Wednesday, June 1, 2011

Prosa Liris Reni Purnama

Kepadamu yang Mencintai Hujan

Sekiranya kau ada di sini, duduk bersisian denganku, di sebuah tempat yang hanya kau dan aku yang tahu, tempat kita menatap hujan yang jatuh dalam bayang-bayang purnama, maka akan kau lihat lengan rapuh ini menyandarkan diri dalam kokoh telapak tanganmu. Membiarkan rasa sahaja kasihmu mengaliri setiap vena.

Kupandangi arak-arakan awan yang bergemulung, berat terbawa oleh napas-napas angin. Kelabu menggantung pertanda kehamilan langit makin menua. Dahulu kita bersepakat, kau adalah rahim langit tempat rindu dan mimpi berkondensasi, dan aku adalah rahim bumi yang akan memeluk anak-anak berkulit perak yang lahir darimu. Kita boleh tersekat jarak, namun rindu selalu menemukan jalan untuk bertemu.

Sungguh aku tahu bagaimana dada kita terasa begitu hidup saat mendengarkan atap-atap rumah bertepuk dengan tangan-tangan mungil hujan. Lalu wangi bumi yang terlepas dari kurungan tanah-tanah kering akan berikatan dengan hemoglobin dan tiba ke pokok-pokok ingatan, juga pada degup jantung kita. Petrichor dan Geosmin berpelukan dalam aliran darah, menjadikan hujan adalah kalam rindu yang tak pernah habis terbaca oleh mata yang perlahan merabun.

Kehilangan demi kehilangan telah terbaca dalam jejak-jejak kita, begitupun luka telah tertoreh sempurna dalam nadi hidup kita. Namun, kita takkan menyerah. Anak-anak awan mengajarkan kita ketangguhan. Jatuhnya yang perlahan mengajarkan kita kesabaran. Tak percaya? Lihatlah bagaimana anggunnya gerimis yang jatuh pelan-pelan namun mampu meluruhkan benci, juga emosi jiwa-jiwa yang merasai bulirnya. Pernahkah kita mendengar seseorang membenci gerimis? Tidak. Mereka mencintai gerimis, anak-anak awan yang kecil.

Kita berbeda, kita tak hanya mencintai gerimis, tapi kita menikmati pula anak-anak langit yang terlahir dewasa. Tangis mereka yang begitu garang ditingkahi angin, mengajarkan kita kemauan yang keras. Kemauan untuk menghapus segala duka, menghempas kolase kepedihan, dan membiarkannya hanyut hingga dada kita lapang dan pikir kita lupa akan mereka yang telah menusukkan belati tepat di jantung.

Sekiranya kau ada disini, duduk bersisian denganku, di tempat yang hanya kau dan aku yang tahu, mungkin telingamu akan penuh dengan ceracauku yang tak bosan bercerita tentang segala hal remeh sambil menatapi awan yang pelan-pelan menghela nafas usai melahirkan berjuta anak. Lalu, dua pasang mata kita menatapi angin menggendong tetubuh awan ke atas laut, melihatnya bersetubuh hingga orgasme, kemudian kembali mengandung benih-benih hujan. Sebuah siklus teratur, tanpa jeda, tanpa lelah.

Kini, kita terpasung dalam rentangan waktu dan jarak. Namun, kuyakin kita menatapi rintik hujan yang sama, yang jatuh pelan-pelan dan menjadi tirai bagi jendela kamar kita. Dan pada tetes langit yang kembali dalam peluk bumi, kita belajar tentang kesabaran, tentang ketegaran, bahwa semua hanyalah bagian siklus hidup yang harus kita lalui.

Kepadamu yang mencintai hujan, tengadahlah. Rasakan ketegaran mengaliri dadamu, ketegaran dari anak-anak langit yang berpadu mendentingkan harmoni syahdu.