Thursday, June 30, 2011

Penutupan Bulan Puisi di Bulan Juni Kampung Fiksi

Seperti setiap tulisan yang dimulai dengan satu huruf, lalu satu kalimat dan paragraf-paragraf lalu berakhir dengan tanda titik penghabisan, maka Bulan Puisi di Bulan Juni Kampung Fiksi pun sampai ke lembaran yang terakhir. 

TERIMA KASIH yang semaha-mahanya, kami haturkan kepada setiap pengirim puisi yang bersemangat, baik hati dan tentunya rupawan. Syair-syair kalian telah menghujani bulan Juni di kampung kami dengan badai diksi dan rinai rima yang dahsyat!

Selanjutnya, karya-karya yang telah anda kirimkan akan kami bukukan, meski karena kesetaraan, kami hanya akan memuat satu tulisan dari setiap penulis yang telah meramaikan bulan puisi Juni ini. Buku yang akan diterbitkan nantinya dapat dipesan secara online. 

Kami, para editor yang manis dan cantik jelita ini, akan bekerja keras memilih puisi anda yang terbaik. Nantikan keterangan selanjutnya yang akan kami update di kampung kami.

Teruslah menari bersama diksi dan puisi. Mari menulis, untuk diri, semesta dan negeri ini.




Wednesday, June 29, 2011

Obituari Jalang #10 (Tamat)

''Ibu kritis, Mas...'' Suaranya terdengar pilu di ujung handphone.
Satrio baru saja menginjakkan kakinya di bandara Minangkabau. Tidak diharapkannya kabar itu yang akan menantinya begitu kakinya sampai di darat.
Termenung dan meragu. Dia diam terpaku tegak. Apa yang harus dilakukannya kini? Kembali ke Jakarta? Sedangkan hatinya begitu yakin kalau dia akan menemukan perempuan itu di kota ini.
Setelah lama berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menginap satu malam. Besok pagi-pagi sekali dia akan kembali.
''Aku pulang besok pagi. Tolong jaga Ibu,'' katanya.
''Aku selalu menjaganya sepenuh hatiku, Mas. Jangan khawatir,'' jawab Rumi.
Satrio kembali terdiam mendengarnya. Selalu dengan hati. Semua yang dilakukannya selalu dengan hatinya. Mungkin itu yang membuat Ibu jatuh cinta kepadanya. Dia begitu baik. Begitu lembut. Begitu bersahaja. Dan di atas segalanya, dia begitu tulus.

Mendadak Satrio dilanda keraguan yang luar biasa. Apakah ini sebuah kebodohan? Meninggalkan begitu besarnya cinta di sana demi sesuatu yang tak nampak. Hanya mengejar rasa penasarannya saja dan dia rela menukarnya dengan sebuah hati penuh cinta? Satrio bimbang. Hari sudah menjelang senja. Cepat-cepat dia berjalan menjauh dari pintu bandara dan memanggil sebuah taksi gelap. Pantai Padang. Itu tujuannya. Entah mengapa dia begitu yakin kalau perempuan itu ada di sana saat ini. Dia sempat membaca tulisan terakhirnya tadi pagi. Si Jalang akan melaksanakannya sore ini.
Taksi itu menyusuri pinggir pantai sampai ke bagian paling ujung yang sepi. Beberapa batu karang tampak menyembul dari deburan ombak sore. Satrio menghentikan taksi itu dan bergegas turun. Setengah berlari dia menuju ke arah batu karang besar di depannya. Tidak tampak apa-apa dari tempatnya sekarang. Sepertinya ia harus memanjat karang itu untuk dapat melihat jelas ada apa di atasnya.
Matahari sore perlahan meleleh tersentuh garis di ujung laut itu. Jingga tampak mulai pecah berpendar mengikuti ombak di dekatnya.
Satrio memanjat dan sampai di atas.
Perempuan itu di sana. Bergaun hitam dan bersepatu tinggi. Sinar oranye menerpa kulit putihnya. Satrio terpana. Setengah tak percaya akhirnya dia menemukan perempuan itu.
Dia tak berani mengeluarkan suara. Seakan takut perempuan itu akan terkejut dengan kehadirannya dan memutuskan untuk melompat lebih cepat.
Tak disangkanya, perempuan itu membalikkan badan perlahan dan tersenyum, seperti tahu kalau Satrio ada di sana. Dia seperti bidadari tak bersayap yang siap terbang dengan kibaran gaunnya yang tertiup angin itu.
''Jangan kau teruskan. Berhentilah di sana,'' ujarnya setengah berteriak. Berusaha mengalahkan deru angin laut yang makin keras berhembus.
Satrio berhenti di tempatnya.
''Satria Piningit. Kamu benar-benar datang. Selamat menyaksikan kematianku. Hadapi kenyataan kalau ternyata bukan aku yang harus kau selamatkan, tapi hatimu,'' katanya masih dengan senyum.
Satrio masih belum mampu berkata-kata. Lidahnya kelu, bibirnya terkunci dan kedua matanya terpaku pada sosok itu. Dia tampak begitu ringkih, tapi seperti ada lidah api berkibaran di sekujur tubuhnya. Kemarahannya pada hidup tampak jelas dari pancaran matanya.
''Jangan kau teruskan. Kumohon. Siapapun dirimu, kamu berhak untuk hidup. Aku akan menolongmu. Lihatlah, aku sudah sampai di sini, seperti yang pernah kukatakan padamu, bukan?'' Satrio berkata dengan penuh kecemasan.
''Aku berhak untuk hidup dan mati, Satria! Aku tidak perlu kau tolong. Tolonglah dirimu sendiri. Temukan cintamu yang sebenarnya, sepertinya itu yang membuatmu gundah sampai kau harus datang mencariku ke sini,'' ucapnya lantang.
Cepat perempuan itu berbalik dan merentangkan tangannya. Memasrahkan seluruh tubuh kurusnya itu kepada gravitasi bumi di bawahnya. Serta merta tubuhnya melayang seperti seekor camar yang menukik tajam menuju mangsanya di laut biru.
''Jalaaaang!'' Satrio hanya mampu meneriakkan nama itu.
oooOOOooo
Rumi dan Satrio beranjak perlahan dari depan pusara itu. Makam Ibu tampak agak kering setelah hampir setahun mereka tidak nyekar. Rumput-rumput liar telah habis mereka cabuti sesaat setelah mereka tiba di sana. Setidaknya sekarang pusara itu tampak sedikit terawat.
Bergandengan tangan mereka berjalan menuju gerbang pemakaman itu. Rumi dengan perut besarnya itu bergelayut manja di tangan Satrio. Satrio dengan penuh kasih merangkul pundaknya. Teduh bayang-banyang pohon kamboja sepanjang tepian area pemakaman itu memayungi langkah mereka.
Rumi tak henti-hentinya bersyukur atas segala kenikmatan yang didapatnya. Suami yang mencintainya dan jabang bayi yang sebentar lagi akan menemani hari-hari mereka. Ibu benar-benar sangat berjasa. Bahkan kepergiannya setahun yang lalu itu pun membawa berkah bagi pernikahan mereka. Rumi percaya sepenuh hati, kepergian Ibulah yang akhirnya meluluhkan hati Satrio.
Tiba-tiba saja Satrio datang saat Ibu kritis dan memeluknya dengan penuh cinta. Sebuah kata maaf dan segaris air mata di kedua pipinya untuk Rumi. Hanya itu. Namun sudah cukup bagi Rumi untuk segera tahu kalau Satrio kembali untuk dirinya. Penantiannya terbayar. Cintanya terbalas. Entah benar atau tidak prasangkanya, namun hati kecilnya mengatakan kalau keadaan Ibu saat itu yang menyadarkan suaminya pada akhirnya.
Satrio tak henti-hentinya mensyukuri keputusannya untuk datang menemui perempuan itu. Perempuan yang telah menyadarkannya akan arti cinta dalam hidupnya. Perempuan yang tak punya setitikpun cinta untuk siapapun itu telah mengantarnya kembali kepada Rumi, istri yang begitu mencintainya selama ini.
Jalang itu berhasil membuatnya terpekur mengingat Rumi sedetik setelah dia melompat ke tengah arus laut dan bongkahan batu karang di bawahnya itu. Jalang itu menyuruhnya untuk menemukan cinta yang sebenarnya. Dan kini cinta itu ada dalam dekapannya. Betapa bodoh dirinya selama ini karena menyia-nyiakan putih cinta Rumi padanya. Namun Satrio yakin sekali, Jalang itu memang dikirim Tuhan untuk menunjukkan jalannya menemui cinta Rumi.
oooOOOooo
1 komentar
SP mengatakan…
Jalang, maafkan aku karena membiarkanmu pergi. Kamu begitu keras kepala. Tak ada yang dapat merubah pikiranmu. Harusnya kamu tahu kalau kamu begitu kuat. Bahkan di penghujung hidupmu, kamu mampu membuka mataku pada akhirnya. Kamu bisa membuatku menemukan jalanku saat semuanya tampak buntu bagiku. Harusnya kamu sadar itu. Kamu adalah perempuan yang sangat kuat. Tak seharusnya kamu pergi dengan cara seperti ini.
Bahkan pada saat polisi mengangkatmu dari lautan luas itu, aku masih bisa melihat wajah cantikmu yang penuh tekad. Sungguh keras kepala. Tak sia-sia aku mencarimu dan sempat menjumpaimu. Kamu sangat berjasa dalam hidupku.
Bahkan namamu pun aku tak tahu. Namun begitu besar pengaruhmu atas diriku.
Selamat jalan, Jalang. Terima kasih.
Namaku Satrio Putranto.

TAMAT

Bahagia, saat cerbung ini tamat, blog Kampung Fiksi juga menyempurnakan transformasinya menjadi www.kampungfiksi.com :D. Thank you all, for always coming to this humble blog. We just want to share happiness with you through words and imaginations. Cheers!

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo

Episode 9: Priyo Pamit (2)

Iroh bangun karena mendengar suara seseorang klithak-klithik di dapur. Pasti Eyang, pikirnya. Rasa sedih akibat tak akan bisa lagi bertemu Priyo membuatnya sulit tidur. Matanya masih terasa berat namun ia paksakan untuk bangkit, melipat selimut dan membenahi tempat tidur. Dalam kesedihannya, hatinya masih mengucap syukur karena tiga majikannya baik pada dirinya. Meskipun ia terlambat bangun, tidak ada yang memarahinya.

Iroh keluar kamar, melangkah nyaris tanpa suara menuju kamar mandi belakang. Sambil berwudlu, ia berdoa agar rasa sedih di hatinya terbasuh bersama air yang membersihkan bekas-bekas air mata di wajahnya.
Iroh sadar, bagi Priyo dirinya bukan siapa-siapa, hanya seorang pembantu rumah tangga yang kebetulan bekerja pada keluarga yang ia kenal dengan baik.

Puisi Pagi dan Dasi

Percakapan-percakapan kita adalah puisi yang
menghelai serupa kelahiran larik matahari
dan lembar-lembar dasi sebagai simpul.
Kekasih, demikianlah hari selalu terbit dari
rona pipimu, menaiki degup debar perjalanan
ini. Seperti masa yang kita simpan dalam bulir-bulir pundi
menjadi mimpi sementara jemari kita menghitung
cinta yang masih bertubi-tubi.

Hanya Untukmu, Teman2 Seperjalananku

Gambar diambil dari CLA
Dalam Rindu kita bertemu
Bertegur sapa tanpa bertatap muka
Di Kampung Fiksi petualangan dimulai
Melebur kata menjadi jalinan cerita

Hantaran tawa dan canda mengiringi tiap langkah
Walau kadang mencuat perbedaan isi kepala
Tak dapat kupungkiri kalian telah membuatku betah
Selalu ingin mengintip gua tanpa pernah alpa

Tuesday, June 28, 2011

Will you...?

I always sit there in that same room
Day after day...
Though I am surrounded by others
Someone who poke me suddenly
Someone who just took whatever I am holding in my arm
Someone who stroke my hair
Someone who gave me hugs
But I always feel alone

Puisi Dita Teguh Gumelar

Kencan dimeja makan yang dihiasi karangan bunga diatasnya, dan menghidangkan roman picisan
oleh Last Coccaine Dark Poetry pada 11 Maret 2011 jam 14:07

/1/

Sayang, inilah pada kenyataanya. Kedadamu, seperti direstoran kelewat mewah. Deretan meja – meja makan yang dihiasi karangan bunga diatasnya tertata rapih, memenuhi ruang yang dibiasi temaram, menantiku singgah dengan dugaan-dugaan; Tamutamu yang pernah hadir disini, tentunya bukan untuk menghindar dari kematian dilahap lapar, mereka pasti datang membawa gengsi dan kepentingan lain, sebab apa yang ada dalam daftar menumu hanya sebuah jamuan dan prestisi.

Puisi-puisi Indra Wisudha (4)

Cinta Laura

Masa muda berpaling dari wajahmu. Bukankah begitu, Cinta?
Kosmetik diam-diam membungkus wajah cantik
ke pasar barang antik bersama penyiram tanaman, perosotan,
dan sungai di dekat rumahmu dulu.

Monday, June 27, 2011

Obituari Jalang #9

Sudah sampai dimana kamu, Jalang? Tanyanya dalam hati. Pikirannya tak pernah lepas dari tulisan-tulisan perempuan itu. Keinginannya untuk bertemu makin menggebu. Dia begitu penasaran.

Dokter Purnomo masuk ke dalam ruangan itu dan bercakap-cakap tentang kondisi Ibu. Tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan menurut dokter itu. Ibu hanya perlu beristirahat, seperti biasa. Lega hatinya. Dia merasa mendapat lambaian bendera hijau atas niatnya yang masih di angan-angan.

Ya, Satrio sudah memutuskan akan berangkat ke kota Padang. Entah besok atau lusa. Dia sudah bertekad akan mencari perempuan itu sampai dapat. Dia hanya berharap masih sempat bercakap-cakap dengannya. Berharap perempuan itu mau membagi kisahnya. Kisah hidupnya yang telah membuat Satrio susah tidur belakangan ini.

Satrio ingin sekali mendapatkan jawaban mengapa dirinya bisa begitu tertarik pada perempuan itu. Hanya kata-katanya selama ini yang membiusnya. Seperti apakah wujudnya? Tak ada satu foto pun dalam blog itu. Bahkan alamat surat elektroniknya pun memakai nama Jalang. Sungguh perempuan unik, pikirnya dalam hati. Perempuan unik yang pemarah, tambahnya.

Ibu tampak bergerak pelan, tanda ia terjaga. Satrio segera mendekatinya. Dilihatnya wajah tua Ibu yang begitu pucat. Ibu tersenyum lemah ketika melihat putra semata wayangnya itu ada di sampingnya.

''Mana istrimu?'' tanyanya.
''Pulang, bu. Sebentar lagi dia akan kembali,'' jawab Satrio sambil memegang tangan Ibu.
Ibu tampak menarik nafas berat. Dipandangnya langit-langit kamar itu.
''Kalau ibu meninggal, jangan kamu ceraikan dia, Satrio,'' kata Ibu tanpa melihat wajah anaknya itu.

Satrio tersentak mendengar ucapan Ibu. Tak disangkanya Ibu akan berkata seperti itu di saat seperti ini. Ibu tidak pernah membahas hal ini selama pernikahan mereka. Ibu tampaknya sudah faham kalau Satrio bersedia menikahi Rumi adalah hanya untuk membahagiakannya.

''Ibu bicara apa? Jangan ngomong seperti itu. Ibu belum akan meninggal. Dokter Purnomo baru dari sini dan mengatakan kalau ibu baik-baik saja,'' ujarnya sambil menenangkan degup jantungnya yang tidak karuan itu.
Ibu tersenyum dan memandangnya. Tangannya terulur ke pipi Satrio. Perlahan dielusnya pipi itu dengan penuh perasaan.

''Ibu pasti akan pergi. Jangan tinggalkan dia kalau ibu pergi lebih dahulu,'' kata Ibu seolah tak mendengar kata-kata Satrio barusan.

''Dia sangat mencintaimu. Dia rela tidak kamu cintai seumur hidupmu, asalkan dia bisa terus mencintaimu. Tak ada perempuan sekuat itu, Satrio. Bahkan Rumi sekalipun. Kalau saatnya tiba, biarlah dia yang meninggalkanmu. Agar terbayar semua sakit hatinya karena tak mendapatkan cintamu. Maafkan ibu, nak. Mungkin ini salah ibu, tapi ibu tetap merasa kalau Rumi adalah jodohmu,'' kata Ibu dengan nafas mulai tersengal akibat kalimat panjangnya itu.

Satrio hanya diam. Dilihatnya nafas Ibu mulai memburu. Cepat-cepat dipasangnya selang oksigen Ibu ke hidungnya. Ibu kembali memejamkan matanya. Satrio berjalan menuju jendela kamar itu. Langit jingga menantangnya. Matahari nyaris terbenam di ufuk barat. Dipandangnya langit Jakarta sore itu. Sebuah pesawat tampak terbang perlahan. Terbang menuju matahari tenggelam itu. Tiba-tiba Satrio merasa seperti ada sengatan listrik mengejutkan sekujur tubuhnya. Dia merasa dia harus pergi ke arah barat juga seperti pesawat itu. Ke arah yang dituju perempuan yang telah membuatnya penasaran itu.

oooOOOooo

Aku sudah sampai di barat. Paling tidak ini adalah barat yang bisa kucapai. Bukankah sudah kukatakan kalau kuteruskan perjalanan ini aku akan sampai di timur juga akhirnya? Bumi itu bulat bukan?

Sejak awal memang kemarilah tujuanku. Ini tempat tumpah darah Ibuku. Maka disini juga akan kutumpahkan darahku. Bukan aku menghargainya sebagai ibuku. Aku hanya melihatnya sebagai sebuah kebetulan yang bagus bagi kematianku. Ketika aku memutuskan pergi menemui matahari tenggelam di barat, ternyata aku dihadapkan pada tanah kelahiran ibuku. Kebetulan saja.

Hari ini terlanjur gelap. Matahari sudah kadung tenggelam meninggalkanku. Tak mengapa. Dia tak pernah ingkar untuk kembali lagi esok hari. Akan kususul dia besok sore. Malam ini adalah malam terakhirku bersama bulan dan bintang. Tak ada yang istimewa. Aku masih terpuruk di pojok warnet kumuh ini. Penuh asap rokok dan pengap. Tak ada yang harus kunikmati sebelum aku menjemput ajalku. Toh memang tak ada yang terasa nikmat di dunia ini olehku. Semua pahit.

Aku tak punya pesan terakhir. Walaupun aku punya seorang anak di tangan orang-orang yang kutinggalkan itu, rasanya tak perlu aku berpesan kepadanya. Cukuplah aku membuatnya menderita dengan mendatangkannya ke dunia keji ini. Itu sudah merupakan kutukan baginya. Tak perlu dia tahu kalau ibunya hanya seorang pelacur yang mati bunuh diri.

Wahai matahariku....
Aku datang kepadamu...
Aku akan ikut bersamamu esok senja...
Tunggu aku...
Kita akan menari bersama...
Sampai gelombang menyapu habis jasadku...
Ketika pagi tiba nanti...
Sampaikan pada dunia...
Satu pelacur telah hilang dari muka bumi...
Dan mereka patut bersyukur untuk itu...

BERSAMBUNG

Puisi Dudi Irawan (4)

Rinduku di Ujung Nafasku

Ringkih
Terlahirku menunggu mati

Puisi-Puisi Ahmed Tsar

Lima Penari

1#

Engkaulah gelombang.

Nyanyikan tembang.

Dawai-dawai pun ikut meregang,

alunkan harmoni perlambang.

Halusinasi pun berdendang.

Rahasia menghias pupurmu,

auranya semerbak mata beribu.

Hukah-hukah, mereka mencibir merdu,

awadara beranak madu.

Romantika, kau sangka semua itu,

diatonis riak kala sendu.

Jemari dasa titah ibu,

operamu kawal waktu.

2#

Wahahahaha,

indahnya derai tawa,

Nyanyikan tambo jenaka.

Dongengkan parodi bunda,

amboi, rancak bak seikat ikebana..

Kepala berjuta rasa.

Redam berjuta aksara.

Inilah hikmah berguna,

saling asuh, saling jaga,

nyalakan bara keluarga.

Ananda bermata tiara,

Dabik pitanggang halimunan mantra.

Enyahkan derita.

Fadhil dan Safana,

Awalnya bunda dan uda bersama ruang maya.

3#

Srikandi ibukota.

Aksara, panahnya.

Rima, gaunnya.

Ibarat teratai, mempesona.

Nun jauh di sana, para perjaka

oborkan api asmaraloka.

“Vide, apakah mereka pendusta?”

Ia mawar, tak sembarang serangga

takluk pada durinya.

Amor dewa pun, tak sudi diterima.

4#

Diantara delapan,

engkaulah kuncup krisan.

Afinitas hadirmu, tak sekedar ajudan.

Seakan reinkarnasi kunjungimu dihadapan.

“Ya ba ya ba doo,” ucapmu ketika tahu mereka sekawanan.
Mendoan, cita rasa kotamu,

aroma hangat kedelai berkelambu,

renyah, bagai engkau gemuyu.

Impianmu cuma satu,

ayah anakmu panggil bidadari paling ayu.

5#

Galau itu datang,

es magnum jadi penenang.

Selatan jakarta.

Ibukota, bagimu penuh tawa.

“Ab ra ka da bra,

ha le lu ya,”

aktor aktor palsu beropera.

Yakinkanmu, itu semua,

apalah arti bersandiwara.

Puisi-Puisi Dianingsih

hening malam ini
dan bayangannya melintas lagi
rapuhkan jiwa
sendatkan hasrat
tanganku meraih
mencoba gapai
bayangan semu...
~23:50/07.06.02~

Lelaki yang Menunggu Pagi

Oleh: Endah Raharjo

Dengan cangkul di tangan dan caping tergantung di punggung, lelaki itu menunggu kedatangan Sang Pagi yang tersesat di rimba beton dan belantara baja yang makin lebat dan makin tinggi.

“Kemana pagiku pergi?” keluhnya, menyandarkan cangkul yang berkarat, di antara deretan jendela kaca yang berkilat.
Suaranya parau, memantulkan senyap di tengah kepulan asap pengap.

“Akan kucari lagi engkau esok hari,” bisiknya lesu, di sela mesin bulldozer yang menderu.
Lelaki itu mengendap, berharap Sang Pagi hanya berembunyi di balik punggung Ratu Malam yang gelap.
Namun harap tak jua terjawab, meski doa tak henti terucap.

Hari ini, lelaki itu muncul lagi.
Dengan cangkul di tangan dan caping tergantung di punggung, bersiap menunggu Pagi.
Entah apa yang terjadi bila Pagi tak menampakkan diri.

***

Puisi-Puisi Ari Ryan Pasalimapuluh

T K I

aku lupa itu segala ada.
segala kalbu bermain duka.

Sunday, June 26, 2011

Akankah Ia Abadi?



oleh: deasy

malam pekat dalam kubahnya
semestinya sunyi jangkring begitu syahdu
namun terasa pekak telinga
gema gulana terus melagu
saat kuberikan tanyaku pada bintang
akankah abadi berpijar disana?
mungkin nafasku membuatnya abadi
namun saat fajar menghampiri
dan pijarnya tersamar mentari
akankah dia kembali?
tetap menjadi tanya bagiku
diantara sekian makna tak terpahamkan
hingga dititik lelahku tak berjawab
biarlah
tetap menjadi misteri sang waktu
sang pencipta rindu

Puisi-puisi Hudan Studiawan (4)

Akhir Bulan Juni

di awal bulan juni
bulan masih mati

bulan juni mulai beranjak
dengan sajak
tapi
bulan belum utuh
tapi
bulan masih separuh

di tengah bulan juni
purnama datang juga

sebentar lagi bulan mati dan bulan suri
dihubungkan dengan benang-benang merah hati

lalu bulan juni kuakhiri
dengan sebait puisi.

akhir juni di kampung fiksi, 2011

Kasmarana dan Kasmarani (8)
surat cinta Rani sebelum Rana melamarnya

Rana,
luasnya lautan tak perlu kau arungi
gunung yang tinggi tak perlu kau daki
tujuh samudera tak perlu kau seberangi

Rana,
mari kita bina biduk kecil ini
cukuplah pinang aku
dengan sebait puisi.

25 Juni 2011

Kasmarana dan Kasmarani (9)
romantisma pagi

entah kenapa
kau minta dibonceng sepeda
padahal mobil telah siap dan kucuci
sejak pagi

kau merengek-rengek
pokoknya naik sepeda

huhu... ya sudahlah
meski kata-kata cinta tak pernah muncul dari bibirmu
aku selalu suka caramu merayuku.

romantisma, 26 Juni 2011

Gombal (3)

kukirimkan sebait puisi dan sekuntum bunga untukmu
aku cuma mau bilang: aku rindu padamu.

26 Juni 2011

Kasmarana dan Kasmarani (10)
cinta sabun cuci

tak banyak yang Rana ketahui
tentang sabun cuci
baju celana bujangnya selalu di-laundry

sedang Rani tak cukup memahami
tentang sabun bayi
yang ternyata tak pedih di mata ini

tapi
masih minggu ketiga
sabun cuci dan sabun bayi
cuma tinggal bungkusnya

Rana menghibur Rani:
rizki bukan matematika
jangan khawatir
separuh agama kita telah sempurna

Dia tidak tuli
apalagi buta

yakinlah masih ada sedikit uang untuk
membeli sabun cuci
sampai akhir bulan ini.

Kenangan Pagi Bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri

Oleh: Endah Raharjo

Selembar pagi tergelar rapi di atas amben kayu nangka. Sepiring jadah bakar bertabur irisan gula jawa tersaji disandingkan tiga cangkir kopi. Aroma rajangan tembakau mengintip lewat jendela yang daunnya terbuka sebelah, berebut masuk dengan langu lethong sapi.

Dari pawon terhirup wangi nasi dari bulir-bulir padi yang dipanen sendiri. Di lubang tungku percik-percik api berlompatan meninggalkan ujung kayu bakar, menyapa udara pagi. Setenggok jagung teronggok di atas pogo, sabar menunggu belaian tangan keriput mengupasi kulit-kulitnya yang masih menyisakan harum ladang.

Kembali ingin kuanyam lembaran-lembaran pagi dengan benang cinta yang dipintal Mbah Kakung dan Mbah Putri. Kembali anganku melayang menembus gapura langit kenangan, lalu hinggap di lereng gunung Sumbing. Kembali ingin kugelar pagi ‘tuk bersila di atasnya bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri.

***

Mencuri Pagi

1308884149754341474



oleh: G

-

lampu-lampu jalanan sudah redup

kaki kita sama-sama mulai melangkah

kau ke timur aku ke barat

dia ke selatan dan mereka ke utara

tapi kita sama-sama mulai dari: sini

di titik sentrum ini,

ketika pagi baru mulai menggeliat

dan malam menguap ngantuk lalu memudar

sementara pagi belum benar-benar sadar

bahwa kita hendak mencuri kemudaannya

untuk kita simpan di rumah masing-masing

sehingga kapanpun kita perlu

kita buka saja dari bungkusannya

melongok sejenak dan memperoleh sekelebat hari baru

tanpa repot-repot menunggu esok hari

tanpa perlu ketiduran memandang bulan

atau menggerutui panasnya siang.

-

maka, diam-diam kita pergi

sepakat untuk mencuri pagi.

-

2002

Friday, June 24, 2011

Puisi-Puisi Granito Ibrahim

Bulan biru

di wajahmu ada bulan
aku melihatnya di bangku taman
bulan biru lingkar pendar untaian
nada-nada lirih lantun perlahan
sebaris isak yang kau tahan

di wajahmu ada bulan purnama
bergemintang bulir air mata
sesekali jatuh lalu kuseka
luruh bersama sejumlah rasa
tentang lanjut cinta kita

di wajahmu bulan membiru
tanpa kata, hening dan gagu
meski kucoba ayu merayu
tak hilang lara pada rupamu
renda kasih kita diurai sang waktu


Menanti Pagi

sebaris gunung dan hutan jati,
angin membawa kabar pohon yang hilang
gemah dan ripah tinggal prasasti,
hingga jalak terbang di atas tanah gersang.
taman hijau berbunga melati,
harumnya kini musnah terbang melayang
sedih hati rakyat tiada terperi,
negeri ini bagai pagi tak kunjung menjelang.


Granito - Juni 2011

Hidupkanlah!

oleh: G

apa yang kamu cari di hari-hari ini?
apakah waktu sepertinya membeku dan enggan melangkah maju?

apa yang kamu lihat pada bayangmu yang menyentuh bumi
di bawah telapak kakimu?

sosok siapa yang ada di sana? apakah ia hanya rebah di atas ilalang
yang tertunduk dan tak mampu menari?

apa yang kamu rasakan di dalam tubuhmu, di dalam jiwamu?
apa yang kamu rasakan di sekujur emosimu?

pikirkan. pikirkan. pikirkan.
bangun dari tidur panjangmu yang sesosok dengan mati. hidupkanlah!

Puisi-Puisi Naim Ali (2)

Judul Satu

sebait
pada maya

terlampir dua baris derita

pena tak berkuasa
dalam kisar drama tanpa tinta.

Judul Dua

di kisah berantah, tersebut
si tuan melipat halaman
tahun-tahun rumahnya yang kering
dengan debu rebak berantakan.

dari lembar halaman nampak kibarnya giat bergetar
juga daun serta kelopak bunganya gugur lalu terbang
karena jingkat angin waktu itu merepotkan.
dan tentu si tuan kian meradang.

hanya kemudian ia batal melipat, namun
berkerah sekuat niat: saban jengkal halaman disirami
oleh ludahnya sendiri.

Judul Tiga

dibilang saja telah cukup. sekarang. atau kemudian
bilamana akhirnya berlebih akan dirasa berkecukupan.
sebab dari jauh hari dibentangkan senyum lapang.

apa peduli setan.

Empat Perempuan

Ilustrasi oleh Azam Raharjo
Episode 8: Priyo Pamit (1)


Ringan bagai burung Iroh melangkah ke ruang tengah. Wajahnya menyerupai bunga kana merah muda yang ia sirami tadi sore. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tampak begitu bahagia. Eyang baru hendak bertanya saat perempuan berkaus hijau itu tak bisa menahan ledakan di hatinya.

“Ada Mas Priyo… Ada Mas Priyo di depan…” Suara Iroh terdengar seperti senar gitar D’Addario favorit Dea, berdenting jernih.

“Oh…” hanya itu saja yang keluar dari mulut Eyang.

“Ada apa kok datang lagi, ya? Apa Nyonya minta diantar? Tapi Nyonya udah pergi, nyetir sendiri… Apa Non Dea mau pergi? Tapi tadi dia nggak bilang apa-apa sama saya…” Iroh kebingungan seolah ia yang punya kepentingan dengan Priyo. Matanya menatap Eyang minta penjelasan. Meski tak lebih besar dari sebutir pasir dan terpendam begitu dalam, di lubuk hatinya ada harapan Priyo datang lagi karena ada perlu dengan dirinya.

Puisi R-82

Juni Yang Tertinggal

Seuntai kata yang tertunda
Terlawat waktu yang dulu tersisa
Kini hanya diam meratapi
Begitu bodohnya aku waktu itu

Sesal tiada tara
Namun percuma meratapi
Kini semua telah berbeda
Aku, kamu dan dia

Waktu tak mungkin bisa kembali
Keterlambatan yang tak bisa dihindari
Biarlah semua menjadi misteri
Tak akan terbuka hingga ajal mengunjungi

Terdiam didepan jendela kaca
Rintik hujan terlihat berjatuhan
Terlihat tipis mereka tertiup angin
Menyapaku yang dingin disini

Juni ini tak sama dengan Juni yang dulu
Aku dan harap seakan spi menunggu kubur
Tak akan berkata walau hati trus berteriak
Tentang rasa, tentang mimpi dan ketulusan

Bairkan aku diam disini
Sendiri dan tak akan menunggu lagi
Disisi jendela yang setia menemani
Melihat kalian berjalan melewati

Tentang kata
Tentang rasa
Tentang rahasia
Bahwa aku masih mencintainya.

Saat Itu: Gelagah, Angsa Putih dan Kita

oleh: G

kita duduk bersisian. mengamati angsa putih diantara eulalia japonica yang menarinari.
angin hilirmudik menyerupa irama yang sama seperti waktuwaktu yang lalu.
capungcapung bergerak lincah di atas permukaan air.

punggung tanganmu menyentuh punggung tanganku, kita berdiam sejenak
jarak tidak memisahkan. waktu tidak bergerak. angin mempermainkan daundaun gugur,
air menampung satusatu. danau melarutkan bayangan.
kita dalam duduk diam, hening, tenang.

Thursday, June 23, 2011

Puisi-puisi Herlya Annisa (2)


Tentang Bunda

Lagi

Lagi
Tatapmu menusuk tajam
Menguliti setiap jengkal tubuhku
Telanjang
Lalu perlahan rekam peristiwa masa lalu berputar ulang
Menghakimi setiap jejak luka yang kutoreh
Tanpa sengaja, kuyakin begitu
Tapi kau seolah tak percaya
Kalimat demi kalimat pun meluncur deras
Kuharap itu bukan serapah
Karena pintu pintu neraka pastilah terbuka lebar untukku
Saat sumpahmu menggedor pintu Tuhan
Tolong!
Percayai aku
Satu kali saja
Aku mencintaimu dengan berjuta teramat yang berduyun panjang
Meski selalu bibir ini terkatup
Mestinya kau mampu
Menyelami kedalaman samudra hatiku
Karena aku terlahir dari rahimmu, bunda..

***

Mama, Aku Ingin Pulang

Mama,,
Aku ingin pulang
Ke masa masa dimana hanya ada mama dan aku
Ke suatu tempat yang orang lain tak pernah tahu
Lemari rahasia kita
Yang jalannya bukan ditempuh dengan kaki kaki
Tapi mestilah terbang dengan kedua sayap kita yang saling berangkulan..

Mama,,
Aku ingin pulang
Ke suatu arah yang ada dirimu di ujungnya
Mengembangkan kedua tangan sembari tersenyum hangat
Lalu berkata
"Pulanglah, mama rindu.."

Mama,,
Jika saja waktu itu aku tidak salah memilih
Mungkin luka ini tak kan pernah melukaimu
Menjatuhkanmu hingga ke dasar air matamu
Ah, mama.. Maaafkan aku..

Mama,,
Satu yang tak bisa kuucap
Sungguh aku mencintaimu
Sebagaimana kau menyayangiku
Sepanjang nafas kugenggam
Hingga tanah mengubur jasad
Lalu jiwa dihidupkan kembali
Aku mencintaimu..

Mama,,
Aku rindu
Aku ingin pulang
Sekarang juga..

***
Secangkir Teh Sesendok Gula

Secangkir teh dan sesendok gula
Tersaji bersama senja yang hampir habis
Semoga rindu tak berkesudahan
Karena aku tak pernah bosan
Menghadirkan aromamu
Dalam secangkir teh dan sesendok gula
Yang tersaji bersama senja yang hampir habis

Puisi-puisi Coin Silalahi (2)


ANTARA PAGI DAN MALAM

seperti sebuah boneka kita di permainkan…
Aku…kamu….kita….
Seperti mereka adl kita…
Mereka mencoba merajai kita…
Aku…kamu…kita…
Sambil menunjukmu, aku dg jemari telunjuk gagahku ke arahmu…
Ku katakan padamu pagi…
Aku si malam, tak mungkin mengejarmu…
Kau telah jauh tertinggal…
Tak mungkin untukku berbalik, lalu harus bergerak mundur menghampirimu…
Dan tak mungkin juga, kakimu yg harus melangkah maju ke depan mendekatiku…
Tapi kita…aku…kamu…
Berjalan seolah saling mengejar saling menghampiri saling bergantian..
Padahal aku terhadap jalanku sendiri…
Begitupun dirimu pada jalanmu sendiri…
Namun, dg begitu indahnya kita…aku…kamu…memandang sebuah perbedaan dg saling merangkul…
Kita berbeda tetapi sama…aku…kamu..
Mereka yg terlalu pintar tdk akan mengerti bagaimana cara kita berteman…
Tapi yg tidak menggunakan sifat manusianya, mereka akan paham meski tak paham betul…
Tentang kita…aku…kamu…

Aku pagi…
Menyapa kamu malam…
Aku…kamu…kita…
Aku dan kamu…kenapa harus mereka yg memberi nilai…
Aku dan kamu…salah satunya ada yg gelap dan salah satunya adl terang…
Siapa yg mengatakan itu…
Kenapa mereka yg menjadi menilai kita…aku dan kamu…
Bukankah kita tak pernah menyusu dari ibu mereka atau makan dari tangan ayah mereka…
Aku dan kamu…di adu…
Karena aku pagi…dan karena kamu malam…
Karena aku terang…dan karena kamu gelap…
Begitu mereka membedakan kita…
Aku dan kamu yg berbeda tapi berasal pada satu titik…
Yaitu adalah waktu…
Mereka kah yg melahirkan kita ?…
Karena, berpihak padamu malam…mereka benci aku…
Karena sebagian lagi lebih memilih aku, mereka menyumpahimu pagi…
Lalu adakah kita saling membenci ?….aku…kamu…
Kita berteman begitu uniknya…
Kita seperti terlahir oleh satu bapak tetapi kita bukan saudara…
Kita tak satu jalan tetapi memiliki arah yg sama…
Lalu atas dasar apa mereka membuat pembeda pada kita…
Lalu atas hak apa mereka menilai kita…
Mereka hidup di dalam naungan aku dan kamu…kita….
Tapi masing masing dari mereka memberi jarak berdasarkan aku dan kamu….kita…
Seharusnya jika mereka punya hati nurani…
Mereka dapat melihat bahwa meski ad perbedaan namun kita hidup dalam satu lingkup yg sama…memberi pengertian yg sama meski kita berbeda cara…

Jangan kau permasalahkan tentang gelapnya temanku si malam…
Atau jangan kau pertanyakan keberadaan terang milik temanku pagi…
Nilailah bagaimana kau menjalani aku….yaitu kami…salah satu dari kami….
Baik pagi maupun malam…
Kami sama sama adl waktu…
Meski tak hidup dlm satu….
Meski bertolak belakang ataupun searah…
Tetapi nama kami tetap sama yaitu waktu…

***

KAUM YANG TERTIPU

Dari seluruh itu…
Tak satu pun…
Aku enggan…
Dari semua itu…
Tak peduli…
Aku kaku…
Mestinya kau keluar dari cangkangmu…
Cobalah cangkang dia yang sejak tadi berdiri di jalanan tanpa mengerti mengapa ia berdiri…
Semestinya kau pun berpikir bagaimana ia berpikir…
Apalah guna menipu diri…
Tapi, sebaiknya kau teruskan saja…
Kenyataan lebih pahit dari kebohongan yang kau sembunyikan…
Maka biarkanlah ia rasakan kebohonganmu…
Berbahagia di atas kepalsuan…
Sementara aku tersiksa melihat itu….
Dan kau, bersabarlah…
Nanti akan datang padamu bagianmu…
Sama halnya ketika senyum murni yang kau dapat darinya…
Bagian yang sama pula akan kau dapat…
Senyum darinya…
Senyum kelukaan…
Tapi sebaiknya kau teruskan saja…
Kenyataan lebih pahit dari kebohongan yang kau sembunyikan…



Wednesday, June 22, 2011

Puisi-puisi Dudi Irawan (5)

ENIGMA (1)

Tak perlu ditanya
Karena  jemari telah jenuh mengeja
Kebisuan yang  bertentang mata
Mereka-reka tanpa ada tanda tanya

Diam ternyata percuma
Tetap saja matahari meneteskan bara
Gelap di pikiranmu, tersesat di ujung lorong buntu
Sungguh tak dinyana
Perbincangan itu telah melahirkan jemu
Kontraksi di otakku, meronta-ronta dirahim benakmu

Tak tahukah engkau?
Itulah bias hasil persetubuhan .
Antara kebodohan dan ketololan dimasa lalu
Berputar-putar jawabpun tak bertemu

Kita bercumbu
Membongkar teka-teki waktu
Bertanya tentang takdir yang di titiskan Tuhan
Pada gurat garis-garis tangan kiri dan kanan

Sepenggal Enigma tentang hidup sesudah kematian
Seperti serumpun kamboja yang bungkam diatas pusara
Tak pernah tahu kapan ia luruh
Lalu raib dalam tanah yang kau tiduri kemudian…


KAMPUNG DIATAS AWAN (2)


 Kampungku diantara riak awan
Beratap merah dengan menara jingga
Hilir-mudik anak-anak peri bersayap putih
Menari berdansa pada semburat matahari..

Lanskap langit seumpama permadani
Membentang biru tak terjangkau imajinasi
Disitu, fantasi  kaum penyair
Menjelma dalam senyum bidadari..

Kampungku diatas awan
Ada pelangi yang membentang
Ada warna-warna romantika yang dapat kau jelang
Putih, biru, jingga, kelabu dihamparan jalan

Itulah Kampungku diatas awan…
(Palembang, 17 Juni 2011)


BISA APA AKU? (3)

Pada raut wajah tua
Keriput –keriput  yang menyiratkan senja
Kutangkap makna dibalik bening mata
Engkau ingin aku mengubah warna suram dinding-dinding rumah kita

Tapi bisa apa, aku?

Tengoklah kedalamnya, lurus dari pintu
Perabot kayu, perapian tungku batu masih utuh
Bingkai plastik potret masa lalu yang Engkau dekap pilu
Membisu, berdebu-debu disekujur tubuh

Lusuh gantungan baju
Almanak tua satu dasawarsa
Adalah sebagian cerita yang membiaskan kepergian
Satu demi satu kenangan dibenakmu

Padaku kau bebankan impian
Sisa harapan yang kau tunggui sepanjang malam
Masih engkau simpan di ingatan
Masih engkau ayun dalam buaian..

Tapi bisa apa, aku?  (Tanganku Cuma satu!)


MAGIC COM (4)


Uap mengepul
Lampu hijau berkedip-kedip manja
Setelah sebelumnya menyala merah
Emak tersenyum simpul

Tak perlu bersusah payah
Butir-butir nasi harum mewangi
Telah siap di saji pada makan malam nanti

Panci penanak nasi
Dandang pengukus tergantung jadi rumah tikus
Emak tak perduli
Telah jatuh cinta Ia pada Magic Com yang aku beli


(Palembang, 19 Juni 2011)