Tuesday, June 14, 2011

Puisi-puisi Ahmad Amrullah Sudiarto (1)

Lelaki Malam


Kusebut sang penunggu malam

Bercinta dengan temaram di relung senja

Berharap pada sepi berkelana kala sendu

Ketika hening mencengkram rindu

Bintang adalah pertanda

Purnama adalah anugrah

Semesta bertabur sejuta tanya

Kau lelaki tengah malam

Berselimut sutra terangkai alam

Dari tangan keriput menyulam doa

Menanti embun di kuncup asa

(Yogyakarta, 09-06-2011)



Ini Bukan Surat Cinta


Sayang, ini bukan surat cinta yang berisi kata-kata puji. Ah, mengapa aku seberani itu memanggilmu sayang? Maaf. Aku tak mengenalmu dan dikaupun begitu. Anggaplah kata-kata ini tak bertujuan dan tak bertuan. Namun sebelum kau mengenalku, izinkanlah aku memanggilmu sayang walau kutau kau muak dengan dengan kata yang sering menjerumuskanmu itu. Sayang maaf jika aku lancang bertutur akupun tak bermaksud menjerumuskanmu dalam buaian kata, ini bukan rayuan yang berujung benci. Aku cuma enggan berputar di pusaran ketidakpastian hati. Bukankah rasa yang mengendap adalah belenggu?

Sayang, terkadang cinta diwujudkan dalam kepalan tangan, batu-batu, dan tulisan-tulisan karena mereka telalu banyak mengumbar kata, menggadaikan cinta disudut bibir yang manis. Mungkin kau berkata “kaupun terlalu banyak mengumbar kata! Iya, dan kuharap cintamu tak kau wujudkan dalam kepalang tangan dan batu-batu yang meretakkan tengkorak kepalaku, semoga.

Sayang, aku mencitaimu tak setinggi tak sedalam, bukankah tinggi dan dalam adalah batas? Batas itu terukur, apakah hati mengenal ukuran? Sayang, tak perlu kau jawab, tak usah kau risau karena kelak kita tak butuh banyak tanya dan jawab karena ku tau kau lebih mengerti, cinta bukan logika, bukan hukum sebab akibat. Bukankah diam adalah pertanda? Diam adalah bahasa.

Namun jika kau tetap bertanya, kenapa? Sejujurnya akupun tak mengerti. Tapi ijinkan daku membisikkan tanya..

Apakah cinta butuh alasan?

(Yogyakarta, 09-06-2011)
Oleh: Ahmad Amrullah Sudiarto