Thursday, June 2, 2011

Puisi-Puisi Andi Gunawan

Perjamuan Akhir Pekan

Ayo kita bernyanyi,

di atas dudukan besi, tentang mimpi

sedangkal kaki. Sabtu malam: kau dengan teh tawarmu,

aku setia pada kopi.

Ayo kita bicara,

di taman dekat buang-bunga, tentang ia

yang bernama-nama. Minggu: kau pulang dari gereja,

aku rampung dhuha.

[Depok, Mei 2011]


Ini Budi, Ini Ibu Budi

Adakah engkau mengkhawatirkanku

seperti pemuda mimikirkan masa depan? Yang kutahu,

doaku buatmu bukanlah sebentuk

penyesalan.

Ia wira. Berjalan satu-dua. Menuju

entah yang satu. Mencari-cari wahyu. Di belakangnya,

seorang puan tua membaca

mantra: sajakku tiada henti,

merangkai-gelung angan.

[Jakarta, Mei 2011]


Kemarau Bulan Juni


Aku hampir selalu mencintai hujan. Perkaranya,

aku belum belajar mencintai Juni. Sekali musim,

Ia menghunjamiku dengan mimpi

tentang September yang kering. Sekering duka,

tertelan bahkan sebelum sempat tersentuh basah lidah. Dan,

Lara pun hendak mengakhiri kisahnya,

juga air matanya yang turut mengering dalam tunggu. Ia menungguku

berhenti mengimani sendiri.

[Depok, Mei 2011]


Sajak Pandak Pengantar Pulang

Bagi Mendiang Mahesa Aditya

1

Liang ini, Kawan. Bukan duka

untuk digali, pun ditinggali. Ialah pengingat.

Bagi para tersesat. Bagi pemuja sesaat.

2

Perjalanan ini, Kawan. Bukan perkara tujuan. Ia perihal

jejak-jejak dalam tanah hunian. Menuju

pulang. Bukanlah menuju tinggi ruang.

3

Matahari murung sebab embun berduka. Ialah senja

perayu rembulan biar purnama. Siapa menyangka

malam terbitkan gerhana?

4

Duka ialah hilir. Ia berjalan, kadang

berlari, tak pernah mengalir. Mengantar insan

pada muara takdir.

5

Semesta adalah perkara

waktu. Selalu ada ujung bagi awal. Bahkan kenangan pun

tiada kekal.

6

Hari ini, Kawan. Ada yang berpulang. Ada

yang datang. Jangan biarkan selapang langit

jalan tersiakan.

[Depok, April 2011]