Sunday, June 19, 2011

Obituari Jalang #8


4 komentar
SP mengatakan…
Maafkan aku tidak melanjutkan percakapan kita tempo hari. Ibuku sakit dan harus dirawat. Dia sudah sepuh, sangat. Dan hanya aku anaknya. Walaupun ada istriku yang bisa merawatnya, tapi tetap aku harus menyediakan waktuku untuknya. Biar bagaimana dia adalah Ibuku.
Aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana harus mengajakmu mengerti. Tentang hidup. Karena tiba-tiba saja aku seperti kau tusuk dengan kata-katamu. Aku memang tidak mencintai istriku. Aku menikahinya karena aku mencintai Ibuku demikian besar. Tapi apakah itu lantas menjadikan aku laki-laki bejat? Aku sangat mencintai Ibuku dan tak ingin mengecewakannya. Hatiku memang akhirnya harus kukorbankan. Tapi rasanya tak sebanding dengan pengorbanan Ibuku membesarkan aku selama ini. Kuanggap ini sebagai panjar atas jasanya selama ini.

Dan harus kuakui juga pada akhirnya kalau kamu memang sekali lagi benar. Aku memang lelaki kesepian. Hidupku dikelilingi oleh orang banyak, namun tak ada satupun yang mampu berbicara dengan hatiku. Sedangkan begitu banyak pertanyaan dalam diriku. Aku juga tak tahu mengapa pada akhirnya aku bisa sampai di blog-mu ini. Kurasa ini kuasa Tuhan. Tolong jangan mencibir, karena aku membawaNya kembali di sini.
Aku kagum padamu. Sungguh. Kamu memang pemberani. Kamu memang kuat. Tapi kekuatanmu itu kau bangun dari serpihan-serpihan hatimu yang hancur. Tak heran kau jadi begitu skeptis akan hidup. Kamu tentu tak ingin kekuatanmu itu hancur kembali. Sebab jika itu terjadi, maka kehancuran itu akan lebih parah dari sebelumnya.
Aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Bukan untuk mengubah pendirianmu. Aku hanya merasa kamu perempuan yang berbeda. Aku tertarik padamu. Mohon jangan mencibir atas kejujuranku ini.
Jalang mengatakan…
Ternyata benar dugaanku. Kamu sama saja dengan mereka. Bagaimanapun kamu berlindung dibalik sebuah alasan mulia membayar jasa Ibumu, tetap itu tidak menjadikanmu istimewa di mataku. Kamu sama saja! Bahkan mungkin kamu lebih parah dari mereka, karena kamu begitu munafik. Bahkan perasaanmu sendiri pun kau tipu. Kasihan sekali…
Untuk apa kamu ingin bertemu denganku? Jangan mengada-ada! Hidupku tinggal sebentar lagi. Kalaupun kamu tertarik padaku, tak ada gunanya kita bertemu. Kamu begitu naïf.
Aku kasihan pada istrimu. Aku bisa bayangkan kalau dia adalah sosok perempuan penyabar dan ‘nrimo’ seperti Ibuku. Rela diperlakukan apa saja oleh suaminya atas nama cinta. Astaga…Aku benar-benar tidak habis pikir dengan perempuan-perempuan macam ini! Sepertinya dunia hanya berputar pada poros yang bernama SUAMI. Padahal kalau dia mau, dia bisa saja meninggalkan lelakinya. Dan bisa kalian lihat sendiri nanti, begitu kalian ditinggalkan oleh perempuan-perempuan kalian itu, bagaimana limbung dan timpangnya hidup kalian!
Tolong sampaikan padanya, pada istrimu, tinggalkan suaminya selagi belum terlambat. Karena suaminya itu sama saja dengan laki-laki kebanyakan di dunia ini. Egois.

SP mengatakan…
Tidak perlu kusampaikan pesanmu padanya. Dia sudah tahu sejak awal kalau suaminya adalah lelaki egois. Aku tahu pasti itu. Tapi dia memang perempuan ‘nrimo’ seperti Ibumu. Itu yang aku masih herankan darinya. Mengapa masih ada saja perempuan seperti itu di dunia ini? Walaupun dia bersembunyi dibalik kebutuhannya akan pertolongan dari keluargaku, tapi aku tahu pasti dalam hatinya dia menyimpan cinta untukku.
Dan aku memang merasa sangat brengsek dengan keadaan ini. Aku hanya ingin membahagiakan Ibuku. Itu saja. Dia pun tahu itu. Kalau sudah tahu sama tahu seperti ini, kurasa tidak ada yang bisa dipersalahkan lagi.
Tolong katakan dimana kamu berada sekarang? Sumatra Barat? Aku akan menyusulmu!
Jalang mengatakan…
Jangan gila! Sekali lagi kukatakan, jangan gila! Cukup aku saja yang gila di sini. Kau uruslah Ibumu yang tengah sakit itu. Dan kembalilah pada perempuanmu yang setia itu. Sungguh laki-laki tak tahu diuntung!
oooOOOooo
Ibu makin lemah. Kadang kesadarannya hadir dan cukup untuk membuatnya mengeluh tentang pelayanan rumah sakit itu. Kadang dia hanya tidur terpejam selama berjam-jam, bahkan tak bergerak ketika dimandikan oleh Rumi. Alat pantau detak jantungnya terpasang. Tabung oksigen siap di samping tempat tidurnya. Begitu juga Rumi, menantu perawatnya itu.
Sudah hampir satu minggu Ibu terbaring di sana. Berawal dari serangan jantung ringan pada suatu pagi. Kala Satrio sudah dalam perjalanan menuju kantor. Beruntung pagi itu Satrio memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri, sehingga Pak Diman, sopir keluarga mereka itu, siap sedia di rumah.
Walaupun dokter Purnomo mengatakan kalau serangan jantung Ibu itu minor, namun ternyata usia ibu tak bisa melawan kelelahannya menghadapi penyakitnya itu.
''Mas, aku mau pulang sebentar. Ambil pakaian ganti untukku dan ibu. Mas bisa gantikan aku di rumah sakit?'' tanya Rumi melalui telpon ketika sore tiba.
Satrio segera meluncur ke rumah sakit itu. Menemui Ibunya yang tengah tidur tenang. Rumi beranjak meninggalkan kamar itu dalam diam. Tidak lupa diciumnya tangan Ibu dan Satrio sebelum dia pergi.
Satrio memandang punggung istrinya itu dengan takjub. Dia masih saja begitu. Begitu menghormati Ibu dan dirinya. Begitu menyayangi mereka tanpa pamrih. Dan Satrio makin merasa telah menjadi laki-laki jahat seperti yang diungkapkan si Jalang itu. “Kembalilah pada perempuanmu yang setia itu. Sungguh laki-laki tak tahu diuntung!” Kalimat itu terus menari-nari dalam benaknya.

BERSAMBUNG