Skip to main content

[Kakek Laut] Langit Pelangi dan Mutiara


Nama Kakek Laut yang sebenarnya adalah Zhong Jiu Hai.Zhong () adalah nama keluarga, yang merupakan pengembangan goresan dari aksara zhong – yang artinya jam dinding, dalam pengertian Bahasa Mandarin. Jiu () adalah angka sembilan dan Hai () artinya laut atau samudera. Jadi,Zhong Jiu Hai dalam pengertian harfiah bermakna detak dari sembilan samudera. Sungguh nama yang bagus dan pantas disandang oleh sosok yang luar biasa seperti Kakek Laut.
Tidak ada yang ingat kapan tepatnya kakek mulai dikenal dengan nama Kakek Laut. Barangkali karena nama Jiu Haiagak susah diucapkan dengan tepat oleh lidah-lidah pribumi yang tidak pernah mempelajari bahasa Mandarin, termasuk anak-anak dan cucu-cucu kakek sendiri. Jadilah nama Jiu Haiditasbihkan dalam Bahasa Indonesia dan disederhanakan menjadi Laut, nama yang kemudian begitu lekat dengan pribadi seorang Kakek Laut.

Menurut cerita Kakek Laut – seperti yang diceritakan oleh orang tua Kakek Laut sendiri – pada hari kelahirannya, langit pagi yang masih muda tidak berwarna biru seperti biasanya, melainkan berbercak biru kuningan, ungu dan merah jambu, seperti warna-warni pelangi yang tumpah ke atas sketsa langit.
Ayah Kakek Laut, seorang nelayan sekaligus pemilik kedai mie di kampungnya, baru pulang dari melaut. Kecuali beberapa ekor udang dan cumi-cumi, Ayah Kakek Laut tidak berhasil menjaring seekor ikan, bahkan yang paling kecil sekalipun. Ketika menarik perahu penangkap ikannya ke pantai dengan lesu, saat itulah Ayah Kakek Laut mendongak ke atas dan melihat langit dengan warna paling indah yang dapat dibayangkannya selama hidupnya. Udara seakan terhenti.
Sketsa di hadapan Ayah Kakek Laut adalah semesta yang seolah berdiam di semesta yang lain, indah dan mengambang. Pemandangan tersebut melingkupi dirinya dengan suatu keharuan yang begitu besar, hingga tanpa sadar Ayah Kakek Laut menangis. Dia menjatuhkan dirinya ke atas pasir pantai yang lembut dan basah, mengucap syukur kepada Tuhan atas keindahan nyata yang terpampang di hadapannya. Saat itu juga, Ayah Kakek Laut merasa seperti ada sesuatu yang terjatuh dari langit dalam gerakan yang begitu cepat dan mendarat di depan kakinya.
Ayah Kakek Laut menunduk ke bawah. Alangkah kagetnya dia ketika mendapati sebutir mutiara tergeletak di atas pasir basah pantai, sekitar satu meter dari jaraknya berada saat itu. Ayah kakek Laut segera memungut mutiara yang hampir sebesar buah pala itu, membersihkannya dari sisa-sisa pasir pantai yang lengket dan mencoba menggigitnya untuk memperkirakan keasliannya. Meskipun tidak benar-benar yakin, Ayah Kakek Laut berpendapat kalau mutiara tersebut asli, dinilai dari warna putihnya yang cemerlang ditimpa kilau matahari dan giginya yang gemelutuk hampir patah ketika mencoba menggigitnya.


Tentunya hal pertama yang terlintas di pikiran Ayah Kakek Laut adalah membawa mutiara tersebut ke pekan dan menjualnya. Tapi ketika hendak mengantunginya ke dalam saku celananya, pandangan Ayah Kakek Laut tertuju kembali kepada langit yang pagi itu berpendaran dalam warna-warni yang begitu tidak biasa dan memesona. Seperti ada yang berbisik dari dalam dada Ayah Kakek Laut, mengisyaratkan semacam petanda yang akan mengarahkannya kepada sesuatu yang bermakna bagus, meski saat itu Ayah Kakek Laut tidak dapat mengartikannya dengan tepat.
Ayah Kakek Laut menimang-nimang mutiara itu di tangannya, mengaguminya ukurannya dan pendaran lembut cahaya dari pantulan sinar yang serupa pelangi dari langit. Rasanya ada rahasia maha besar yang dipersiapkan oleh dewa langit melalui mutiara temuan ini. Maka, dengan gerakan yang yakin, Ayah Kakek Laut mengayunkan lengan kanannya kuat-kuat ke udara, membentuk gerakan busur dan melempar mutiara berharga yang ditemukannya kembali ke laut. Tidak ada sedikitpun penyesalan di hati Ayah Kakek Laut ketika menyaksikan mutiara yang dapat saja memberikan kekayaan kepadanya, tenggelam dalam riak-riak ombak yang bergoyang.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Ayah Kakek Laut mendapat kabar bahwa istrinya telah melahirkan seorang bayi laki-laki, anak pertama mereka, lebih cepat enam minggu dari waktu yang diperkirakan. Saat itu, tidak ada seorangpun yang berpendapat kalau anak yang dilahirkan terlampau dini itu akan mampu bertahan hidup.
Tetapi hidup, seperti laut dan semesta, selalu mempunyai gelombang takdir yang sering tidak terbaca.
Pada hari ketiga puluh kelahiran putranya, Ayah Kakek Laut mencukur rambut bayinya yang hitam dan ikal seperti ombak di malam hari sebagai tanda syukur. Dia mengangkat putra pertamanya, penerus marga keluarga Zhong, yang berhasil bertahan hidup tinggi-tinggi ke udara. Ayah Kakek Laut memberikannya nama: Zhong Jiu Hai.

*****

Cerita tentang hari kelahiran Kakek Laut ke dunia ini selalu saja membuatku terpesona. Tidak pernah bosan aku meminta Kakek Laut mengulangi cerita yang sama. Setiap kali dikisahkan, cerita itu seolah bernafas dan berdimensi pada bagian-bagian yang berbeda. Satu saat, cerita tentang Ayah Kakek Laut yang menemukan mutiara raksasa terasa begitu menegangkan.
Aku menahan nafas membayangkan mutiara mahal itu jatuh ke dalam dasar samudera yang tidak berujung, seperti sepotong harta karun yang tenggelam dan menunggu ditemukan. Kali lain, sepotong langit yang larut dalam tumpahan warna-warni yang seperti berasal dari negeri para peri dikisahkan oleh Kakek Laut dengan begitu detil, sehingga aku seperti dapat melihat, bahkan menyentuh langit yang seumpama gumpalan awan-awan kembang gula kapas itu. Ah, Kakek Laut memang seorang pencerita yang tidak ada duanya di dunia ini.
Oh, kalian bertanya apakah ini adalah kisah yang paling menakjubkan dari keseluruhan kisah seperti yang diceritakan oleh Kakek Laut? Kawan, ini hanyalah salah satu di antaranya. Kapan-kapan, akan kuceritakan tentang bajak laut bergigi emas, seorang perempuan bersuara putri duyung atau tentang sebuah lubang rahasia di balik pohon raksasa, tempat tinggal para peri pekerja.
Sekarang, tidurlah dan bermimpilah tentang negeri yang indah, tempat semua hari adalah petualangan; pagi dengan embun yang tergantung di ujung dedaun dan simfoni burung-burung yang mengadakan resital, senja yang pendar dalam sinar keemasan dan malam yang orkestra dengan suara semesta dan bintang-bintang yang berjatuhan.
Jangan lupa untuk berdoa sebelum tidur. Dengarkan selalu nasehat ayah dan ibumu serta rajin belajar. Sebab hanya anak-anak yang berbakti dan baik budi, yang diijinkan membuka pintu petualangan ke dalam kisah-kisah Kakek Laut.


[bersambung]

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…