Thursday, June 9, 2011

Tulisan Elysabeth Cen

PUTRI HUJAN DI BULAN JUNI

Putri duduk termangu di bangku taman kota, menanti dalam diam, akankah hujan menampakkan kelelahan.

Ah… Hujan memang selalu menjadi sesuatu yang indah dimataku. Titik-titik air yang tercurah dari langit menimpa ranting-ranting pohon, membelai daun hijau, membasahi kelopak bunga yang malu-malu merekah. Sejuk terasa menggelitik hatiku senja ini….

Tanpa sadar Putri pun berbisik kepada burung kecil yang hinggap dengan beraninya di bahu Putri.

“Hai teman kecil, tolong bisikkan padaku sesuatu yang lebih indah saat jatuh selain titik-titik hujan?”

“Sesuatu yang lebih indah saat jatuh selain titik hujan adalah tetesan airmata kebanggaan sepasang orangtua saat putri kecilnya menjadi seorang wanita tangguh.”

Putri tersentak, mengangguk dengan senyum mengiyakan ucapan burung kecil teman barunya.

“Apakah hanya itu yang lebih indah saat jatuh selain titik hujan, wahai teman kecilku?”

“Masih ada lagi Putri. Sesuatu yang lebih indah saat jatuh selain titik hujan adalah butiran peluh dari kening seorang bunda yang berjuang melahirkan sebuah kehidupan di muka bumi ini.”

“Ah… Betul sekali yang kau katakan teman kecilku. Apakah ada lagi yang lebih indah saat jatuh selain titik hujan?”

Putri menelengkan kepalanya, memandang burung kecil temannya, menanti akankah ada jawaban yang mencengangkan hati.

“Ada Putri, sesuatu yang lebih indah saat jatuh selain titik hujan adalah bulu mata yang jatuh, tanda ada seseorang merindukanmu. Sebab adakah yang lebih indah dari perasaan disayangi dan dirindukan?”

Putri tergelak kecil, betapa luar biasanya pengalaman duduk di bangku taman kota, menanti hujan menampakkan kelelahan senja ini.