Friday, June 17, 2011

Puisi-puisi Bekti Patria

PUPUS

Waktu terus berkemas
betapa lekas siang menepi
meninggalkan kenangan yang berserak
pada jejak-jejak musim

Sementara harapan menjemput ratap
mengunyah sisa mimpi
merumuskan perih

Dalam pengembaraanku yang gamang
kulipat sisa kepedihan
ketika pintu dan jendela menujumu
tak lagi terbuka untukku


RISAU

Di batas musim
angin mengirimkan risau
mengurai lipatan kenangan
yang terkubur di ruas-ruas masa

Serasa ada yang mengiris-ngiris waktu
sementara kesepian telah lama melepuh
menghanyutkan seribu ngilu
bersama duka yang kusam

Mengapa masih juga kau simpan
kegusaran nurani
meski kian dalam teredam
dalam garis-garis waktu

2009

BIARKAN TETAP MENJADI RAHASIA

masih kusimpan kenangan ini
seharum tanah yang diguyur gerimis pertama
setelah matahari memanggangnya dalam kemarau

masih kusenandungkan kerinduan ini
selirih kerisik dedaun yang dimainkan angin senja
setelah senyap membekapnya dalam semesta

sepertinya tak perlu semua diungkap lewat bahasa
lantaran kata telah lelah mengejar makna
biarkanlah rasa tetap menjadi rahasia
sebab senyatanya aku telah kehilanganmu
sebelum pernah sempat memilikimu

2010
















PERKENANKAN AKU

perkenankan aku mengingatmu seperti ini
menuliskanmu dalam larik-larik sajakku
meski impian telah dikecewakan kenyataan

perkenankan aku mengingatmu seperti ini
membingkaimu dalam garis-garis pelangi
meski warna musim terus saja berganti

perkenankan aku mengingatmu seperti ini
menyebut-nyebut namamu dalam kesendirianku
meski suaraku tak pernah sampai kepadamu

perkenankan aku mengingatmu seperti ini
sebab kerinduan masih saja selalu datang
meski jarak dan waktu telah menjadi usang

2010













KUTITIPKAN RINDUKU PADA KILAU EMBUN

bila petang mengirim remang
selalu ada cerita yang ingin kubagikan kepadamu
barangkali tentang senja yang merona jingga
atau tentang hujan yang tak sempat meninggalkan jejak bianglala

lalu, bila malam perlahan merajut kelam
ingin pula kuceritakan padamu
tentang rembulan yang membiaskan sinar temaram
sambil menghadirkanmu diam-diam di lanskap hati
untuk kuperam ke dalam mimpi

dan, sebelum hari menjemput pagi
ingin kutitipkan rinduku pada kilau embun
yang menggantung rapuh di ujung daun

[08agustus2010]