Saturday, June 11, 2011

Obituari Jalang #6


4 komentar
SP mengatakan...
Kumohon jangan lakukan itu lagi. Sangat berbahaya. Aku tidak bisa membayangkan ada perempuan senekad itu. Apakah kamu tidak takut sesuatu terjadi padamu?
Tadinya aku berharap menemukan sedikit harapan di tulisanmu kali ini. Sebab di awal akhirnya kamu mau juga membawa-bawa nama Tuhan. Ternyata kamu hanya ingin menertawakanNya.
Tidak usah kau pertanyakan segala ke-Maha-an Tuhan. Dia memang Maha Segala-galanya. Dan jangan pula kau menguji kuasaNya. Bisa-bisa nanti kamu menyesal.
Sudah ada dimanakah dirimu sekarang? Semoga Tuhan selalu melindungimu.


Jalang mengatakan…
Sudah kukatakan, tak ada lagi yang bisa menakut-nakuti aku di dunia ini. Bahkan kematian pun tidak. Aku tidak sedang menantang siap-siapa, apalagi Tuhan. Buat apa aku menantang pihak yang tak pernah kukenal seumur hidupku?
Apa harapanmu membaca tulisanku ini, SP? Apa kamu berharap aku akan mengubah keputusanku? Percuma…Tekadku sudah bulat. Ini bukan hanya sekedar tekad, tapi juga jalan keluar bagi semua orang. Aku membebaskan mereka dari dosa. Berkurang satu pelacur di dunia ini, maka berkurang juga dosa laki-laki hidung belang di dunia. Jalan pikiranku mungkin tak bisa kau ikuti. Tak mengapa. Hanya saja aku benar-benar merasa kasihan kepadamu. Jangan ikuti aku lagi. Apakah kamu tidak punya hidup di luar sana? Apa kabar keluargamu? Apakah kamu sudah beristri? Bagaimana dengan orang tuamu? Bagaimana dengan anak-anakmu? Aku menanyakan ini bukan untuk mendapat jawaban darimu. Sungguh. Aku tidak peduli dengan hidupmu. Aku bertanya agar kamu pun bertanya hal yang sama kepada dirimu sendiri. Untuk apa membuang-buang waktu mengurusi aku, si perempuan jalang tak bernilai yang sebentar lagi akan mati ini?
Pulanglah. Kurasa kamu memang bukan Satria Piningit itu. Dunia belum terlalu edan. Buktinya masih ada laki-laki baik, walaupun bodoh, sepertimu. 

SP mengatakan…
Jalang…Aku tidak berharap banyak sebenarnya dengan berkomentar di sini. Kamu terlalu sinis dan lelah. Sulit rasanya menyembuhkan hatimu dalam waktu singkat, walaupun itu tidak mustahil.
Sudah kukatakan, jangan khawatirkan waktuku. Aku akan selalu memantaumu. Aku punya hidup. Aku punya keluarga. Aku punya istri. Walaupun belum mempunyai anak. Tapi apakah lantas aku boleh menjadi manusia egois, membiarkan seseorang dalam kesulitan seperti dirimu begitu saja? Harapanku hanyalah, agar kamu mau mengurungkan niatmu. Dan kalau harga dirimu terlalu tinggi akibat kesinisanmu itu, tak mengapa juga kalau kamu tidak mengakuinya. Aku tidak perlu tahu kalau kamu berubah pikiran. Toh, ini dunia maya, dunia bayang-bayang tak terjamah. Apapun bisa kau tuliskan di sini. Bahkan ceritamu ini pun belum tentu kisah nyata yang benar-benar terjadi padamu. 

Jalang mengatakan…
Hmm, ini menarik. Kamu punya istri. Apa kata istrimu, kamu meluangkan waktu untukku di dunia maya ini? Apa dia tidak marah? Apa dia ikut membaca blog-ku ini? Ah, aku rasa tidak. Mana mungkin seorang istri membiarkan suaminya bercengkerama dengan seorang pelacur di internet. Hahaa…
Ternyata kamu sama saja. Peselingkuh! Apa yang salah dengan pernikahanmu, wahai lelaki? Biar kutebak!
Istrimu sudah peyot dan tidak secantik dulu lagi?
Dia tidak pernah berdandan menyambutmu pulang ke rumah?
Dia sering marah-marah di rumah sehingga membuatmu tidak betah?
Atau jangan-jangan dia seorang wanita karir yang sukses, dan kesuksesannya melebihi egomu sebagai lelaki?
Atau..ah, ini kesukaanku…Dia bukan perempuan yang kau cintai. Kalian menikah karena perjodohan. Hahahaaaa…Ini sungguh adalah alasan yang paling lucu.
Banyak sudah laki-laki suami orang yang aku layani. Semua alasan itu mampir ke telingaku setiap saat sebelum mereka mulai menjamahku. Seolah mereka perlu memberikan sebuah legitimasi atas perbuatan terkutuknya itu. Mereka pikir aku peduli? Aku tidak peduli! Yang aku pedulikan hanya uang dari hasil keringatku. Itu saja.
Kadang aku justru berharap, tak usah pakai embel-embel kata pembuka itu. Memberikan berbagai alasan mengapa akhirnya mereka sampai ke pelukanku. Seolah-olah perbuatan mereka itu pantas dibenarkan.
Jadi, SP…tak usah berlagak seperti laki-laki ‘benar’. Kamu sama saja dengan mereka. Sedangkan aku? Aku memang sebejat yang aku tulis di sini. Untuk apa aku menjelek-jelekkan diriku sendiri, andai sesungguhnya aku adalah perempuan benar? Pikiranmu itu sungguh terbalik. Dunia maya atau tidak, aku tetaplah pelacur. Tak ada yang bisa mengubahnya. 
BERSAMBUNG