Monday, June 27, 2011

Puisi-Puisi Ahmed Tsar

Lima Penari

1#

Engkaulah gelombang.

Nyanyikan tembang.

Dawai-dawai pun ikut meregang,

alunkan harmoni perlambang.

Halusinasi pun berdendang.

Rahasia menghias pupurmu,

auranya semerbak mata beribu.

Hukah-hukah, mereka mencibir merdu,

awadara beranak madu.

Romantika, kau sangka semua itu,

diatonis riak kala sendu.

Jemari dasa titah ibu,

operamu kawal waktu.

2#

Wahahahaha,

indahnya derai tawa,

Nyanyikan tambo jenaka.

Dongengkan parodi bunda,

amboi, rancak bak seikat ikebana..

Kepala berjuta rasa.

Redam berjuta aksara.

Inilah hikmah berguna,

saling asuh, saling jaga,

nyalakan bara keluarga.

Ananda bermata tiara,

Dabik pitanggang halimunan mantra.

Enyahkan derita.

Fadhil dan Safana,

Awalnya bunda dan uda bersama ruang maya.

3#

Srikandi ibukota.

Aksara, panahnya.

Rima, gaunnya.

Ibarat teratai, mempesona.

Nun jauh di sana, para perjaka

oborkan api asmaraloka.

“Vide, apakah mereka pendusta?”

Ia mawar, tak sembarang serangga

takluk pada durinya.

Amor dewa pun, tak sudi diterima.

4#

Diantara delapan,

engkaulah kuncup krisan.

Afinitas hadirmu, tak sekedar ajudan.

Seakan reinkarnasi kunjungimu dihadapan.

“Ya ba ya ba doo,” ucapmu ketika tahu mereka sekawanan.
Mendoan, cita rasa kotamu,

aroma hangat kedelai berkelambu,

renyah, bagai engkau gemuyu.

Impianmu cuma satu,

ayah anakmu panggil bidadari paling ayu.

5#

Galau itu datang,

es magnum jadi penenang.

Selatan jakarta.

Ibukota, bagimu penuh tawa.

“Ab ra ka da bra,

ha le lu ya,”

aktor aktor palsu beropera.

Yakinkanmu, itu semua,

apalah arti bersandiwara.