Skip to main content

Puisi-puisi Coin Silalahi

“Buku”ku

pada akhirnya memang harus dikembalikan…
sebuah buku pinjaman yang kukira akan selamanya…
pernah ku katakan pada si pemiik buku untuk menjualnya kepadaku
atau setidaknya berikan aku waktu peminjaman lebih lama lagi…
sampai aku puas dan selesai membaca habis buku itu…
sebenarnya buku itu tak sesuai dengan apa yg kuinginkan…
karena isinya hanya nasehat, pengetahuan, moral, dan kedisiplinan…
tiap kata yg ku baca tak pernah membuat ku tersenyum …
selalu saja membuat ku menangis karena mengekang apa yg ingin ku lakukan… dikehidupan jiwa mudaku yang ingin bebas….
tapi buku itu tak bisa ditukar dengan buku lain…
kata pemiliknya “terima dan rawat buku yg Kuberi kepadamu
dan jangan pernah tidak menghargai buku itu karena buku itu
adalah gambaran Aku si pemilik….“
tapi ada rasa sesak di dada ketika buku itu diminta untuk di kembalikan…
kenapa aku tidak merasa lega…
malah menjadi lemah…
meski berteriak tak mengembalikannya, tetap pada apa kata si pemilik…
apa yg kurasa selamanya, tak selamanya…
apa yg kupikir, tak itu yg terjadi…
ada si pemilik, yg menentukan….
buku itu adalah ayahku…
bagianku….
seperti ketika berperang para laskar membawa senjatanya…
dan aku, ayah adalah peta untuk aku menelusuri jalan dunia ini…
aku tersesat tanpa petaku….
tapi si pemilik bilang “Akulah ayahmu sekarang…didunia dan disurga….jika dulu kau hanya memiliki ayah dunia…….“
meski buku itu telah kembali pada pemilik…
aku masih menyimpan isi buku itu di ingatanku…
terakhir salah satu kutipan yg kuingat dari buku itu…..
“ambillah apa yg bisa kau ambil dariku , selagi aku masih ada……
nanti jika aku tak ada jangan ratapi tempat peristirahatanku dengan air mata penyesalan
karena tidak patuh pada ajaran “…


***


Tuhan, Bolehkah Aku Menyerah

setiap jiwa pastilah memiliki hati…
pikiran yang membawamu kepada hati…
ataukah karena hati engkau maka berpikir…
semua itu sama saja…
rasa kedukaan yang kau rasakan, terkadang mampu membuatmu ingin semua berakhir…
rasa kelelahanmu…
dan engkau yang menyerah…
aku pun berpikir, alangkah kuatnya aku…
ataukah ini bukan kuatku…
hingga aku bisa bertahan pada titik saat ini…
lalu, atas dasar apakah aku harus menyerah sekarang…
esok hari yang tak siapapun tau ap yang mengejutkan…
pastilah menyampaikan harapannya di dalam mimpi tidurnya…
sedang aku yang terjaga, kemana ku bawa harapan ini…
aku tak tertidur di malam ini, maka aku tak dapat bermimpi…
kemana jadinya ku bawa harapan ini…
akhirnya aku hanya diam dan menghentikan pikiran pikiranku yang sudah jauh berangan…
ku helakan nafasku…
di situ telah ku tuangkan semuanya…
cukuplah itu…
aku tidak berusaha tegar, dan aku memanglah bukan orang yang tegar…
aku hanya merasa memang ini harus di lalui…
kepada jiwa lain di sana, ku tanyakan satu pertanyaan kepadamu…
dan tak perlu kau jawab…
berikan aku alasan untuk agar aku menyerah…
mengapa aku memberi pertanyaan dan tak meminta di jawab…
karena, jawabannya adalah aku sendiri…
aku menyerah atau tidak itu adalah aku sendiri yang menentukan…
tak peduli seberapa parah luka yang ku dapat dan musuh yang ku hadapi…
aku tak punya alasan untuk menyerah…
namun, ketika aku berhadapan dengan Tuhanku…
ku sampaikan pertanyaan itu…
Tuhan, bolehkah aku menyerah…
ku rasa Tuhan hanya akan tersenyum…
Ia memang selalu begitu…
selalu tersenyum…
maka, atas alasan apakah aku harus menyerah…


***

Popular posts from this blog

(Berbagi Pengalaman) Prosedur Umum Menerbitkan Buku Melalui Penerbit Besar

Banyak penulis yang belum berpengalaman menerbitkan buku melalui penerbit besar mengalami kebingungan saat sudah mendapat “lampu hijau” dari penerbit. Kebingungan ini mungkin disebabkan oleh euforia karena mengetahui karyanya akan segera dibukukan dan akan dipajang di toko buku-toko buku seluruh Indonesia. Saking bingungnya, penulis akhirnya hanya bisa pasif menunggu apa selanjutnya yang akan dilakukan penerbit dengan naskahnya. Padahal masih banyak prosedur yang melibatkan penulis secara aktif, sampai buku itu terbit.

Soal bagaimana menembus penerbit, Kampung Fiksi sudah membahasnya di sini. Nah, bagaimana selanjutnya? Suatu hari penerbit menghubungi kamu via email atau telepon, mengabarkan berita yang sudah begitu lama kamu tunggu-tunggu, “Naskahnya mau kita terbitkan. Tunggu kabar selanjutnya dari kami, ya!” Woggh! Silakan merayakan kebahagiaanmu. Tapi jangan lama-lama. Mulailah mengikuti secara cermat hal-hal yang berkaitan dengan terbitnya buku kamu.

Fase selanjutnya setelah mendap…

Membuat Outline Novel

Mau belajar menulis fiksi: cerpen/novel/editing, bisa bergabung di Kelas Online KF dan belajar sesuai waktu dan kebutuhanmu. Untuk informasi lengkap silakan kirim email ke kelasonlinekf@gmail.com atau klik gambar untuk mengetahui jenis kelas yang bisa kamu ikuti. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan dirimu!
*** Pernahkah kamu menulis novel lalu kemudian ketika sampai di tengah, kamu tiba-tiba buntu, ga tahu harus ngapain ceritanya? ga tahu tokoh ceritanya harus dibikin bagaimana? Dan karena pusing kamu berhenti menulis novel itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sayang sekali, padahal Indonesia membutuhkan banyak penulis.  
Semua orang bisa menulis tetapi tak semua orang bisa menulis novel. Butuh kesabaran, kerja keras, latihan, dan  tentu saja komitmen. Hanya orang-orang yang bertekad kuat dan memiliki disiplin diri yang mampu menyelesaikan novelnya. Jadi kalau kamu ingin menulis novel, kumpukan tekad, komitmen, dan percaya novel kamu akan selesai. Namun tekad dan lain-lain itu tak cukup u…

Selingan Semusim: Apakah Atas Nama Cinta Semua Menjadi Halal?

Judul: Selingan Semusim
Penulis: Alaika Abdullah
Tebal: 197 halaman
Genre: Roman-erotis

Selingan Semusim adalah sebuah kisah cinta terlarang antara Novita dan Fajar Kenapa terlarang? Bukan karena perbedaan agama, ideologi atau karena tingkat sosial, melainkan karena mereka berdua sama-sama sudah menikah dan keadaan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Kisah cinta ini dibumbui dengan adegan seksual yang diceritakan dengan eksplisit. Karena itulah novel ini memang layak disebut sebagai novel dewasa, 21 tahun ke atas.
Kisahnya sendiri berawal dari perkenalan antara Novita dan Fajar dalam sebuah acara kerja lalu berkembang menjadi sebuah affair yang ternyata berkesan bagi keduanya. Walaupun mereka kemudian berpisah karena memikirkan keutuhan keluarga masing-masing, tetapi mereka tidak saling melupakan.
Tragedi tsunami Aceh juga dimasukkan oleh penulisnya ke dalam cerita ini, dan menjadi salah satu unsur yang mengubah jalan cerita. Kalau dulu Novita adalah seorang isteri yang tidak bisa pe…