Saturday, June 11, 2011

Puisi Ari Adrina (2)

Kata Dan Waktu
[Percakaapn antara Ari Adrina dan Agus Dwi Rusmianto]




Sebelumnya, aku mencoba membunuh kata-katamu terlebih dahulu. Kemudian menguburnya pada kerinduan-kerinduan satir di bawah serambi mega. Sebelum kau beranjak lagi dari tempat tidurmu

Ketika bahasamu mengaduh, aku semakin berpikir dan terpikir untuk memujamu malam ini saja. Menjadikanmu datu, kemudian membawamu jauh memasuki pintu-pintu dari beludru. Di atas altar itu, kutengadahkan mukamu, mulutmu menganga lalu kujejalkan doa, kata dan rimba di sana

Apakah melarikan diri dari kejaran kata merupakan senjata utama seorang Adrina?
Ataukah mengajak gencatan kata?

Biarkan aku membisu dalam diamku, tak gubris sejuta rayumu tak pedulikan dan hanya berlalu. Mungkin aku hanya ingin bertahtah dengan sejuta inginku.
Bukan kau yang mengerti, tidak untuk kali ini

Raja dari segala raja membujur kaku akuku
Pada diam, pada keluh, pada rayu
Aku dipaksa membisu
Sementara kau semakin memerdekai kauku..
Maaf, aku bukanlah pujangga yang bakal menggubrismu dengan kata ataupun frase yang dapat membuat terjengkang setangah mati
Aku adalah aku dengan batasan aku tanpa kenal akuku
Berbekal tujuh topeng dan 8 suara
Itulah akuku.

Kata yang kau simpul mematikan akal dan logisku, tercekat suaraku, terpaku ragaku di situ. Sudahlah, semakin bimbang aku menawar-nawar situasi hatiku. Tetap saja aku dan kau bukanlah satu, tak akan setuju.

Aku tak menawarkan satu situasi yang tak mungkin kau pahami
Hanya kau kurang lebarkan kanan kirimu saja.

Sayapku tengah terluka, tak bisa kubentangkan untuk terbang
Tunggulah hingga ku pulih lalu kita akan membelah cakrawala kata bersama
Nanti, suatu hari!

Apakah aku melukaimu?

Kau tau jawabnya

Ya sudahlah
Aku akan mencumbui waktu-waktu yang terbuang sia-sia yang merupakan saat keterlambatan. Dan aku masih sibuk dengan loncatan detik dan detak yang berderet pada lajur monitorku. Sampai dini hari nanti

Sebenarnya ku ingin temanimu menyusun kepingan-kepingan waktu, membiarkan ia berlalu dengan perlahan atau kecepatan rendah
Tapi aku tak bisa, gulana hatiku tiap kata kau cipta di tengah keterdiaman kita

Sekeras itukah kata-kataku?
Setajam itukah bahasaku?
Waktu tidaklah anomali
Begitu juga dengan setiap detak dari detik waktu. Satu yang setuju dengan waktu, ia tak mau menunggu.

Jika waktu saja tak ingin menunggu, apalagi aku. Kau pun begitu ku rasa. Jadi mari kita hentikan perdebatan ini jika nanti tak berujung pada satu muara: saling mengerti.



Bengkulu – Tasikmalaya, 04 Maret 2011
At 21.03