Skip to main content

Obituari Jalang #6


4 komentar
SP mengatakan...
Kumohon jangan lakukan itu lagi. Sangat berbahaya. Aku tidak bisa membayangkan ada perempuan senekad itu. Apakah kamu tidak takut sesuatu terjadi padamu?
Tadinya aku berharap menemukan sedikit harapan di tulisanmu kali ini. Sebab di awal akhirnya kamu mau juga membawa-bawa nama Tuhan. Ternyata kamu hanya ingin menertawakanNya.
Tidak usah kau pertanyakan segala ke-Maha-an Tuhan. Dia memang Maha Segala-galanya. Dan jangan pula kau menguji kuasaNya. Bisa-bisa nanti kamu menyesal.
Sudah ada dimanakah dirimu sekarang? Semoga Tuhan selalu melindungimu.


Jalang mengatakan…
Sudah kukatakan, tak ada lagi yang bisa menakut-nakuti aku di dunia ini. Bahkan kematian pun tidak. Aku tidak sedang menantang siap-siapa, apalagi Tuhan. Buat apa aku menantang pihak yang tak pernah kukenal seumur hidupku?
Apa harapanmu membaca tulisanku ini, SP? Apa kamu berharap aku akan mengubah keputusanku? Percuma…Tekadku sudah bulat. Ini bukan hanya sekedar tekad, tapi juga jalan keluar bagi semua orang. Aku membebaskan mereka dari dosa. Berkurang satu pelacur di dunia ini, maka berkurang juga dosa laki-laki hidung belang di dunia. Jalan pikiranku mungkin tak bisa kau ikuti. Tak mengapa. Hanya saja aku benar-benar merasa kasihan kepadamu. Jangan ikuti aku lagi. Apakah kamu tidak punya hidup di luar sana? Apa kabar keluargamu? Apakah kamu sudah beristri? Bagaimana dengan orang tuamu? Bagaimana dengan anak-anakmu? Aku menanyakan ini bukan untuk mendapat jawaban darimu. Sungguh. Aku tidak peduli dengan hidupmu. Aku bertanya agar kamu pun bertanya hal yang sama kepada dirimu sendiri. Untuk apa membuang-buang waktu mengurusi aku, si perempuan jalang tak bernilai yang sebentar lagi akan mati ini?
Pulanglah. Kurasa kamu memang bukan Satria Piningit itu. Dunia belum terlalu edan. Buktinya masih ada laki-laki baik, walaupun bodoh, sepertimu. 

SP mengatakan…
Jalang…Aku tidak berharap banyak sebenarnya dengan berkomentar di sini. Kamu terlalu sinis dan lelah. Sulit rasanya menyembuhkan hatimu dalam waktu singkat, walaupun itu tidak mustahil.
Sudah kukatakan, jangan khawatirkan waktuku. Aku akan selalu memantaumu. Aku punya hidup. Aku punya keluarga. Aku punya istri. Walaupun belum mempunyai anak. Tapi apakah lantas aku boleh menjadi manusia egois, membiarkan seseorang dalam kesulitan seperti dirimu begitu saja? Harapanku hanyalah, agar kamu mau mengurungkan niatmu. Dan kalau harga dirimu terlalu tinggi akibat kesinisanmu itu, tak mengapa juga kalau kamu tidak mengakuinya. Aku tidak perlu tahu kalau kamu berubah pikiran. Toh, ini dunia maya, dunia bayang-bayang tak terjamah. Apapun bisa kau tuliskan di sini. Bahkan ceritamu ini pun belum tentu kisah nyata yang benar-benar terjadi padamu. 

Jalang mengatakan…
Hmm, ini menarik. Kamu punya istri. Apa kata istrimu, kamu meluangkan waktu untukku di dunia maya ini? Apa dia tidak marah? Apa dia ikut membaca blog-ku ini? Ah, aku rasa tidak. Mana mungkin seorang istri membiarkan suaminya bercengkerama dengan seorang pelacur di internet. Hahaa…
Ternyata kamu sama saja. Peselingkuh! Apa yang salah dengan pernikahanmu, wahai lelaki? Biar kutebak!
Istrimu sudah peyot dan tidak secantik dulu lagi?
Dia tidak pernah berdandan menyambutmu pulang ke rumah?
Dia sering marah-marah di rumah sehingga membuatmu tidak betah?
Atau jangan-jangan dia seorang wanita karir yang sukses, dan kesuksesannya melebihi egomu sebagai lelaki?
Atau..ah, ini kesukaanku…Dia bukan perempuan yang kau cintai. Kalian menikah karena perjodohan. Hahahaaaa…Ini sungguh adalah alasan yang paling lucu.
Banyak sudah laki-laki suami orang yang aku layani. Semua alasan itu mampir ke telingaku setiap saat sebelum mereka mulai menjamahku. Seolah mereka perlu memberikan sebuah legitimasi atas perbuatan terkutuknya itu. Mereka pikir aku peduli? Aku tidak peduli! Yang aku pedulikan hanya uang dari hasil keringatku. Itu saja.
Kadang aku justru berharap, tak usah pakai embel-embel kata pembuka itu. Memberikan berbagai alasan mengapa akhirnya mereka sampai ke pelukanku. Seolah-olah perbuatan mereka itu pantas dibenarkan.
Jadi, SP…tak usah berlagak seperti laki-laki ‘benar’. Kamu sama saja dengan mereka. Sedangkan aku? Aku memang sebejat yang aku tulis di sini. Untuk apa aku menjelek-jelekkan diriku sendiri, andai sesungguhnya aku adalah perempuan benar? Pikiranmu itu sungguh terbalik. Dunia maya atau tidak, aku tetaplah pelacur. Tak ada yang bisa mengubahnya. 
BERSAMBUNG

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…