Tuesday, May 31, 2011

Obituari Jalang #2


Malam ini aku akan pergi. Semua sudah siap. Sebuah ransel usang yang tak sengaja kutemukan di pojok dapur kotor rumahku. Uangku yang tak seberapa. Sebuah gaun hitam backless dan high heels hitam kesayanganku.
Untuk apa gaun hitam dan sepatu tinggi itu? Aku ingin mati cantik. Setidaknya orang yang menemukanku kelak tak bergidik ngeri melihat kondisi jenazahku. Walaupun aku sudah mati, ingin juga rasanya masih ada yang mengagumi kecantikanku. Hey, setidaknya ada sedikit bagian dari diriku yang menunjukkan kalau aku normal! Aku ingin selalu tampak cantik!
Lagipula, jika sebelum sampai tujuanku nanti ternyata perbekalanku habis, gaun itu bisa kupakai untuk modalku melacur di hotel berkelas. Pelacur sekelasku tidak bisa disamakan dengan pelacur pinggir jalan. Semua karena aku begitu sombong. Tak akan ada banyak orang yang melihatku jika aku berkeliaran mencari mangsa di hotel-hotel seperti kalau aku berdiri melambai-lambaikan tanganku di pinggir jalan ke arah mobil-mobil yang lewat. Aku malas menghadapi calon pembeli yang tidak potensial. Hah! Pelacur pun berhak sombong.
Nanti malam, jam dua belas, berjingkat aku akan meninggalkan rumah terkutuk itu. Berikut penghuninya yang telah berhasil membuatku menjadi begini. Rumah reyot berbau pesing ompol anakku. Semata karena suamiku tak mampu membelikannya popok sekali pakai seperti anak-anak orang kaya itu. Rumah gubuk berjendela bobrok yang menampung banyak kepala tak berotak di dalamnya. Semata karena suamiku tidak punya penghasilan tetap untuk sekedar membetulkan jendela itu. Rumah dengan atap bocor dan langit-langit rontok itu. Semata karena bapakku mati meninggalkan hutang dan bukan warisan untuk memperbaiki rumahnya.
Apakah aku akan menangis nanti? Rasanya tidak. Aku merasa aku akan pulang ke rumahku yang sesungguhnya. Istana megah yang selalu kuimpikan. Yang tak ada siapapun di sana selain aku dan para pelayan lelaki yang setia melayaniku dua puluh empat jam. Menyuapiku makan. Meninabobokan aku. Memakaikan pakaianku. Memuaskan hasratku. Bahkan untuk meladeniku buang air.
Aku tak akan mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Bahkan pada anakku. Bagiku mereka sudah kutinggalkan sejak lama. Aku tidak pernah hidup dalam rumah itu. Aku adalah narapidana dan budak. Aku dipenjara oleh kebutuhan hidup semua penghuni rumah itu. Aku diperbudak oleh uang untuk makan dan susu anakku. Sudah saatnya aku bebas. Membebaskan diriku dari semua ini. 
oooOOOooo
Rumi berdiri mematung di teras rumah. Menatap mobil itu menjauh dari pandangannya sampai menghilang di belokan ujung jalan. Sekuat tenaga ditahannya air mata yang hampir menetes itu. Seperti setiap pagi yang selalu dia lakukan. Sesaat setelah dia mencium tangan laki-laki yang dicintainya sepenuh hati itu. Melihat wajahnya yang tak berubah sama sekali. Datar tanpa ekspresi. Tak ada senyum apalagi ucapan sayang baginya. Istri yang penuh pengabdian ini. Bahkan sentuhan lelaki yang didambanya setiap malam itu sudah tiga bulan yang lalu dirasanya terakhir kali.
Ditatapnya jendela atas di lantai dua rumah megah itu. Jendela tempat sang permaisuri hatinya tengah tergolek lemah tak berdaya. Hanya dia, perempuan renta di dalam kamar itu, yang mampu membuatnya bertahan. Dia lebih dari sekedar permaisuri. Dia adalah sosok ibu yang selalu dirindunya sejak kakinya bisa melangkah. Dia adalah sosok perempuan kuat yang dikaguminya dan ingin menjadi sepertinya selama dia ingat punya cita-cita dalam hidupnya.
Ibu mertuanya yang sangat disayangnya itu. Yang sudah sangat berjasa mengangkatnya dari kemiskinan dan kesendirian tanpa keluarga yang mengasihinya. Tempat dia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya. Pada perempuan tua itu dan anak lelaki semata wayang yang dicintainya sepenuh hati itu.
Rumi tahu benar ibu adalah segalanya bagi Satrio. Tak ada yang mampu membuat Satrio mengecewakan ibu. Termasuk menolak keinginan ibu untuk menikahkan dia dengan Rumi. Walaupun penolakan demi penolakan selalu diujarkan pada ibu selama tiga bulan sejak wacana itu diangkat ibu, Satrio tetaplah anak laki-laki yang begitu menghormati dan menyayangi ibunya. Tak ada yang mampu membuatnya menolak keinginan ibu.
Rumi tahu dia bukanlah perempuan impian untuk Satrio. Perempuan dusun, seorang perawat. Tak beribu dan berbapak sejak kecil. Tak tahu di mana kampung halamannya sesungguhnya. Hanya pamannya almarhum dan bibinya, orang tua yang dikenalnya seumur hidupnya selama ini. Kini bibi ikut menumpang hidup dengan mereka. Menempati sebuah kamar kecil di bagian belakang rumah itu, bersama dengan para pembantu dan sopir keluarga. Bibinya yang selalu merasa sangat beruntung akan pernikahan Rumi dan Satrio.
Entah bagaimana nasib bibi sepeninggal paman jika Rumi tidak memboyongnya ke rumah itu. Siapa yang akan mengurusnya. Penyakit tua yang sama seperti ibu memerlukan orang lain di sampingnya untuk merawatnya.
“Kamu beruntung, nak. Jangan kecewakan ibumu. Turuti segala ucapannya. Hanya itu pesanku,” ucap bibi padanya di hari pernikahannya.
Rumi hanya dapat mengangguk takzim di depan dipan tempat bibi tergolek. Harapannya hanya satu saat itu. Diijinkan untuk membawa serta bibi ke rumah mereka. Agar dia bisa ikut merawatnya. Ibu dengan sangat bermurah hati memberikan ijinnya. Walaupun bibi diletakkan di kamar pembantu, namun bibi mendapat perawatan yang baik. Setiap dia jatuh sakit, Pak Diman, sopir mereka akan segera mengantarnya ke Puskesmas di sebelah kelurahan. Makanan bibi terjamin. Sama dengan yang dimakan para pelayan di rumah ini. Obat-obatan secukupnya dan seperlunya selalu ada untuknya kala ia jatuh sakit.
Sungguh tak pantas mengeluh atas segala keberuntungan ini. Kehidupannya dan bibi benar-benar berubah drastis menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Andai saja mereka menikah sebelum paman berpulang. Sedikit penyesalan masuk ke dalam hatinya saat itu. Mungkin paman masih hidup sampai saat ini. Bukankah paman tak dapat diselamatkan karena lamanya pihak rumah sakit menanggulangi serangan jantungnya saat itu? Menunggu siapa yang akan bertanggungjawab atas segala biaya yang nantinya harus dibayarkan.
Rumi menggelengkan kepalanya mengingat kenangan pahit itu. Sudahlah. paman sudah tiada. Yang paling penting sekarang bibi sudah tidak perlu khawatir lagi akan segala hal tentang segala kekurangan mereka itu. Bibi pantas mendapatkan kebahagiaan di ujung umurnya itu. Selama ini dia begitu berjasa merawat Rumi. Menyekolahkannya walaupun tersendat. Sampai akhirnya Rumi bisa bekerja di Rumah Sakit Internasional itu. Dan akhirnya bertemu dengan ibu dan Satrio. Baginya ini semua adalah takdir.
Rumi yakin suatu saat hati Satrio akan luluh. Luluh dengan segala kepasrahan yang diperlihatkannya selama ini. Luluh akan segala cinta tak berbalas yang selalu dicurahkannya selama ini. Luluh akan segala yang dilakukannya untuk merawat ibunya. Luluh karena seringnya mereka bertemu selama ini. Walaupun Rumi yakin hati Satrio tak akan luluh karena cinta. Hanya itu yang tak ada di dirinya untuk Rumi selama ini. Dan Rumi menerimanya. Tak mengapa. Sungguh tak pantas dirinya mengeluh.
BERSAMBUNG