Thursday, June 9, 2011

Puisi-puisi Dudi Irawan (2)

Kepada Gersang..

Engkau penuhi janji pada hari
membakar jejak-jejak kaki
meletakkan bara di dahi
sebelum terik terusir kembali

Rayuan rintik hujan
senandung dahaga bunga setaman
pun pada tanah-tanah kering kerontang
Engkau tahbiskan kekuasaan

Kepada gersang
sebelum luluh lantak sisa embun semalam
biarkan sejenak kami nikmati
irama gerimis untuk terakhir kali
di awal bulan ini.....


Opera..

kita telah pentaskan drama
tentang perih cinta dan luka yang menganga
semusim berlalu duniaku dahulu
engkau lukiskan dengan berjuta warna

ada tawa yang makin terlupa
ada tangis yang pernah singgah
ada rindu yang menyapa
lalu berakhir pada satu muara
dimana kita tak seiring searah

tergesa-gesa engkau sudahi opera
lalu sembunyi dibalik dinding fatamorgana
cerita kita menguap seketika
lalu hilang tak berbekas dalam sejarah...

Sang Maya

Tak bertatap mata
kuhanya bisa meraba, menerka-nerka
apa yang terbetik
tak jua kubisa mengungkap rahasia

menjelang sepertiga pagi
kita bercinta dengan kata-kata
ada surga dalam fatamorgana
yang engkau tawarkan saat hening meraja

lampu kamar telah padam
detik jam dinding kian mengusik
bayangan semu indah wajahmu
kuseret paksa dalam ingatanku..

sampai dimana kan bermuara
jemariku lelah menjamah elok tanpa rupa
engkau tetap disitu, ragu-ragu
bersembunyi dibalik dinding dunia sang maya....


Merayu

Bertopang dagu
berbicara pada angin yang lalu
ada percakapan bisu
tentang mimpi-mimpi semu malam itu

pandangan mata tak mengungkap makna
dalam hati tak tahu apa maumu
hanya aksara yang engkau goreskan
menginginkanku memetik rembulan yang kau pilihkan

orkestra dalam sebuah permainan
telah hangat diperbincangkan burung hantu
hingga kantuk menyergapku
rayuanmu untuk menapaki surga bersama
takkan bisa menggodaku..


by : Dudi Irawan ( pukul ; 00.18 wib, 8 Juni 2011)