Monday, June 27, 2011

Lelaki yang Menunggu Pagi

Oleh: Endah Raharjo

Dengan cangkul di tangan dan caping tergantung di punggung, lelaki itu menunggu kedatangan Sang Pagi yang tersesat di rimba beton dan belantara baja yang makin lebat dan makin tinggi.

“Kemana pagiku pergi?” keluhnya, menyandarkan cangkul yang berkarat, di antara deretan jendela kaca yang berkilat.
Suaranya parau, memantulkan senyap di tengah kepulan asap pengap.

“Akan kucari lagi engkau esok hari,” bisiknya lesu, di sela mesin bulldozer yang menderu.
Lelaki itu mengendap, berharap Sang Pagi hanya berembunyi di balik punggung Ratu Malam yang gelap.
Namun harap tak jua terjawab, meski doa tak henti terucap.

Hari ini, lelaki itu muncul lagi.
Dengan cangkul di tangan dan caping tergantung di punggung, bersiap menunggu Pagi.
Entah apa yang terjadi bila Pagi tak menampakkan diri.

***