Thursday, May 26, 2011

Sang Penderas Nira

Yanna tergolek diam di atas amben di emperan rumah Tono. Wajahnya yang separuh tertutup topi sedikit berkilat karena keringat. Matanya yang tersembunyi dalam bayangan topi memandang jauh ke atas, menembus kerimbunan dedaunan kelapa, ke langit luas.

Sekelebatan terbayang tubuh Tono memanjat salah satu pohon kelapa itu. Kaki-kakinya yang panjang, lencir dan kuat membelit batang kelapa untuk menopang tubuhnya, kedua tangannya yang kokoh menggapai batang di atas kepalanya. Seluruh otot di punggungnya meregang. Sementara matahari menjilati tubuhnya dengan rakus hingga kulit coklat lelaki itu basah oleh berkeringat.
Yanna mengatupkan matanya dan menghembuskan nafas untuk menekan rasa rindunya kuat-kuat. Pelan-pelan ia bangkit dan duduk di ujung amben kayu. Amben yang sama tempat Tono dan Yanna dulu, tiga tahun lalu, sering menghabiskan sore bersama sambil minum teh dan makan kue apem buatan Mak Jirah.

“Nak Yanna, diminum dulu tehnya,” suara Mak Jirah, ibu Tono, mengembalikan Yanna dari buaian lamunan ke emperan rumah desa itu.
Yanna mengucapkan terima kasih dengan senyumnya. Diterimanya cangkir tembikar dari tangan Mak Jirah.
“Apemnya….” Mak Jirah menyodorkan sepiring penuh apem bertabur parutan kelapa dan gula jawa. Perempuan tua itu memandangi saja saat si gadis kota itu menyeruput pelan teh jahe seduhannya.
“Sebentar lagi mereka datang, Nak Yanna. Makan dulu apemnya. Di sini masih sama, orang-orang tidak pakai jam, kalau datang ya datang saja.” Kata Mak Jirah sambil melangkah ke dalam rumah.

Yanna meletakkan cangkirnya. Tangannya terjulur ke atas piring penuh apem, tapi tidak mengambilnya, hanya mencolek taburan parutan gula jawa dan kemudian menjilatinya. Manis. Semanis kenangannya akan Tono yang kini, mungkin, telah di surga.

Dengan tangan kirinya Yanna meraih ransel yang tergeletak di atas amben. Satu-satu isinya ia keluarkan. Dua bundelan besar tali berwarna biru putih, karena kusam putihnya berubah jadi abu-abu. Lima buah karabiner. Dua buah harness. Dua buah helm warna biru dan merah. Tiga buah ascender. Dan beberapa perlengkapan lain yang setia menemaninya setiap kali Yanna memanjat tebing bersama teman-temannya.

“Mbak Yanna…” tiba-tiba serombongan orang menyapanya secara bersamaan. Yanna mendongak dan dilihatnya sekitar sebelas pemuda mendatanginya.

Yanna tertawa menyambut mereka dan menyalami tangan para pemuda itu, mencoba mengingat-ingat dan menyebutkan nama mereka satu per satu. Para pemuda itu bertukar kabar dan cerita sambil menunggu dua orang teman Yanna yang sedang menuju ke lokasi.

Yanna dan dua temannya akan melatih para pemuda penderas nira ini memanjat pohon kelapa dengan memakai peralatan panjat tebing yang standar.

“Kalian harus melindungi diri agar terhindar dari kecelakaan fatal. Jangan gara-gara kalian enggan menggunakan alat bantu yang bisa melindungi jiwa, keluarga kalian jadi kehilangan anak lelaki, ayah atau suami. Kalian ini penopang hidup mereka.” Begitu kata-kata pembuka yang disampaikan Yanna.

“Dua tahun terakhir, dari desa ini saja ada tujuh orang yang jatuh dan meninggal, Mbak. Salah satunya, yaaaaa… Mas Tono.” Suara salah satu pemuda penderas nira itu menjadi pelan ketika menyebut nama Tono.

“Kita sering meletakkan keberanian dan rasa bangga di tempat yang salah. Bangga kalau bisa manjat pohon kelapa tanpa pelindung. Berani nentang maut begitu saja, meskipun tahu kalau maut bener-bener menerkam, jiwa kita melayang sia-sia. Saya berharap kita mau belajar…” Yanna menundukkan kepala. Menyembunyikan perasaannya sambil pura-pura mengatur berbagai peralatan yang dibawanya.

Sebagai penderas nira, dulu, Tono dua kali sehari, tiap pagi dan sore, memanjat tak kurang dari 50 pohon kelapa demi menderas 25 liter nira. Air manis bunga kelapa bakal gula jawa itu harus diambil di pangkal pohon, di ketinggian 25 meter atau lebih. Nira yang telah dideras Tono diserahkan pada Mak Jirah untuk diolah menjadi gula jawa. Dengan dua tangan yang terlatih dan peralatan sederhana, empat liter nira akan diolahnya menjadi sekilo gula jawa.

Insinyur sipil yang lebih senang tinggal di desa itu pernah bekerja di sebuah kontraktor di Jakarta. Tapi lelaki itu tidak kuat menahan siksa akibat luka batin yang terus menerus diderita setiap kali ia diberi mandat oleh sang boss untuk menyogok sana-sini demi proyek-proyek baru. Setelah lima tahun bekerja, Tono memutuskan untuk pulang ke desa dan menggantikan bapaknya yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk menderas nira.

Ayah Tono salah satu orang terkaya di desa yang terletak di sebelah barat Kota Jogja itu. Pohon kelapa, mangga dan rambutan merimbuni tanahnya yang terbentang dari belakang balai desa hingga ke tepi Kali Progo. Belum sawah dan ladang jagung yang dimiliki emaknya. Juga belasan sapi yang lethongnya diolah menjadi biogas. Dengan keahliannya Tono menyalurkan gas bio itu ke dapur emaknya, sehingga ia tak perlu membeli gas untuk menyalakan kompor. Meskipun kaya, mereka selalu mengerjakan sendiri semuanya dan hanya menyuruh orang bila mereka kehabisan tenaga untuk menggerakkan dua tangan dan kaki.

Yanna bertemu Tono ketika gadis itu menjalani KKN di desa tempat Tono dan emaknya tinggal. Desa para penderas nira. Desa yang sebagian besar penduduknya hidup dari membuat dan menjual gula jawa.

Yanna terpikat oleh ketampanan alamiah Tono yang memukau hatinya ketika mereka pertama berjumpa. Waktu itu Yanna sedang memotret beberapa lokasi di desa yang akan dipakai untuk membuat lapangan voli. Lensa kameranya menangkap sesosok tubuh tinggi, langsing dan kokoh yang hanya terbalut celana hitam sebatas lutut. Di tangannya ada tiga bumbung, wadah nira. Kulit coklatnya yang berkeringat tampak bercahaya tertimpa sinar keemasan matahari sore. Yanna terpaku di tanah tempat ia berdiri, tersihir oleh pesona yang terpancar dari tubuh sempurna yang melangkah mendatanginya.

“Mbak? Mahasiswa KKN ya? Mau cari siapa?” Tanya Tono waktu itu sambil menenteng tiga buah bumbung nira.

Yanna menurunkan topinya untuk menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba merona. “Saya cuma mau memotret sekitar sini saja. Saya Yanna,” dengan wajah setengah tertutup topi Yanna mengulurkan tangan.

“Saya Tono,” lelaki itu cepat-cepat meletakkan bumbung-bumbungnya ke tanah, membersihkan telapak tangannya dengan handuk kecil yang terselip di tali yang melingkari pinggangnya, lalu menyambut uluran tangan Yanna.

Sejak perkenalan yang tak disengaja itu, mereka jadi sering bertemu, karena Tono salah satu tokoh desa yang dekat dengan para pemuda. Selain itu, hobi Yanna memanjat tebing mempercepat terjalinnya pertemanan antara dua jiwa yang sama-sama gemar menentang bahaya itu.

Sebagai pemanjat tebing, sambil mengerjakan tugas-tugas KKN, berkali-kali Yanna menawari Tono untuk belajar memanjat pohon kelapa dengan memakai alat pengaman yang standar. Yanna meminta agar Tono tidak harus mempertaruhkan nyawa setiap kali ia menyadap nira. Namun Tono selalu menolaknya.

“Aku anak penderes kelapa. Aku lahir di bawah pohon kelapa. Aku tumbuh dengan kelapa dan gula jawa. Bapakku penguasa kebun kelapa di desa ini. Ia laki-laki tergagah yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Dan aku mewarisi semuanya,” kata Tono suatu sore ketika mereka tengah menikmati sepoci teh jahe dan sepiring apem.

“Kamu sudah punya semuanya, Tono. Aku tahu itu. Tubuhmu jauh lebih kuat dari semua pemanjat tebing yang pernah kukenal. Tapi kamu tidak bisa mengabaikan keselamatanmu,” Yanna menyanggah dengan halus. “Pendidikanmu memberi banyak kesempatan kalau saja kamu bosan menjadi penderes. Tapi bagaimana dengan pemuda desa lainnya? Yang melakukan pekerjaan ini karena tidak ada pilihan lain?” gadis itu mencoba mengingatkan Tono.

Ayah Tono dulunya seorang penderas nira tradisional yang memanjat pohon kelapa tanpa bantuan alat apapun. Bekalnya hanya pengalaman, kekuatan fisik dan keberanian. Bahkan ia tak pernah memakai alas kaki. Dengan cara itu, ayah Tono memanjat puluhan pohon kelapa setiap hari dengan beberapa bumbung terkait pada seutas tambang yang dililitkan di pinggang.

“Aku anak bapakku, Yanna. Aku akan mati di atas amben seperti bapakku juga. Aku tidak akan mati terjatuh dari pohon kelapa,” ujar Tono yakin akan ketrampilannya.

***

“Mbak Yanna. Mereka datang.” Suara seorang penderas menyadarkan Yanna dari buaian masa lalunya. Dua temannya terlihat berboncengan sepeda motor memasuki pekarangan luas Mak Jirah.

“Tolong bawa perlengkapan ini. Semuanya.” Yanna meminta salah satu penderas untuk mengangkat ransel besarnya.

“Kita berkumpul di sana.” Yanna menunjuk tempat yang sejak tadi dipandanginya. Tempat yang cukup lapang di bawah naungan belasan pohon kelapa. Tempat Yanna melihat Tono untuk pertama kalinya, di suatu sore, tiga tahun yang lalu.

Yanna meraih poci dan menuangkan teh jahe sekali lagi ke cangkirnya. Dengan sekali teguk isi cangkir habis diminumnya. Tetesan teh yang membasahi dagu ia hapus dengan lengan baju. Ada banyak hal yang ingin dan bisa ia kerjakan hari ini. Jiwa Yanna yang senantiasa rindu akan bahaya tak mau lama-lama terkurung dalam penjara masa lalu, meskipun ia tak ingin menghapus Tono dari hatinya.

Kalau saja lelaki sarjana teknik sipil yang menjadi penderas nira itu mau mendengarkanku, mungkin kini aku telah menjadi istri penderas nira yang sesekali ikut memanjat kelapa. Pikiran yang melintas di benak itu mengukir senyum di bibir Yanna. Senyumnya makin lebar membayangkan beberapa bumbung terkait di sekeliling pinggangnya.

Dengan langkah panjang ia menghampiri dua temannya yang tampak siap menjalankan misi mereka.

***