Skip to main content

Prosa Liris Reni Purnama

Kepadamu yang Mencintai Hujan

Sekiranya kau ada di sini, duduk bersisian denganku, di sebuah tempat yang hanya kau dan aku yang tahu, tempat kita menatap hujan yang jatuh dalam bayang-bayang purnama, maka akan kau lihat lengan rapuh ini menyandarkan diri dalam kokoh telapak tanganmu. Membiarkan rasa sahaja kasihmu mengaliri setiap vena.

Kupandangi arak-arakan awan yang bergemulung, berat terbawa oleh napas-napas angin. Kelabu menggantung pertanda kehamilan langit makin menua. Dahulu kita bersepakat, kau adalah rahim langit tempat rindu dan mimpi berkondensasi, dan aku adalah rahim bumi yang akan memeluk anak-anak berkulit perak yang lahir darimu. Kita boleh tersekat jarak, namun rindu selalu menemukan jalan untuk bertemu.

Sungguh aku tahu bagaimana dada kita terasa begitu hidup saat mendengarkan atap-atap rumah bertepuk dengan tangan-tangan mungil hujan. Lalu wangi bumi yang terlepas dari kurungan tanah-tanah kering akan berikatan dengan hemoglobin dan tiba ke pokok-pokok ingatan, juga pada degup jantung kita. Petrichor dan Geosmin berpelukan dalam aliran darah, menjadikan hujan adalah kalam rindu yang tak pernah habis terbaca oleh mata yang perlahan merabun.

Kehilangan demi kehilangan telah terbaca dalam jejak-jejak kita, begitupun luka telah tertoreh sempurna dalam nadi hidup kita. Namun, kita takkan menyerah. Anak-anak awan mengajarkan kita ketangguhan. Jatuhnya yang perlahan mengajarkan kita kesabaran. Tak percaya? Lihatlah bagaimana anggunnya gerimis yang jatuh pelan-pelan namun mampu meluruhkan benci, juga emosi jiwa-jiwa yang merasai bulirnya. Pernahkah kita mendengar seseorang membenci gerimis? Tidak. Mereka mencintai gerimis, anak-anak awan yang kecil.

Kita berbeda, kita tak hanya mencintai gerimis, tapi kita menikmati pula anak-anak langit yang terlahir dewasa. Tangis mereka yang begitu garang ditingkahi angin, mengajarkan kita kemauan yang keras. Kemauan untuk menghapus segala duka, menghempas kolase kepedihan, dan membiarkannya hanyut hingga dada kita lapang dan pikir kita lupa akan mereka yang telah menusukkan belati tepat di jantung.

Sekiranya kau ada disini, duduk bersisian denganku, di tempat yang hanya kau dan aku yang tahu, mungkin telingamu akan penuh dengan ceracauku yang tak bosan bercerita tentang segala hal remeh sambil menatapi awan yang pelan-pelan menghela nafas usai melahirkan berjuta anak. Lalu, dua pasang mata kita menatapi angin menggendong tetubuh awan ke atas laut, melihatnya bersetubuh hingga orgasme, kemudian kembali mengandung benih-benih hujan. Sebuah siklus teratur, tanpa jeda, tanpa lelah.

Kini, kita terpasung dalam rentangan waktu dan jarak. Namun, kuyakin kita menatapi rintik hujan yang sama, yang jatuh pelan-pelan dan menjadi tirai bagi jendela kamar kita. Dan pada tetes langit yang kembali dalam peluk bumi, kita belajar tentang kesabaran, tentang ketegaran, bahwa semua hanyalah bagian siklus hidup yang harus kita lalui.

Kepadamu yang mencintai hujan, tengadahlah. Rasakan ketegaran mengaliri dadamu, ketegaran dari anak-anak langit yang berpadu mendentingkan harmoni syahdu.

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…