Skip to main content

Puisi Ari Adrina (2)

Kata Dan Waktu
[Percakaapn antara Ari Adrina dan Agus Dwi Rusmianto]




Sebelumnya, aku mencoba membunuh kata-katamu terlebih dahulu. Kemudian menguburnya pada kerinduan-kerinduan satir di bawah serambi mega. Sebelum kau beranjak lagi dari tempat tidurmu

Ketika bahasamu mengaduh, aku semakin berpikir dan terpikir untuk memujamu malam ini saja. Menjadikanmu datu, kemudian membawamu jauh memasuki pintu-pintu dari beludru. Di atas altar itu, kutengadahkan mukamu, mulutmu menganga lalu kujejalkan doa, kata dan rimba di sana

Apakah melarikan diri dari kejaran kata merupakan senjata utama seorang Adrina?
Ataukah mengajak gencatan kata?

Biarkan aku membisu dalam diamku, tak gubris sejuta rayumu tak pedulikan dan hanya berlalu. Mungkin aku hanya ingin bertahtah dengan sejuta inginku.
Bukan kau yang mengerti, tidak untuk kali ini

Raja dari segala raja membujur kaku akuku
Pada diam, pada keluh, pada rayu
Aku dipaksa membisu
Sementara kau semakin memerdekai kauku..
Maaf, aku bukanlah pujangga yang bakal menggubrismu dengan kata ataupun frase yang dapat membuat terjengkang setangah mati
Aku adalah aku dengan batasan aku tanpa kenal akuku
Berbekal tujuh topeng dan 8 suara
Itulah akuku.

Kata yang kau simpul mematikan akal dan logisku, tercekat suaraku, terpaku ragaku di situ. Sudahlah, semakin bimbang aku menawar-nawar situasi hatiku. Tetap saja aku dan kau bukanlah satu, tak akan setuju.

Aku tak menawarkan satu situasi yang tak mungkin kau pahami
Hanya kau kurang lebarkan kanan kirimu saja.

Sayapku tengah terluka, tak bisa kubentangkan untuk terbang
Tunggulah hingga ku pulih lalu kita akan membelah cakrawala kata bersama
Nanti, suatu hari!

Apakah aku melukaimu?

Kau tau jawabnya

Ya sudahlah
Aku akan mencumbui waktu-waktu yang terbuang sia-sia yang merupakan saat keterlambatan. Dan aku masih sibuk dengan loncatan detik dan detak yang berderet pada lajur monitorku. Sampai dini hari nanti

Sebenarnya ku ingin temanimu menyusun kepingan-kepingan waktu, membiarkan ia berlalu dengan perlahan atau kecepatan rendah
Tapi aku tak bisa, gulana hatiku tiap kata kau cipta di tengah keterdiaman kita

Sekeras itukah kata-kataku?
Setajam itukah bahasaku?
Waktu tidaklah anomali
Begitu juga dengan setiap detak dari detik waktu. Satu yang setuju dengan waktu, ia tak mau menunggu.

Jika waktu saja tak ingin menunggu, apalagi aku. Kau pun begitu ku rasa. Jadi mari kita hentikan perdebatan ini jika nanti tak berujung pada satu muara: saling mengerti.



Bengkulu – Tasikmalaya, 04 Maret 2011
At 21.03

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…