cerita ke saya, Nya. Waktu saya… emmmhhh… waktu saya sedang sedih dulu… waktu saya patah hati….” Iroh menelan ludah, menahan agar tangisnya tidak pecah. Rasa sakit karena hati yang patah itu datang lagi. “Non Dea pernah bilang, katanya kalau patah hati dia akan mengadu ke Papa. Gitu, katanya….” Bila siang hari, tiga pasang mata yang menatapnya itu pasti akan melihat wajah Iroh yang serupa rebusan tomat.

Priyo langsung melompat. Kali ini ia menyambar kunci mobil Runi, mobil mungil itu pasti akan lebih cepat menembus rapatnya lalu lintas dibanding mobil Eyang. “Bu Runi, mari saya antar. Iroh di rumah saja, ya, nemani Eyang.”

Kurang dari lima menit mobil berwarna blue diamond itu telah menyusuri jalanan. Priyo menelpon bapaknya dan menceritakan situasi yang sedang dihadapi keluarga Runi. Bapak Priyo ingin membantu. Bersama supir ia akan menyusul mereka ke makam sahabatnya yang meninggal di usia muda itu. Bila Dea tidak berada di sana, ia berjanji akan ikut mencari.

***

Jam digital berbentuk segitiga yang tertempel di dinding ruang tengah menunjukkan pukul 9 lebih 12 menit saat Eyang dan Iroh mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah. Iroh tak sabar berlari keluar membuka pagar. Eyang terbirit-birit membuka pintu garasi, tak mau terlambat memeluk si gadis remaja yang tengah berduka.

“Alhamdulillaaah….” Seru Eyang penuh syukur ketika melihat cucunya keluar dari mobil digandeng ibundanya. Iroh tersenyum lega. Ia bangga telah berhasil membantu menemukan Nona Dea. Ia terharu karena Nona Dea ternyata benar-benar telah berbagi rahasia dengannya, seorang pembantu yang sering tidak didengarkan pendapatnya.

***