Thursday, June 9, 2011

Puisi-puisi Bhirau Wilaksono (2)

Photobucket

Biografi Kanker

Stadium I

Aku alfa yang belajar meluruhkan ayat pada darahmu, yang menjadi nada pada tuts hitam atau putihmu, mengalir ritmis menulisi kisah kanak-kanakmu, lalu kisah percintaan pertamamu, lalu kisah anak-anakmu, lalu kisah tentang anak dari anak-anakmu, lalu kisahmu menggerutu dibalik grafik layar kotak

yang terkadang datar terkadang meliuk; perih

atau adakah kisah takterceritakan yang kau simpan dibalik malam?

Stadium II

Ketika segelas cappucino hangat bercerita tentang pagi yang gagu aku telah menjadi laki-laki yang abai pada angka dialmanak, menumpahkan air matamu dan mencampurkannya dengan liurku, aku berguling-guling menjadi getah dikerongkonganmu, seutuhnya aku hendak membias pada senja di barat tempat kau menenggelamkan rindumu, bolehkah?

Stadium III

Disetiap etalase kutemukan tubuhmu terpajang, siapa yang membuatmu kuat membagi ragamu?
atau jiwamu yang menembus sekat-sekat itu yang kulihat? tapi ah bukan...itu kau ragamu.

aku mengenalmu dengan sungguh bahkan aku mampu mengenalimu dari bau darahmu itu, dari rambutmu

dari lendirmu dari liurmu dari aroma tubuhmu, aku mengenalimu dengan sungguh. tidakkah kau?

Stadium IV

Sesungguhnya aku telah mencium rindumu pada aroma embun tadi pagi tepat pada jejak pertemuan kita

mungkin sebab itu Izrail mengejarku tapi aku takkan sembunyi sebab dipedangnya kulihat kau tersenyum padaku

sayang...jangan bilang esok aku mati, sebab jingga belum sepenuhnya luruh

Bagelen, 28 Mei 2011


Delusi Rindu

Ini pagi sungguh pagi sebab kunangkunang telah bercahaya, ia mencahayai pikiranku yang cemas tentang beberapa rindu yang merambat diubunubunku, rindu periperi sawah yang selalu merentangkan tangannya menyambut kedatanganku "sayang lekaslah pulang " katanya pada koloni tikus yang datang padaku, sebab itu aku membunuhnya satusatu menghimpunnya menjadi jejas pada mataku biar esok aku tuntas menari pada petakpetak hitam putih memburu pionpion.

Ini petang sungguh petang sebab fajar telah datang, ia menyinari pikiranku yang cemas tentang beberapa rindu yang tumbuh diwajahku, ia serupa buih yang meletupletup berarakan, bercerita tentang Gandari yang menutup matanya, sebab kecuali aku ia tak ingin melihat siapasiapa lagi, sungguh!

Ini malam sungguh malam sebab Matahari begitu terik, ia mengangkat rindu satusatu, dari lembah, lalu sungai, lalu danau, lalu samudra, lalu aku yang berdegub, mencumbuinya di balik awan, lalu menumpahkan titiktitik hujan pada bumi yang bergetar, yang menumbuhkan rindu satusatu rindu yang kelak kembali akan merindukanku.

Bagelen, 05 Juni 2011