Thursday, June 2, 2011

Obituari Jalang #3



Mungkin kalian akan bertanya mengapa aku harus pergi diam-diam. Mungkin juga kalian akan bertanya mengapa harus kutuliskan perjalananku menjemput kematian ini di sini. Dan mengapa aku harus pergi jauh hanya untuk menenggelamkan diriku bersama matahari. Bukankah kematian itu adanya sangat dekat dengan diri kita? Bukankah aku tinggal menahan nafasku selama tiga menit maka malaikat maut itu akan datang dengan sukacita untuk mencabut nyawaku? Bukankah banyak sekali pisau dan tali di sekelilingku untuk memutus urat nadi atau mencekik leherku? Kalaupun memang tenggelam adalah cara yang kupilih, bukankah kali di belakang rumahku cukup dalam untuk itu?
Aku memang bukan perempuan biasa dalam berpikir. Walaupun aku memang tampil apa adanya seorang perempuan biasa. Sudah kukatakan kalau aku memang cantik dan pintar. Dan sudah kukatakan juga kalau aku jalang dan bangsat. Tak ada yang aku tutup-tutupi tentang hidupku. Semua kutulis di sini. Semata karena aku ingin ada orang yang membacanya dan bergidik ngeri membayangkan semenakutkan apakah hidupku selama ini. Membuat mereka menggelengkan kepala karena tak ingin memiliki nasib sepertiku. Membuat kalian yang membaca ikut sengsara membayangkan kesengsaraan jiwaku selama ini. Aku memang brengsek. Bahkan di ujung hidupku aku masih saja mengajak kalian untuk menderita bersamaku. Hahaha…
Kalian pikir, setelah kenikmatan yang kalian dapatkan dariku maka hutang kalian akan lunas? Uang yang kalian lemparkan ke sampingku setiap kita selesai bercampur keringat dan cairan tubuh itu tidak akan sanggup menggantikan sakit hatiku yang bertambah setiap saatnya. Tak ada uang yang dapat membeli kesengsaraanku ini. Tak ada! Maka kalian layak menjadi saksi kematianku melalui obituariku ini. Agar malam-malam kalian dihantui oleh mimpi buruk tentang seorang pelacur yang mati bunuh diri.
Kalau aku tak dapat memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekelilingku, maka paling tidak aku bisa memberikan kesengsaraan pada kalian. Intinya aku hanya ingin memberi. Ambillah…
Lalu mengapa harus pergi diam-diam? Karena aku tak ingin dikejar. Aku tahu mereka akan mengejarku. Bukan karena mereka mencintaiku dan ingin menyelamatkanku. Tapi karena mereka masih butuh aku. Mereka masih butuh tetesan keringatku di atas kulit laki-laki yang membayarku. Mereka masih butuh lenguhan nafas tertahanku karena para lelaki itu menekanku begitu keras dan bernafsu. Mereka masih butuh kepura-puraanku menikmati semuanya. Mereka masih butuh aku menjadi pelacur penghasil uang di rumah itu. Aku sudah tidak bisa lagi. Tidak ada lagi hidup yang tersisa dalam jiwaku untuk melanjutkan semuanya. Aku sudah kosong. Ibarat botol, aku adalah botol kosong yang harus berakhir di rumah seorang pemulung untuk dipungut lalu kemudian dihancurkan dan dileburkan kembali menjadi lelehan kaca dan kelak menjadi sebuah botol baru lagi. Entah akan jadi apa setelah aku mati nanti. Malaikatkah? Atau setan gentayangan? Hey, botol-botol itu pun tak ada yang tahu apakah mereka akan menjadi botol yang lebih cantik atau malah hanya menjadi asbak murahan yang dijual kodian di pasar-pasar becek setelah mereka dilebur.
Tenggelam bersama matahari. Setidaknya aku masih punya satu sisi nilai estetika dalam diriku yang sudah bergelimang lumpur menjijikkan ini. Indahnya. Saat matahari tenggelam, aku ikut bersamanya. Lalu aku akan berkhianat dengan tidak ikut terbit kembali dengannya keesokan harinya. Matahari akan kecewa padaku karena aku hanya ikut tenggelam bersamanya dan tidak mengikutinya menuju timur untuk hadir kembali di muka bumi. Hahaha…Aku suka pikiran itu. Menipu matahari. Alangkah hebatnya!
oooOOOooo
Satrio menghembuskan nafas. Berat. Jam lima harusnya jam yang paling menggairahkan untuk semua pekerja seperti dirinya. Bersiap pulang ke rumah. Menuju istri yang setia menyambutnya. Menyambut dengan senyum dan badan wangi serta bibir tersapu gincu merah muda. Menemukan meja makan yang sudah siap dengan berbagai menu untuk makan malam. Lalu melihat kondisi Ibu yang walaupun masih begitu-begitu saja, tapi terawat dengan baik di tangan Rumi.
Tapi mengapa tak begitu perasaannya? Tak ada kewajaran dalam pernikahannya. Tak ada gairah menyambut malam di kamar tidur mereka. Tak ada rindu mengganggu kala dia tak melihat wajah sang istri. Karena memang tak ada cinta di sana.
Cinta. Berapa kali dalam hidupnya, Satrio pernah merasakannya? Rasanya sekali pun belum. Ada masa di mana ia begitu nakal sebagai pemuda. Seorang remaja berparas rupawan dengan predikat putra seorang pengusaha sukses adalah modal kenakalan remajanya dulu. Begitu banyak perempuan cantik teman-teman kuliahnya di Hongkong masa itu yang rela duduk berjam-jam menunggu kehadirannya di kantin kampus. Sekedar mendapat sapaan 'halo' darinya. Tak sedikit juga yang berhasil duduk dalam mobil convertible miliknya. Lalu menawarkan diri untuk menjadi kekasihnya. Kadang diambilnya tawaran itu, sekedar untuk bersenang-senang. Namun tak jarang juga ditolaknya. Ibu tak pernah merestui perempuan manapun yang dibawanya pulang. Ada saja keberatan ibu. Dia keturunan chinese. Dia bukan orang Jawa. Dia berambut pendek. Dia lebih tinggi darinya. Dan Satrio adalah anak Ibu yang penurut. Itu saja akhirnya selalu.
Belum saja Ibu tahu kelakuan mereka. Pesta-pesta di akhir minggu. Minum-minum sampai mabuk. Tidur dengan pacar di kamar asrama atau hotel. Andai Ibu sempat tahu kelakuan jalang beberapa teman perempuan yang pernah dibawanya ke rumah, mungkin Ibu akan jatuh pingsan di tempat.
Satrio meringis akibat pikirannya sendiri. Tanpa sadar diketiknya kata 'jalang' pada kolom mesin pencari di layar komputernya.
Disusurinya satu persatu hasil pencarian itu. Sebagian besar mengarah ke situs-situs seks internet yang sudah lama ditinggalkannya. Itu permainannya masa muda dulu.
Enggan dia mengarahkan mouse untuk menutup jendela tampilan di layar itu. Sebaiknya aku pulang, pikirnya. Ibu seringkali khawatir berlebihan kalau dia terlambat sampai di rumah.
Tiba-tiba urung niatnya untuk menutup jendela tampilan itu.
Obituari Jalang, tertulis jelas di sana.
Seorang jalang menuliskan obituarinya atau seseorang menuliskan obituari seorang perempuan jalang? Bukankah obituari harusnya berisi tentang kebaikan seseorang di masa hidupnya? Tak ayal Satrio tertarik untuk melihatnya.
Sebuah jendela baru terbuka. Ternyata sebuah blog. Catatan harian dunia maya. Hitam mewarnai dasarnya. Huruf-huruf tebal berwarna kuning sempat menyakitkan matanya. Tapi tak membuat Satrio batal untuk membacanya.
Malam itu Satrio pulang terlambat. Sangat terlambat sehingga membuat Ibu sesak nafas menantinya. Untung Rumi selalu siap disamping Ibu. Menantu perawatnya itu.
BERSAMBUNG