Skip to main content

Obituari Jalang #9

Sudah sampai dimana kamu, Jalang? Tanyanya dalam hati. Pikirannya tak pernah lepas dari tulisan-tulisan perempuan itu. Keinginannya untuk bertemu makin menggebu. Dia begitu penasaran.

Dokter Purnomo masuk ke dalam ruangan itu dan bercakap-cakap tentang kondisi Ibu. Tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan menurut dokter itu. Ibu hanya perlu beristirahat, seperti biasa. Lega hatinya. Dia merasa mendapat lambaian bendera hijau atas niatnya yang masih di angan-angan.

Ya, Satrio sudah memutuskan akan berangkat ke kota Padang. Entah besok atau lusa. Dia sudah bertekad akan mencari perempuan itu sampai dapat. Dia hanya berharap masih sempat bercakap-cakap dengannya. Berharap perempuan itu mau membagi kisahnya. Kisah hidupnya yang telah membuat Satrio susah tidur belakangan ini.

Satrio ingin sekali mendapatkan jawaban mengapa dirinya bisa begitu tertarik pada perempuan itu. Hanya kata-katanya selama ini yang membiusnya. Seperti apakah wujudnya? Tak ada satu foto pun dalam blog itu. Bahkan alamat surat elektroniknya pun memakai nama Jalang. Sungguh perempuan unik, pikirnya dalam hati. Perempuan unik yang pemarah, tambahnya.

Ibu tampak bergerak pelan, tanda ia terjaga. Satrio segera mendekatinya. Dilihatnya wajah tua Ibu yang begitu pucat. Ibu tersenyum lemah ketika melihat putra semata wayangnya itu ada di sampingnya.

''Mana istrimu?'' tanyanya.
''Pulang, bu. Sebentar lagi dia akan kembali,'' jawab Satrio sambil memegang tangan Ibu.
Ibu tampak menarik nafas berat. Dipandangnya langit-langit kamar itu.
''Kalau ibu meninggal, jangan kamu ceraikan dia, Satrio,'' kata Ibu tanpa melihat wajah anaknya itu.

Satrio tersentak mendengar ucapan Ibu. Tak disangkanya Ibu akan berkata seperti itu di saat seperti ini. Ibu tidak pernah membahas hal ini selama pernikahan mereka. Ibu tampaknya sudah faham kalau Satrio bersedia menikahi Rumi adalah hanya untuk membahagiakannya.

''Ibu bicara apa? Jangan ngomong seperti itu. Ibu belum akan meninggal. Dokter Purnomo baru dari sini dan mengatakan kalau ibu baik-baik saja,'' ujarnya sambil menenangkan degup jantungnya yang tidak karuan itu.
Ibu tersenyum dan memandangnya. Tangannya terulur ke pipi Satrio. Perlahan dielusnya pipi itu dengan penuh perasaan.

''Ibu pasti akan pergi. Jangan tinggalkan dia kalau ibu pergi lebih dahulu,'' kata Ibu seolah tak mendengar kata-kata Satrio barusan.

''Dia sangat mencintaimu. Dia rela tidak kamu cintai seumur hidupmu, asalkan dia bisa terus mencintaimu. Tak ada perempuan sekuat itu, Satrio. Bahkan Rumi sekalipun. Kalau saatnya tiba, biarlah dia yang meninggalkanmu. Agar terbayar semua sakit hatinya karena tak mendapatkan cintamu. Maafkan ibu, nak. Mungkin ini salah ibu, tapi ibu tetap merasa kalau Rumi adalah jodohmu,'' kata Ibu dengan nafas mulai tersengal akibat kalimat panjangnya itu.

Satrio hanya diam. Dilihatnya nafas Ibu mulai memburu. Cepat-cepat dipasangnya selang oksigen Ibu ke hidungnya. Ibu kembali memejamkan matanya. Satrio berjalan menuju jendela kamar itu. Langit jingga menantangnya. Matahari nyaris terbenam di ufuk barat. Dipandangnya langit Jakarta sore itu. Sebuah pesawat tampak terbang perlahan. Terbang menuju matahari tenggelam itu. Tiba-tiba Satrio merasa seperti ada sengatan listrik mengejutkan sekujur tubuhnya. Dia merasa dia harus pergi ke arah barat juga seperti pesawat itu. Ke arah yang dituju perempuan yang telah membuatnya penasaran itu.

oooOOOooo

Aku sudah sampai di barat. Paling tidak ini adalah barat yang bisa kucapai. Bukankah sudah kukatakan kalau kuteruskan perjalanan ini aku akan sampai di timur juga akhirnya? Bumi itu bulat bukan?

Sejak awal memang kemarilah tujuanku. Ini tempat tumpah darah Ibuku. Maka disini juga akan kutumpahkan darahku. Bukan aku menghargainya sebagai ibuku. Aku hanya melihatnya sebagai sebuah kebetulan yang bagus bagi kematianku. Ketika aku memutuskan pergi menemui matahari tenggelam di barat, ternyata aku dihadapkan pada tanah kelahiran ibuku. Kebetulan saja.

Hari ini terlanjur gelap. Matahari sudah kadung tenggelam meninggalkanku. Tak mengapa. Dia tak pernah ingkar untuk kembali lagi esok hari. Akan kususul dia besok sore. Malam ini adalah malam terakhirku bersama bulan dan bintang. Tak ada yang istimewa. Aku masih terpuruk di pojok warnet kumuh ini. Penuh asap rokok dan pengap. Tak ada yang harus kunikmati sebelum aku menjemput ajalku. Toh memang tak ada yang terasa nikmat di dunia ini olehku. Semua pahit.

Aku tak punya pesan terakhir. Walaupun aku punya seorang anak di tangan orang-orang yang kutinggalkan itu, rasanya tak perlu aku berpesan kepadanya. Cukuplah aku membuatnya menderita dengan mendatangkannya ke dunia keji ini. Itu sudah merupakan kutukan baginya. Tak perlu dia tahu kalau ibunya hanya seorang pelacur yang mati bunuh diri.

Wahai matahariku....
Aku datang kepadamu...
Aku akan ikut bersamamu esok senja...
Tunggu aku...
Kita akan menari bersama...
Sampai gelombang menyapu habis jasadku...
Ketika pagi tiba nanti...
Sampaikan pada dunia...
Satu pelacur telah hilang dari muka bumi...
Dan mereka patut bersyukur untuk itu...

BERSAMBUNG

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…