Skip to main content

Puisi-puisi Bhirau Wilaksono (2)

Photobucket

Biografi Kanker

Stadium I

Aku alfa yang belajar meluruhkan ayat pada darahmu, yang menjadi nada pada tuts hitam atau putihmu, mengalir ritmis menulisi kisah kanak-kanakmu, lalu kisah percintaan pertamamu, lalu kisah anak-anakmu, lalu kisah tentang anak dari anak-anakmu, lalu kisahmu menggerutu dibalik grafik layar kotak

yang terkadang datar terkadang meliuk; perih

atau adakah kisah takterceritakan yang kau simpan dibalik malam?

Stadium II

Ketika segelas cappucino hangat bercerita tentang pagi yang gagu aku telah menjadi laki-laki yang abai pada angka dialmanak, menumpahkan air matamu dan mencampurkannya dengan liurku, aku berguling-guling menjadi getah dikerongkonganmu, seutuhnya aku hendak membias pada senja di barat tempat kau menenggelamkan rindumu, bolehkah?

Stadium III

Disetiap etalase kutemukan tubuhmu terpajang, siapa yang membuatmu kuat membagi ragamu?
atau jiwamu yang menembus sekat-sekat itu yang kulihat? tapi ah bukan...itu kau ragamu.

aku mengenalmu dengan sungguh bahkan aku mampu mengenalimu dari bau darahmu itu, dari rambutmu

dari lendirmu dari liurmu dari aroma tubuhmu, aku mengenalimu dengan sungguh. tidakkah kau?

Stadium IV

Sesungguhnya aku telah mencium rindumu pada aroma embun tadi pagi tepat pada jejak pertemuan kita

mungkin sebab itu Izrail mengejarku tapi aku takkan sembunyi sebab dipedangnya kulihat kau tersenyum padaku

sayang...jangan bilang esok aku mati, sebab jingga belum sepenuhnya luruh

Bagelen, 28 Mei 2011


Delusi Rindu

Ini pagi sungguh pagi sebab kunangkunang telah bercahaya, ia mencahayai pikiranku yang cemas tentang beberapa rindu yang merambat diubunubunku, rindu periperi sawah yang selalu merentangkan tangannya menyambut kedatanganku "sayang lekaslah pulang " katanya pada koloni tikus yang datang padaku, sebab itu aku membunuhnya satusatu menghimpunnya menjadi jejas pada mataku biar esok aku tuntas menari pada petakpetak hitam putih memburu pionpion.

Ini petang sungguh petang sebab fajar telah datang, ia menyinari pikiranku yang cemas tentang beberapa rindu yang tumbuh diwajahku, ia serupa buih yang meletupletup berarakan, bercerita tentang Gandari yang menutup matanya, sebab kecuali aku ia tak ingin melihat siapasiapa lagi, sungguh!

Ini malam sungguh malam sebab Matahari begitu terik, ia mengangkat rindu satusatu, dari lembah, lalu sungai, lalu danau, lalu samudra, lalu aku yang berdegub, mencumbuinya di balik awan, lalu menumpahkan titiktitik hujan pada bumi yang bergetar, yang menumbuhkan rindu satusatu rindu yang kelak kembali akan merindukanku.

Bagelen, 05 Juni 2011

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…