Thursday, June 16, 2011

Obituari Jalang #7



Satrio terdiam lama di depan komputer kerjanya. Jam makan siang belum usai. Suasana kantor masih sepi. Begitu juga ruangannya yang luas itu. Sebuah foto terbingkai kayu ukir duduk dengan manis di meja kerjanya. Posisi miring, agar terlihat tidak hanya oleh matanya tapi juga mata para tamu yang sewaktu-waktu bisa datang ke ruangannya. Terlalu miring bahkan. Seolah foto itu ada di sana hanya untuk dipandang oleh tamu-tamunya saja dan bukan olehnya.
Rumi dan dirinya berbalut busana pengantin Jawa. Istrinya tampak tersenyum walaupun samar. Dirinya berdiri tegak kaku di sebelah Rumi yang duduk di atas kursi kayu. Tangan kanannya di pundak Rumi jelas sekali terlihat hanya tergeletak di sana. Jemarinya bahkan tak menempel sepenuhnya di pundak ringkih perempuan cantik itu.
Satrio menatap foto itu sekilas. Kalimat si Jalang itu menusuknya. Dan kini kalimat itu juga yang menggerakkan tangannya meraih foto pernikahannya itu akhirnya. Dipandangnya lama.

''Dia bukan perempuan yang kau cintai. Kalian menikah karena perjodohan.''
Perempuan itu berhasil membuatnya terdiam. Tertegun dengan kebenaran kalimatnya. Terpesona akan luasnya pengetahuan tentang laki-laki di sekitarnya. Absurd memang. Semua lelaki yang digambarkannya adalah laki-laki bejat. Seolah tak ada lelaki baik di dunia ini. Dan sekarang dia telah berhasil memojokkan Satrio bergabung ke tempat para lelaki brengsek itu. Aku salah satunya. Hatinya membatin. Suka atau tidak suka, dia harus mengakui kalau perempuan itu benar adanya.
Apapun alasannya, dia memang menikah dengan terpaksa. Demi ibu, itu sudah pasti. Tapi mengorbankan hatinya, ternyata telah membuatnya menjadi laki-laki tak bernilai di mata perempuan itu kini.
Walaupun dia tidak lantas menjadikan itu alasan untuk berselingkuh di belakang Rumi, tak pelak hatinya mengatakan kalau dia memang tengah bermain dengan lain hati. Perempuan yang katanya jalang itu telah berhasil mencuri perhatiannya. Hanya lewat kata-katanya di layar komputer. Hanya itu. Seluruh jiwa lelahnya yang jelas terbaca membuat sebagian dari kelelakiannya bergejolak berusaha menjadi pahlawan untuknya. Berusaha menjadi pelindungnya. Berusaha mendapatkan perhatiannya. Semua hasrat  yang tak pernah hadir untuk Rumi, kini ada untuk perempuan yang bahkan dia tak tahu siapa namanya itu.
Apa mungkin seseorang jatuh cinta hanya melalui rentetan kata dalam tulisan yang terbaca? Sekuat itukah kekuatan kata? Mengapa tak pernah sebelumnya dia merasakan hal yang sama kala membaca surat-surat cinta dari kekasih-kekasihnya yang dulu?
Satrio merasa kepalanya saat ini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang melayang dan saling bertabrakan. Semua dalam bentuk tulisan. Menabrak satu dengan yang lain, lalu kemudian buyar pecah menjadi huruf-huruf tak bermakna.
Foto itu kembali diletakkannya dengan hati-hati. Tak lagi miring, tapi tepat membelakanginya. Biar orang lain saja yang mengagumi foto pernikahan mereka. Tak sedikitpun dirinya merasa perlu berbahagia untuk foto itu. 
oooOOOooo
Laki-laki itu diam. Aku tahu pasti kenapa. Dia malu mengakui kalau diriku benar. Aku telah membuka bagian dari dirinya yang selama ini tak pernah diungkapkannya pada dunia. Aku tahu pasti itu. Selama ini aku berhadapan dengan lelaki serupa. Semua sama, menjadikan aku tempat sampah atas segala kekecewaan mereka. Menumpahkan segalanya padaku, seolah aku hanya sebuah tong berbau busuk tempat berakhirnya rahasia hitam mereka. Lalu kemudian mereka akan mengemis kebaikan hatiku untuk menghibur duka lara mereka.
Masih tersisa sedikit keherananku. Mengapa sejak awal dia datang kepadaku? Apa yang membuatnya begitu tertarik dengan tulisan-tulisanku ini? Awalnya aku mengira dia tertarik karena kukatakan dengan jujur kalau aku adalah seorang pelacur. Lantas apa? Analisaku mentok. Dia bukan sedang mencari pelampiasan hasratnya yang mungkin tak tersalurkan itu. Untuk apa mencari pelacur di dunia tak bernyawa ini, sedangkan dunia nyata jelas-jelas memberikannya pilihan yang beragam dan tersentuh?
Kurasa dia kesepian. Lelaki beristri yang entah mengapa tidak bisa berkomunikasi dengan istrinya, lantas mencari-cari teman di sini. Ahahaa...kasihan sekali kamu bertemu denganku. Aku sedang tak ingin berteman dengan siapa-siapa saat ini. Sejujurnya, aku memang tak pernah ingin berteman dengan siapapun.
Aku sudah sampai di tanah kelahiran ibuku. Tanah yang katanya subur dan hijau. Tapi gersang dan kering di kelopak mataku sedari tadi di perjalanan. Kurasa gambaran tanah Sumatra itu sudah harus direvisi. Hutan yang katanya hijau, rasanya hanya beberapa jengkal saja panjangnya. Sawah yang katanya terhampar bak permadani, rasanya hanya seperti keset kaki saja karena sedikitnya. Ah, biar saja. Ini bukan kampungku. Ini kampung ibuku. Walaupun pernah kudengar duluuu sekali, saat ibu masih sering bercerita padaku, kalau aku adalah penerusnya. Aku adalah penerus ibuku di tanahnya. Begitu kulihat betapa lemahnya ibu menghadapi tempelengan-tempelengan ayahku, aku berketetapan kalau aku bukanlah penerus ibuku. Dia lemah dan aku tidak begitu.
Lantas aku beralih ke ayahku. Tadinya kukira aku adalah penerus ayahku di tanahnya. Tanah tempat aku dilahirkan. Tempat dimana semua orang penting di negara ini ada. Harusnya aku memang penerus ayah. Dia kuat. Tamparannya ke muka ibu sering membuat pecah bibirnya. Jambakannya ke rambut ibu sering membuat tetanggaku berhamburan keluar rumah karena mendengar jeritannya. Tapi keputusan itupun aku anulir akhirnya. Sejak ayah tidak bisa menahan hasrat setannya pada anak perempuannya sendiri. Ternyata dia lebih lemah dari ibuku. Bahkan untuk melawan nafsunya saja dia keok. Cih!
Maka aku adalah aku sekarang. Aku kuat dan berkuasa atas diriku sendiri!
BERSAMBUNG