Skip to main content

Obituari Jalang #10 (Tamat)

''Ibu kritis, Mas...'' Suaranya terdengar pilu di ujung handphone.
Satrio baru saja menginjakkan kakinya di bandara Minangkabau. Tidak diharapkannya kabar itu yang akan menantinya begitu kakinya sampai di darat.
Termenung dan meragu. Dia diam terpaku tegak. Apa yang harus dilakukannya kini? Kembali ke Jakarta? Sedangkan hatinya begitu yakin kalau dia akan menemukan perempuan itu di kota ini.
Setelah lama berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menginap satu malam. Besok pagi-pagi sekali dia akan kembali.
''Aku pulang besok pagi. Tolong jaga Ibu,'' katanya.
''Aku selalu menjaganya sepenuh hatiku, Mas. Jangan khawatir,'' jawab Rumi.
Satrio kembali terdiam mendengarnya. Selalu dengan hati. Semua yang dilakukannya selalu dengan hatinya. Mungkin itu yang membuat Ibu jatuh cinta kepadanya. Dia begitu baik. Begitu lembut. Begitu bersahaja. Dan di atas segalanya, dia begitu tulus.

Mendadak Satrio dilanda keraguan yang luar biasa. Apakah ini sebuah kebodohan? Meninggalkan begitu besarnya cinta di sana demi sesuatu yang tak nampak. Hanya mengejar rasa penasarannya saja dan dia rela menukarnya dengan sebuah hati penuh cinta? Satrio bimbang. Hari sudah menjelang senja. Cepat-cepat dia berjalan menjauh dari pintu bandara dan memanggil sebuah taksi gelap. Pantai Padang. Itu tujuannya. Entah mengapa dia begitu yakin kalau perempuan itu ada di sana saat ini. Dia sempat membaca tulisan terakhirnya tadi pagi. Si Jalang akan melaksanakannya sore ini.
Taksi itu menyusuri pinggir pantai sampai ke bagian paling ujung yang sepi. Beberapa batu karang tampak menyembul dari deburan ombak sore. Satrio menghentikan taksi itu dan bergegas turun. Setengah berlari dia menuju ke arah batu karang besar di depannya. Tidak tampak apa-apa dari tempatnya sekarang. Sepertinya ia harus memanjat karang itu untuk dapat melihat jelas ada apa di atasnya.
Matahari sore perlahan meleleh tersentuh garis di ujung laut itu. Jingga tampak mulai pecah berpendar mengikuti ombak di dekatnya.
Satrio memanjat dan sampai di atas.
Perempuan itu di sana. Bergaun hitam dan bersepatu tinggi. Sinar oranye menerpa kulit putihnya. Satrio terpana. Setengah tak percaya akhirnya dia menemukan perempuan itu.
Dia tak berani mengeluarkan suara. Seakan takut perempuan itu akan terkejut dengan kehadirannya dan memutuskan untuk melompat lebih cepat.
Tak disangkanya, perempuan itu membalikkan badan perlahan dan tersenyum, seperti tahu kalau Satrio ada di sana. Dia seperti bidadari tak bersayap yang siap terbang dengan kibaran gaunnya yang tertiup angin itu.
''Jangan kau teruskan. Berhentilah di sana,'' ujarnya setengah berteriak. Berusaha mengalahkan deru angin laut yang makin keras berhembus.
Satrio berhenti di tempatnya.
''Satria Piningit. Kamu benar-benar datang. Selamat menyaksikan kematianku. Hadapi kenyataan kalau ternyata bukan aku yang harus kau selamatkan, tapi hatimu,'' katanya masih dengan senyum.
Satrio masih belum mampu berkata-kata. Lidahnya kelu, bibirnya terkunci dan kedua matanya terpaku pada sosok itu. Dia tampak begitu ringkih, tapi seperti ada lidah api berkibaran di sekujur tubuhnya. Kemarahannya pada hidup tampak jelas dari pancaran matanya.
''Jangan kau teruskan. Kumohon. Siapapun dirimu, kamu berhak untuk hidup. Aku akan menolongmu. Lihatlah, aku sudah sampai di sini, seperti yang pernah kukatakan padamu, bukan?'' Satrio berkata dengan penuh kecemasan.
''Aku berhak untuk hidup dan mati, Satria! Aku tidak perlu kau tolong. Tolonglah dirimu sendiri. Temukan cintamu yang sebenarnya, sepertinya itu yang membuatmu gundah sampai kau harus datang mencariku ke sini,'' ucapnya lantang.
Cepat perempuan itu berbalik dan merentangkan tangannya. Memasrahkan seluruh tubuh kurusnya itu kepada gravitasi bumi di bawahnya. Serta merta tubuhnya melayang seperti seekor camar yang menukik tajam menuju mangsanya di laut biru.
''Jalaaaang!'' Satrio hanya mampu meneriakkan nama itu.
oooOOOooo
Rumi dan Satrio beranjak perlahan dari depan pusara itu. Makam Ibu tampak agak kering setelah hampir setahun mereka tidak nyekar. Rumput-rumput liar telah habis mereka cabuti sesaat setelah mereka tiba di sana. Setidaknya sekarang pusara itu tampak sedikit terawat.
Bergandengan tangan mereka berjalan menuju gerbang pemakaman itu. Rumi dengan perut besarnya itu bergelayut manja di tangan Satrio. Satrio dengan penuh kasih merangkul pundaknya. Teduh bayang-banyang pohon kamboja sepanjang tepian area pemakaman itu memayungi langkah mereka.
Rumi tak henti-hentinya bersyukur atas segala kenikmatan yang didapatnya. Suami yang mencintainya dan jabang bayi yang sebentar lagi akan menemani hari-hari mereka. Ibu benar-benar sangat berjasa. Bahkan kepergiannya setahun yang lalu itu pun membawa berkah bagi pernikahan mereka. Rumi percaya sepenuh hati, kepergian Ibulah yang akhirnya meluluhkan hati Satrio.
Tiba-tiba saja Satrio datang saat Ibu kritis dan memeluknya dengan penuh cinta. Sebuah kata maaf dan segaris air mata di kedua pipinya untuk Rumi. Hanya itu. Namun sudah cukup bagi Rumi untuk segera tahu kalau Satrio kembali untuk dirinya. Penantiannya terbayar. Cintanya terbalas. Entah benar atau tidak prasangkanya, namun hati kecilnya mengatakan kalau keadaan Ibu saat itu yang menyadarkan suaminya pada akhirnya.
Satrio tak henti-hentinya mensyukuri keputusannya untuk datang menemui perempuan itu. Perempuan yang telah menyadarkannya akan arti cinta dalam hidupnya. Perempuan yang tak punya setitikpun cinta untuk siapapun itu telah mengantarnya kembali kepada Rumi, istri yang begitu mencintainya selama ini.
Jalang itu berhasil membuatnya terpekur mengingat Rumi sedetik setelah dia melompat ke tengah arus laut dan bongkahan batu karang di bawahnya itu. Jalang itu menyuruhnya untuk menemukan cinta yang sebenarnya. Dan kini cinta itu ada dalam dekapannya. Betapa bodoh dirinya selama ini karena menyia-nyiakan putih cinta Rumi padanya. Namun Satrio yakin sekali, Jalang itu memang dikirim Tuhan untuk menunjukkan jalannya menemui cinta Rumi.
oooOOOooo
1 komentar
SP mengatakan…
Jalang, maafkan aku karena membiarkanmu pergi. Kamu begitu keras kepala. Tak ada yang dapat merubah pikiranmu. Harusnya kamu tahu kalau kamu begitu kuat. Bahkan di penghujung hidupmu, kamu mampu membuka mataku pada akhirnya. Kamu bisa membuatku menemukan jalanku saat semuanya tampak buntu bagiku. Harusnya kamu sadar itu. Kamu adalah perempuan yang sangat kuat. Tak seharusnya kamu pergi dengan cara seperti ini.
Bahkan pada saat polisi mengangkatmu dari lautan luas itu, aku masih bisa melihat wajah cantikmu yang penuh tekad. Sungguh keras kepala. Tak sia-sia aku mencarimu dan sempat menjumpaimu. Kamu sangat berjasa dalam hidupku.
Bahkan namamu pun aku tak tahu. Namun begitu besar pengaruhmu atas diriku.
Selamat jalan, Jalang. Terima kasih.
Namaku Satrio Putranto.

TAMAT

Bahagia, saat cerbung ini tamat, blog Kampung Fiksi juga menyempurnakan transformasinya menjadi www.kampungfiksi.com :D. Thank you all, for always coming to this humble blog. We just want to share happiness with you through words and imaginations. Cheers!

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…